SYARIAH – SETIAP datangnya tahun ajaran baru, suasana selalu dipenuhi optimisme. Anak-anak bersiap mengenakan seragam baru, memasuki ruang kelas baru, bahkan melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di balik senyum dan semangat mereka, ada sosok yang sering kali luput dari perhatian: orang tua yang tengah berjuang sekuat tenaga agar anak-anaknya memperoleh pendidikan terbaik.
Bagi sebagian besar orang tua, pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi terbesar dalam kehidupan. Mereka menyimpan harapan yang sederhana, tetapi sangat mendalam: melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, sukses, serta mampu membanggakan keluarga. Harapan itulah yang membuat banyak orang tua rela berkorban, meskipun kondisi ekonomi tidak selalu berpihak kepada mereka.
Memasuki tahun ajaran baru, berbagai kebutuhan pendidikan datang hampir bersamaan. Mulai dari biaya daftar ulang, seragam, buku pelajaran, alat tulis, sepatu, tas, biaya transportasi, hingga biaya masuk perguruan tinggi bagi anak yang melanjutkan pendidikan. Bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak usia sekolah, pengeluaran tersebut tentu menjadi tantangan yang tidak ringan.
Tidak sedikit orang tua yang harus mengatur ulang keuangan keluarga. Ada yang menunda renovasi rumah, mengurangi kebutuhan konsumtif, menjual emas, menggadaikan barang berharga, bahkan mencari pekerjaan tambahan demi memastikan anak-anak mereka tetap dapat mengenyam pendidikan. Pengorbanan itu lahir bukan karena mereka memiliki kelebihan, melainkan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
Keuangan
Realitas tersebut menunjukkan bahwa biaya pendidikan masih menjadi salah satu tantangan ekonomi bagi sebagian keluarga. Pada saat kebutuhan pendidikan meningkat di awal tahun ajaran, sebagian masyarakat memilih memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan aktivitas pinjaman daring dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan meningkatnya penggunaan layanan pembiayaan digital oleh masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Berbagai publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat masih menghadapi tantangan akibat dinamika biaya hidup dan kebutuhan rumah tangga. Dalam situasi seperti ini, pengeluaran pendidikan menjadi salah satu pos yang membutuhkan perencanaan khusus agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi keluarga.
Di sisi lain, tahun ajaran baru juga membawa dampak positif bagi perekonomian. Permintaan terhadap perlengkapan sekolah meningkat, mulai dari seragam, alat tulis, buku, jasa percetakan, hingga layanan transportasi. Bagi pelaku usaha, momentum ini menjadi salah satu penggerak ekonomi musiman yang mampu meningkatkan aktivitas perdagangan dan pendapatan masyarakat.
Namun, di tengah besarnya biaya yang harus dipersiapkan, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang sekolah favorit, gedung yang megah, atau prestasi akademik semata. Hakikat pendidikan adalah membentuk manusia yang berilmu sekaligus berkarakter.
Keberhasilan anak di masa depan tidak hanya ditentukan oleh tingginya nilai akademik atau gelar yang diraih, tetapi juga oleh integritas, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh secara instan, melainkan dibangun melalui pendidikan karakter yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Sumber: malang-post.com