Reporter: Rizka Amaliah
SYARIAH – 20 April 2022 lalu, Fakultas Syariah telah menggelar kegiatan pelatihan Moderasi Beragama dengan sasaran mahasiswa Fakultas Syariah UIN Maliki Malang. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengundang tiga pakar bidang moderasi beragama, yakni Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.A. (Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel Surabaya, De. Wildani Hefni, M.A. (Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN KHAS Jember), dan Mokhammad Yahya, M.A., P.hD. (Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Maliki Malang). Kegiatan ini berhasil membuat ratusan mahasiswa yang hadir di ruang zoom menunjukkan antusiasme dengan aktif mengajukan pertanyaan dan respons dalam kegiatan diskusi.

Sebagai kegiatan lanjutan, pada hari ini, Senin (6 Juni 2022), Fakultas Syariah kembali menggelar pelatihan Moderasi Beragama. Berbeda dengan gelaran sebelumnya, kegiatan ini menjadikan para dosen Fakultas Syariah sebagai peserta. Para perwakilan dosen prodi hadir secara langsung di ruang meeting Fakultas Syariah. Sementara sisanya mengikuti kegiatan via zoom meeting.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dekan. Dalam pidato sambutannya, Dekan Fakultas Syariah, Dr. Sudirman, M.A. menyampaikan harapan besar agar para dosen dapat menjadi tangan kanan moderasi beragama yang dapat meniupkan angin damai dan toleransi di dalam konteks pembelajaran.

Prof. Dr. Yusuf Hanafi, yang menjadi pemateri utama dalam kegiatan ini, membahas tuntas model-model keberagamaan yang seimbang dan berada di tengah. Mengacu pada pandangan sayyidina Ali ini mengedepankan jalan tengah dan keseimbangan yang dapat meminimalisasi radikalisme. Menurut beliau, terapat tiga aspek keagamaan yang perlu diimplementasikan dengan menerapkan konsep ini, yaitu pemahaman, sikap, dan tindakan. Poin-poin ini penting menjadi bekal bagi para pendidik untuk menyisipkan nilai-nilai moderasi beragama hingga pembelajaran menjadi jembatan internalisasi nilai-nilai tersebut.

Sebagai seorang pendidik, para dosen perlu membuat indikator spesifik yang dapat mengakomodasi kebutuhan internalisasi moderasi beragama dalam pembelajaran. Dalam hal ini, indikator tersebut perlu disusun dengan mengacu pada rumusan indikator yang telah disusun oleh Kemenag yang mencakup (1) komitmen kebangsaan; (2) sikap toleransi, khususnya ketika berhadapan dengan kemajemukan; (3) anti radikalisme dan kekerasan, serta (4) akomodatif terhadap kearifan lokal.
Dalam konteks perguruan tinggi, nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya perlu diimplementasikan dalam kurikulum dan pembelajaran, tetapi juga dalam tri dharma perguruan tinggi. Pro. Dr. Yusuf menawarkan empat model insersi moderasi beragama dalam kurikulum. Pertama, penetapan moderasi beragama sebagai matakuliah institusi. Kedua, insersi nilai pada matakuliah yang relevan. Ketiga, internalisasi nilai melalui indirect teaching atau hidden curriculum. Keempat, integrase nilai melalui budaya kampus.
Pembahasan spesifik dari pemateri kemudian merambah ke arah pengabdian dan penelitian. Hal ini memberikan tak hanya pemahaman teoretis tetapi juga keterampilan praktis bagi para peserta dalam upaya internalisasi moderasi beragama dalam lingkup tri dharma perguruan tinggi.
Kegiatan ini berlangsung hangat, khususnya pada sesi tanya jawab. Pada sesi ini, para peserta juga mendapat kesempatan memperoleh hadiah berupa buku bertajuk Moderasi Beragama yang ditulis oleh Prof. Dr. Yusuf Hanafi. Kegiatan yang dimulai pada pukul 09.15 ini berakhir pada pukul 12.00.





