Festival Ilmu Al-Qur’an (FIA) adalah event raya tahunan yang rutin digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Syariah UIN Maliki Malang. Tahun ini, Webinar Internasional bertajuk “Otoritas Tafsir dan Dunia Virtual” menjadi pamungkas acara FIA yang diselenggarakan pada Rabu, 10 November 2021. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari Departemen Syiar dan Dakwah HMPS IAT.

Upacara pembukaan webinar dikomandoi Ulfi Fathrani, ketua pelaksana kegiatan. Dalam aktivitas seremonial tersebut, Ali Hamdan M.A. Ph.D. (Kaprodi IAT Fakultas Syariah UIN Maliki Malang) dan Dr. Sudirman, M.A. (Dekan Fakultas Syariah UIN Maliki Malang) turut memberikan sambutan. Keduanya memberikan pengarahan sekaligus motivasi kepada para partisipan yang didominasi mahasiswa IAT dari berbagai perguruan tinggi. “Semoga kegiatan ini menjadi jembatan menuju perluasan wawasan dan pengetahuan mengenai Living Qur’an sesuai dengan konteks mutakhir perkembangan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir,” tutur Dr. Sudirman.
Webinar berskala internasional ini menghadirkan tiga pemateri kunci, yakni Akrimi Matswah (Universitas Freiburg Jerman) yang membahas tuntas kajian tafsir mutakhir dan hubungannya dengan media sosial; Ulya Fikriyani (INSTIKA Guluk-guluk Indonesia) yang membahas revolusi digital terhadap otoritas tafsir; dan Nurul Istiqomah (UIN Maliki Malang) yang memaparkan aksiologi dan teknologi informasi terhadap kajian tafsir secara spesifik. Dalam kegiatan ini, para peserta tampak antusias karena tema yang dibahas sangat relevan dengan kondisi faktual masyarakat saat ini. Terlebih, mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini merupakan generasi pengguna aktif media sosial.
Kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 peserta secara virtual ini juga menjadi ajang untuk mengumumkan nama-nama pemenang kompetisi esai yang diselenggarakan dalam rangka FIA. Ustaz Ali Hamdan berharap, ke depannya, kegiatan serupa yang melibatkan pemateri dengan pengalaman studi internasional dapat terus dilakukan agar wawasan mahasiswa menjadi lebih luas. “Interaksi dan diskusi dengan akademisi luar menjadi penting untuk membuka ruang kajian yang bersifat global,” ujarnya.





