{"id":9064,"date":"2013-11-19T05:07:22","date_gmt":"2013-11-18T22:07:22","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/praktek-pembagian-harta-warisan-keluarga-muslim-dalam-sistem-kewarisan-patrilineal-studi-di-desa-sesetan-denpasar-selatan-kota-denpasar\/"},"modified":"2013-11-19T05:07:22","modified_gmt":"2013-11-18T22:07:22","slug":"praktek-pembagian-harta-warisan-keluarga-muslim-dalam-sistem-kewarisan-patrilineal-studi-di-desa-sesetan-denpasar-selatan-kota-denpasar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/praktek-pembagian-harta-warisan-keluarga-muslim-dalam-sistem-kewarisan-patrilineal-studi-di-desa-sesetan-denpasar-selatan-kota-denpasar\/","title":{"rendered":"PRAKTEK PEMBAGIAN HARTA WARISAN KELUARGA MUSLIM DALAM SISTEM KEWARISAN PATRILINEAL (Studi di Desa Sesetan Denpasar selatan Kota Denpasar)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">PRAKTEK PEMBAGIAN HARTA WARISAN KELUARGA MUSLIM DALAM SISTEM KEWARISAN PATRILINEAL<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">(Studi di Desa Sesetan Denpasar selatan Kota Denpasar) <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Jamaludin<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Email: <a href=\"mailto:jamal_al.baydo@yahoo.co.id\"><span style=\"color: #000000;\">jamal_al.baydo@yahoo.co.id<\/span><\/a> <\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Abstrak <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Inheritance law is one part of the civil law as a whole and it is the smallest part of family law. Inheritance law is very closely related to the scope of human life, because every human being has the legal event that is death. Patrilineal kinship system is an interesting system of father lineage, that the system prioritize man than woman. In the system that is embraced by society, tradition is considered to be valid.<\/span><\/i><i> <\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">The purpose of writing this paper is to determine the inheritance practice in Muslim family law and how does Islam affect of<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> the practice<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> under Patrilineal system in Bali.<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> From the result of this research, <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">In practice, Muslim family in the village of Sesetan South Denpasar Denpasar District uses traditional patrilineal inheritance system. First sons became only heir who get the inheritance. Although some families use the Islamic law of inheritance. The str<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">e<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">nght <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">of <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">local culture make it difficult <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">to <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Islamic inheritance law <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">to be <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">applied in Muslim family in the village of South Denpasar District Sesetan Denpasar. However, the n<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">u<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">mber of people studying at Islamic <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">influence able<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> the division of inheritance systems there some Muslim families in the village of South Denpasar District Sesetan Denpasar individing their inheritance Islamic law of inheritance<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">. <\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hukum waris merupakan salah satu dari bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sistem Patrilineal adalah sistem <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">kekerabatan<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> yang menarik garis keturunan dari garis bapak, dimana dalam sistem kewarisan ini lebih menonjolkan kedudukan pria dari pada kedudukan seorang perempuan. Dalam sisitem yang di anut masyarakat adat ini dianggap sah atau sudah dikatakan adil. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui praktek pembagian warisan dalam keluarga muslim dan bagaiman hukum Islam mempengaruhi praktek pembagian warisan dalam sistem Patrilineal Bali. Dari hasil penelitian tersebut, <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar dalam pembagian harta waris banyak yang menggunakan sistem kewarisan adat patrilineal. Anak laki-laki pertama menjadi satu-satunya ahli waris yang memperoleh harta warisan. Walaupun teradapat pula beberapa keluarga yang menggunakan kewarisan hukum Islam. <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kuatnya budaya setempat membuat hukum kewarisan Islam sulit diterapkan pada keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar. Namun dengan banyaknya masyarakat yang menuntut ilmu dipesantren sedikit banyak telah mempengaruhi sistem pembagian waris, sehingga beberapa keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar yang membagi warisan menggunakan kewarisan hukum Islam.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kata Kunci: <\/span><\/i><\/b><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Harta Waris dan Sisitem Patrilineal<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Pendahuluan <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hukum waris merupakan salah satu dari bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum yang selanjutnya timbul, dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang, diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[1]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Penyelesaian hak-hak kewajiban-kewajiban sebagai akibat meninggalnya seseorang, di atur oleh hukum waris. Dalam pengertian hukum \u201cwaris\u201d sampai saat ini baik para ahli hukum Indonesia maupun dalam hukum kepustakaan ilimu hukum Indonesia, belum terdapat keseragaman pengertian, sehingga istilah untuk hukum waris beraneka ragam. Misalnya saja. Wirjono Prodjodokoro, mengunakan istilah \u201chukum warisan\u201d. Hazairin, menggunakan istilah \u201chukum kewarisan\u201d. Dan soeppomo menyebutnya dengan istilah \u201chukum waris\u201d<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[2]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Waris dalam Perspektif islam adalah sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggaldalam keadaan bersih.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[3]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Artinya, harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris adalah sejumlah harta benda dan serta segala hak, \u201csetalah dikurangi dengan pembayaran hutang-hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si peninggal waris.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[4]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Istilah hukum adat berasal dari bahaa Arab, \u201c<i>Huk\u2019m<\/i>\u201d dan \u201c<i>Adah<\/i>\u201d (jamaknya Ahkam) artinya suruhan atau ketentuan. Di dalam hukum Islam misalnya dikenal dengan \u201cHukum Syari\u2019ah\u201d yang berisi adanya lima macam suruhan atau perintatah yang disebut \u201c<i>al-ahkam al-khamsah<\/i>\u201d yaitu wajib, haram, sunnah, dan mubah. Adah atau adat ini dalam bahasa Arab disebut dengan \u201ckebiasaan\u201d yaitu perilaku masyarakat yang selalu terjadi. Jadi hukum adat adalah \u201chukum kebiasaan\u201d.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[5]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Didalam masyaakat di Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar selatan Kota Denpasar yang masih kuat memeganng teguh prinsip kekerabatan berdasarkan ikatan keturunan, perkawinan menurut hukum adat pada umumnya adalah perkawinan itu bukan saja berarti sebagai perikatan perdata\u2019, tetapai juga merupakan perikatan adat dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[6]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Jadi terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan semata-mata membawa akibat terhadap hubungan-hubungan keperdataan seperti hak dan kewjiban suami istri, harta bersama dan kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan dan ketatanegaraan serta menyangkut upacara-upacara keagamaan. Begitu juga menyangkut kewajiban mentaati perintah dan larangan keagamaan, baik hubungan manusia dan tuhanya maupum manusia dengan manusia dalam pergaulan hidup agar selamat di dunia dan di akhirat. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam sistem kewarisan Patrilineal yang dianut kalangan <i>Sunni<\/i> sebenarnya terbentuk dari struktur budaya Arab yang bersendikan s<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">istem kekeluargaan yang bercorak <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal. Pada masa terbentuknya fiqh, ilmu pengetahuan mengenai bentuk-bentuk masyarakat belumlah berkembang. Sehingga para <i>fuqaha<\/i> dalam berbagai mazhab <i>fiqh<\/i> belum memperoleh perbandingan mengenai berbagai sistem kewarisan dalam berbagai bentuk masyarakat. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila hukum kewarisan yang kemudian disusun bercorak <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[7]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Hukum kewarisan itu sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. Bahwa setiap manusia pasti akan mengalami suatu peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya yang merupakan peristiwa hukum dan lazim disebut meninggal dunia. Apabila ada peristiwa hukum, yaitu meninggalnya seseorang yang akibatnya keluarga dekatnya kehilangan seseorang yang mungkin sangat dicintainya sekaligus menimbulkan pula akibat hukum, yaitu tentang bagaimana caranya kelanjutan pengurusan seseorang yang telah meninggal dunia itu. Penyelesaian dan pengurusan hak-hak dan kewajiban seseorang sebagai akibat adanya peristiwa hukum karena meninggalnya seseorang diatur oleh hukum kewarisan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Dalam kaitannya mengenai hukum kewarisan Islam yang bersumber dari wahyu Allah dalam Al-Qur\u2019an dan Hadist Rasul yang berlaku wajib dan ditaati oleh umat Islam dulu, sekarang dan di masa yang akan datang. Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa\u2019 Ayat : 13-14 berbunyi ;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span dir=\"LTR\" style=\"font-family: HQPB5;\">\u009a<\/span><span dir=\"LTR\" style=\"font-family: HQPB3;\">\u0081<\/span> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Artinya <i>:<\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Artinya: <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.