MIU Login

Nuzulul Qur’an (2)

Nuzul al-Qur’an dan Problem Teologis

Selama sepuluh tahun saya mengajar Studi al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya pada Jurusan Syari’ah Program Studi Ahwal al-Syakhshiyah, masih terlihat beberapa mahasiswa yang belum memahami cara al-Qur’an diturunkan. Sebagian mereka salah paham dengan pendapat ulama yang mengatakan bahwa al-Qur’an diturunkan seperti bunyi loceng atau Jibril menampakkan wujud aslinya dan berbincang-bincang langsung dengan Nabi saw. Sebagaiannya bahkan mengatakan bahwa al-Qur’an turun melalui mimpi, sedangkan yang lain lagi membayangkan bahwa al-Qur’an dibawa Jibril dengan jalan membacakannya kepada Nabi saw., sehingga suara Jibril terdengar oleh Nabi saw dan sahabat yang bersamanya.

Al-Qur’an diturunkan tidak seperti apa yang dibayangkan atau dikatakan sebagian mahasiswa tadi. Bagaimana cara Jibril membawa al-Qur’an ditegaskan dalam QS. al-Qiyamat (29): 16-19 yang terjemahannya adalah:

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya (16) Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.(17) Apabila telah kami selesai mebacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.(18) Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.(19)”

 

Menurut Ibn Katsir ayat tersebut turun disebabkan ketika Nabi saw. menerima wahyu beliau langsung menggerakkan bibirnya untuk menghafal, kemudian turunlah ayat-ayat ini agar Nabi saw. tidak membaca kecuali Jibril telah selesai membacakannya.[1] Hal ini menegaskan bahwa Jibril mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an langsung kepada Nabi saw. Akan tetapi, bagaimana Jibril membacakan al-Qur’an kepada Nabi saw ditegaskan QS. Al-al-Syu‘ara’ (26): 192-194 sebagai berikut:

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (192) Dia dibawa turun oleh ruhul amin (Jibril) (193) Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan. (194)

 

Perhatikan frase yang berbunyi “ke dalam hatimu” dalam ayat 194. Ayat tersebut dengan jelas menerangkan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan cara langsung dimasukkan ke dalam hati Nabi saw., bukan dibacakan Jibril sebagaimana layaknya seorang dosen membacakan atau mendiktekan bacaan kepada mahasiswa, sebab seandainya Jibril membacakan sebagaimana dosen tadi, mustahil tidak ada seorang sahabat pun yang mendengar secara langsung bacaan dan suara Jibril itu. Sebaliknya, para sahabat mengetahui bahwa Nabi saw menerima wahyu bukan mendengar langsung  ketika Jibril membacakan ayat al-Qur’an, melainkan diberitahu oleh Nabi saw.

Untuk menggambarkan bagaimana proses turunnya al-Qur’an, perhatikan hadis yang diriwayatkan Abu Kamil al-Jahdariy yang mendapatkan hadis dari Abu ‘Awanah dari al-A’masy dari Abi Sufyan dari Jabir: “Sesungguhnya budak perempuan ‘Abdillah bin Ubayy bin Sulal yang bernama Musaykah atau Umaymah telah dipaksa (oleh ‘Abdillah) untuk melalukan perzinahan, maka perempuan tersebut mengadu kepada Nabi saw dan turunlah QS al-Nur (24):33 yang artinya: “… Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran …”.[2]

Hadis ini menggambarkan bagaimana proses turunnya ayat sesuai dengan suasana yang terjadi pada Nabi saw yang disampaikan Jibril ke dalam hatinya dan dilafalkan Nabi saw kepada wanita tersebut. Oleh karena proses penyampaian al-Qur’an seperti itu, sebagian orang Arab pada masa Nabi saw menyangka bahwa itu dibuat-buat oleh Nabi saw. dan menganggap bahwa beliau telah berbohong dengan “mengaku” telah menerima wahyu dari Allah swt.[3]

Richard Bell, seorang orientalis abad XX, dengan memperhatikan QS. Al-Muzammil (73): 1-8, mengatakan bahwa Nabi saw. bersusah payah menempatkan ayat al-Qur’an sesuai urutan turunnya wahyu, memilih waktu malam sebagai yang paling kuat dalam kesan dan paling tepat dalam ujaran, yaitu waktu munculnya pikiran paling jelas dan kata-kata yang tepat. Bahkan Bell memahami QS. Al-Qiyamat (29): 16-19, yang sudah saya sebutkan sebelum ini, sebagai upaya Nabi saw sedang mati-matian mengarang dengan mencari kata-kata yang bisa mengalir lancar dan bersanjak untuk mengungkapkan maknanya, mengulang-ulang frase dengan bersuara kepada diri sendiri, mencoba memaksa kelanjutannya sebelum keseluruhannya menjadi jelas.[4]

Pandangan Bell ini telah dengan sengaja mengkaburkan kenyataan bahwa al-Qur’an, sekalipun disampaikan melalui lisan Nabi saw, betul-betul merupakan wahyu yang datang dari Allah swt. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat bahwa al-Qur’an tidak hanya memuat hal yang sesuai dengan kehendak Nabi saw melainkan juga menegurnya, seperti QS. ‘Abasa (80): 1-12; QS. ‘Ali imran (3): 128; QS. Al-Anfal (8): 67-69. Lebih dari itu, al-Qur’an tidak jarang datang secara tiba-tiba, bahkan boleh jadi tidak terlintas dalam benak Nabi saw. bahwa akan turun ayat.[5]

Menyadari proses transmisi wahyu seperti yang dijelaskan sebelum ini, kita dapat menyadari, sekalipun bukan berarti membenarkan, mengapa sebagian orang tidak meyakini kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu. Demikianlah, bahwa Jibril langsung memasukkan al-Qur’an ke dalam hati Nabi saw. memang sulit dipahami, dan tentunya ada unsur keyakinan doktrinal dalam pengakuan kewahyuan al-Qur’an ini


[1]Lihat Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir,

[2]Lihat al-Imam Abiy al-Husayn Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairiy al-Naysaburi, Shahih Muslim (Bairut: dar al-Fikr, 1992),  723

[3]Perhatikan QS. Shad (38): 4; Beberapa sikap orang Arab akan segera kami jelaskan pada bagian berikutnya dalam bab ini. Insya Allah !

[4]William Montgomery Watt, “Bell’s Introduction to the Qur’an”, diterjemahkan oleh Lillian D. Tedjasudhana dengan judul, Richard Bell: Pengantar Qur’an (Jakarta: INIS, 1998),  19-20. Apabila terjemahan ini benar, sesuai dengan aslinya, maka Watt telah melakukan kesalahan. Dalam terjemahan yang saya pergunakan sebagai rujukan, Watt mengatakan: “… Ada bacaan yang terpisah yang agak aneh [17:16-19] rupanya mendorong dia untuk sengaja memupuk hal ini: ’Jangan gerakkan lidahmu supaya engkau dapat melakukannya dengan cepat; kami yang harus mengumpulkan …”. Ayat yang dimaksudkan Watt ini mestinya seperti apa yang kami tulis di atas, yakni QS al-Qiyamat (29): 16-19, sebab dalan QS. 17:16-19 tidak ada penjelasan ayat seperti yang dimaksudkan Watt.

[5]M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an; Ditinjau dari  Aspek Kebahasaan. Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Cet. I; Bandung: Mzian, 1997),  77-88.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait