{"id":8582,"date":"2011-03-07T07:38:15","date_gmt":"2011-03-07T00:38:15","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/22-2\/"},"modified":"2011-03-07T07:38:15","modified_gmt":"2011-03-07T00:38:15","slug":"22-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/22-2\/","title":{"rendered":"PROBLEMATIKA STUDI AL-QUR&#8217;AN"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Problematika Studi al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u2019an belum pernah sebelum masa ini begitu banyak dipakai oleh jutaan kaum mukminin untuk mengabsahkan perilaku, mendukung peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara berbagai harapan, melestarikan keyakinan, dan memperkukuh identitas kolektif dalam menghadapi berbagai kekuatan penyerangan dari peradaban industri.<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a> Dengan begitu, studi al-Qur\u2019an semakin banyak diminati, baik oleh kalangan umat Islam sendiri maupun kalangan ilmuan dari agama lain. Jika dilihat secara historis, dalam perkembangan studi al-Qur\u2019an, tafsir merupakan ilmu yang paling tua. Hanya saja, tafsir pada masa awal hingga abad pertengahan banyak yang bersifat <em>lughawi<\/em> (leksiografis).<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di dunia Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, studi al-Qur\u2019an berada di bawah Fakultas Ushuluddin, sebagian yang lain di Fakultas Syari\u2019ah. Sedang di luar dua fakultas itu, studi al-Qur\u2019an juga diperkenalkan kepada mahasiswa dalam beberapa fakultas lain dalam mata kuliah Ulum al-Qur\u2019an, Ilmu Tafsir, atau Tafsir. Akan tetapi, di beberapa Perguruan Tinggi Islam, studi al-Qur\u2019an masih menampakkan kesan kuat corak studi leksiografis sebagaimana pada masa awal perkembangannya. Padahal, menurut M. Amin Abdullah,<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a> corak penafsiran seperti itu dapat membawa mahasiswa pada pemahaman al-Qur\u2019an yang kurang utuh karena belum mencerminkan satu kesatuan pemahaman terpadu dari ajaran al-Qur\u2019an yang fundamental. Oleh karenanya, saya pikir, diperlukan sebuah pengembangan model studi al-Qur\u2019an yang dapat mencerminkan satu kesatuan pemahaman yang utuh dan terpadu dari ajaran al-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, kebutuhan pengembangan studi al-Qur\u2019an merupakan sebuah keniscayaan dan tuntutan dari dua hal berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendekatan studi al-Qur\u2019an belakangan sudah merambah ke berbagai perspektif dan analisis, bukan lagi dengan hanya menggunakan satu perspektif, teologis-normatif, melainkan menggunakan berbagai perspektif modern<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a> Tegasnya, Metodologi Studi al-Qur\u2019an, atau lebih dikenal dengan Ilmu Tafsir, merupakan salah satu ilmu (ke)Islam(an) yang mengalami perkembangan sangat cepat, bahkan lebih cepat apabila dibandingkan dengan metode keilmuan yang lain, seperti metode studi hadis dan <em>ushul al-fiqh<\/em> (metode <em>istinbath<\/em> hukum). Untuk itu, pemberian mata kuliah ilmu-ilmu al-Qur\u2019an dengan sistim keilmuan klasik, yakni pemisahan antara Ulum al-Qur\u2019an dan Ilmu Tafsir, yang disajikan secara parsial akan mengakibatkan mahasiswa ketinggalan perkembangan studi al-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hal lain yang mendukung urgensi pengembangan studi al-Qur\u2019an adalah dikedepankannya al-Qur\u2019an sebagai paradigma berpikir (<em>manhaj al-fikr<\/em>). Tawaran paradigma al-Qur\u2019an (<em>Qur\u2019anic paradigm<\/em>) sebagai paradigma alternatif merupakan salah satu respon terhadap imperialisme epistemologis yang lebih banyak dipengaruhi oleh rasionalisme dan empirisme dalam metode ilmiah (<em>scientific method<\/em>).