MIU Login

Cinta al-Qur’an (1)

Filsafat Sosial al-Qur’an


Dalam pandangan al-Qur’an, masyarakat terdiri atas individu (laki-laki dan perempuan) yang membentuk komunitas bangsa (syu’ub) dan suku (qaba’il).
[1] Setiap individu dalam komunitas sosial mempunyai potensi konflik,[2] akan tetapi karena adanya kelemahan potensiil dalam dirinya,[3] atau disebabkan ketidakmampuannya menghadapi persoalan,[4] serta didukung oleh adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesenangan terhadap lawan jenis dan harta benda,[5] mereka saling berinteraksi untuk menutupi kelemahan dan agar dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. Hasil interaksi tersebut dalam tahapan-tahapan yang sedemikian rupa membentuk dua pola masyarakat, yakni hubungan temporal yang sekuensial dan hubungan permanen yang eternal.

Masyarakat yang temporal dan sekuensial ialah masyarakat yang terbangun dengan tendensi pemenuhan kebutuhan yang profan dan irreligious, yakni pola masyarakat yang terbentuk untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan menyelesaikan permasalahan-permasalahan sesaat dan duniawi. Pola masyarakat seperti ini ialah masyarakat yang dibangun di atas dasar/model keluarga yang tidak agamis yang salah satunya digambarkan al-Qur’an dengan keluarga Fir’aun.[6] Komunitas sosial yang dibangun di atas dasar keluarga seperti ini, secara evolutif maupun revolutif, tidak mampu mempertahankan diri, karena kelalaiannya pada agama[7] dan kerakusan pada dunia, sehingga berakibat pada kekurangan bahan pokok makanan,[8] membunuh anak-anaknya sendiri,[9]  baik secara langsung maupun tidak, yang pada akhirnya komunitas sosial seperti ini musnah dari permukaan bumi dan tidak akan ditemukan lagi dalam wujud aslinya.[10]

Sementara itu, masyarakat permanen yang eternal ialah masyarakat yang terbangun secara perpetual, sakral dan religius. Masyarakat seperti dimaksud ialah masyarakat ideal yang terpola untuk menyelesaikan permasalahan yang tak pernah usai (continual and endless problem), yaitu pesoalan kemanusian, keadilan, cinta-kasih, dan semua persoalan duniawi yang dilandasi norma religi. Pola masyarakat ini dibangun di atas tatanan keluarga yang membentuk miniatur masyarakat yang pre-eminence dan ascendancy, sebab pola ini merupakan dasar terbentuknya masyarakat ideal (the ideal of society).[11] Tatanan masyarakat ini ialah masyarakat yang kuat di atas susunan keluarga yang kuat pula,[12] yaitu masyarakat yang disusun di atas pilar-pilar keluarga agamis, sehingga menghasilkan struktur sosial yang agamis pula.

Masyarakat seperti ini digambarkan al-Qur’an sebagaimana keluarga Ibrahim,[13] keluarga Luth,[14] keluarga Ya’qub,[15] keluarga Musa dan Harun.[16] Dalam menyusun bangunan masyarakatnya, komunitas sosial yang demikian diawali dengan kontrak kesepahaman untuk melakukan hubungan kekeluargaan.[17] Dengan adanya kontrak kesepahaman tersebut, setiap permasalahan yang mungkin timbul dalam keluarga disebabkan adanya perselisihan (konflik), diselesaikan melalui perwakilan dari kedua keluarga,[18] sebab secara filosofis setiap keluarga kecil (nuclear family) merupakan representasi dari keluarga besar (extended family), dimana setiap keluarga besar (extended family) turut bertanggung jawab terhadap eksistensi dan runtuhnya keluarga kecil (nuclear family).

