{"id":8592,"date":"2011-03-10T05:45:56","date_gmt":"2011-03-09T22:45:56","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/31-2\/"},"modified":"2011-03-10T05:45:56","modified_gmt":"2011-03-09T22:45:56","slug":"31-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/31-2\/","title":{"rendered":"Mitos dan Simbol dalam Tradisi"},"content":{"rendered":"<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; line-height: 200%; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><strong><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Mitos<\/span> dan Simbol dalam Tradisi<\/strong><strong><span style=\"mso-ansi-language: IN;\"> <span lang=\"IN\"><\/span><\/span><\/strong><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\">Setelah memperhatikan berbagai tradisi, yang muncul pertanyaannya kemudian ialah mengapa mitos-mitos tersebut masih bertahan dalam kehidupan sebagian masyarakat <\/span><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Indonesia <\/span><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\">yang sudah terkenal religius? Mengapa masyarakat <\/span><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Indonesia dengan sengaja mempertahankan mitos-mitos tersebut<\/span> dalam kehidupan berkeluarga<span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">?<\/span> Menjawab hal itu, saya sepakat dengan Nursyam yang berpandangan bahwa pada dasarnya ada dua tindakan yang ditampilkan dalam proses penyesuaian tindakan individu dengan nilai tradisi lama, yaitu penerimaan dan penolakan. Penerimaan terhadap nilai dalam tradisi lama biasanya berwujud dalam tindakan partisipatif dalam berbagai upacara adat yang dilakukan di berbagai ruang budaya. Banyaknya keterlibatan warga masyarakat dalam suatu upacara adat cukup membuktikan bahwa masyarakat menerima terhadap pelestarian tradisi lama.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Namun demikian, ada juga sebagian warga masyarakat yang menolak terhadap pelestarian nilai dalam tradisi lama. Penolakan itu juga berbasis pada teks-teks suci berdasarkan cara pandang mereka. Penolakan tersebut berwujud bahasa dan tindakan. Selain itu juga berupa percobaan melanggar sebagai sarana untuk membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut tidaklah benar adanya. Kepercayaan itu hanyalah mitos-mitos yang dilestarikan.<\/span><a name=\"_ftnref1\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn1\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[1]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dalam pelaksanaan, perkawinan biasanya tidak lepas dari kultur sosial dan mitos masyarakat yang terkadang masih dilestarikan. Setiap daerah, sebagaimana yang kita lihat pada bab sebelum ini, masih memiliki tradisi dan adat istiadat perkawinan yang masih hidup hingga kini. Pada umumnya pelaksanaan upacara perkawinan adat setempat berkaitan dengan susunan masyarakat atau kerabat yang masih dipertahankan oleh masyarakat bersangkutan dan bagaimanapun lembaga atau pranata pernikahan tetap diakui oleh hampir semua masyarakat Indonesia.<\/span><a name=\"_ftnref2\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn2\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[2]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Terkait dengan realitas masyarakat Indonesia, kepercayaan dalam tradisi dan adat perkawinan bukan hanya merupakan peristiwa penting bagi mereka yang masih hidup, tetapi juga merupakan peristiwa yang sangat berarti serta sepenuhnya mendapatkan perhatian dan diikuti oleh arwah-arwah para leluhur kedua belah pihak. Dan dari arwah-arwah inilah, kedua belah pihak beserta seluruh keluarganya mengharapkan restu bagi kedua mempelai. Oleh karena itu, perkawinan dalam hampir semua tradisi di Indoensia mempunyai arti yang demikian penting sehingga pelaksanaannya senantiasa dimulai dan seterusnya disertai dengan upacara lengkap dengan <em>sesajen-sesajenan<\/em>.<\/span><a name=\"_ftnref3\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn3\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[3]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> Pelaksanaan ritual dan tradisi tersebut merupakan simbol-simbol yang mempunyai makna dalam kehidupan masyarakat tertentu.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Simbol, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai lambang, sedangkan simbolisme diartikan dengan perihal pemakaian simbol (lambang) untuk mengekspresikan ide-ide (masalah, sastra dan seni).<\/span><a name=\"_ftnref4\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn4\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[4]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> Secara terminologis, sebagaimana dikatakan oleh Leach, simbol merupakan penyampaian makna dalam sebuah kombinasi. Leach berpegangan bahwa &ldquo;kode-kode&rdquo; dalam berbagai budaya mempunyai potensi untuk &ldquo;mentrasformasikan&rdquo; kode-kode lainnya, menunjukkan pesan yang sama agar dapat menguraikan pesan dari bentuk-bentuk budaya dan &ldquo;menetapkan apa makna yang termuat dalam adat kebiasaan.