<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a> Hal yang terakhir disebutkan ini pada perkembangannya mengakibatkan ilmu pengetahuan modern, tegasnya ilmu pengetahuan Barat, memperoleh kritik tajam dari banyak ahli yang menganggap ilmu pengetahuan Barat sebagai faktor utama dari runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan karena memisahkan manusia dengan alam dan mematahkan nilai dari ranting-ranting pengetahuan. <a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menjawab itu semua, studi al-Qur\u2019an tidak bisa disajikan dengan hanya menggunakan satu paradigma, tetapi mesti multi partadigma, sesuai dengan makna al-Qur\u2019an yang multi-sisi dan multi-dimensi. Dengan demikian, keilmuan studi al-Qur\u2019an yang sementara ini dilakukan dalam sistim keilmuan yang parsial, mesti dirubah dengan penggunaan paradigma dan pendekatan holistik, yakni pendekatan yang menjadikan keilmuan studi al-Qur\u2019an dalam satu kesatuan yang terpadu, untuk menghindari dampak yang paling negatif dari akibat studi al-Qur\u2019an yang parsial tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendekatan holistik dalam studi al-Qur\u2019an pada sisi lain diperlukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan kontemporer yang belum ditemukan pada masa sebelumnya. Apalagi, dampak modernisasi yang kian tidak menentu seperti sekarang, tidak cukup diselesaikan dengan hanya menggunakan literatur-literatur klasik, melainkan diperlukan reinterpretasi terhadap ajaran al-Qur\u2019an agar doktrin agama tidak tertinggal dari realitas dan kebutuhan hidup masyarakatnya. Dalam hal ini Lawrence mengatakan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cReading the Quran in tanderm with early Islamic history remains, for Muslims, both an act of piety and an interpretative challenge. How does one respond in successive eras to devine revelation? Is submision to the will of God best accomplished by conforming to the patterns of ealier epoches? Or does one have to search a new for the spirit of God\u2019s directive and Muhammad\u2019s example and try to apply their guidance to today\u2019s challenges?\u201d<\/em> <a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Apa yang dikatakan Lawrence di atas secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah kesadaran perlunya reinterpretasi (penafsiran ulang) doktrin-doktrin agama (dalam Islam al-Qur\u2019an dan hadis) agar doktrin-doktrin agama tersebut sesuai dan dapat menjawab permasalahan-permasalahan kekinian masyarakatnya. Hal ini juga dipahami sebagai upaya untuk menjadikan wahyu (al-Qur\u2019an) sebagai petunjuk bagi manusi<a href=\"#_ftn8\">[8]<\/a> dalam menyelesaikan perselisihan dan permasalahan yang dihadapinya.<a href=\"#_ftn9\">[9]<\/a> Fungsi-fungsi wahyu seperti yang antara lain disebutkan tadi hanya dapat teraplikasikan apabila setiap umat Islam dapat memahaminya sesuai dengan konteks kekiniannya, bukan berdasarkan konteks historisnya semata. Namun, karena untuk memahami al-Qur\u2019an dalam praktiknya membutuhkan penelitian, pendekatan dan analisis yang mendalam, sesuai dengan sifat al-Qur\u2019an yang <em>mujmal<\/em> (global), maka dalam kegiatan menginterpretasi al-Qur\u2019an pasti membutuhkan sebuah ilmu yang kita sebut dengan Ilmu Tafsir.<\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu Tafsir dalam hal ini dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana al-Qur\u2019an dapat diteliti, didekati dan dianalisis secara benar. Untuk itu, Ilmu Tafsir pada dasarnya merupakan ilmu yang secara epistemologis bertugas membangun \u201ckerangka kerja\u201d studi al-Qur\u2019an. Dalam fungsinya ini, ia dapat pula disebut dengan Metodologi Studi al-Qur\u2019an yang di dalamnya tercakup seluruh aspek metodologis dari studi al-Qur\u2019an. Dari sini dapat dipahami bahwa Ilmu Tafsir harus dibedakan dari Ulum al-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila pemahaman ini benar, saya berasumsi beberapa silabi yang ada di beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Indonesia perlu direformulasi. Sebab, sebagian dari materi Ilmu Tafsir masih tumpang tindih (<em>over lapping<\/em>) dengan Ulum al-Qur\u2019an. Jika kita mengatakan bahwa tafsir adalah penjelasan maksud dari sebuah ayat yang sulit dipahami,<a href=\"#_ftn10\">[10]<\/a> misalnya, maka Ilmu Tafsir adalah ilmu yang membahas tentang bagaimana kita dapat mengetahui ayat yang sulit dipahami tersebut, bagaimana cara menjelaskan, dan dengan apa kita dapat menjelaskannya.<a href=\"#_ftn11\">[11]<\/a> Untuk itu, pembahasan Ilmu Tafsir mesti ditekankan kepada bidang-bidang metodologis, bukan kepada <em>Makkiyah-Madaniyah<\/em>, <em>I\u2019jaz al-Qur\u2019an<\/em>, dan <em>Qira\u2019at al-Qur\u2019an<\/em>, sebagaimana yang menjadi kajian sementara ini diberbagai Perguruan Tinggi Islam, sebab sekalipun cara menafsirkan al-Qur\u2019an selalu berkaitan dengan bahasan-bahasan tersebut, hal ini sudah tercakup dalam Ulum al-Qur\u2019an, dan tidak perlu diulang-ulang kembali dalam mata kuliah lain.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong> Anjuran Pendalaman Buku Bacaan<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Abdullah, M. Amin (1996) <em>Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? <\/em>Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar.<\/p>\n\n\n\n<p>Ahmad, Kursyid (1995)&nbsp; \u201cThe Challenge of Islam,\u201d dalam John J. Donohue dan John L. Esposito, \u201cIslam in Transition: Muslim Perspectives\u201d, diterjemahkan oleh Machnun Husein dengan judul <em>Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-masalah<\/em>. Edisi I; Cet. V; Jakarta: RajaGrafindo Persada.<\/p>\n\n\n\n<p>Arkoun, Mohammed( 1997) \u201cLectures du Coran\u201d, diterjemahkan oleh Machasin dengan judul, <em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u2019an<\/em>. Jakarta: INIS.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Attas, Syed Naquib (1981) <em>Islam dan Sekularisme<\/em>. Bandung: Pustaka Salman.<\/p>\n\n\n\n<p>Baqir, Haidar dan Zainal Abidin (1998) \u201cFilsafat Sains Islami: Kenyataan atau Khayalan? Pengantar dalam Mahdi Ghulsyani, \u201cThe Holy Quran and the Sciences of Nature\u201d, diterjemahkan oleh Agus Effendi dengan judul, <em>Filsafat Sains Menurut al-Qur\u2019an<\/em>. Cet. X; Bandung: Mizan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibn Mandzur, Abu al-Fadhil Jamal al-Din Muhammad. (t.th.) <em>Lisan al-\u2018Arab<\/em>. Beirut: Dar al-Shadr.<\/p>\n\n\n\n<p>Lawrence,&nbsp; Bruce B.(1994) \u201cWoman as Subject\/Woman as Symbol,\u201d <em>Jurnal of Religious Ethics<\/em>, 22. Spring.<\/p>\n\n\n\n<p>Minhaji, Akh. (2000) \u201cMasa Depan Studi Hukum Islam: Problem Metodologi\u201d, <em>Makalah<\/em> disajikan dalam Kuliah Perdana Jurusan Syari\u2019ah STAIN Malang, 4 September.<\/p>\n\n\n\n<p>Rahman, Fazlur (1982) <em>Islam and Modernity<\/em>. Chicago: The University of Chicago Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Shihab, M. Quraish (1997) <em>Mukjizat al-Qur\u2019an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib<\/em>. Cet. I; Badung: Mizan.<\/p>\n\n\n\n<p>Syirbashi, Ahmad (1994) <em>Sejarah Tafsir al-Qur\u2019an<\/em>. Edisi terjemah. t.tp.: Pustaka Firdaus.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a>Mohammed Arkoun, \u201cLectures du Coran\u201d, diterjemahkan oleh Machasin dengan judul, <em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u2019an<\/em> (Jakarta: INIS, 1997),&nbsp;&nbsp; 9.