MIU Login

Menyongsong Kebebasan : “Membongkar Stagnasi Pemikiran, Menyebarkan Virus Kritis-Dinamis Transformatif”

Menyongsong Kebebasan :

“Membongkar Stagnasi Pemikiran, Menyebarkan Virus Kritis-Dinamis Transformatif”

Oleh : Chairul Lutfi*

Melihat realita yang ada disekeliling kita penuh dengan kejumudan dan pembekuan pemikiran. Betapa tidak dengan hanya mengikuti alur kehidupan dan mengikuti irama peraturan, manusia hidup dengan kungkungan yang membelenggu. Sehingga tidak ada kebebasan untuk bisa mengaktualisasikan diri secara lebih kopmprehensif dan universal. Banyak juga manusia yang rela hidup dengan dogma dan doktrinasi dari pihak-pihak yang menginginkan untuk di eksploitasi demi kepentingan belaka.

Sedikit diskripsi bahwa interaksi sosial yang sudah tak sehat lagi dan sarat akan kepentingan. Membawa pada stagnasi pemikiran global dan menjadi virus akut pada pola perkembangan dinamika masyarakat. Manusia hidup atas kepentingan-kepentingan yang melatarbelakangi tiap individu. Bahkan ekspansi kepentingan itu mewabah luas sehingga menghasilkan produk-produk yang kontroversial. Kajian yang sudah ada mengatakan bahwa prinsip dasar kepentingan dan golongan dibangun secara ekslusif untuk mempertahankan ideologi kepentingan. Terbukti atas bangunan imprealis dan secara ideologis berdampak pada kelesuan untuk memberikan konstribusi konsep nilai yang sudah ada.

Dari berbagai fenomena yang ada dan dinamika sosial yang berlaku sekarang ini sudah banyak mengandung nilai-nilai doktrinasi kepentingan. Pengkultusan dan legitimasi akan kebebasan hanya milik golongan dan memarginalkan golongan yang lain. Sehingga dampak sosio-kultural pada dinamika masyarakat tidak sebanding dengan aspek kebebasan yang disediakan. Berkaca pada konstitisi negara yang melegalkan kebebasan untuk berpendapat, berbuat, dan berinteraksi secara lebih luas ternyata tidak ada implikasi yang signifikan. Kebebasan itu harus terguras dan tersingkirkan karena tak ada kesadaran untuk memberikan ruang lebih kepada mereka yang bermain-main di atas kebobrokan pemikiran.

Ketika kebebasan sudah tak menempati prioritas di tengah-tengah kehidupan, yang terjadi malah pengkultusan diri atas kepentingan yang dibangun atas dasar pemerkosaan hak-hak manusia. Masalah yang lebih urgen lagi adalah dunia pendidikan sudah terkontaminasi dengan kejumudan kebebasan yang menitik tekankan pada aspek kurikulum yang berupa bahan komoditas pendidik. Para murid dipaksakan untuk mengikuti sistem setan dan berujung pada ujian nasional yang terkesan sebagai permainan pemerintah yang tak berguna bahkan membuat stress peserta didik terlebih bagi mereka yang dinyatakan gagal dalam berproses di dunia pendidikan selama 3 tahun hanya gara-gara ujian yang tak jelas penetapan orientasi kelulusannya.

Hampir seluruh aspek stagnasi terjadi pada ranah-ranah politis-struktural. Dimana setiap kepemimpinan mencoba menerapkan sistem feodalism untuk memperkokoh kekuasaan. Dalam persoalan agama semisalnya, banyak terdapat praktik-praktik pembodohan. Doktrinasi agama bukan menciptakan insan yang intelektualis dan agamis, malah menciptakan teroris dan radikalis-anarkis. Kecondongan mereka untuk mengajarkan materi ajar hanya berupa dogma dan pemaksaan pemikiran untuk menerima apa yang mereka ajarkan secara parsial. Sehingga berujung pada mandeg-nya pemikiran kritis transformatif dalam merespon realita yang ada.

Bagi kalangan akademis yang pro-aktif akan adanya paradigma kritis transformatif berupaya merubah mindset yang dimiliki oleh banyak orang yang terkukung dalam paradigma konservatif. Dan kejumudan yang selama ini mewarnai setidaknya dapat direnovasi kembali untuk mengadakan kajian kritis yang dinamis menurut pola perkembangan yang ada. Bukan masalah pada acuan pedoman yang terkadang mutlak dibutuhkan dan dipaksakan melainkan terlebih pada responsifitas pada dinamika kehidupan yang sebenarnya.

Mengasah daya pikir imajinatif, inovatif dan partisipatif adalah modal utama untuk melakukan implementasi nilai-nilai kemajuan paradigma tranformatif. Mengingat stagnasi pemikiran yang masih mengakar pada kebanyakan insan akademis terutama mahasiswa. Sebagai agen of analisis seyogyanya tidak terkurung dalam pola pikir statis yang mengakibatkan minimnya daya kritis. Sehingga kajian dan pemikiran bebas untuk aktualisasi akan eksistensi diri akan terbakar untuk mencoba mengeluarkan ide dan pendapat yang brilian dari proses pemikiran.

*Mahasiswa Semester II Jurusan Hukum Bisnis Syariah UIN Maliki Malang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait