Reporter : Marsela Rosiana
SYARIAH – bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) yang jatuh pada hari Kamis, 17 Maret 2022 , Qiblatuna Fakultas Syariah menggelar kajian rutin Kitab Falakkiyah “Ma dza fii Sya’ban” karya Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki secara virtual melalui ruang zoom. Dengan tema menyambut datangnya malam Nishfu Sya’ban, acara ini diselenggarakan pada Rabu Malam sebagai bentuk usaha mempersiapkan datangnya malam penuh kemuliaan (16 Maret 2022).
Mashur sebagai bulan yang penuh dengan segudang ampunan, keberkahan serta kemuliaan, perlu adanya persiapan lebih yang menjadi alasan utama diadakannya kajian ini. Mengundang narasumber senior dalam bidang ilmu falak (ilmu yang fokus membahas astronomi Islam) yakni Dr. Ahmad Wahidi, M.HI pembedahan kitab karya keturunan nabi Muhammad SAW dari jalur sayyidina Hasan semakin menarik. Diawali dengan kajian pada bagian mukaddimah, pandangan penulis menjadi bahasan diskusi yang membuka wawasan terhadap amalan-amalan yang umum dilakukan saat memasuki bulan Sya’ban. Seperti penggambaran ketaatan yang dikerjakan di bulan Sya’ban akan dilipatgandakan kebaikan-kebaikan oleh Allah, kesusahan hati akan disembuhkan dengan diberinya ketenangan, tobat yang disegerakan pada bulan ini menghidupkan hati dengan limpahan ampunan yang diberikan Allah SWT pada hambanya.
Keterkaitan dengan budaya-budaya yang berkembang di Indonesia khususnya budaya Jawa juga menjadi topik yang disentuh oleh narasumber. Penamaan bulan Sya’ban dalam bahasa Jawa “ Ruwah”, dari kata ruwatan memiliki arti pembersihan/doa dari dosa yang telah dikerjakan. Adat berziarah, berzikir, membaca surah Yasin serta sholawat menjadi warna tersendiri dalam budaya lokal. Hal-hal yang menjadikan keistimewaan pada bulan Sya’ban yaitu, terjadinya peristiwa-peristiwa penting pada bulan ini, yaitu berubahnya kiblat solat orang muslim dan muslimat dari Baitul Maqdis (Palestina) ke arah Baitullah (Mekkah). Turunnya ayat ini ketika Nabi SAW sedang melaksanakan solat Dzuhur di masjid Bani Salamah, yang sekarang mendapat julukan masjid Qiblatain (masjid yang memiliki 2 arah kiblat).
Peristiwa yang kedua yaitu, Ro’ful amal (diangkatnya catatan amal) manusia. Hal ini membuat manusia berlomba-lomba memperbaiki dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Bertobat, bersungguh-sungguh dalam beribadah telah disebutkan akan membuat umat mendapatkan ketenangan hati karena Allah SWT. Tidak luput, kiat-kiat agar istiqomah dalam membaca sholawat disampaikan oleh narasumber dengan cara selalu membawa tasbih ke mana pun.
Sesi tanya jawab menjadi wadah menuangkan pertanyaan serta kebingungan peserta kajian. Berbagai pertanyaan menarik diajukan kepada narasumber. “Bagaimana posisi Nabi mengubah arah solat saat turunnya ayat yang memerintahkan perubahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Baitullah,” tutur salah satu peserta kajian. Di akhir sesi ini, Ketua Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah, menunjukkan bahwa kajian rutin kitab yang diselenggarakan oleh Qiblatuna menarik banyak minat dan antusiasme berbagai kalangan. Diskusi yang dimulai pukul 19.30 WIB, diakhiri dengan doa sebagai usaha mendapatkan keberkahan bulan Sya’ban sekaligus sebagai penutup acara kajian rutin kitab “Ma da fii Sya’ban”.





