{"id":19020,"date":"2025-10-28T02:46:08","date_gmt":"2025-10-28T02:46:08","guid":{"rendered":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/?p=19020"},"modified":"2025-10-28T02:46:08","modified_gmt":"2025-10-28T02:46:08","slug":"jennie-karmila-santi-raih-gelar-winner-duta-pemudi-kebudayaan-indonesia-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/jennie-karmila-santi-raih-gelar-winner-duta-pemudi-kebudayaan-indonesia-2025\/","title":{"rendered":"Jennie Karmila Santi Raih Gelar Winner Duta Pemudi Kebudayaan Indonesia 2025"},"content":{"rendered":"<p>Reporter : Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah<br>Editor : Rizka Amaliah<\/p>\n\n\n\n<p>SYARIAH &#8211; Jennie Karmila Santi, mahasiswi Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, sekaligus gadis asal Desa Bululawang Kabupaten Malang yang dikenal dengan semangatnya dalam melestarikan budaya lokal, berhasil meraih gelar Winner Duta Pemudi Kebudayaan Indonesia 2025. Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Yayasan Arunika Cipta Abadi ini berlangsung selama tiga hari karantina di Gedung Kisambindjiun, Jakarta Timur.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama masa karantina, para finalis mengikuti berbagai kegiatan mulai dari presentasi UMKM, di mana Jennie memperkenalkan Kerupuk Buah Malang dan Kerupuk Tahu Blitar, hingga unjuk bakat tari Topeng Malangan yang menjadi daya tarik utama advokasinya. Dalam tari topeng yang ia bawakan, setiap peran memiliki karakter berbeda. Dari situlah Jennie mengambil nilai-nilai karakter untuk diintegrasikan ke dalam advokasinya bertajuk \u201cConfidence Through Culture\u201d (Percaya Diri Melalui Budaya).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBudaya bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Dari budaya kita belajar kendali diri, seperti tokoh Panji dalam tari Topeng Malangan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui advokasinya, Jennie ingin menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda lewat budaya lokal. Ia menilai di era digital, media sosial bisa dimanfaatkan sebagai ruang kreatif untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan unik inilah yang membuatnya meraih penghargaan Best Advokasi dan Best Video Profil, berkat narasi yang selaras antara advokasi dan pesan personalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Jennie juga menyabet gelar Pemudi Berbakat lewat penampilan tari Topeng Malangan. Meskipun latihan kurang dari sebulan dan sempat kesulitan menyesuaikan gerak dengan musik gamelan, ia menilai proses itu menjadi bukti dari usaha dan keberanian dirinya untuk terus mencoba.<\/p>\n\n\n\n<p>Jennie mengaku tak menyangka bisa menjadi pemenang dari 110 finalis yang berasal dari berbagai daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya hanya fokus pada proses, bukan hasil. Tapi kemenangan ini jadi tanggung jawab besar karena sekarang membawa nama Indonesia, bukan lagi kabupaten atau provinsi,\u201d tuturnya haru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBudaya adalah identitas. Bukan masyarakat yang dibutuhkan budaya, tapi kita yang butuh budaya,\u201d imbuhnya menegaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Jennie, kepercayaan diri tidak datang dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk mencoba. \u201cSempurna datang dari pengalaman, dan pengalaman datang dari aksi,\u201d pesannya kepada generasi muda.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Reporter : Mawa Noviana Nadiyatus SholichahEditor : Rizka Amaliah SYARIAH &#8211; Jennie Karmila Santi, mahasiswi Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, sekaligus gadis asal Desa Bululawang Kabupaten Malang yang dikenal dengan semangatnya dalam melestarikan budaya lokal, berhasil meraih gelar Winner Duta Pemudi Kebudayaan Indonesia 2025. Ajang bergengsi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19021,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-19020","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19020"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19020\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19022,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19020\/revisions\/19022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19021"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}