Reporter : Muhammad Fathir Najib
Editor : Rizka Amaliah
SYARIAH — 11 November 2025, prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Fathan, mahasiswa UIN Malang, berhasil menjuarai lomba esai pada ajang Maliki Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Malang, yang dimulai dari tanggal 24 Oktober 2025 untuk sesi pendaftaran lomba, dan di akhiri dengan penyerahan penghargaan sekaligus penutupan acara pada tanggal 22 November 2025
Fathan mengaku, keinginannya untuk berprestasi berawal dari momen ketika ia masih menjadi mahasiswa baru.
“Awalnya terinspirasi dari waktu PBAK fakultas, saat ada pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi. Dari situ saya mulai termotivasi ingin menjadi mapres di tahun berikutnya,” ujarnya.
Lomba esai tersebut diikuti oleh sekitar 30 peserta dari berbagai fakultas dan jurusan di UIN Malang. Dari jumlah itu, sepuluh peserta terbaik berhak melaju ke babak final dan mempresentasikan karya mereka secara langsung di Aula Gedung D lantai 3. Dalam kompetisi itu, Fathan mengusung karya berjudul “ECOLITERATE: Prakarsa Inovasi Bank Sampah Berbasis Green Swap untuk Solusi Mengatasi Krisis Lingkungan dan Revitalisasi Buku Layak Baca.”

Meski berhasil meraih juara, Fathan tak menampik bahwa proses menuju kemenangan penuh tantangan. Ia mengaku sempat kesulitan mengatur waktu karena bersamaan dengan masa liburan dan kesibukannya menjadi KOL dalam kegiatan PBAK.
“Tantangannya lebih ke manajemen waktu, karena nulis esai itu nggak bisa instan dan butuh fokus tinggi,” jelasnya.
Dalam perjalanan prestasinya, Fathan mengungkapkan bahwa sosok yang paling berperan adalah ibunya.
“My mom adalah orang yang paling berperan, karena beliau selalu bangga kalau anaknya bisa berprestasi,” ungkapnya dengan bangga.
Dari pengalaman mengikuti lomba ini, Fathan belajar banyak hal, terutama tentang manajemen waktu dan kemampuan analisis terhadap tema yang diangkat. Ia juga berbagi strategi sederhana bagi mahasiswa lain yang ingin berprestasi.
“Intinya berusaha dan berdoa. Kalau ikut lomba esai, hal pentingnya adalah inovasi. Otak harus dipaksa kreatif dan peka terhadap isu-isu terkini,” tuturnya.
Sebagai mahasiswa yang juga aktif di organisasi, Fathan mengaku masih sering kewalahan membagi waktu. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk tetap produktif.
“Biasanya aku pakai sticky notes yang aku tempel di kaca kamar. Di situ aku buat agenda 1–2 minggu ke depan dengan skala prioritas,” ujarnya.
Menutup wawancara, Fathan berpesan kepada mahasiswa Fakultas Syariah agar terus bersemangat mengejar prestasi.
“Tetap semangat, karena prestasi itu harus dikejar, bukan mengejar. Kalah itu wajar, karena itu bagian dari proses menuju kemenangan. Ambil jatah kalahmu sekarang, nanti tinggal sisa menang,” pesannya.
Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Fathan menjadi bukti nyata bahwa prestasi besar lahir dari ketekunan, inovasi, dan keberanian untuk mencoba.