Bagaimana posisi individu dalam masyarakatnya? Apakah ia mempunyai realitas sendiri sehingga dia dapat menentukan sejarahnya sendiri (indeterministik) atau sejarahnya itu dibentuk oleh sebuah kekuatan di luar dirinya (deterministik)? Realitas individu dalam masyarakatnya digambarkan al-Qur’an bahwa setiap individu bebas (indeterministic) menentukan sejarahnya,[19] dan setiap individu memperoleh hasil perbuatannya sendiri.[20] Akan tetapi dalam melakukan interaksi sosial individu mempunyai keterikatan (deterministic) dengan norma kesepakatan bersama yang kemudian membentuk norma sosial.[21] Dalam kehidupan sosialnya, individu terkadang menentukan pilihan sendiri[22] dan terkadang tenggelam dalam kesepakatan sosialnya.[23] Sementara itu, setiap komunitas masyarakat mempunyai kebebasan menentukan perjalanan sejarahnya sendiri, akan tetapi pada tahapan dan kondisi tertentu ada suatu kekuatan di luar dirinya yang menentukan dan merubah perjalanan sejarahnya, bahkan masyarakat pun tak mampu mengelak kekuatan dan ketentuan.[24]

Setiap individu, dengan kebebasannya, memperoleh hasil karyanya, diukur oleh jerih payahnya.[25] Karena setiap individu mempunyai kesempatan, kepribadian dan perilaku yang tidak sama, ada individu yang memperoleh keistimewaan (keutamaan) di antara yang lain sehingga menghasilkan stratifikasi sosial. Memang dalam al-Qur’an digambarkan bahwa laki-laki pada masa al-Qur’an diturunkan mempunyai keistimewaan,[26] karena merekalah yang secara sosiologis dan antropologis mempunyai kesempatan  bersosialisasi dengan yang lain, sedangkan mayoritas perempuan saat itu menjadi subordinasi laki-laki.[27] Hal ini diperkuat oleh adanya ajaran (doktrin) Islam bahwa secara umum al-Qur’an memandang keistimewaan individu dalam masyarakat ditentukan oleh tingkat spritualitas dan pengetahuannya.[28] Kian tinggi spritualitas dan pengetahuan seseorang, semakin tinggi pula posisi stratifikasi sosialnya. Konsep stratifikasi sosial ini tidak menutup kemungkinan munculnya stratifikasi sosial yang didasarkan atas perbedaan tingkat ekonomi dan kedudukan struktural setiap individu, hanya saja Islam tidak memandang stratifikasi yang didasarkan terhadap hal-hal yang duniawi dan provan itu sebagai suatu keistimewaan, sehingga al-Qur’an tidak membicarakannya.

Sekalipun konsep kebebasan individu ini sekilas mengakomodir hukum kausalitas, dalam beberapa hal konsep ini berbeda dengan hukum kausalitas yang dimaksudkan Barat, sebab dalam paradigma ini setiap individu tetap dianggap tidak berdaya dan tunduk pada aturan (hukum agama atau peraturan sosial, tertulis dan tidak tertulis) yang mengikat kemerdekaannya dalam memilih sesuatu. Ada kebebasan sekaligus ketertundukan, ada kemerdekaan dan keterikatan. Dalam perilaku bisnis misalnya, setiap individu berhak memilih cara dia berperilaku bisnis, akan tetapi dalam kegiatan memilih itu pun individu tetap tunduk pada ketetapan aturan dan moral bisnis yang sudah ditentukan agama dan atau masyarakat. Jika dalam perilaku bisnis tersebut terdapat individu yang mencoba untuk menghindar dari ketertundukannya pada peraturan yang sudah disepakati, maka masyarakat akan menghindar dan bahkan memberikan sangsi sosial atau hukuman padanya.

Al-Qur’an menggambarkan sejarah masyarakat sebelum, saat, dan sesudah   al-Qur’an diturunkan.[29] Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah swt. sangat mendambakan adanya kesatuan manusia yang tidak terpisahkan oleh primordialisme apapun, akan tetapi potensi konflik yang ada pada manusia mengakibatkan setiap mereka berbeda-beda dan membentuk komunitas sendiri.[30] Oleh sebab itu, dalam pentas sejarah sosial terdapat komunitas sosial yang mempunyai keistimewaan di atas lainnya,[31] ada komunitas sosial yang lain yang terpuruk, hancur dan hilang dari pentas sejarah sosial. Pada sisi lain al-Qur’an menggambarkan bahwa masyarakat dengan kepercayannya terhadap Tuhan, terbagi pada dua kelompok besar, masyarakat atheistik-pantheistik-politheistik (kafir-musyrik) pada satu sisi dan monotheistik pada sisi lain. Kedua kelompok sosial ini dimetaforkan sebagai kelompok masyarakat yang tuli dan buta pada kelompok sosial pertama, serta masyarakat yang mendengar dan melihat bagi kelompok kedua.[32]

