MIU Login

Lebih dari Sekadar Lucu, Bedah Film Legally Blonde Jadi Pemicu Refleksi Pemberdayaan Perempuan

Lebih dari Sekadar Lucu, Bedah Film Legally Blonde Jadi Pemicu Refleksi Pemberdayaan Perempuan

Reporter: Abdullah Hamdani Husain
Editor: Rizka Amaliah, M.Pd

SYARIAH — Divisi Pemberdayaan Perempuan (Pemdapu) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Al-Qur’an Tafsir UIN Malang menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan konsep unik yang memadukan apresiasi film dan diskusi. Acara berlangsung 18 Oktober di Gedung D.111 lantai 1, dimulai pukul 09.00 dengan menayangkan film “Legally Blonde” sebagai pembuka sebelum memasuki sesi bedah film.

Pemilihan film “Legally Blonde” didasarkan pada kesesuaian konten dengan visi pemberdayaan perempuan yang menjadi fokus divisi. Film tersebut mengangkat kisah Elle Woods, seorang perempuan modis dan percaya diri yang mengejutkan masyarakat luas dengan keputusannya masuk ke Harvard Law School, sebuah langkah yang bertentangan dengan stereotip gender yang tersebar luas.

Perjalanan karakter utama dalam film tersebut menunjukkan bagaimana perempuan berusaha membuktikan kemampuannya meraih kesuksesan dan keunggulan akademis, hal tersebut melampaui ekspektasi dan asumsi yang selama ini dikonstruksi oleh masyarakat. Melalui alur cerita yang ringan, film Legally Blonde menyajikan makna inspiratif tentang kapabilitas dan perjuangan perempuan dalam membangun kehidupannya.

Hurin ‘In Lu’lu’ il Maknun, salah satu peserta dalam kegiatan ini, menilai positif konsep program kerja yang diusung. “Prokernya sebenernya bagus, kek bedah film, apalagi dengan tema feminine. Jadi chit chat tapi ada faedahnya gitu lho, tidak hanya sekadar ghibah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hurin menambahkan apresiasi terhadap film yang dipilih. “Film-nya pun bagus ya, baru tau kalo ada film genre kek gitu. Dari aku sendiri, bener-bener secara alus kasih kita pesan buat grow up, tanpa perlu ngerubah identitas diri. Kek, hey kita bisa lho, berdaya tanpa harus menanggalkan identity kita sebagai cewek—yang centik, ceria, cerewet, dan sifat-sifat yang udah disematkan ke cewek pada umumnya,” katanya.

Nadia Reza Zahwa selaku panitia, memberikan perspektif personal tentang dampak film terhadap pemberdayaan perempuan. “Sebagai perempuan, film ini rasanya sangat menginspirasi dan memberdayakan. Film ini menunjukkan bahwa kecerdasan, kerja keras, dan keanggunan feminin bisa berjalan berdampingan. Pemeran utama bisa membuktikan kalau perempuan tidak perlu mengubah jati dirinya untuk sukses. Justru dengan menjadi diri sendiri dan percaya pada kemampuan, dia bisa menembus dunia yang didominasi laki-laki.
Pesan itu membuat penonton perempuan merasa bangga, percaya diri, dan yakin bahwa mereka juga mampu mencapai apa pun yang mereka impikan,” ujarnya.

Mengenai kesan keseluruhannya mengikuti kegiatan ini, Nadia menambahkan, “Acara nobar dan bedah film Legally Blonde kemarin tuh seru banget! Tidak hanya nonton film yang lucu dan ringan, tetapi juga banyak pelajaran yang bisa diambil. Hasil diskusi bareng temen-temen bikin aku jadi sadar kalau jadi perempuan itu tidak perlu meninggalkan sisi feminin untuk sukses. Justru dengan jadi diri sendiri aja kita bisa hebat. Acaranya juga bikin semangat dan membuat aku merasa lebih percaya diri sebagai perempuan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait