
MEREKONSTRUKSI REALITAS PLURALISME AGAMA DENGAN PERSPEKTIF AL-QUR’AN[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] Antaran Wacana Agama sesungguhnya hadir sebagai petunjuk bagi penciptaan kehidupan yang penuh keteraturan dan keharmonisan. Namun, kehadiran agama di muka bumi ini tidak tampil dalam wajah yang seragam seperti ketidakseragaman manusia itu sendiri. Hal ini, sebenarnya memiliki blessing teologis-sosiologis
SIKAP KEBERAGAMAAN DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA IBRAHIM[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] Pengantar Pembahasaan tentang sikap keberagamaan dalam konteks penelitian ini, difokuskan kepada tiga agama Ibrahim (the Abrahamic Religions), yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Oleh karena itu, sikap-sikap keagamaan yang ekslusif, inklusif dan pluralis akan dipaparkan dalam tradisi ketiga agama tersebut. Hal ini
ISLAM DAN DEMOKRASIMenelisik Akar-akar Sosio-Religius[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] Abstract The lack of democratic experience in Islamic governance system generates the debate among Muslims thinkers on the compatibility of democracy with Islam. Nonetheless, Madinah governance which is led and built by the Prophet Muhammad based on egality, equality and participation, reflects
INSTITUSI MARJA’ AL-TAQLID DALAM TRADISI SYI’AHKonfrontasi Ushuli-Akhbari dalam Hirarki Pemegang Otoritas Kegamaan[1]Oleh: Umi Sumbulah[2] Pra-Wacana Fenomena kepengikutan pemahaman dan praktik keagamaan dalam tradisi syi’ah, terutama dalam konteks Syiah Itsna ‘asyariyah menarik untuk dikaji. Ini karena masalah tersebut tidak hanya menyangkut aspek dan kehidupan keagamaan yang reduksionis, tetapi juga berimplikasi secara
AGAMA DAN KEKERASAN KOMUNAL:Studi atas Kekerasan Islam-Kristen di Indonesia[1]Oleh: Umi Sumbulah[2] Abstract Kekerasan agama di Indonesia didominasi oleh kekerasan Islam-Kristen. Hal ini terkait tidak saja dengan pola keberagamaan pada kedua komunitas tersebut yang cenderung esklusif, namun terkait dengan faktor-faktor lain semisal ekonomi, politik, lemahnya piranti hukum dan sebagainya. Relasi Islam-Kristen
AGAMA DAN KEKERASANMenelisik Akar Kekerasan dalam Tradisi Islam[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] Abstract Agama memiliki dua dimensi, normatif dan historis.Secara normatif, agama sesungguhnya mengangankan kerukunan, perdamaian dan nir kekerasan, namun interpetasi terhadap normativitas agama seringkali menjadi justifikasi bagi tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tulisan ini, mencoba mengeksplorai akar-akar teologis yang kerap
AGAMA, KEKERASAN DAN PERLAWANAN IDEOLOGIS[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] Abstrak Munculnya kekerasan yang mengatasnamakan agama, seringkali disebabkan adanya pemaknaan agama secara ideologis. Ideologi yang diformulasi sedemikian rupa, ditaati oleh penganutnya untuk mencapai tujuan tertentu. Ideologi sebagai simbol senjata politik, juga digunakan oleh proponennya untuk melakukan sebuah perlawanan demi mencapai tujuan politik.
FUNDAMENTALISME SEBAGAI FENOMENA KEAGAMAAN[1]Oleh : Umi Sumbulah[2] ABSTRAK Fundamentalisme yang muncul dalam tradisi agama apapun, sesungguhnya bukanlah fenomena monolitik. Kemunculannya, bisa karena murni pemahaman agama yang diyakini oleh sekelompok penganut agama terhadap doktrin teks-teks suci, namun juga bisa muncul sebagai reaksi terhadap opressi sosial, politik dan bahkan budaya, yang mengalienasi
Tes masukan blog Nama : Dr. Hj. Umi sumbulah, MAg NIP : 150 289 266 Jenis Kelamin : Perempuan Tempat dan Tanggal Lahir : Blitar, 26 Agustus 1971 Status Perkawinan : Kawin Agama : Islam Golongan / Pangkat : Pembina / IV-a Jabatan Fungsional Akademik : Lektor Kepala Perguruan Tinggi
SATUAN ACARA PERKULIAHAN Mata Kuliah : Ulum al-Qur’an I dan II Fakultas : Syari’ah Jurusan : al-Ahwal al-Syakhshiyyah Bobot : 4 SKS Kode : Prasyarat : PKPBA dan Sertifikat Taklim Qur’ani MSAA A. Deskripsi Mata Kuliah Ulum al-Qur’an merupakan sebagian dari keilmuan al-Qur’an yang sangat luas yang