(An-Nisa\u2019 ayat 7)<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Artinya: <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Allah mensyari&#8217;atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua], <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">m<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">aka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">m<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">aka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">m<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">aka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara,<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> m<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">aka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ayat di atas dengan jelas menunjukkan perintah dari Allah swt, agar umat Islam dalam melaksanakan pembagian harta warisan berdasarkan hukum yang ada dalam Al<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">-Q<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">ur<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u2019<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">an.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bagi umat Islam melaksanakan ketentuan yang berkenaan dengan hukum kewarisan merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan, karena itu merupakan bentuk manifestasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hukum kewarisan di Indonesia merupakan salah satu bagian dari hukum perorangan dan kekeluargaan pada umumnya berpokok pangkal pada sistem menarik garis keturunan, yaitu <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">M<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal, <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal dan <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">B<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">ilateral atau <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">arental. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sistem yang <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">M<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal, dimana setiap orang selalu menghubungkan dirinya kepada ibunya, seterusnya ke atas kepada ibunya, dan kepada ibunya ibu, sampai kepada seseorang wanita yang dianggap sebagai moyangnya dimana <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">marga<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> ibunya berasal dan keturunannya. Pada sistem <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal, yang pada prinsipnya adalah sistem yang menarik garis keturunan di mana seseorang itu hanya menghubungkan dirinya kepada ayah, ke atas kepada ayahnya ayah seterusnya ke atas kepada ayahnya ayah. Sistem <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">B<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">ilateral atau <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">arental, yang merupakan gabungan dari kedua sistem tersebut di atas. Mungkin masih ada variasi dari ketiga bentuk dan sistem masyarakat tersebut<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sistem menarik garis keturunan yang penulis kemukakan di atas tadi, membawa konsekuensi terhadap orang-orang yang berhak tampil sebagai ahli waris. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Perkembangan hukum adat khususnya di Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar bagi keluarga muslim sebagian masih menggunakan adat <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal yang secara tidak langsung sebelumnya dipraktekkan oleh agama yang lebih dulu ada daripada agama Islam yaitu agama Hindu. Darisini dapat dilihat terdapat <\/span><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">I<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">nkonsistensi<\/span><\/i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> dalam praktek pembagian harta warisan yang dilakukan oleh sebagian keluarga muslim di Bali. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Huku Waris dalam Islam <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Pengertian waris<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> dalam Islam<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">adalah suatu hukum yang mengatur peninggalan harta <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">seseorang yang telah meninggal dunia diberikan kepada yang berhak, seperti keluarga dan masyarakat yang lebih berhak.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[8]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Hukum Waris yang berlaku di Indonesia ada tiga yakni: Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Perdata. Setiap daerah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan sistem kekerabatan yang mereka anut. <\/span><b><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Seperti yang telah terurai di<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atas, bahwa hukum waris di Indonesia masih beraneka warna coraknya, di<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">mana tiap-tiap golongan penduduk teramsuk kepada hukumnya masing-masing, antara lain hal ini dapat dilihat pada golongan masyarakat yang beragama <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">I<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">slam kepadanya diberlakukan hukum kewarisan islam, baik mengenai tata cara pembagian harta pusaka, besarnya bagian antara anak laki-laki dengan anak perempuan, dan anak angkat, lembaga peradilan yang berhak memeriksa <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">dan<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> memutuskan sengketa warisan apabila terjadi perselisihan di<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">antara para ahli waris dan lain sebagainya<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dari penjelasan tersebut di<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atas, mengakibatkan pula terjadinya perbedaan tentang arti <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">dan<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> makna <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">hukum waris itu sendiri bagi masing-masing golongan penduduk. Artinya belum terdapat suatu keseragaman tentang pengertian <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">dan<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> makna hukum waris sebagai suatu patokan hukum yang tepat serta pegangan yang berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Akan tetapi apabi<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">la<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kita membicarakan tentang hukum waris maka kita tidak akan terlepas dari <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">unsur-<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">unsur ini, yakni adalah:<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[9]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">1.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Adanya harta peninggalan atau yang lebih dikenal dengan harta kekeyaan pewaris yang disebut warisan.<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">2.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Adanya pewaris yaitu orang yang akan diberikan harta yang ditinggalkan oleh yang mewarisi, pewaris bisa melanjutkan atau mengalihkanya. <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">3.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Adanya ahli waris, orang yang menerima pengalihan atau pembagian harta warisan itu. <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sya<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">riat<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Islam telah <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">memberikan posisi<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> sistem kewarisan dalam aturan yang paling baik, bijak, dan adil. Agam<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Islam menetapkan hak pemilikan benda bagi manusia, baik laki-laki maupun perempuan dalam petunjuk <i>syara\u2019<\/i>, seperti meminda<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">h<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">kan hak milik seseorang <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ke<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pada<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> orang yang<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> masih hidup<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> dan<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kepada ahli warisnya atau setelah dia meninggal, tanpa melihat perbedaan antara anak kecil dan orang dewasa.<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Al-Qur\u2019an telah menjelaskan hukum-hukum waris dengan penjelasanya<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">yang lengkap dan sempurna<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">tanpa meninggalkan bagian seseorang atau membatasi benda yang akan diwariskan. Al-Qur\u2019an merupakan landasan bagi hukum waris dan ketentuan pembagiannya dilengkapi dengan sunnah dan ijma\u2019. Tidak ada hukum-hukum yang dijelaskan dalam Al-Qur\u2019an secara terperinci, seperti hukum-hukum waris. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Islam sangat memperhatikan persoalan hukum waris, sehingga perlu dijelaskan terperinci dalam Al-Qur\u2019an kar<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">e<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">na hukum waris adalah saran yang paling pokok dalam hal pemilikan harta benda, sedangkan harta benda merupakan tulang punggu<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ng<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kehidupan induvidual maupun komunal. Dengan pembagian warisan yang benar, akan timbullah rasa tanggung jawab sosial dan akan terjadi pula siklus kenikmatan hidup. Dalam firman Allah:<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Artinya: <\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan Dia berkata: &#8220;Hai manusia, <\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">k<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ami telah diberi pengertian tentang suara burung dan <\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">k<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata&#8221;. (Q.S. An Naml: 16) <\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kata waris menurut bahasa berati perpindahan sesuatau dari seseorang kepada orang lain atau dari sekelompok arang ke kelompok yang lain. Kata sesuatu lebih umum dari pada kata harta<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">benda, ilmu atau kemuliaan. Sedangkan menurut istilah <i>Fiqh<\/i> ialah bepindahnya hak milik dari orang yang meninggal kepada ahli waris yang masih hidup, baik berupa harta benda, tanah maupun suatu hak dari hak-hak yang <i>syara<\/i>\u2019.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn10\" name=\"_ftnref10\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[10]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Syarat-syrat mendapat warisan diantaranya adalah:<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hubungan perkawinan<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">b.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kar<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">e<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">na<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> adanya hubungan darah<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">c.