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a>Lebih lanjut baca Fazlur Rahman, <em>Islam and Modernity<\/em> (Chicago: The University of Chicago Press, 1982),&nbsp;&nbsp; 36.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a>M. Amin Abdullah, <em>Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? <\/em>(Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),&nbsp;&nbsp;&nbsp; 139.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a>Contoh mengenai ini baca misalnya Muhammad Arkoun, \u201cLectures do Coran\u201d, diterjemahkan oleh Machasin dengan judul, <em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u2019an<\/em> (Jakarta: INIS, 1997). Dalam buku ini Arkoun membongkar pendekatan-pendekatan pembacaan al-Qur\u2019an yang dipergunakan oleh ulama\u2019 salaf dengan menggunakan beberapa pendekatan kebahasaan kontemporer. Lihat juga misalnya M. Quraish Shihab, <em>Mukjizat al-Qur\u2019an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib<\/em> (Cet. I; Badung: Mizan, 1997). Dalam buku ini Shihab mengkaji kemukjizatan al-Quran dengan menggunakan pendekatan historis, sosiologis, antropologis dan pengetahuan alam dalam menjelaskan mukjizat al-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a>Lihat pandangan ini dalam Haidar Baqir dan Zainal Abidin, \u201cFilsafat Sains Islami: Kenyataan atau Khayalan? Pengantar dalam Mahdi Ghulsyani, \u201cThe Holy Quran and the Sciences of Nature\u201d, diterjemahkan oleh Agus Effendi dengan judul, <em>Filsafat Sains Menurut al-Qur\u2019an<\/em> (Cet. X; Bandung: Mizan, 1998),&nbsp;&nbsp; 7 dst.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a>Sebagian kritik ini dalam Syed Naquib al-Attas, <em>Islan dan Sekularisme<\/em> (Bandung: Pustaka Salman, 1981).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a>Bruce B. Lawrence, \u201cWoman as Subject\/Woman as Symbol,\u201d <em>Jurnal of Religious Ethics<\/em>, 22 (Spring, 1994), 181; Seperti dikutip oleh Akh. Minhaji, \u201cMasa Depan Studi Hukum Islam: Problem Metodologi\u201d, <em>Makalah<\/em> disajikan dalam Kuliah Perdana Jurusan Syari\u2019ah STAIN Malang, 4 September 2000,&nbsp;&nbsp; 1.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref8\">[8]<\/a>QS. Al-Baqarah (2):185; QS Ibrahim (14):1.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref9\">[9]<\/a>QS. Al-Baqarah (2):213.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref10\">[10]<\/a>Lihat pengertian ini dalam Abu al-Fadhil Jamal al-Din Muhammad bin Mandzur, <em>Lisan al-\u2018Arab<\/em> (Beirut: Dar al-Shadr, t.th.),&nbsp;&nbsp; 55.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref11\">[11]<\/a>Baca beberapa pendapat yang menganggap bahwa tafsir adalah seperti apa yang saya contohkan tadi dalam Ahmad Syirbashi, <em>Sejarah Tafsir al-Qur\u2019an<\/em>. Edisi terjemah (t.tp.: Pustaka Firdaus, 1994), h 5-6.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref12\">[12]<\/a>QS. Thaha (20): 113.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref13\">[13]<\/a>M. Quraish Shihab,<em> Mukjizat al-Qur\u2019an; Ditinjau dari&nbsp; Aspek Kebahasaan. Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib<\/em> (Cet. I; Bandung: Mzian, 1997), &nbsp;102<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref14\">[14]<\/a>Perhatikan QS. Al-Najm (53): 3-4.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref15\">[15]<\/a>M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur\u2019an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), 568<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref16\">[16]<\/a>Lihat al-Imam Abi al-Husayn Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyayriy al-Naysaburiy, <em>Shahih Muslim<\/em>, Juz I (Bairut Dar al-Fikr, 1992), 188.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref17\">[17]<\/a><em>Koine\u2019<\/em> puisi adalah pemahaman bahwa puisi bukan dialek dari suku apa pun , melainkan bahasa susastra artifisial yang dipahami semua suku.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref18\">[18]<\/a>Pandangan-pandangan ini selanjutya baca dalam William Montgomery Watt, \u201cBell\u2019s Introduction to the Qur\u2019an\u201d, diterjemahkan oleh Lillian D. Tedjasudhana dengan judul, <em>Richard Bell: Pengantar Qur\u2019an <\/em>(Jakarta: INIS, 1998), 72 \u2013 73.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref19\">[19]<\/a>Mohammed Arkoun, \u201cLectures du Coran\u201d, diterjemahkan oleh Machasin dengan judul, <em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u2019an<\/em> (Jakarta: INIS, 1997),&nbsp;&nbsp; 80-81; tentang bagaimana prpoyeksi pengkajian kebahasaan al-Qur\u2019an Arkoun tersebut diletakkan dalam sebuah bab khusus tentang \u201cPembacaan Al-Fatihah\u201d halaman 89 dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref20\">[20]<\/a>Mohammad Arkoun, <em>Pemikiran Arab<\/em>. Edisi terjemah (Yogyakarta: Pusataka, 1996), 1.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref21\">[21]<\/a>M. Quraish Shihab, \u201cMukjizat\u201d <em>op. cit<\/em>,&nbsp;&nbsp; 89 dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref22\">[22]<\/a>Menurut Schoun bahwa integritas manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan potensi intelegesi yang mampu berhubungan secara transenden mampu menerima aturan-aturan vertika, dan dengan potensi kehendak terkait dengan berhubungan secara horisontal. Lihat selanjutnya dalam Frithjof Schoun, <em>Understanding Islam<\/em> (London: Unwin Paperback, 1976),&nbsp;&nbsp; 13 \u2013 15.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref23\">[23]<\/a>QS. al-Nahl (16):44.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref24\">[24]<\/a>Syaikh Qasim al-Qaysiy, <em>Tarikh al-Tafsir<\/em> (Iraq: Majma\u2019 al-\u201cilmiy al-\u2018Iraqiy, 1966), 50-51.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref25\">[25]<\/a>Di antara sahabat yang terkenal dalam bidang tafsir adalah \u2018Aliy bin Abi Thalib, \u2018Abdullah bin Salam, \u2018Ubay bin Ka\u2019ab dan \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud. Baca Thaba\u2019 Thaba\u2019i, \u201cal-Qur\u2019an fi al-Islam\u201d, diterjemahkan oleh A. Madaniy dengan judul , <em>Mengungkap Rahasisa al-Qur\u2019an <\/em>(Bandung: Mizan, 1987), 64.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref26\">[26]<\/a>M.Quraish Shihab, <em>Membumikan al-Qur\u2019an: Fungsi dan Pesan Wahyu dalam kehidupan Masyarakat<\/em> (Cet. XIV; Bandung: Mizan, 1997), 71.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref27\">[27]<\/a>Abu al-Husayn Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, <em>Maqayis al-Lughah<\/em>, juz IV (Mesir: Mushthafa al-Babiy al-Halabiy, 1970), 504.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref28\">[28]<\/a>Abu al-Fadlil Jamal al-Din Muhammad ibn Mandzur, <em>Lisan al-\u2018Arab<\/em> (Bairut: Dar al-Shadr, t.t ),&nbsp;&nbsp; 55.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref29\">[29]<\/a>Muhammad \u2018Abd al-\u2018Adhim al-Zarqaniy, Muhammad \u2018Abd al-\u2018Adhim al-Zarqaniy, <em>Manahil al-\u2018Irfan fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an, <\/em>juz II&nbsp; (t.t.: Dar al-Fikr, t.th.),&nbsp;&nbsp; 3-4.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref30\">[30]<\/a>\u2018Abd al-Wahhab ibn Ibrahim Abu Sulayman, <em>al-Fikr al-Ushul<\/em> (Jaddah: Dar al-Syuruq, 1983),&nbsp;&nbsp; 141.