Berkaitan dengan sejarah perkembangan sosial, surah Hud ayat 25-119 menggambarkan salah satu sejarah masyarakat dari masa ke masa. Pada ayat 25-49 al-Qur’an menggambarkan pertentangan antara Nuh as, sebagai pemimpin spritual yang ditunjuk Allah swt (sebagai penyampai kebenaran dan kebaikan) pada satu sisi, dan masyarakatnya yang materialis pada sisi lain. Pada satu ketika Nuh as mengajak agar mereka tidak melakukan persembahan dan pengabdian kecuali kepada Allah,[33] akan tetapi mereka dengan kesombongannya menolak seruan tersebut dan memandang rendah para pengikut Nuh as.[34] Perbedaan teologis pun terjadi antara Nuh as dengan kaumnya yang atheistik dan lebih percaya pada kemampuan akal dan penglihatannya,[35] sehingga pada akhirnya Allah memerintahkan kepada Nuh as untuk membuat bahtera yang nantinya digunakan sebagai tempat konservasi hewan dalam suatu bencana alam yang menghancurkan semua makhluk hidup.[36]

Menarik diperhatikan konsep sosiologis al-Qur’an dalam kisah Nuh as ialah terjadinya perbedaan pandangan teologis antara Nuh as dengan anaknya, dimana anak Nuh as menolak seruan ayahnya untuk mengikuti bahtera yang telah dibuatnya tersebut.[37] Dalam kondisi seperti itu, Nuh as mempunyai kesadaran bahwa anak tersebut secara biologis dan pandangan masyarakat termasuk dalam kategori keluarganya, oleh sebab itu Nuh as berdo’a agar anaknya tetap dapat diselamatkan dari bencana alam yang terjadi saat itu.[38] Sekalipun demikian, Allah menegaskan pada Nuh as bahwa anak yang secara biologis dianggap masyarakat sebagai keluarga, namun karena perbedaan teologis antara Nuh as dengannya, maka anak tersebut tidaklagi tergolong sebagai keluarga.[39] Demikianlah, Nuh pada akhirnya mempunyai kesadaran sosiologis seperti yang diinformasikan Allah dan mengantarkan Nuh as berikut kaumnya pada kesejahteraan.[40]

Sementara itu, pada ayat 50-60 surah ini al-Qur’an menggambarkan dua tipe komunitas sosial yang sama dengan kondisi sosial yang dihadapi Nuh as., yaitu komunitas yang monotheistik dengan Hud as sebagai pemimpin spritualnya, dan komunitas ‘Ad yang politeistik-materialistik. Menarik diperhatikan di sini ialah penjelasan al-Qur’an yang menyatakan dengan tegas bahwa Hud as merupakan bagian (saudara) kaum dari ‘Ad.[41] Ayat ini menggambarkan pada kita bahwa pemimpin sosial merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, dengan kata lain bahwa setiappemimpin sosialselalu lahir dari komunitas sendiri, bukan dari komunitas lain. Sekalipun pemimpin tersebut lahir dari komunitas sendiri, akan tetapi seruan pemimpin tersebut tidak selalu diikuti oleh masyarakatnya.[42]

Menarik diperhatikan juga di sini, jika Nuh as menghadapi komunitas sosial ateistik-materilistik yang lebih percaya pada kekuatan akal (logika) dan pandangan (kasa mata)nya, maka Hud as berhadapan dengan komunitas sosial yang politeistik-materialistik.[43] Perdebatan teologis pun juga masih tampak antara Hud as, yang menyeru pada keyakinan monoteistik, dengan masyarakatnya, yang mempunyai keyakinan politeistik-materialitik tersebut, yang berakhir dengan terjadinya bencana hujan yang luar biasa.[44]

Ayat 61 – 68 masih tetap menggambarkan dua tipe komunitas sosial yang mempunyai kecenderungan teologis yang berbeda. Sama dengan ayat sebelumnya, Shalih, salah seorang anggota (saudara) kaum Tsamud, ditunjuk sebagai pemimpin spritual yang bertugas menyebarluaskan seruan monoteistik[45] dan melakukan konservasi alam untuk kebahagiaan manusia.[46] Akan tetapi berbeda dengan ayat sebelumnya, dalam ayat ini terdapat informasi munculnya komunitas sosial yang konservatif, cenderung mempertahankan tradisi dan keyakinan politeistik-materialistik, seperti yang menjadi tradisi nenek moyang mereka.[47]