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ka<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">e<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">rna memerdekakan si mayit<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">d.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Agama yang sama<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sebab<\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">-sebab Tidak Menerima Warisan <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Adapun<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> yang menjadi sebab seorang yang tidak mendapat warisan (hilangnya hak kew<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">risan<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> atau <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">penghalan<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">g<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> mempusakai) adalah disebabkan sebagai berikut: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Membunuh<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">b.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Beda<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Agama<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ahli <\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Waris<\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Dalam Islam <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> hal ini agama Islam mengatur cara cara menentukan ahli waris yang beraza<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">s<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">kan keadilan antara kepentingan anggota keluarga dengan kepentingan agama dan masyarakat. Secara umum dapat kita kemukakan bahwa jumlah keseluruhan ahli waris itu ada 25 (dua puluh lima). Yang terdiri dari: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">15 (lima belas) kelompok laki-laki <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">b.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">10 (sepuluh) kelompok perempuan <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dikata<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ka<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">n<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> secara umum karena diluar dari 25 (dua puluh lima) ada ahli waris yang lain. Dan jumla<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">h<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> yang dua puluh lima bukanlah yang \u201cperson\u201d (individu) melainkan \u201cstruktur \u201d keluarga dari si mayit.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn11\" name=\"_ftnref11\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[11]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Pewaris <\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">d<\/span><\/b><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">an Dasar Mewarisi&nbsp;&nbsp; <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam hak pewaris dan mewarisi di dasarkan atas berbagai hubungan antara si pewaris dengan si waris itu sendiri.<a title=\"\" href=\"#_ftn12\" name=\"_ftnref12\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[12]<\/span><\/span><\/a> Salah satu yang terpenting dalam waris mewarisi, <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">apabila<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kita lihat dari ketentuan hukum waris Islam, yang menjadi sebab orang itu mendapatkan warisan dari si mayat (ahli waris) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Karena hubungan perkawianan <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Seorang dapat memperoleh harta warisan (menjadi ahli waris) disebabkan adanya hubungan perkawinan antara si mayit dengan orang tersebut, yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah: suami atau istri dari si mayit. <\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">b.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Karena adanya hubungan darah <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Seorang dapat mendapatkan warisan (menjadi ahli waris) disebabkan adanya hubungan nasab atau hubungan darah\/ kekeluargaan dengan si mayit, yang termasuk dalam klasifikasi<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ini seperti: ibu, bapak, kakek, nenek, anak, cucu, cicit, saudara, anak saudara dan lain-lain. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">c.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Karena memerdekakan si mayat <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Seorang dapat mendapatkan warisan (menjadi ahli waris) dari si <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pewaris <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">disebabkan seorang itu memerdekakan si <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pewaris<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> dari perbudakan, dalam hal ini dapat saja seorang laki-laki atau seorang perempuan. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">d.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Karena sasama Islam <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Seorang muslim yang meninggal dunia, dan ia tidak meninggalkan<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ahli waris sama sekali, maka harta warisanya diserahkan kepada baitul maal, dan lebih lanjut akan<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">dipergunakan untuk kepentingan kaum muslimin. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kelompok Utama Ahli Waris Menurut Hukum Islam <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ahli waris ialah orang yang berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan. Ada <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">tiga<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kelompok dalam ahli waris dalam kewarisan bilateral. Mereka terlihat dari garis hukum yang disebutkan diatas.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn13\" name=\"_ftnref13\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[13]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a.<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dz<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> al-Far\u00e2\u00b4idl <\/span><\/i><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dz<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> al-Far\u00e2\u00b4idl<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> ialah ahli waris yang dapat bagian waris tertentu dalam keadaan tertentu, di dalam Al-Qur<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u2019<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">an menjelaskan s<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">i<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">apa saja yang termasuk, di antaranya adalah: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">1)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Anak perempuan yang tidak didampingi anak laki-laki. <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">2)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ibu <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">3)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bapak dalam hal ada anak <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">4)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Duda <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">5)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Janda <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">6)<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Saudara laki-laki dala<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">m<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> hal <i>kalaalah <\/i><\/span><i><\/i><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">7)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Saudara laki-laki dan perempuana bergabung dan bersyirkah dalamkalalah <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">8)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sudara perempuan dalam hal <i>kalaalah.<\/i> <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">b.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dz<\/span><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> al-q<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">r\u00e2bat<\/span><\/i><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dz<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> al-q<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Microsoft Sans Serif','sans-serif';\">\u0217<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">r\u00e2bat <\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ialah ahli waris yang mendapat bagian warisan yang tidak tertentu jumlahnya atau disebut juga memperoleh bagian terbuka atau disebut juga memperoleh bagian sisa, dalam hal ini di antaranya adalah: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">1)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Anak <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">laki<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">-laki <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">2)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Anak perempuan yang didampimgi anak laki-laki <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">3)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bapak <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">4)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Saudara laki-laki dalam hal<i> kal<\/i><\/span><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u00e2lah<\/span><\/i><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">5)<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Saudara perempuan yang didampingi saudara laki-lakib dalam hal kalaalah. <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">c.<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Mawal\u00ee<\/span><\/i><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Mawa<\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">l\u00ee<\/span><\/i> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ialah<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> ahli waris pengganti. Yang di maksud ialah ahli waris yang menggantikan seorang untuk mendapatkanbagian warisan yang tadinya akan diperoleh oleh orang yang tadi digantikanya itu. Sebabnya ialah karna orang yang digantikanya itu adalah orang yang seharusnya mendapatkan warisan kalau dia masih hidup. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Waris Patrilineal <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Keluarga <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal<i> <\/i>adalah keluarga besar yang mengutamakan garis keturnan pihak bapak. Pada keluarga besar <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal, bapak memiliki status yang lebih tinggi dengan peran dan otoritas yang lebih besar dalam budaya keluarga. Anak laki-laki adalah keturunan yang lebih diutamakan dari pada anak perempuan dalam kehidupan keluarga serta kelangsungan generasi dan budaya. Akan tetapi, kelemahan keluarga besar <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">P<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">atrilineal adalah terdapat diskriminasi status, peran dan otoritas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap sebagai pihak yang memiliki kehidupan keluarga sehingga perannya pun hampir tidak berarti apa-apa kecuali sebagai sumber kelahiran anak.