{"id":8684,"date":"2011-08-25T15:09:10","date_gmt":"2011-08-25T08:09:10","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/95-2\/"},"modified":"2011-08-25T15:09:10","modified_gmt":"2011-08-25T08:09:10","slug":"95-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/95-2\/","title":{"rendered":"Agama (Kultural) Masyarakat Pinggiran (RESENSI)"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Judul Buku : <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Agama (Kultural) Masyarakat Pinggiran<\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Ahmad Kholil<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Editor : <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Jamiat<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Penerbit: <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI)<\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Tebal: <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">106<\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"> hlm, 14 X 21<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">ISBN<\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\"> : 979-602-958-359-5<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Cetakan: <\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">2011<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-left: -0.05cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\">Peresensi: Chairul Lutfi<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\">&nbsp;<\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Pemahaman agama masyarakat masih belum bisa terbentuk dengan dasar pengetahuan yang kuat. Melainkan pemahaman tersebut terbentuk karena nilai-nilai kultur sosial yang timbul dan berkembang dari sistem pewarisan budaya yang berjalan secara turun-temurun. Aktualisasi pemahaman agama masyarakat yang mencerminkan multukultularisme tampak pada sikap dan tindakan hormat-menghormati, menjaga kerukunan atau harmoni sosial, toleransi dan pengakuan terhadap eksistensi orang lain yang berbeda.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Faktor dominan yang mendukung terciptanya masyarakat multikulturalisme adalah pemuka-pemuka agama yang terus-menerus mensosialisasikan ajaran keagamaan yang berkaitan dengan kehidupan sosial disamping juga memberi  teladan nyata dalam sikap keseharian. Mengingat sebagai keluarga besar kebangsaan, harus disadari bahwa Indonesia memiliki dua macam sistem budaya, sistem budaya nasioanal dan system budaya etnik lokal yang biasa disebut dengan kearifan lokal.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Ahmad Kholil dalam mengurai dan membahas akar kultural dalam pemahaman agama masyarakat multikulturalisme menggunakan landasan teori Konstruksi Sosial yang di gagas oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Teori tersebut menyatakan bahwa realitas sosial merupakan kenyataan ganda, subjektif, dan objektif, yang berproses melalui tiga momen dialektis yaitu, eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi. Dalam konsteks penelitian realitas sosial yang diteliti yaitu mengambil lokasi di Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur adalah pemahaman agama masyarkat dan impelementasinya dalam bingkai multikulturalisme. <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Melalui buku hasil buah karya Ahmad Kholil yaitu <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\"><em>&ldquo;<\/em><\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\"><em>Agama (Kultural) Masyarakat Pinggiran<\/em><\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\"><em>&rdquo; <\/em><\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">mengajak untuk bisa menyelam dan memahami bahwa realitas sosial merupakan hasil dari konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia sendiri dalam komunitas yang mereka diami. Buku yang menunjukkan fenomena keberagaman yang inklusif di sebuah komunitas pinggiran yaitu, masyarakat Using di Banyuwangi dalam ulasan keanekaragaman didalamnya. <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"en-US\">Serta pemahaman tersebut terbingkai dalam pemahaman agama masyarakat dalam konteks multikulturalisme, pemahaman agama pemuka agama dalam konteks multikulturalisme, aktualisasi pemahaman agama masyarakat berkaitan dengan multikulturalisme, dan faktor pendukung serta penghambat implementasi multikulturalisme di masyarakat.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-bottom: 0cm;\">&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Judul Buku : Agama (Kultural) Masyarakat Pinggiran Penulis: Ahmad Kholil Editor : Jamiat Penerbit: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI) Tebal: 106 hlm, 14 X 21 ISBN : 979-602-958-359-5 Cetakan: 2011 Peresensi: Chairul Lutfi &nbsp; Pemahaman agama masyarakat masih belum bisa terbentuk dengan dasar pengetahuan yang kuat. Melainkan pemahaman tersebut terbentuk karena nilai-nilai kultur sosial yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-8684","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8684","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8684"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8684\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8684"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8684"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8684"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}