Sedangkan ayat 77 – 83 mendeskripsikan tipologi masyarakat homoseksual, yakni suatu komunitas sosial yang mempunyai kebiasaan meyenangi dan melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya. Menurut kisah al-Qur’an, bahwa ketika para Malaikat datang kepada Luth as., seperti diceritakan sebelumnya kepada Ibrahim,[48] maka kaum Luth as datang dengan maksud untuk melakukan kebiasaan kejinya (homoseksual). Keinginan tersebut ditolak Luth as. Dia menawarkan anak-anak putrinya pada mereka sebagai pengganti bagi Malaikat yang datang pada Luth as dalam wujud laki-laki yang sangat tampan itu[49] dan kemudian ditolak oleh mereka.[50] Akibat kebiasaan keji (homoseksual) itu, kaum Luth kemudian dimusnahkan dari muka bumi.[51]

Berbeda dengan kaum Luth as., Syu’aib as menjadi pemimpin spritual bagi masyarakat yang mempunyai tradisi manipulasi dalam perdagangan, yakni mengurangi timbangan dalam jual-beli.[52] Terapi penyadaran akan pentingnya keadilan dalam berbisnis yang disampaikan Syu’aib ditolak oleh masyarakat Madyan yang mengakibatkan mereka dimusnahkan dari permukaan bumi melalui bencana alam.[53] Kondisi sosial yang tidak terlalu jauh berbeda, ditemukan dalam sejarah masyarakat yang dipimpin Musa as sebagai pemimpin spritual dan Fir’aun sebagai pemimpin strukturalnya.[54]

Menurut penjelasan al-Qur’an bahwa ada masyarakat yang tidak lagi dapat ditemukan saat ini, di antaranya ialah Tsamud dan penduduk Madyan,[55] disebabkan mereka tidak dapat beradaptasi (lalai) dengan sunnatullah yang ditentukan secara sinergis antara kebutuhan jasmani dan ruhani, yang menurut istilah al-Qur’an mereka disebut melakukan kedhaliman terhadap dirinya sendiri.[56] Dengan kata lain, komunitas masyarakat tidak lagi ditemukan sekarang ini merupakan konsekwensi mereka melalaikan kebutuhan spritual yang sakral dan lebih mementingkan kebutuhan duniawi yang provan.[57] Kondisi psiko-teologis ini berpengaruh pada timbulnya rasa takut dalam jiwa mereka akan datangnya hari pembalasan, dimana secara umum setiap komunitas sosial hanya dibagi pada mereka yang memperoleh kesenangan dan kesengsaraan.[58]

Agar masyarakat dapat terhindar dari psiko traumatis tersebut, al-Qur’an mengajurkan terapi agar masyarakat berpegang pada kedisiplinan dan  tidak melampaui batas-batas “kewajaran” syar’iyah,[59] menjauh dari kemungkinan adanya kerjasama dengan masyarakat yang mempunyai tradisi atau berperilaku dhalim,[60] mengerjakan shalat karena salat mengantarkan masyarakat pada timbulnya keinginan dan berperilaku yang baik, terhindar dari keinginan dan berperilaku yang tidak baik. Di samping itu shalat juga menimbulkan kesadaran monoteistik dan kesadaran keperibdaian yang baik bagi masyarakat.[61] Terakhir, al-Qur’an mengajarkan pada manusia agar setiap masyarakat sabar dalam melakukan aktifitas sosial yang baik tersebut.[62]


[1]يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (Al-Hujurat (49):13).

[2]Perhatikan ayat berikut: فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ  (al-Baqarah (2):36);  قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (al-A’raf (7):24);  dan قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (Thaha (20):123).