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn14\" name=\"_ftnref14\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[14]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sistem<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> ini pada prinsipnya adalah sistem yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki. Sistem ini di Indonesia antara lain terdapat pada masyarakat-masyarakat di Tanah Gayo, Alas, Batak, Ambon, Irian Jaya, Timor, dan Bali. Dalam masyarakat kebapaan biasanya hanyalah anak laki-laki yang menjadi ahli waris. Oleh karena perempuan yang sudah kawin<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">akan mengikuti suaminya dan masuk dalam anggota suaminya dan akan dilepas dari keluarganya sendiri.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn15\" name=\"_ftnref15\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[15]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Maka ia tak merupakan ahli waris dari orang tuanya yang meninggal dunia. Anak laki-laki dapat warisan dari bapak dan ibunya dan pada asa<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">l<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">nya berhak atas semua harta benda yang di tinggalkan orang tuanya. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam masyarakat Bali sistem kewarisanya ialah menyoroti laki-laki, dimana anak laki-laki sepeninggal ayahnya beralih untuk menduduki tempatnya. Ia menjadi pemilik kekayaan, tetapi ia mempunyai kewajiban memelihara adik-adiknya serta mengawinkan mereka. Memberi sokongan dalam perjuangan hidupnya.&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Pewaris, Ahli Waris, dan Pembagian Harta Warisan<\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">1)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Pewaris <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Pewaris adalah orang yang menyerahkan atau yang meninggalkan harat warisan<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">2)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ahli <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Waris<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ahli <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">waris adalah orang yang menerima atau yang berhak mendapatkan harta peninggalan dari si pewaris. Dalam hal ini adalah keturunan langsung dari si pewaris, dala<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">m<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> hal ini adalah anak dari si pewaris itu sendiri. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">3)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Harta<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> warisan <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/b><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Harta yang diwariskan adalah harta yang berwujud benda dan yang tidak berwujud <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">benda. Harta yang berwujud benda ialah seperti sebidang tanah, bangunan rumah dan perhiasan. Sedangkan harta yang tidak bewujud ialah berupa kedudukan atau jabatan adat, gelar-gelar adat dan perjanjian. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">4)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Metode<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> pembagianya<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kewarisan kebapaan ini pada umumnya anak laki-laki yang menjadi ahli waris, karena anak perempuan sudah lepas dari keluarganya sendiri, dan masuk kedalam keluarga suaminya. Maka anak perempuan itu bukanlah ahli waris dari orang tuanya yang meninggal dunia.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Metode Penelitian <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Jenis penelitian ini<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> adalah empiris<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">dan mengunakan pendekatan <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn16\" name=\"_ftnref16\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[16]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn17\" name=\"_ftnref17\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[17]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Jadi dalam penelitian ini penulis berusaha semaksimal mungkin mendeskripsikan suatu gejala peristiwa, kejadian yang terjadi pada masa sekarang atau mengambil masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada penelitian. Dilaksanakan dengan pendekatan konseptual dan analisis terhadap permasalahan yang diambil dengan membandingkan data-data di lapangan dengan konsep-konsep baik dari buku-buku, majalah-majalah, makalah, maupun dari sumber lain dengan kalimat yang tersusun secara sistematis. Dengan metode tersebut akan diperoleh gambaran secara mendalam mengenai peristiwa dan fakta yang ada. Digunakannya pendekatan ini, karena yang diteliti tentang perilaku sebagian anggota masyarakat yang tidak bisa dinyatakan dengan perhitungan angka-angka, seperti pada penelitian kuantitatif digunakan dengan alasan:<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\"> (1). Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">(2). Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara penelit dengan informan. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">(3). Metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penejaman pengaruh bersama terhadapap pola-pola yang dihadapi.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn18\" name=\"_ftnref18\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[18]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Kota Denpasar terletak di tengah-tengah dari pulau Bali, selain merupakan ibukota daerah tingkat II juga merupakan ibu kota dari propensi Bali sekaligus sebagai pusat pemerintahan, perekonomian dan pendidikan. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Lokasi penelitian ini di kota Denpasar terletak diantara 08<\/span><span dir=\"RTL\" style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u061b<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">35<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u201d <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">31<\/span><span dir=\"RTL\" style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u2019<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&#8211;<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">08<\/span><span dir=\"RTL\" style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u061b<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">44<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u201d <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">49\u2019 lintang selatan dan 115<\/span><span dir=\"RTL\" style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u061b<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">10<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u201d <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">23<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u201d-<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">115<\/span><span dir=\"RTL\" style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u061b<\/span> <span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">16<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">\u201d <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">27\u2019 bujur timur, yang berbatasan dengan: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">1)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">sebelah utara kabupaten Badung<\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">2)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">di sebelah timur kabupaten Gianyar. <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">3)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">di sebelah selatan selat Badung <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">4)<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">sebelah barat kabupaten Badung. <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kota Denpasar dibagi dalam 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, kecamatan Denpasar utara dan Denpasar Selatan. Dan di kecamatan Denpasar selatan ini kami melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sesetan, yaitu di Desa Adat Sesetan. Pembagian jumlah Desa Adat dalam satu kelurahan bisa lebih dari satu desa adat tersebut. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam penelitian, ini terdapat dua sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. Peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan data, yaitu mewawancarai informan untuk merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan, selanjutnya peneliti menggunakan teknik observasi, sumber datanya bisa berupa benda, gerak, atau proses sesuatu. Peneliti juga menggunakan dokumentasi, yaitu dokumen-dokumen yang menjadi sumber data, sedang isi catatan adalah objek penelitian atau variabel penelitian:<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn19\" name=\"_ftnref19\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[19]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder: <\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">1.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Data Primer <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Data Primer adalah data empirik diperoleh secara langsung informan kunci dengan menggunakan daftar pertanyaan dan wawancara langsung untuk mendapatkan data-data tentang faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya kewarisan muslim di masyarakat Bali Khususnya di daerah Sesetan, dan tentang status sistem kewarisan patrilineal adat Bali. Peneliti akan terjun secara langsung melakukan kunjungan dari rumah ke-rumah dari setiap informan terpilih dengan teknik observasi dan wawancara. Sumber data Primer, yang terdiri dari subyek penelitian informan sebagai berikut: <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Subyek penelitian keluarga-keluarga dalam desa adat setempat, dan bagaimana praktek dalam hal mewarisi dan bagimana kewarisan dalam sistem patrilineal Bali. Dalam mewarisi harta peninggalan dan bertanggung jawab dalam pemakaman atau utang piutang ketika orang tua meninggal, yang akan menjadi data primer. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Informan yang terdiri: Kepala desa Sesetan kabupaten Badung Bali, Ulama\/ tokoh agama yang berada di desa tersebut dan Masyarakat yang melakukan praktek pembagian warisan di desa Sesetan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">2.<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Data<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> sekunder <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku fiqh munakahat, buku adat Bali, majalah, dan buku-buku lain yang erat hubungannya dengan permasalahannya. <b> <\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam suatu penelitian, setiap peneliti menggunakan cara pandang atau paradigma yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan paradigama fenomenologi. Menurut Smith secara umum penelitian fenomenologis bertujuan untuk menjelaskan situasi yang dialami oleh pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomenologi tidak mencoba mereduksi suatu gejala menjadi variabel-variabel yang bisa diidentifikasi dan mengontrol konteks di mana gejala itu hendak dikaji. Fenomenologi bertujuan untuk sebisa mungkin tetap selaras denga gejala itu dan dengan konteks di mana gejala itu muncul.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn20\" name=\"_ftnref20\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[20]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Ini berarti bahwa bila suatu gejala khusus hendak dikaji, maka akan digali suatu situasi di mana para individu mengalamai sendiri pengalaman mereka sehingga mereka bisa <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">menggambarkan seperti yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Untuk menentukan data yang diperlukan, maka perlu adanya prosedur atau teknik <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pengumpulan data agar bukti-bukti dan fakta-fakta yang diperoleh sebagai data-data objektif, valid serta tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya. Dalam pengumpulan data skripsi ini, penulis menggunakan teknik atau metode sebgai berikut: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Wawancara, dalam penelitian ini digunakan wawancara mendalam yang mendasarkan pada kriteria teknis wawancara. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas terpimpin, yakni pewawancara hanya membawa pedoman yang merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan<\/span> <span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ditanyakan. Wawancara tidak selalu dilakukan dalam situasi yang formal, namun juga dikembangkan pertanyaan-pertanyaan aksidental sesuai dengan alur pembicaraan.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn21\" name=\"_ftnref21\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[21]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Observasi. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang akurat dan autentik, penulis mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang akan diteliti, termasuk didalamnya kejadian atau peristiwa-peristiwa tertentu yang erat hubungannya dengan penelitian.<a title=\"\" href=\"#_ftn22\" name=\"_ftnref22\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[22]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Dalam penelitian ini menerapkan jenis wawancara yang pertama dan yang kedua yaitu wawancara pembicaraan informal. Pada jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan sangat bergantung pada pewawancara itu sendiri, jadi bergantung pada spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan kepada yang diwawancarai. Wawancara demikian dilakukan pada latar alamiah. Hubungan pewawancara dengan yang diwawancarai dalam suasana wajar, sedangkan pertanyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari saja. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sewaktu<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> pembicaraan berjalan, yang diwawancarai barang kali tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai. Dan jenis wawancara yang kedua yaitu pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara. Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Penyusunan pokok-pokok itu dilakukan sebelum wawancara dilakukan. Pokok-pokok yang dirumuskan tidak perlu ditanyakan secara berurutan. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Petunjuk<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercakup seluruhnya. Petunjuk itu mendasarkan diri atas anggapan bahwa ada jawaban yang secara umum akan sama diberikan oleh para responden. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Metode dokumentasi adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip atau dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk membaca atau mempelajari arsip, catatan atau dokumen yang berkaitan dengan peristiwa atau kejadian sosial berkenaan dengan tema yang dibahas dalam skripsi ini.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Dalam pengolahan data, penelitian ini ada beberapa tahap pengolahan data yang dilakukan. Pertama adalah menata secara sistematis catatan hasil observasi atau wawancara, maka proses selanjutnya adalah transkrip kaset. Proses ini niscaya dilakukan karena hasil wawancara direkam dalam pita kaset. Untuk mendapatkan gambaran lengkapnya, maka suara dalam pita kaset dipindah dalam bentuk teks sehingga memudahkan pengolahan datanya. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Tahap selanjutnya adalah pengolahan data. Tahap ini termasuk tahap yang penting karena data yang sudah terkumpul akan bermakna dan berbicara banyak dalam tahapan ini. Proses pengolahan data setelah transkrip kaset atau penelitian pokok pikiran informan adalah edit. Tahap ini dilakukan untuk mengecek kelengkapan informasi yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan penelitian. Beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan mungkin ada yang belum terjawab dengan sempurna atau terlewatkan. Untuk kasus semacam ini data yang masih mungkin ditanyakan lagi akan diulang.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap baik dari lapangan dan dokumentasi, tahap berikutnya adalah tahap analisis. Seperti halnya teknik pengumpulan data, analisis data juga merupakan bagian yang penting dalam penelitian, karena dengan menganalisis, data dapat diberi arti dan makna yang jelas sehingga dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Tujuan analisis dalam penelitian ini adalah untuk mempersempit dan memberi batasan-batasan pada temuan hingga menjadi suatu data yang teratur dan menambah validitas data itu sendiri<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">.<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn23\" name=\"_ftnref23\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[23]<\/span><\/span><\/a><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Dalam penelitian ini, teknik analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">dengan mengunakan pola <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">f<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ikir induktif. Yaitu menggambarkan masalah praktek kewarisan patrilineal<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> adat<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Bali kota Denpasar Kelurahan Sesetan kecamatan Denpasar Selatan kemudian dianalisis dengan ketentuan hukum Islam tentang bagaiman<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> praktek pembagian warisan keluarga muslim dalam sistem kewarisan adat patrilineal bali, <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">baik dari al-Qur&#8217;an, hadist ataupun pendapat ulama untuk menilai fakta lapangan.<\/span> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hasil dan Pembahasan <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam praktek pembagian warisan keluarga di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar dalam prakteknya pembagian harta waris menggunakan hukum waris adat, sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Bapak Suhardi, beliau memaparkan:<a title=\"\" href=\"#_ftn24\" name=\"_ftnref24\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[24]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam pembagian harta waris di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar menggunakan sistem adat patrilineal karena kuatnya budaya hindu yang melekat pada masyarakat setempat serta minimnya pengetahuan dari para tokoh masyarakat tentang pembagian harta waris menurut hukum Islam<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Selanjutya peneliti menanyakan mengenai bagaimana cara menentukan bagian ahli waris dalam pembagian warisan<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar kepada Bapak Suhardi beliau mengatakan:<a title=\"\" href=\"#_ftn25\" name=\"_ftnref25\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[25]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Apabila muwarist meninggal maka harta warisannya seluruhnya akan jatuh pada anak laki-laki pertama, sedangkan ahli waris yang lain tidak mendapatkan bagian, hanya saja untuk biaya hidup dalam sehari-hari menjadi tanggung jawab dari anak laki-laki pertama yang mendapatkan seluruh harta warisan tersebut sampai anak perempuannya menikah, karena setelah menikah maka anak perempuan mengikuti suaminya. Apabila anak pertama berjenis kelamin perempuan maka harta waris dari muwarist tetap harus diberikan kepada anak laki-laki yang sudah dianggap dewasa<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Untuk memperoleh data yang lebih jelas peneliti menanyakan lagi seputar masalah praktek pembagian harta waris di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar dengan bapak Sudi beliau mengatakan :<a title=\"\" href=\"#_ftn26\" name=\"_ftnref26\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[26]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam pembagian harta waris memang lebih banyak menggunakan sistem kewarisan adat patrilineal walaupun ada juga yang menggunakan sistem pembagian waris hukum Islam, hal ini desebabkan karena mereka menganggap bahwa sistem kewarisan adat patrilineal dianggap lebih mudah untuk dipraktekkan, walaupun dalam satu sisi dalam praktek pembagian sistem kewarisan adat patrilineal dianggap kurang adil karena pihak perempuan sama sekali tidak mendapatkan warisan.<\/span><\/i><i><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Adapun mengenai cara pembagian harta waris di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar menurut Bapak Sudi, beliau mengatakan :<a title=\"\" href=\"#_ftn27\" name=\"_ftnref27\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[27]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam pembagian harta waris di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar setelah muwarits meninggal maka suluruh harta jatuh ke tangan anak laki-laki pertama, ahli waris yang lainnya tidak mendapatkan.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Hal senada juga dikatakan oleh Bapak Safiq beliau mengatakan:<a title=\"\" href=\"#_ftn28\" name=\"_ftnref28\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[28]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Tidak ada bagian khusus bagi ahli waris, jadi harta muwarits semuanya langsung jatuh ketangan anak pertama laki-laki.sehingga dalam pembagian harta waris sangat tergantung pada anak laki-laki pertama dan sangat dituntut untuk berlaku adil dan bijaksana.