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref31\">[31]<\/a>Selanjutnya lihat Muhammad Adib Shalih, <em>Tafsir al-Nushush fi al-Fiqh al-Islamiy<\/em>, juz I (Bairut: al-Maktab al-Islamiy, 1984),&nbsp;&nbsp; 31-42; dalam hal ini Adib menjelaskan bahwa <em>bayan<\/em> dibagi pada empat, <em>bayan taqrir<\/em> (untuk mempertegas ketentuan yang dijelaskan ayat sebelumnya), <em>bayan tafsir<\/em>, <em>bayan taghyir<\/em> (untuk mengkhususkan atau membuat pengecualian penjelasan ayat sebelumnya), dan <em>bayan dlarariy<\/em> (untuk membuat pengecualian dengan ketentuan kondisional); Bandingkan dengan pembagian Iman al-Syafi\u2019iy dalam Muhammad Sa\u2019id Kaylaniy, <em>al-Risalat al-Syafi\u2019iy<\/em> (Mesir: Mushthafa al-Babiy al-Halabiy, 1969),&nbsp;&nbsp; 21.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref32\">[32]<\/a>Muhkam secara etimologis berasal dari kata <em>hakamtu al-dabbata wa ahkamtuhu<\/em>, yang artinya \u201cmenahan\u201d. Ia juga bisa berarti \u201ckesempurnaan\u201d dan \u201cpencegahan\u201d. Sedangkan Mutasyabih ialah sesuatu yang mempunyai kesamaan dari segi dhahirnya, namun berbeeda dari sisi artinya. Sesuatu disebut dengan <em>tasyabuh<\/em> apabila salah satu dari dua hal serupa satu dengan yang lainnya. Sedangkan dalam perspektif Ulum al-Qur\u2019an yang dimaksudkan dengan Muhkam ialah ayat yang yang diketahui takwilnya, sementara Mutasyabih ialah ayat yang tidak ada jalan bagi manusia untuk mengetahui arti sebenarnya. Muhkam bisa berarti pula ayat yang mempunyai satu arti, sedangkan Mutasyabih ialah ayat yang mempunyai lebih dari satu arti. Lihat selanjutnya dalam Manna\u2019 Khalil Al-Qaththan, <em>Mabahits fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an <\/em>(Bairut: Dar al-Fikr1978),&nbsp;&nbsp; 215; \u2018Abd al-Adhim al-Zarqaniy, <em>op. cit<\/em>., Jilid II,&nbsp;&nbsp; 2; Badr al-Din Muhammad ibn \u2018Abdillah al-Zarkasyi, <em>al-Burhan fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an<\/em>, Juz II (Bairut: Dar al-Ma\u2019arif, 1972),&nbsp;&nbsp; 69; Muhammad ibn Ali Muhammad al-Syaukani, <em>Fath al-Qadir al-Jami\u2019 Bayn Fannay al-Riwayati fi \u2018Ilm al-Tafsir<\/em>, Juz I (Cet. III; Bairut: Dar al-Fikr, 1973),&nbsp;&nbsp; 214.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref33\">[33]<\/a>Lihat Fahd bin \u2018Abdirrahman al-Rumi, \u201cDirasat fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an\u201d, diterjemahkan oleh Amirul Hasan dan Muhammad Halabi dengan dengan judul, <em>Ulumul Qur\u2019an: Studi Kompleksitas al-Qur\u2019an<\/em> (Cet. I; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996),&nbsp;&nbsp; 202-203.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref34\">[34]<\/a>Qath\u2019i dan Dhanni dalam perspektif Ushul al-Fiqh dibagi pada <em>qath\u2019iy al-tsubut<\/em> (pasti adanya, seperti al-Qur\u2019an dan Hadis Mutawatir) dan <em>dhanniy al-tsubut<\/em> (tidak pasti adanya, seperti hadis Ahad). Kemudian baik yang pasti maupun yang tidak pasti adanya ini dibagi pada pasti tunjukan dalilnya (<em>qath\u2019iy al-dilalah<\/em>, seperti kata yang dhahir, nash, dan muhkam) dan tidak pasti tunjukan dalilnya (<em>dhanniy al-dilalah<\/em>, seperti kata yang khafi, musykil, mujmal, dan mutasyabih). Selanjutnya lihat Abu Ishaq al-Syathibi,&nbsp; <em>al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari\u2019ah<\/em>, Juz III (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, t.th.),&nbsp;&nbsp; 15-26; Muhammad Abu Zahrah, <em>Ushul al-Fiqh<\/em> (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabiy, t.th.),&nbsp;&nbsp; 92 dst; Abd al-Wahhab Khallaf, <em>\u2018Ilm Ushul al-Fiqh<\/em> (Kairo: Dar al-\u2018Ilm, 1978),&nbsp;&nbsp; 161.