[3]يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا (al-Nisa’ (4):28);

[4]Al-Qur’an memandang bahwa manusia hidup di dunia adalah untuk memenuhi tugas kekhalifahan, yakni mengelola makro kosmik; وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ(al-Baqarah (2):30), padahal manusia sesungguhnya adalah makhluk yang suka berbuat dhalim dan bodoh;إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا (al-Ahzab:72), tugas yang telah diterima manusia adalah dalam rangka untuk menguji siapakah diantara mereka yang paling banyak mampu negelola alam dan berbuat baik; الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (al-Mulk:1). Untuk kepentingan tersebut, Allah menciptakan dua potensi yang bertentangan dalam diri setiap individu manusia, yaitu potensi baik dan buruk, cerdas dan bodoh, kuat dan lemah, yang secara umum masing-masing manusia hanya dapat mengembangkan sebagian kecil dari potensinya, sebab itu sekalipun manusia sudah berupaya untuk melakukan fungsi dan tuigas kekhalifahannya mengelola alam, mereka tetap saja melakukannya dengan tidak optimal bahkan sebaliknya telah mengakibatkan dunia ini menjadi rusak karenanya: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (al-Rum:41). Oleh sebab itu, antara satu dengan yang lainnya kemudian melakukan interaksi dan bantu membantu.: إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (al-Mumtahanah:9);إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (al-Tahrim:4);

[5]زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (Ali Imran (3):14)

[6] فَالْتَقَطَهُ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (al-Qashash:8); فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (al-Mukminun:45); النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (al-Mukminun:46); وَلَقَدْ جَاءَ ءَالَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ (al-Qamar:41).

[7]كَدَأْبِ ءَالِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ (al-Anfal:52); كَدَأْبِ ءَالِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ (al-Anfal:54);

[8]وَلَقَدْ أَخَذْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (al-A’raf:130);

[9]وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (al-A’raf:141);

[10]وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (al-Baqarah (2):49); وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (al-Baqarah (2):50); كَدَأْبِ ءَالِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (Alu Imran :11);

[11] وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَءَالُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (al-Baqarah:248)

[12]قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ ءَاوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ (Hud:80)

[13]إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ (Alu Imran:33); أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (al-Nisa’:54);

[14] إِلَّا ءَالَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ (al-Hijr:59); فَلَمَّا جَاءَ ءَالَ لُوطٍ الْمُرْسَلُونَ (al-Hijr:61); فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا ءَالَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (al-Naml:56); يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (Saba’:13); إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا ءَالَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ (al-Qamar:34)

[15] وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (Yusuf:6); يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (Maryam:6);

[16] وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَءَالُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (al-Baqarah (2):248); وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (Ibrahim:6);.

[17] وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ  بِإِيمَانِكُمْ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَءَاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (al-Nisa’:25)

[18] وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا (al-Nisa’:35)

[19]وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (al-Baqarah:58); وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (al-Kahfi:29); إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي ءَايَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي ءَامِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (Fushshilat:40).

[20] لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (al-Baqarah:286);

[21]Al-Qur’an menggambarkan bahwa masyarakat mempunyai hukum yang dianut komunitasnya. Pada saat al-Qur’an diturunkan bangsa yang disebut dengan “bangsa jahiliyah” telah mempunyai hukum sosial yang kemudian didekonstruksi oleh Islam. Perhatikan misalnya ayat أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (al-Ma’idah:50).

[22]Individu yang dapat menentukan jalan sejarahnya sendiri di tengah kehidupan komunitas sosialnya, bahkan terkadang justeru mereka mempengaruhi sejarah individu lainnya, adalah mereka yang mempunyai kemampuan mengoptimalkan potensi pribadinya dan mempunyai kekuatan merubah pola hidup yang lainnya. Individu seperti ini adalah mereka yang terpilih dalam setiap komunitas sosialnya untuk menjadi pemimpin bagi masyarakatnya. Secara umum pemimpin masyarakat ini terbagi pada dua, yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang tidak baik. Mengenai masalah ini insya Allah akan saya bahas tersendiri dalam artikel tentang: “Pemimpin Sosial dalam al-Qur’an.”

[23]Individu yang tenggelam dalam pola sejarah masyarakat ialah mereka yang lemah dan tidak mempunyai kekuatan kecuali beradaptasi dengan lingkungannya. Individu seperti ini yang kita sebut dengan rakyat.

[24] أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (Alu Imran:83); لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (al-Ra’d:11).