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sebenarnya dalam pembagian harta waris telah dijelaskan d<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">alam Al-Qur\u2019an <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">tentang<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> bagaimana cara membagi harta itu dengan cara syariat Islam dan secara adil, <\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Allah berfirman dalam Al-qur\u2019an mengenai pembagian benda pusaka untuk para ahli waris dan orang-orang yang tidak berhak menerima pembagian benda pusaka tersebut, dalam surat An-Nisa Ayat 11-12 dalam firmanya: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Artinya: <\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Allah mensyari&#8217;atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari&#8217;at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dari ayat di atas bisa kita simpulkan bahwasanya bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> hal ini agama Islam mengatur cara<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&#8211;<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">cara menentukan ahli waris yang beraza<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">s<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">kan keadilan antara kepentingan anggota keluarga dengan kepentingan agama dan masyarakat. Secara umum dapat kita kemukakan bahwa jumlah keseluruhan ahli waris itu ada 25 (dua puluh lima). Yang terdiri dari: <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">c.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">15 (lima belas) kelompok laki-laki <\/span><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">d.<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">10 (sepuluh) kelompok perempuan <\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dikata<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">ka<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">n<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> secara umum karena diluar dari 25 (dua puluh lima) ada ahli waris yang lain. Dan jumla<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">h<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> yang dua puluh lima bukanlah yang \u201cperson\u201d (individu) melainkan \u201cstruktur \u201d keluarga dari si mayit.<a title=\"\" href=\"#_ftn29\" name=\"_ftnref29\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[29]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Terdapat ketidaksesuaian antara sistem pembagian harta waris yang disyari\u2019atkan oleh agama Islam dengan apa yang dipraktekkan <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar. Dalam pembagian harta waris Islam menganai orang yang berhak menerima warisan (ahli waris) dan bagian-bagian yang seharusnya diperoleh oleh ahli waris sudah sangat jelas sebagaimana dijelaskan pada paparan diatas, sedangkan dalam pembagian harta waris di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar yang menggunakan pembagian waris adat patrilineal harta waris hanya diperoleh anak laki-laki pertama sedangkan bagi ahli waris yang lain tidak mendapatkan warisan. Dalam bagian jumlah ahli waris pun dibagi sesuai dengan rasa keadilan dari anak pertama laki-laki selaku penerima harta waris satu-satunya.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Adapun mengenai prosedur dalam mendapatkan warisan, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi ahli waris. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak H. Umar Dhani sebagai berikut :<a title=\"\" href=\"#_ftn30\" name=\"_ftnref30\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[30]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">1.<\/span><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Adanya pewaris, maksud dari pewaris adalah orang yang meninggalkan harta bendanya untuk oarang-orang yang berhak.<\/span><\/i><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">2.<\/span><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Orang yang akan menerima warisan.<\/span><\/i><\/span><\/li>\n\n\n\n<li><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">3.<\/span><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Harta yang ditinggalkan <\/span><\/i><\/span><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/i>Senada dengan apa yang dikatakan Bapak H. Umar diatas, Bapak Sudi juga menjelaskan sebagai berikut :<a title=\"\" href=\"#_ftn31\" name=\"_ftnref31\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[31]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Syarat dalam pembagian waris yaitu adanya orang yang mewariskan, ada ahli waris, dan ada harta yang ditinggalkan oleh muwarits.<\/span><\/i><i><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam hukum waris Islam ter<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">da<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pat<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian waris. Syarat pembagian waris itu ada tiga diantaranya adalah:<a title=\"\" href=\"#_ftn32\" name=\"_ftnref32\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[32]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">(1). Muwarrist<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">, yaitu orang yang mewariskan hartanya atau mayyit yang meninggalkan hartanya. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">(2). Al- Warits<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> atau ahli waris, yaitu oarang yang mempunyai hubungan keluarga, baik karna mempunyai hubungan darah atau sebab perkawinan atau akibat memerdekakan budak. <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">(3) Al-Mauruts<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> atau <i>Al-Mirats<\/i> yaitu harta peninggalan si mayit setelah di kurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan hutang dan pelaksanaan wasiat.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dari p<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">a<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">paran di atas <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">diketahui terdapat<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> kesamaan antara syarat yang di<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">atur<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> dengan cara syariat Islam<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> maupun yang dipraktekkan masyarakat di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar. Yakni adanya orang yang meninggalkaan warisan, ahli waris dan harta yang diwariskan.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Adapun halangan untuk menerima warisan dalam Syari\u2019at Islam adalah hal-hal yang menyebabkan gugurnya hak ahli waris seorang mendapatkan harta peninggalan, Adupun halangan tersebut adalah:<a title=\"\" href=\"#_ftn33\" name=\"_ftnref33\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[33]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Pembunuhan, Semua ulama sepakat bahwa pembunuhan dapat menghalangi seorang untuk mendapatkan hak waris. Karna tujuan dari dari pembunuhan tersebut agar ia segera memiliki harta pewaris.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">\u0644\u064a\u0633 \u0644\u0644\u0642\u0627\u062a\u0644 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0645\u064a\u0631\u0627\u062b \u0634\u064a\u0621<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Artinya : <i>tidak ada hak bagi pembunuh sedikit pun untuk mewarisi<\/i> (HR. Al-Nasai)<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Beda Agama, Seorang akan terhalang haknya apabila memeluk agama yang lain dari si pewaris.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">\u0644\u0627 \u064a\u0631\u062b \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645 \u0627\u0644\u0643\u0627\u0641\u0631 \u0648 \u0644\u0627 \u0627\u0644\u0643\u0627\u0641\u0631 \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645 (\u0645\u062a\u0641\u0642 \u0639\u0644\u064a\u0647)<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Artinya : orang Islam tidah mewarisi harta orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi harta orang Islam.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Perbudakan Perbudakan menjadi penghalang mewrisi bukan karna setatus kemanusiaan dikarnakan ia dianggap tidak cakap dalam melakukan perbuatan hukum.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Sedangkan di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar sesuai wawancara dengan Bapak H. Umar, beliau menjelaskan :<a title=\"\" href=\"#_ftn34\" name=\"_ftnref34\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[34]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Mengenai halangan untuk mendapatkan warisan yang dipraktekkan yaitu <\/span><\/i><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pembunuhan, beda agama, dan perbudakan. Akan tetapi dalam masalah pembunuhan, ahli waris tetap mendapatkan bagian apabila dimaafkan daria ahli waris yang lain, akan tetapi hanya sebatas untuk mencukupi kebutuhan kehidupan sehari-hari serta sesuai dengan kesepakatan ahli waris yang lain.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Dengan pertanyaan yang sama penulis mewawancarai Bapak Sudi, beliau menjelaskan :<a title=\"\" href=\"#_ftn35\" name=\"_ftnref35\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[35]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Halangan dalam menerima warisan di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, Kota Denpasar, yaitu pembunuhan, beda agama, dan perbudakan, namun dalam perbudakan di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, Kota Denpasar tidak ada, mengenai pembunuhan dalam prakteknya tetap mendapatkan warisan ketika mendapat maaf dari ahli waris yang lain dan bagiannya dibatasi dengan kesepakatan ahli waris yang lain<\/span><\/i><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Melihat paparan diatas bahwasanya terdapat sediktit perbedaan antara konsep halangan dalam mendapatkan warisan antara konsep waris hukum Islam dengan konsep yang ada di masyarakat di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, Kota Denpasar yakni mengenai halangan ahli waris karena pembunuhan. Di Desa Sesetan, kecamatan Denpasar selatan, kota Denpasar ahi waris yang terkena kasus pembunuhan tetap mendapatkan bagian dari <i>muwarits <\/i>setelah mendapatkan maaf dari ahli waris yang lain, adapun mengenai jumlah bagian ahli waris yaitu hanya sebatas kebutuhan sehari-hari dan jumlahnya sesuai dengan kesepakatan ahli waris yang lain.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Awal mulanya ajaran Islam masuk ke Bali khususnya di desa Sesetan ini sebagaiman sejarah memaparkan masuknya agama Islam ke Bali sejak jaman kerajaan pada abad XIV berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, tidak merupakan satu-kesatuan yang utuh. \u201cSejarah masuknya Islam ke Pulau Dewata dengan latarbelakangnya sendiri dari masing-masing komunitas Islam yang kini ada di Bali,\u201d hasil wawancara peneliti dengan Bapak H. Umar Dhani, seorang tokoh Islam menjelaskan : <\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn36\" name=\"_ftnref36\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[36]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Penyebaran agama Islam ke Bali antara lain berasal dari Jawa, Madura, Lombok dan <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bugis<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">. Masuknya Islam pertama kali ke Pulau Dewata lewat pusat pemerintahan jaman kekuasaan Raja Dalam Waturenggong yang berpusat di Klungkung pada abad ke XIV.Dalem Waturenggong Raja Dalem Waturenggong berkuasa selama kurun waktu 1480-1550, ketika berkunjung ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur sekembalinya diantar oleh 40 orang pengawal yang beragama Islam. Ke-40 pengawal tersebut akhirnya diizinkan menetap di Bali, tanpa mendirikan kerajaan tersendiri seperti halnya kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa pada masa kejayaan Majapahit.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Sebelum islam datang ke pulau Bali telah ada agama yang berkembang begutu pesat yaitu agama hindu yang hingga saat ini menjadi agama mayoritas di pulau Bali. Dalam urusan pembagian harata peninggalan warisan agama hindu menggunakan sistem patrilineal dan itu berlaku jauh sebelum Islam datang ke pulau Bali.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bapak Sudi menjelaskan sebagai berikut :<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn37\" name=\"_ftnref37\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[37]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sebelum Agama <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Islam<\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"> masuk ke pulau Bali telah berkembang agama hindu dengan pesatnya, sehingga sedikit banyak ajaran hindu mempengaruhi pula terhadap hukum-hukum Islam termasuk masalah kewarisan.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Pernyataan Bapak Sudi diatas didukung oleh Bapak Suhadi, beliau menjelaskan sebagai berikut :<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn38\" name=\"_ftnref38\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[38]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Agama hindu telah ada di pulau Bali jauh sebelum Islam datang, sehingga ajarannya pun turut serta mempengaruhi hukum Islam yang ada di Bali.<\/span><\/i><i><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Disaat waktu yang berbeda, peneliti mawawancarai Bapak Sudi tentang pengaruh hukum Islam terhadap pembagian harta waris di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar beliau mengatakan : <\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn39\" name=\"_ftnref39\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[39]<\/span><\/span><\/a> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dengan banyaknya yang mondok dipesantren yang mempelajari tentang hukum-hukum Islam ini sedikit berpengaruh dalam pembagian dalam prakteknya walaupun hanya minoritas, karena masih banyak juga yang menggunakan kewarisan patrilineal.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam hal pengaruh hukum Islam terhadap pembagian harta waris di Desa <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Sesetan<\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\"> Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar menurut penjelasan Bapak Suhadi sebagai berikut :<\/span><a title=\"\" href=\"#_ftn40\" name=\"_ftnref40\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">[40]<\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><i><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kewarisan hukum Islam sedikit mulai mempengaruhi dalam model pembagian harta waris di Desa Sesetan karena saat ini pelajar-pelajar muslim yang mendalami agama Islam menganggap dalam sistem kewarisan adat petrilineal dianggap kurang adil, karena ahli waris yang lainnya tidak mendapatkan bagiannya sebagaimana mestinya.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Masyarakat muslim di desa Sesetan Kecamatan Denpasar Kota Denpasar dalam membagi harta peninggalan itu lebih mengutamakan anak laki-laki, dalam agama Islam juga bagian laki-laki lebih besar daripada bagian perempuan yakni 2:1. Namun <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">dengan perkembangan zaman yang pesat dan banyaknya masyarakat yang menuntut ilmu di pesantren sedikit demi sedikit mulailah ajaran-ajaran Islam mulai berkembang contohnya dalam praktek pembagian warisan di desa ini, mulai ada pergeseran dari mulai harta peninggalan yang seutuhnya di berikan oleh anak laki-laki mulai bergeser dengan adanya tata cara sistem kewarisan Islam yang membagi semua harta peninggalan dengan cara seadil-adilnya. Walaupun terdapat banyak juga yang dalam pembagian harta waris tetap menggunakan pembagian waris adat patrinial.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kesimpulan <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Dalam <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">prakteknya pada keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar dalam pembagian harta waris banyak yang menggunakan sistem kewarisan adat patrilineal. Anak laki-laki pertama menjadi satu-satunya ahli waris yang memperoleh harta warisan. Walaupun teradapat pula beberapa keluarga yang menggunakan kewarisan hukum Islam.<\/span> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Kentalnya budaya setempat membuat hukum kewarisan Islam sulit diterapkan <\/span><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">pada keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar. Namun dengan banyaknya masyarakat yang menuntut ilmu dipesantren sedikit banyak telah mempengaruhi sistem pembagian waris, sehingga beberapa keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar yang membagi warisan menggunakan kewarisan hukum Islam.<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">Saran <\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bagi masyarakat keluarga muslim di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar : dalam pembagian harta warisan hendaknya menggunakan konsep hukum waris Islam yang telah ada, karena bagaimanapun pula ketetapan bagian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT lebih adil daripada ketentuan-ketentuan lainnya.<\/span><b><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Bagi para tokoh agama Islam di Desa Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar : peran tokoh agama sebagai stake holder dalam masyarakat diharapkan turut serta membantu dalam penerapan-penerapan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah SWT khususnya dalam bidang pembagian harta waris.<\/span><b><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif'; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><br><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">DAFTAR PUSTAKA<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Ali ash-Shabuni Muhammad. <i>Pembagian Waris Menurut Islam, <\/i>Gema Insani Press, 1995&nbsp;&nbsp; Jakarta.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Ali ash Shabuni, Muhammad, <i>Hukum Waris Menurut Al-Qur\u2019an dan Hadis, <\/i>PT Triganda Kary, Bandung, cet 1<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Arikunto, Suharsimi. 2002. <i>Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi V<\/i>. Jakarta : Rineka Cipta. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Bhusar Muhammad, <i>Pokok-pokok Hukum Adat, <\/i>Jakarta, Pradnya Paramita 1995<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Eman Suparman, S.H., M.H, <i>Hukum Waris Indonesia dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW. <\/i>Rafika Aditama, 2005 <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Hilman Hadikusuma, <i>Hukum Waris Adat<\/i>, Bandung, Alumni, 1983<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hilman Hadikusuma, <i>Hukum Perkawinan Adat,<\/i> Bandung, Alumni, 1989<\/span><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hazairin, <i>Hendak Kemana Hukum Islam, <\/i>cet. 3 Jakarta: Tintamas, 1976 <\/span><b><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Hamdani Nawawi, <i>Pengantar Metodologi Riset<\/i>, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996). <\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Lexy Maleong, <i>Metodologi Penelitian Kualitatif <\/i> Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,1999 <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Marzuki, <i>Metodologi Riset <\/i>(Jogjakarta: PT. Prasetia Widya Pratama, 2002 <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Mostafa Abid Bisri, <i>Terjemah Sahih Muslim<\/i>, Jilid III, (Semarang: Asy Sifa, 1993) <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Sajuti Thalib. S.H. <i>Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Sinar Grafika, cet 7, 2002 <\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Salman Otje, <i>Hukum Waris Islam, <\/i>PT<i> <\/i>Rafika Aditama<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Setiady Tolib, <i>Intisari Hukum Adat Indonesia (Dalam Kajian Kepustakaan) <\/i>Alfabeta Cv, Bandung, 2008 <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Syakroni .M, <i>Konflik Harta Warisan, <\/i>Pustaka Pelajar, Yogyakarta , 2007<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Sukardi K. Lubis, S.H. Komis Simanjuntak, S.H. <i>\u201cHukum Waris Islam\u201d Sinar Grafika, Jakarta, cet 4 <\/i><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">Tamakiran S. SH, <i>asas-asas hukum waris menurut tiga sistem hukum, <\/i>Pioner Jaya, Bandung, 1992<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\">Wulansari Dewi, <i>Hukum Adat Indsonesia, <\/i>PT Refika Aditama, 2010<\/span><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\"><a href=\"http:\/\/www.scribd.com\/doc\/40532989\/14\/A-Sistem-Kekeluargaan-dan-Hukum-Adat-Waris\"><span style=\"color: #000000;\">http:\/\/www.scribd.com\/doc\/40532989\/14\/A-Sistem-Kekeluargaan-dan-Hukum-Adat-Waris<\/span><\/a><\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"><a href=\"http:\/\/www.hukumhindu.or.id\/cara-pembagian-harta-warisan-hindu-di-bali\/\"><span style=\"color: #000000;\">http:\/\/www.hukumhindu.or.id\/cara-pembagian-harta-warisan-hindu-di-bali\/<\/span><\/a><\/span> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';\"><a href=\"http:\/\/fayusman-rifai.blogspot.com\/2011\/02\/pengertian-hukum-waris.html\"><span style=\"color: #000000;\">http:\/\/fayusman-rifai.blogspot.com\/2011\/02\/pengertian-hukum-waris.html<\/span><\/a><\/span> <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 12pt; color: #000000;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><b><span style=\"line-height: 150%; font-family: 'Arial','sans-serif';\">&nbsp;<\/span><\/b><\/span><\/p>\n\n\n\n<div><br clear=\"all\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\">\n<div>\n<p style=\"margin-left: 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[1]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">H.<\/span> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Eman Suparman, <i>\u201cHukum Waris Indonesia dalam Perspektif Islam, Adat dan BW\u201d <\/i> PT <\/span> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Rafika Aditama, Bandung, Thn, 2011. hlm. 1.