{"id":8598,"date":"2011-03-11T01:05:32","date_gmt":"2011-03-10T18:05:32","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/37-2\/"},"modified":"2011-03-11T01:05:32","modified_gmt":"2011-03-10T18:05:32","slug":"37-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/37-2\/","title":{"rendered":"Pergeseran Makna Tradisi"},"content":{"rendered":"<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; line-height: 200%; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><strong><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Mitos dan Tradisi Resepsi Perkawinan Masyarakat Muslim Bali<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Tradisi dalam resepsi pernkahan, tidak hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tadi, tapi di beberapa daerah lain juga terdapat mitos dan tradisi dalam pelaksanaan pernikahan masyarakat Muslim Indonesia. Saya tertarik pada hasil penelitian Usriah<\/span><a name=\"_ftnref1\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn1\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[1]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> yang menemukan tradisi Klakat pada masyarakat muslim Lolan Timur, Bali. Kelakat<em> <\/em>adalah suatu tradisi mengundang leluhur atau nenek moyang, bagi kerabat yang akan melaksanakan pernikahan, sebagai bentuk penghormatan pada nenek moyang yang sudah mati ratusan tahun yang lalu. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Menurut kepercayaan masyarakat Loloan Timur, tradisi Kelakat diawali pada sekitar tahun 1730, pada zaman kerajaan Bali, dimana pada saat itu ada seorang pengembara yang bernama Haji Usman yang sedang melakukan pelayaran ke negeri Aceh untuk berdagang. Dalam pelayarannya ia bertemu dengan seorang anak yang berumur 7 tahun yang bernama Ahmad Wildan.<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>Setelah Haji Usman mengetahui latar belakang Wildan yang memiliki banyak kekurangan, lalu ia berniat mengangkat Wildan untuk menjadi anaknya dan Wildan pun menerima tawaran tersebut dengan pergi ke Bali dan menjadi anak angkat Haji Usman. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dalam perjalanan hidupnya Wildan tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan giat membantu Haji Usman dalam berdagang.<span class=\"MsoFootnoteReference\"> <\/span>Ketika Ahmad Wildan mencapai usia dewasa, Haji Usman berniat untuk menikahkannya dengan seorang gadis yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Haji Usman. Akan tetapi, Wildan menolak perjodohan tersebut dengan alasan bahwa ia bukan manusia seutuhnya, melainkan ia adalah jelmaan macan. Pernyataan ini tentu saja sangat mengejutkan Haji Usman dan untuk membuktikan pernyataan Wildan tersebut, maka Wildan menyuruh Haji Usman untuk <em>mengubesnya<\/em> (memukulnya) dengan menggunakan sapu lidi (terbuat dari ranting kelapa gading), dan seketika itu juga Wildan pun berubah menjadi seekor macan setelah <em>diubes <\/em>(dipukul) dan berubah wujud menjadi manusia kembali setelah dipukul dengan sapu lidi kedua kalinya. Sejak kejadian tersebut Haji Usman percaya bahwa Ahmad Wildan adalah seorang manusia jelmaan macan. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Setelah Ahmad Wildan meninggal dunia, keturunan Haji Usman melaksanakan <em>kelakat <\/em><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>yang pada mulanya dilakukan sekitar tahun 1780-an dalam sebuah upacara perkawinan. Hal ini dilakukan untuk menghormati serta memberitahukan kepada Ahmad Wildan yang selama hidupnya telah banyak membantu dan menjaga keluarga Haji Usman. Sejak saat itu, pelaksanaan tradisi <em>kelakat <\/em>menjadi bagian penting dalam acara keluarga, seperti selamatan haji, sunatan dan perkawinan.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh keturunan Haji Usman, masyarakat yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan Haji Usman juga ikut melaksanakan tradisi <em>kelakat <\/em>dalam suatu acara keluarga dengan harapan agar mereka terhindar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan seperti kesurupan, kehilangan perabotan rumah tangga, makanan yang dimasak tidak matang, atau agar kedua pengantin tidak mudah sakit dalam suatu acara perkawinan. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Upacara ritual <em>kelakat <\/em>dilaksanakan pada waktu acara selamatan, menjelang maghrib hari pertama selamatan, sekitar pukul 18.30 WITA, waktu yang paling dekat dengan kedatangan arwah leluhur. Upacara juga harus dilaksanakan sebelum akad nikah berlangsung, atau sebelum kedua mempelai bertemu.<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>Pelaksanaan ritual dipimpin oleh tetua, dikenal oleh masyarakat dengan &ldquo;<em>tukang<\/em> <em>ngundang<\/em>&rdquo;, yakni orang yang memiliki keturunan langsung atau ahli waris dari ayah angkat Ahmad Wildan (jelmaan macan\/roh yang akan diundang). Tetua adalah orang yang dapat melihat para roh leluhur dan bercakap-cakap langsung dengan para leluhur yang akan diundang. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Sebelum pelaksanaan disiapkan tempat duduk, semua perlengkapan <em>aci-aci <\/em>yang berisi nasi kuning, nasi putih, nasi hitam, daun sirih, air putih, rokok, bubur katul, bendera (merah dan putih), dan telur ayam kampung. Semua bahan <em>aci-aci, <\/em>sebanyak 1 (satu) buah, ditaruh di atas bambu dan pelepah pisang yang dibentuk menyerupai talam.