[25] ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن واسألوا الله من فضله إن الله كان بكل شيء عليما  (al-Nisa’:32).

[26] الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (al-Nisa’:34)

[27]Hijaz, daerah bagian Jazirah Arab dimana al-Qur’an diturunkan, mempunyai tiga kota utama, Makkah, Madinah dan Thaif. Makkah adalah kota yang terletak di dalam lembah yang dikelilingi barisan bukit-bukit yang hampir menutupi seluruh daerahnya. Ia merupakan salah satu kota yang mempunyai sejarah panjang dalam perjalanan spritulitas agama-agama dan menjadi pusat perdagangan. Madinah adalah sebuah kota yang terletak di jalur utama yang menghubungkan antara kota Yaman dan Suria. Daerah ini tampak lebih subur jika dibandingkan dengan daerah lainnya, karena mempunyai oase-oase yang dapat dijadikan lahan-lahan pertanian. Di daerah ini kebanyakan masyarakatnya mencari nafkah dengan berkebun dan menanam tanaman pangan, terutama kurma. Cara hidup masyarakat daerah ini berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain untuk mencari daerah-daerah yang subur. Oleh sebab itu, mereka tidak mempunyai perkampungan yang tetap. Kebiasaan masyarakat yang demikian disinyalir sebagai salah satu sebab terjadinya konflik sosial bahkan peperangan antar etnis yang sering terjadi di daratan Jazirah Arab. Daerah Makkah sekalipun mempunyai struktur sosial yang solid dan mempunyai sumber-sumber solidaritas kekeluargaan, penuh dengan konflik sosial karena kondisi alam yang tandus membuat masyarakatnya harus bekerja keras dan melawan setiap rintangan-rintangan yang menghadang untuk dapat mempertahankan kehidupannya. Untuk itu, konflik sosial di daerah ini tampak tidak pernah usai dan memakan banyak korban. Sedangkan Madinah lebih tidak teratur dari Makkah, karena heterogenitas masyarakatnya tidak bisa membawa daerah ini  pada kedamaian, bahkan sebaliknya sering terjadi konflik antar-klein. Konflik sosial yang terjadi di daerah ini banyak di dominasi oleh masalah etnis, yakni antara bangsa Arab dan Yahudi. Bahkan, tidak jarang peperang antar sesama etnis, baik Arab maupun Yahudi, karena timbulnya perpecahan etnis yang disebabkan oleh adu domba yang dilakukan etnis lain. Dalam kondisi sosial demikian, perempuan tidak mempunyai kesempatan untuk mengekspresikan dan mensosialisasikan diri. Mengenai hal ini baca misalnya Ira Marvin Lapidus’, A History of Islamic Society (Cet. XI; t.t.:t.p., 1975), 16-7; Ahmad Iskandariyah dan Mushtafa Ananiy, al-Wasit fi al-Adab al-‘Arabiy wa Tarikh (Mesir: Dãr al-Ma’arif, 1978), 19; David E. Apter, The Politics of Modernization (Chicago: The University of Chicago Press, 1969),  98; Lihat Wlliam Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Stateman (London: Oxford University Press, 1969), 85; Barakah Ahmad, Muhammad and Jews (New Delhi: Vikas Publishing House, 1979), 29; Carl Brockelman (ed.), History of the Islamic Peoples (London: Routledge & Kegan Paul, 1980), 10; Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, Jilid I (Kairo: al-Matba’ah al-Nahdlah al-Mishriyah, 1979), 57-61; Muhammad Husain Haekal, “Hayat Muhammad”, diterjemah Ali Audah dengan judul Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Litera Antarnusa, 1990), 11; Ibn Atsir mencatat beberapa peperangan yang terjadi di daerah ini hingga datangnya Islam. Lihat Izz al-Din Abi Hasyim Aliy bin Abi al-Karam Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karim bin ‘Abd al-Wahid al-Syibaniy, al-Kamil fi al-Tarikh, Jilid I (Bairut: Dar al-Fikr, t.th.), 52 dan seterusnya.