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[2]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> <i>Ibid, <\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">hlm. 1. <\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[3]<\/span><\/a> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ibid<\/span><\/i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">, hlm, 13<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[4]<\/span><\/a> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ibid<\/span><\/i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">, hlm, 13<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[5]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> &nbsp;<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Dewi Wulan Sari, <i>\u201cHkum Adat Indonesia suatu pengantar\u201d <\/i>Rafika Aditama, Bandung, Thn, 2012. hlm. 1.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[6]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> H. Hilaman Hadikusuma, \u201c<i>Hukum Perkawinan Indonesia menurut perundang-undangan Adat dan Agama<\/i>\u201d Mandar Maju, Bandung, Thn, 2007. hlm. 8.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[7]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> Hazairin, <i>Hendak Kemana Hukum islam, <\/i>cet 3 (Jakarta: Tintamas, 1976), <\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">h<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">lm 3<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[8]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ali ash-Shabuni Muhammad. <i>Belajar mudah ilmu waris, <\/i>Bandung, PT Remaja Rosdakarya. Thn 2007, Hlm 1<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[9]<\/span><\/a> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ibid, hlm. 12<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref10\" name=\"_ftn10\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[10]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ali ash-Shabuni Muhammad. <i>Pembagian Waris Menurut Islam, <\/i>Gema Insani Press, 1995, Jakarta, Hlm 40<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref11\" name=\"_ftn11\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[11]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sukardi K. Lubis, S.H. Komis Simanjuntak, S.H. <i>\u201cHukum Waris Islam\u201d Sinar Grafika, Jakarta, Cet 4. 2004, Hal 76 <\/i><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref12\" name=\"_ftn12\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[12]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> <i>Ibid, hlm 52<\/i><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref13\" name=\"_ftn13\"><span style=\"font-family: 'Mangal','serif'; color: #000000;\"><span style=\"line-height: 115%; font-family: 'Mangal','serif';\">[13]<\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Mangal','serif';\"> Sajuti Thalib. <i>Hukum kewarisan di Indonesia, <\/i>Sinar Grafika, Cet 7, 2002, Hlm 72<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref14\" name=\"_ftn14\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[14]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> Tamakiran S. <i>asas-asas hukum waris menurut tiga sistem hukum, <\/i>Pioner Jaya, Bandung, 1992, Hlm 69<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref15\" name=\"_ftn15\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[15]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> <a href=\"http:\/\/www.scribd.com\/doc\/40532989\/14\/A-Sistem-Kekeluargaan-dan-Hukum-Adat-Waris\"><span style=\"color: #000000;\">http:\/\/www.scribd.com\/doc\/40532989\/14\/A-Sistem-Kekeluargaan-dan-Hukum-Adat-Waris<\/span><\/a><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref16\" name=\"_ftn16\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[16]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Lexy Maleong, <i>Metode penelitian Kualitatif <\/i>(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), Hlm 3<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref17\" name=\"_ftn17\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[17]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Ibid, 6<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref18\" name=\"_ftn18\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[18]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Lexy Maleong, <i>Metode penelitian Kualitatif <\/i>(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), Hlm 5<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref19\" name=\"_ftn19\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[19]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Arikuntu Suharsimi.2002. <i>Prosedur Suatu Penelitian Suatu Pendekatan Prektek, <\/i>Edisi Revisi V. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 102<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref20\" name=\"_ftn20\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[20]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Marzuki, <i>Metodelogi Riset <\/i>(Jogjakarta: PT Prasetia Widya Utam, 2002), Hlm<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> 56<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref21\" name=\"_ftn21\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[21]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sutrino Hadi, <i>Metodologi Riset, <\/i>(Yogyakarta: Andi, 1995), Hlm 83<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref22\" name=\"_ftn22\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[22]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Hamdani Nawawi, Pengantar Metodelogi Riset, (jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), Hlm 100<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref23\" name=\"_ftn23\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[23]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Marzuki, <i>Metodelogi Riset <\/i>(Jogjakarta: PT Prasetia Widya Utam, 2002), Hlm 64<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref24\" name=\"_ftn24\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[24]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Suhardi. <i>Wawancara<\/i>. 20 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref25\" name=\"_ftn25\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[25]<\/span><\/a> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">ibid<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref26\" name=\"_ftn26\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[26]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sudi. <i>Wawancara<\/i>. 20 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref27\" name=\"_ftn27\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[27]<\/span><\/a> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">ibid<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref28\" name=\"_ftn28\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[28]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Safiq. <i>Wawancara. <\/i>21 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref29\" name=\"_ftn29\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[29]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sukardi K. Lubis, S.H. Komis Simanjuntak, S.H. <i>\u201cHukum Waris Islam\u201d Sinar Grafika, Jakarta, Cet 4. 2004, <\/i>Hal<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">. 52<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref30\" name=\"_ftn30\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[30]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">H. <\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Umar Dhani <\/span><i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">. <\/span><\/i><i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Wawancara<\/span><\/i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> 14 agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref31\" name=\"_ftn31\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[31]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> Sudi. Wawancara. 21 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref32\" name=\"_ftn32\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[32]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> Ash Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, <i>fiqih mawaris, <\/i>Semarang, tahun 1999 Hlm 29<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref33\" name=\"_ftn33\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[33]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> Hasbiyallah H. <i>Belajar Mudah Ilmu Waris, <\/i>Bandung, PT Remaja Rosdakarya, Thn 2007, Hlm.15<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref34\" name=\"_ftn34\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[34]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">H. Umar. <i>Wawancara. <\/i>12 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref35\" name=\"_ftn35\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[35]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sudi. <i>Wawancara. <\/i>21 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref36\" name=\"_ftn36\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[36]<\/span><\/a><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> H. Umar Dhani<\/span><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">. <\/span> <i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Wawancara<\/span><\/i><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"> 14 agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref37\" name=\"_ftn37\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[37]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sudi. <i>Wawancara.<\/i> 22. Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref38\" name=\"_ftn38\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[38]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Suhadi. <i>Wawancara. <\/i>21 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref39\" name=\"_ftn39\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[39]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Sudi. <i>Wawancara.<\/i> 22. Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><a title=\"\" href=\"#_ftnref40\" name=\"_ftn40\"><span style=\"line-height: 115%; color: #000000;\">[40]<\/span><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">Suhadi. <i>Wawancara. <\/i>21 Agustus 2012<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt; color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\">&nbsp;<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\"><a href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span style=\"font-size: 12pt; color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman','serif';\"><span style=\"font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: 'Calibri','sans-serif';\">\u00a9 BAK Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang <\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PRAKTEK PEMBAGIAN HARTA WARISAN KELUARGA MUSLIM DALAM SISTEM KEWARISAN PATRILINEAL (Studi di Desa Sesetan Denpasar selatan Kota Denpasar) &nbsp; Jamaludin Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: jamal_al.baydo@yahoo.co.id &nbsp; &nbsp; Abstrak &nbsp; Inheritance law is one part of the civil law as a whole and it is the smallest part of family law. Inheritance [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[57],"tags":[],"class_list":["post-9064","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-skripsi-al-ahwal-al-syakhshiyyah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9064\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}