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref35\">[35]<\/a>Mengenai ini baca Noeng Muhadjir, <em>Metodologi Penelitian Kualitatif<\/em>&nbsp; (Edisi III; Cet. VII; Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996),&nbsp;&nbsp; 162-166; Fred N. Kerlinger, <em>Foundation of Behavioral Research <\/em>(New York: Halt, Rivehart and Winston, Inc. 1973),&nbsp;&nbsp; 525; Klaus Krippendorff, <em>Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi<\/em>. (Jakarta: Rajawali Pers, 1991),&nbsp;&nbsp; 16-17;&nbsp; beberapa model pengkajian makna yang lain baca juga B.A. Fisher,&nbsp; <em>Perspectives on Human Communication.<\/em> Edisi Indonesia. (Bandung; Remaja Rosda Karya, 1986); Susanne K. Langer, <em>Philosophy in a New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite and Art<\/em> (Cambridge: Harvard University Press, 1971); Thomas A. Seboek, <em>Semantics in the United States<\/em> (Bloomington &amp; Indianapolis: Indiana University Press, 1991).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref36\">[36]<\/a>Mengenai yang terkahir disebutkan ini baca Ali Syari\u2019ati, <em>Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi<\/em> (terj. MS. Nasrullah dan Afif Muhammad) (Cet. II; Bandung: Mizan, 1995).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref37\">[37]<\/a>Dalam hal ini penafsiran yang dianggap benar adalah yang sesuai dengan realitas dengan tetap berpedoman kepada al-Qur\u2019an, yang dipahami secara relatif itu, sebagai <em>wolrd view<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref38\">[38]<\/a>Sungguh suatu kenyataan historis yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap penafsiran selalu saja ditemukan adanya perbedaan hasil penafsiran, akan tetapi perbedaan itu muncul bukan untuk perbedaan itu sendiri, sebab perbedaan yang ditnujukan untuk itu bertentangan dengan kesadaran kesatuan pemikiran yang universal. Oleh sebab itu, dalam perspektif ushul fiqh ada kaedah <em>al-ijtihad la yunqadlu bijtihad al-akhar<\/em> (hasil suatu pemikiran tidak dapat meruntuhkan pemikiran yang lain).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref39\">[39]<\/a>Baca Ismail Raji al-Faruqi, \u201cTauhid: Its Implications for Thought and Life\u201d, diterjemahkan oleh Rahmani stuti dengan judul <em>Tauhid<\/em> (Cet. I; Bandung: Pustaka, 1980),&nbsp;&nbsp; 45.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref40\">[40]<\/a>Fahd bin \u2018Abdirrahman al-Rumi, <em>op. cit<\/em>.,&nbsp;&nbsp; 199 dan 203.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref41\">[41]<\/a>Abu Ishaq al-Syathibi, <em>loc. cit.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref42\">[42]<\/a>Saiful Muzani (ed.), <em>Islam rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution<\/em> (Cet. V; Bandung: Mizan, 1998),&nbsp;&nbsp; 294.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Problematika Studi al-Qur\u2019an Al-Qur\u2019an belum pernah sebelum masa ini begitu banyak dipakai oleh jutaan kaum mukminin untuk mengabsahkan perilaku, mendukung peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara berbagai harapan, melestarikan keyakinan, dan memperkukuh identitas kolektif dalam menghadapi berbagai kekuatan penyerangan dari peradaban industri.[1] Dengan begitu, studi al-Qur\u2019an semakin banyak diminati, baik oleh kalangan umat Islam sendiri maupun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-8582","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8582","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8582"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8582\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8582"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8582"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8582"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}