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Masing-masing bahan tersebut mempunyai makna berikut:<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">1.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Nasi kuning sebagai lambang kesetiaan.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">2.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Nasi putih sebagai lambang kesucian. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">3.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Nasi hitam sebagai lambang kejahatan.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">4.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Nasi putih, nasi kuning dan nasi hitam ini dibentuk menyerupai kerucut yang memiliki makna penghormatan kepada para leluhur.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">5.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Daun sirih sebagai lambang persaudaraan.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">6.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Air putih sebagai lambang<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>kebersihan, kejernihan dan kejujuran.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">7.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Rokok sebagai lambang pergaulan. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">8.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Bubur Katul merupakan makanan yang diperuntukkan bagi para leluhur jelmaan macan yang akan diundang dalam acara perkawinan. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">9.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Bendera merah dan putih: sebagai lambang<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>persatuan, keberanian, dan kesucian).<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">10.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Telur ayam kampung (mentah) sebagai lambang<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>kesehatan.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l1 level1 lfo3;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">11.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Makna peletakan tempat; Aci-aci dalam tradisi kelakat diletakkan pada bagian rumah yang paling atas (pare-pare) dimaksudkan agar para leluhur mereka dapat menjaga keluarga maupun orang yang terlibat didalamnya sampai acara perkawinan tersebut berakhir. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Perlengkapan <em>santun<\/em> yang berisi beras, gula merah, pisang dan kelapa, dibuat sebanyak 2 (dua) buah, dan ditaruh dalam mangkuk besar <em>(ceper). <\/em>Perlengkapan tersebut selanjutnya dilengkapi dengan pembakaran dupa Arab yang bertujuan agar para roh leluhur datang. Bahan-bahan tersebut mempunyai makna berikut:<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l0 level4 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">1.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Beras sebagai lambang<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>kehidupan (sebagai bahan dasar makanan utama). <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l0 level4 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">2.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Gula merah sebagai lambang<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>saling menyayangi.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l0 level4 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">3.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Pisang sebagai lambang persaudaraan.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l0 level4 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">4.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Kelapa sebagai lambang kebajikan.<em> <\/em><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Adapun makna peletakan posisi <em>santun<\/em> dalam tradisi <em>kelakat<\/em> adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l2 level2 lfo2;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">1.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Dapur, peletakan <em>santun<\/em> di dapur bertujuan agar masakan yang dimasak cepat matang dan perabotan yang ada tidak hilang. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: -21.3pt; margin: 0cm 0cm 0pt 21.3pt; mso-list: l2 level2 lfo2;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\"><span style=\"font-size: small;\">2.<\/span><span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\">Kamar pengantin, peletakan <em>santun <\/em>di kamar pengantin dimaksudkan agar calon pengantin dapat terhindar dari penyakit dan agar para leluhur mereka dapat menjaga atau mendampinginya paling tidak sampai dengan acara perkawinan berakhir. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Setelah semuanya memenuhi syarat, ritual tradisi kelakat pun segera dilaksanakan di 3 (tiga) tempat yang berbeda. <em>Aci-aci <\/em>diletakkan di <em>pare-pare<\/em> (bagian rumah yang paling atas),<em> <\/em>2 <em>santun<\/em> masing-masing diletakkan di kamar pengantin dan dapur umum. Dalam proses peletakan tersebut <em>tukang ngundang<\/em> membakar dupa sambil membaca mantera berikut: <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&#8220;Assalamu&rsquo;alaikum, saye disini nak ngundang para leluhur semuenye gaan saye nak merii tau kalo&rsquo; disini ade acare nikahannye Si A dan Si B. saye nak harepi sumue leluhur mau njage&rsquo;i acare ni sampe ndur gaan dijauhi dari segale<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>yang mbuat celake.&rdquo;<span class=\"MsoFootnoteReference\"> <a name=\"_ftnref2\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn2\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\">[2]<\/span><\/span><\/span><\/a><\/span> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><em><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Acara seperti ini selalu dilakukan dalam setiap acara perkawinan di Kelurahan Loloan Timur, sehingga pada akhirnya menjadi suatu tradisi dan memunculkan mitos nenek moyang (leluhur) yang tidak boleh diabaikan. Pelanggaran terhadap tradisi akan berakibat tidak baik, sebagaimana yang dialami pasangan Hanif dan Siti Fitriah yang melakukan resepsi pernikahan pada 25 Agustus 1990. Keluarga pengantin yang tidak mengetahui bahwa memiliki hubungan kekerabatan dengan jelmaan macan, melaksanakan selametan dengan tidak memperhatikan tradisi <em>kelakat.<\/em>Akibat meninggalkan tradisi tersebut maka terjadilah hal berikut:<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;&hellip;terus orang tuenye nganten tu kemacanan waktu die kemacanan tu serupe ajak kelakuannye macan die ngigo dan ngomong kalo&rsquo; die tu leluhurnye keluarge nganten teros die ngomong kalo&rsquo; die tu mintak diundang dalam acare ngantenan &hellip;.&rdquo;<span class=\"MsoFootnoteReference\"> <a name=\"_ftnref3\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn3\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\">[3]<\/span><\/span><\/span><\/a><\/span> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Kejadian seperti demikian juga bisa terjadi apabila lupa melaksanakan tradisi <em>kelakat. <\/em>Pasangan Rosidah dan Tamrin yang menikah pada tanggal 18 September 1993 tidak melakukan ritual <em>kelakat <\/em>pada waktu acara selametan sehingga berakibat:<em> &ldquo;..waktu selametan tu, nganten perempuannye kemacanan terus masakannye dak bise-bise masak sampe orang-orang yang ade di dapur kerepotan, semuenye ngeluh&hellip;&rdquo;<\/em>.<\/span><a name=\"_ftnref4\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn4\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[4]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Melihat realitas tradisi seperti yang disebutkan di atas, masyarakat memandang secara berbeda-beda. Siti Fatimah mengatakan: <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;Kelakat ni bukannye ngundang roh para leluhuran waktu acare selametan ngantenan apelagi make&rsquo; aci-aci ajak santun yang diberi&rsquo;i ajak leluhurnye, terus ritual ni ga&rsquo;an diangpepnye bise meri&rsquo;i keselametan ajak kebahagiaan waktu acarenye selametan. Makanye encu dak ngikuti tradisi kelaketan ni soalnye tradisi ni termasuk peraktek ritual yang mengarah ajak perbuatan syirik ape lagi ritual ni menyebabken awak syirik kepada Allah. &rdquo;<span class=\"MsoFootnoteReference\"> <a name=\"_ftnref5\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn5\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\">[5]<\/span><\/span><\/span><\/a><\/span> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><em><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Husin Abdul Jabar, tokoh agama dan tokoh masyarakat, yang menjadi panutan dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan keagamaan masyarakat di Kelurahan Loloan Timur, menyatakan:<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&rdquo; tradisi ni dak ade dalam ajaran Islam, mongken terjadinye kesurupan atau hal-hal yang nyebabpi celake pada waktu acare selametan disebabken oleh jin yang engen kite mengikutinye atau syirik. Karena jin atau setan engen kite sesat dan terjerumus ke nerake. Jadi tradisi kelakat tu hanye anggapan atau kepercayean yang seharusnye gak usah lagi dilestarikan&rdquo;.<\/span><a name=\"_ftnref6\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn6\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[6]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><em><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Begitu juga dengan KH. Ahmad Zakki, salah seorang pengasuh pondok pesantren Mamba&rsquo;ul &lsquo;Ulum di Kelurahan Loloan Timur menyatakan: <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;kite sebagai orang Islam harus bise memilih dan memilah mane yang bise kite kerja&rsquo;i dan mane yang harus kite tinggali. Walaupun kelakat tu adalah teradisi masyarakatnye kite, tapiken kite tahu kalo&rsquo; tradisi kelakat tu mintak perlindungan ajak selain Allah, yang jelas-jelas itu dilarang ajak agamenye kite. Jadi sebelum kite mengarah keperbuatan syirik lebih baik gak usah melakukan kelakat.&rdquo;<\/span><a name=\"_ftnref7\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn7\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[7]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><em><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">KH. Fathurrahim, salah seorang pengurus pondok pesantren Mamba&rsquo;ul &lsquo;Ulum di Kelurahan Loloan Timur, menyatakan: <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;ditengok dari tujuannye an apa&rsquo; sudah dak setuju, apelagi sampek ngelakuinye, kite jangan sampek ngelakui tradisi kelakat tu, karena dak ade same sekale hubungannye ajak ajaran agama Islam. Karena yang nentu&rsquo;i segale sesuatunye tu hanyalah Allah. Jadi kalo&rsquo; bise tradisi yang kaya&rsquo; gitu tu sebaiknye ditinggalkenan, karena itu bise menjerumuskan kite kepada kesyirikan dan kekufuran.&rdquo;<\/span><a name=\"_ftnref8\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn8\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[8]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">H. Abdul Qadir, pemberi fatwa dalam setiap acara pernikahan, menyatakan: <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;Kelakat atau ngundang roh leluhur waktu acare selametan perkawinan tu cuma&rsquo; kepercayean sebagian masyarakat an, dan tu dak ade hubungannye ajak ajaran Islam. Apelagi kite sebagai orang yang punye iman dan tau lagi ajak ape yang dilarang dan diperbolehken ajak agameken. Jadi kite harus tau kalo&rsquo; hal-hal yang seperti itu tu gak boleh kita ikuti. Katenye mintak perlindunganlah, keselametanlah dan lain sebagainye. Kitekan tau kalo&rsquo; mintak perlindungan dan keselametan tu hanya kepada Allah.&rdquo;<\/span><a name=\"_ftnref9\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn9\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[9]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: \"Times New Roman\",\"serif\"; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\">Begitu juga Damanhuri, tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa tradisi seperti itu sudah waktunya ditinggalkan oleh masyarkat. Selengkapnya beliau mengatakan: &ldquo;kepercayaan yang kaya&rsquo; gitu tu sudah mestinye kite tinggalken karena tu merupaken tradisi yang dak sesuai ajak agame yang dianutnye. Tapi geane lagi, karena itu tu sudah menjadi kebiasean masyarakat apelagi sudah taen ade kejadian-kejadian<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>yang taen terjadi waktu acare pernikahan dilakuken, emang sulet nak ngilangi tradisi ajak keyakenan tu.&rdquo;<a name=\"_ftnref10\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn10\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\">[10]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><span style=\"background-color: #f4f4f4; font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<div style=\"mso-element: footnote-list;\"><span style=\"background-color: #f4f4f4; font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/p>\n<hr size=\"1\" \/> <\/span> <\/p>\n<div id=\"ftn1\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoBodyText\" style=\"text-align: justify; line-height: normal; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn1\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref1\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[1]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Usriah, &#8220;Tradisi Kelakat dalam Perkawinan: Studi Pada Masyarakat Muslim Kelurahan Loloan Timur Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Bali,&#8221; <em>Skripsi<\/em> (Malang: Fakultas Syari&#8217;ah UIN Malang, 2007).<\/span><\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn2\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn2\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref2\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[2]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Assalamu&rsquo;alaikum, saya disini untuk mengundang para leluhur semua dan saya memberitahukan bahwa disini ada acara pernikannya si A dan si B. Saya berharap agar semua leluhur dapat menjaga acara ini sampai selesai dan dijauhkan dari segala yang dapat membuat celaka&rdquo;<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn3\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn3\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref3\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[3]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-size: x-small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">&ldquo;&hellip;orang tua dari calon pengantin tersebut mengalami kesurupan yang dalam kesurupan tersebut orang tua calon pengantin berkelakuan layaknya seekor macan serta mengigau dan mengatakan bahwa ia adalah leluhur yang meminta untuk diundang &hellip;<em>&rdquo;<\/em><\/span><\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn4\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn4\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref4\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[4]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;&hellip;Pada waktu acara selamatan calon pengantin perempuan kesurupan dan masakan yang dimasak tidak bisa matang sehingga mempersulit para pekerja yang ada di dapur&hellip;.