[28]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (al-Mujadilah:28)

[29]Baca pandangan Khalafullah tentang kisah al-Qur’an dalam Muhammad A. Khalafullah, al-Qur’an bukan “Kitab Sejarah”: Seni, Sastra, dan Moralitas dalam Kisah-kisah al-Qur’an, terjemahan Zuhairi Misrawi dan Anis Maftukhin (Jakarta: Penerbit Paramadina, 2002). Muhammad Khalafullah adalah seorang sarjana yang punya minat besar terhadap al-Qur’an. Metode pendekatan yang dipergunakannya dalam buku ini, yakni penekatan kesusastraan, telah melambungkan namanya, dan sekaligus menjadikannya sasaran kecaman kalangan tradisionalis dan revivalis. Buku ini merupakan dekonstruksi terhadap konsep-konsep al-qashash (kisah) dalam al-Qur’an, dimana sebelumnya kisah dalam al-Qur’an dianggap sebagai suatu realitas yang benar-benar terjadi, namun dalam bukunya ini Khalafullah telah dengan polos dan berani menyatakan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an bukan menjadi tujuan utama misi al-Qur’an.menurut pandangannya, kesalahan ulama salaf dalam memahami kisah-kisah al-Qur’an terletak pada kesalahan medologis, yakni pendekatan historis. Khalafullah, menurut saya, dalam hal ini telah mengingkari adanya bukti historis yang autentik dan realitis keberadaan Fir’aun, misalnya, atau ditemukannya bukti baru yang mendukung adanya mayarkat yang ditenggalamkan ke dasar bumi dan kemudian ditemukan pada paruh ke dua abad ke-20. Saya sama sekali terlepas dari pandangan yang menegasikan kebenaran kisah dalam al-Qur’an ini.

[30] وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (QS. Hud:118). Saya sudah menulis tentang bagaimana pandangan al-Qur’an tentang konflik sosial ini dalam sebuah artikel yang menjadi suplemen tugas ini. Untuk itu, pembaca disarankan untuk membaca juga artikel di bawah judul “Filsafat Sosial dalam Paradigma al-Qur’an: Dekostruksi Teori Konflik Perspektif Barat.”

[31]يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (al-Baqarah (2):47)

[32]مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَى وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (QS. Hud:24).

[33] وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ(25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ(26)

[34] فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا  وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ(27)

[35] قَالَ يَاقَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَءَاتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ(28) وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ(29) وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ(30) وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ(31) قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ(32) قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ(33) وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ(34) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ(35) وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ ءَامَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(36)

[36] وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ(37) وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ(38) فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ(39) حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ(40) وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ(41)

[37] وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ(42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ(43) وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(44)

[38] وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ(45)

[39] قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ(46)

[40] قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ(47) قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ(48) تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ(49)

[41] وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ(50)

[42] يَاقَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلَا تَعْقِلُونَ(51) وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ(52) قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53)

[43]Hal ini setidaknya digambarkan oleh ayat قَالُوا يَاهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ(53) إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54)  

[44] إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ(55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(56) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ(57) وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ(58)وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ(59) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ(60)

[45] وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ(61)

[46] وَيَا قَوْمِ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ ءَايَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ(64) فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ(65) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ(66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ(67) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ(68)

[47] قَالُوا يَاصَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ(62) قَالَ يَاقَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَءَاتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ(63)

[48] Hal ini sebagaimana diceritakan dalam ayat 69 – 76 berikut: وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ(69) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ(70) وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ(71) قَالَتْ يَاوَيْلَتَى ءَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ(72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ(73) فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ(74) إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ(75) يَاإِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ ءَاتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ(76)

[49] وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ(77) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَاقَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ(78) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ(79) قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ ءَاوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ(80)

[50] قَالُوا يَالُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ(81)

[51]فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ(82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ(83)

[52] وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ(84) وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ(85) بَقِيَّةُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ(86)

[53] قَالُوا يَاشُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ(87) قَالَ يَاقَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ(88) وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ(89) وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ(90) قَالُوا يَاشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ(91) قَالَ يَاقَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ(92) وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ(93) وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ(94)

[54] وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ(96) إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ(97) يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ(98) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ(99)

[55] كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ(95)

[56] ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ(100) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ(101) وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ(102)

[57] فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ(116) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ(117)

[58] إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ(103) وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ(104) يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ(105) فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ(106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ(107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ(108) فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَؤُلَاءِ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ(109) وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ(110) وَإِنَّ كُلًّا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ(111)

[59] فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(112)

[60] وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ(113)

[61] وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ(114)

[62]وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(115)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait