SYARIAH – Sabtu, 3 Januari 2026, puluhan akademisi Fakultas Syariah mengikuti upacara Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Republik Indonesia yang ke-80. Agenda ini melibatkan seluruh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai peserta.
Sebuah pesan penting dari Menteri Agama Republik Indonesia yang dibacakan oleh pembina upacara menyinggung era kecerdasan buatan. Dalam pidatonya, Dr. Mukhtar Hazawawi, M.Pd. selaku pembina upacara menyebut bahwa AI perlu dimaksimalkan sebagai instrumen yang dapat mempererat kerukunan antar umat beragama, bukan sebaliknya. Jangan sampai AI menjadi instrumen pencipta dan penyebar diinformasi.

Tidak hanya berisi seremonial umum upacara, dalam agenda ini dilakukan pula prosesi penyematan satya lencana pada dosen dan tenaga pendidikan yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Dosen-dosen Fakultas Syariah yang mendapatkan penghargaan ini adalah Prof. Dr. Sudirman, M.A. (20 tahun), Ramadhita, M.HI (10 tahun), Nur Jannani, S.HI., M.H. (10 tahun), dan Dwi Hidayatullah Firdaus, M.Si (10 tahun).
Selain penyematan penghargaan, agenda ini juga menjadi ajang sosialisasi bantuan berupa pembebasan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terdampak bencana Aceh dan Sumatera. Beberapa di antaranya adalah mahasiswa Fakultas Syariah.
Nur Jannani, dosen Fakultas Syariah yang mendapatkan Satya Lencana 10 tahun mengaku bangga, karena dalam agenda ini, ia tidak hanya menyaksikan proses penyematan penghargaan tetapi juga menjadi saksi kepedulian kampus terhadap mahasiswa yang terdampak bencana.

“Alhamdulillah.. Saya sangat bahagia. Selain karena mendapatkan satya lencana sebagai bukti simbolis pengabdian selama 10 tahun, saya juga menjadi saksi atas uluran tangan kampus terhadap mahasiswa yang terdampak bencana. Pihak kampus juga aktif menyebarkan pemberitahuan dan permintaan donasi kepada para akademisi kampus. Ini adalah gerakan yang luar biasa yang perlu diteruskan ke depannya,” tuturnya berkaca-kaca.