&rdquo;<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn5\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn5\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref5\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[5]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Tradisi <em>Kelakat <\/em>ini<em> <\/em>bukan hanya untuk mengundang roh para leluhur pada acara selamatan pernikahan yang disertai dengan <em>aci-aci <\/em>dan <em>santun <\/em>yang dipersembahkan kepada leluhur, tetapi ritual ini juga dianggap dapat memberi keselamatan dan kebahagiaan dalam acara selamatan. Dengan alasan itulah <em>encu <\/em>(bibi atau panggilan untuk Siti Fatimah) tidak pernah mengikuti tradisi <em>kelakat <\/em>tersebut karena tradisi tersebut merupakan praktek ritual yang mengarah kepada perbuatan syirik dan ritual tersebut disertai dengan hal-hal yang menyebabkan syirik kepada Allah&rdquo;.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn6\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn6\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref6\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[6]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Tradisi ini tidak ada dalam ajaran agama Islam, mungkin terjadinya kesurupan atau hal-hal yang membuat celaka pada waktu acara selamatan disebabkan oleh jin yang menginginkan kita untuk mengikutinya atau berbuat syirik. Karena jin atau setan menginginkan agar kita tersesat dan terjerumus ke dalam neraka. Jadi tradisi <em>kelakat <\/em>itu hanya anggapan atau kepercayaan yang seharusnya tidak perlu lagi dilestarikan&rdquo;<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn7\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn7\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref7\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[7]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">&ldquo;Kita sebagai orang Islam harus bisa memilih dan memilah mana yang bisa kita kerjakan dan mana yang harus kita tinggalkan. Walaupun <em>kelakat <\/em>itu adalah tradisi masyarakat kita, akan tetapi kita tahu jika tradisi <em>kelakat <\/em>itu meminta perlindungan selain kepada Allah, yang jelas-jelas itu dilarang dalam agama kita. Jadi sebelum kita mengarah ke perbuatan syirik lebih baik tidak usah melaksanakan tradisi <em>kelakat&rdquo;.<\/em><\/span><\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn8\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn8\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref8\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[8]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Dilihat dari tujuannya saja saya sudah tidak setuju, apalagi jika melakukannya. Kita jangan melaksanakan tradisi <em>kelakat <\/em>karena tidak ada hubungannya dengan ajaran agama Islam. Karena yang menentukan segala sesuatunya hanyalah Allah. Jadi jika perlu tradisi yang seperti itu sebaiknya ditinggalkan saja, karena hal itu dapat menjerumuskan kita kepada kesyirikan dan kekufuran.&rdquo;<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn9\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn9\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref9\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[9]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Menurut beliau, <em>kelakat <\/em>atau mengundang roh leluhur pada waktu acara selamatan perkawinan itu hanya kepercayaan sebagian masyarakat saja dan itu tidak ada hubungan sama sekali dengan ajaran Islam. Apalagi kita sebagai orang yang beriman dan mengerti dengan apa yang dilarang dan diperbolehkan oleh agama. Jadi kita harus tahu jika hal-hal yang seperti itu tidak boleh kita ikuti, seperti meminta perlindungan, keselamatan dan lain sebagainya selain kepada Allah.&rdquo;<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn10\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 35.45pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn10\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref10\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[10]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">&ldquo;Kepercayaan tersebut merupakan hal yang sudah seharusnya ditinggalkan karena itu merupakan tradisi yang tidak sesuai dengan agama yang mereka anut. Akan tetapi, karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat apalagi sudah ada kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi pada waktu acara pernikahan dilaksanakan, maka sulit untuk menghilangkan tradisi dan keyakinan tersebut&rdquo;.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mitos dan Tradisi Resepsi Perkawinan Masyarakat Muslim Bali Tradisi dalam resepsi pernkahan, tidak hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tadi, tapi di beberapa daerah lain juga terdapat mitos dan tradisi dalam pelaksanaan pernikahan masyarakat Muslim Indonesia. Saya tertarik pada hasil penelitian Usriah[1] yang menemukan tradisi Klakat pada masyarakat muslim Lolan Timur, Bali. Kelakat adalah suatu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-8598","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8598"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8598\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}