HMPS IAT UIN Malang Bedah Fenomena People Pleaser Gen Z dan Kesehatan Mental dalam Perspektif Al-Qur’an

SYARIAH — Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMPS IAT) Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar diskusi publik bertajuk DINAKTASI (Dialektika Nalar Kritis tapi Santai) pada Minggu (17/5/2026). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Google Meet pukul 09.00–10.45 WIB tersebut mengangkat tema fenomena people pleaser di kalangan generasi Z serta kaitannya dengan kesehatan mental dalam perspektif Al-Qur’an.

Diskusi ini menghadirkan Sri Hariyati Lestari, M.Ag., dosen Fakultas Syariah Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta Ilmu Hadis. Kegiatan dipandu langsung oleh Ketua HMPS IAT, Muhammad Abdul Malik. Sementara itu, Ketua Pelaksana DINAKTASI, Risma Noviana, turut mengoordinasikan puluhan mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Syariah untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua HMPS IAT UIN Malang, Muhammad Abdul Malik, mengapresiasi tema yang diangkat karena dinilai relevan dengan kondisi sosial generasi muda saat ini. Menurutnya, DINAKTASI tidak hanya berfokus pada kajian keilmuan Al-Qur’an dan tafsir, tetapi juga berupaya mengaitkannya dengan isu-isu aktual di tengah masyarakat.

“Dalam Dinaktasi, selama satu tahun terakhir kami telah membahas berbagai tema. Fokus utama kami memang pada kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, tetapi kami juga menghadirkan tema-tema yang berkembang di tengah masyarakat. Alhamdulillah, tahun ini kami dapat kembali menyelenggarakan Dinaktasi dengan tema yang sangat relevan bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan mampu memberikan wawasan dan refleksi baru bagi para peserta.

“Saya berharap pertemuan kali ini tidak hanya menghasilkan dokumentasi kegiatan, tetapi juga memberikan ilmu dan insight baru bagi kita semua,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Malang, Ali Hamdan, Ph.D., menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, diskusi mengenai fenomena sosial yang dikaji melalui perspektif Al-Qur’an merupakan bagian penting dalam pengembangan tradisi akademik di lingkungan kampus.

“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk membangun budaya diskusi dan kepekaan intelektual mahasiswa terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Isu kesehatan mental dan people pleaser menjadi tema yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini, sehingga penting dikaji melalui pendekatan Al-Qur’an agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih utuh dan bijak,” ungkapnya.

Ia juga berharap HMPS IAT dapat terus menghadirkan forum-forum ilmiah yang kontekstual dan memberi dampak positif bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.
Dalam pemaparannya, Sri Hariyati Lestari menjelaskan bahwa masifnya penggunaan media sosial menjadi salah satu faktor utama meningkatnya fenomena people pleaser di kalangan generasi muda. Menurutnya, media sosial kerap menampilkan standar kehidupan yang tampak sempurna, baik dalam pencapaian akademik, penampilan fisik, maupun kehidupan sosial. Kondisi tersebut memicu munculnya rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO), sekaligus dorongan kuat untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar.

“Paparan media sosial yang begitu masif sering kali menampilkan standar hidup yang tampak sempurna. Hal ini memicu munculnya fear of missing out atau FOMO, serta keinginan yang kuat untuk diakui dan divalidasi oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, banyak orang merasa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain agar dianggap ‘ada’ atau dinilai baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perilaku people pleaser tidak dapat dianggap sepele karena berpotensi mengganggu kesehatan mental seseorang. Ketika individu terus-menerus memprioritaskan kebutuhan orang lain dan mengabaikan dirinya sendiri, kondisi tersebut dapat menimbulkan kelelahan emosional secara perlahan.

“Ketika seseorang terus-menerus memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri, ia akan mengalami emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Rasa cemas yang konstan karena takut mengecewakan orang lain, ditambah emosi negatif yang dipendam, lambat laun dapat mengikis kesehatan mental,” paparnya.

Di akhir sesi, Sri Hariyati Lestari menekankan pentingnya keberanian untuk jujur pada diri sendiri serta membangun boundaries atau batasan yang sehat. Menurutnya, menolak sesuatu yang memberatkan bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari self-love dan self-care.

“Mulailah jujur pada diri sendiri dan komunikasikan batasan secara asertif, tegas namun tetap santun. Setiap individu bertanggung jawab atas kedamaian dirinya sendiri, bukan atas kebahagiaan semua orang,” tuturnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara narasumber dan peserta. Melalui kegiatan ini, HMPS IAT berharap dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental serta membangun batasan sosial yang sehat di lingkungan kampus.

Reporter: Gilang Ramadhan

____________________

Email: syariah@uin-malang.ac.id
Web: syariah.uin-malang.ac.id
Youtube: syariahuinmlg
Instagram: syariahuinmalang
Whatsapp: 0895403661331

发表回复

您的邮箱地址不会被公开。 必填项已用 * 标注

Berita Terkait