&rdquo;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Berbeda dengan Leach, Cassier memandang bahwa antara tanda dan simbol memiliki dua dunia wacana yang berbeda. Tanda terdapat dalam dunia ada yang bersifat fisik. Ia sebagai &ldquo;operator&rdquo; yang didalamnya terdapat hubungan &ldquo;intrinsik&rdquo; atau &ldquo;natural&rdquo; antara tanda dengan apa yang ditandai. Simbol merupakan &ldquo;artifisial&rdquo;, &ldquo;penunjuk&rdquo; dan termasuk dalam dunia makna manusia. Dalam pengertian ini, pengetahuan manusia pada dasarnya adalah simbolik. Penting diperhatikan bahwa dalam pernyataan Leach adalah gagasan bahwa simbol tidak dapat dipahami secara terpisah dan tidak ada simbolisme universal, meskipun mungkin ada beberapa tema simbolik umum. Setiap simbol selalu punya potensi polisemi. Ia memiliki makna hanya ketika dipertentangkan dengan simbol-simbol lainnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.<\/span><a name=\"_ftnref5\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn5\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[5]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dalam setiap upacara yang diselenggarakan, akan tampak adanya sesuatu yang dianggap sakral, suci atau <em>sacred, <\/em>yang berbeda dengan yang alami, empiris atau yang profan. Dalam sistem keyakinan mereka bahwa pemberian kepada kekuatan gaib harus berbeda dengan pemberian terhadap yang lain. Jadi mereka tidak asal memberi tetapi berangkat dari sistem kognitif yang telah diperoleh dari para pendahulunya.<\/span><a name=\"_ftnref6\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn6\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[6]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Saya kira dalam kehidupan masyarakat beragama, makna simbol-simbol agama yang digunakan dalam kehidupan dan tradisi masyarakat tidak selalu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh agamanya, sebab penggunaan simbol terkadang hanya merupakan klaim dan dakwakan yang tidak seluhur apa yang dimaksudkan oleh agamanya. Penggunaan simbol-simbol agama dalam sebuah tradisi tak jarang menghipnotis masyarakat yang tidak menyadari dan tidak memahami makna dari simbol yang digunakannya. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dengan pandangan tersebut, saya setuju dengan Levi-Strauss yang berpandangan bahwa di seluruh dunia manusia menghadapi masalah intelektual berupa kontradiksi dalam eksistensinya, seperti masalah hidup dan mati, sifat ganda, dikotomi jiwa dan raga, dan kontradiksi yang meliputi keturunannya. Begitupun, mitos juga digunakan secara terus-menerus untuk mengolah kontradiksi dengan mengaturnya dalam simbol.<\/span><\/span><a name=\"_ftnref7\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn7\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[7]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"mso-ansi-language: FR;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"> <span lang=\"FR\"><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Oleh karenanya, saya melihat bahwa penggunaan simbol-simbol dalam hampir setiap tradisi yang saya pelajari dapat menimbulkan berbagai ragam makna dan mungkin berubah makna dan simbol yang digunakannya sesuai dengan perubahan dan perkembangan intelektualitas masyarakatnya. Hal ini setidaknya kita lihat dalam tradisi-tradisi pertunangan masyarakat Madura dan Jawa yang sudah disajikan pada bagian sebelum ini.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><strong><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Perubahan Mitos dalam Perkembangan Masyarakat <\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 26.95pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\">Sekalipun mitos berfungsi sedemikian kuatnya dalam pembentukan kekuatan dan ketahanan komunitas tertentu, sebagaimana dijelaskan pada bagian pertama, akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, masyarakat Madura masa kini, sebagaimana hasil temuan Helman Fajry, dalam menanggapi mitos <\/span><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">terbagi pada tiga kategori atau golongan.<\/span><\/span><\/span><a name=\"_ftnref8\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn8\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-ansi-language: FR;\" lang=\"FR\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: FR; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\" lang=\"FR\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[8]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"> Pertama, masyarakat memahami bahwa mitos merupakan keyakinan yang harus dipertahankan karena sudah menjadi keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun. Pelanggaran terhadap mitos akan menjadi bahan pergunjingan masyarakat, bahkan dapat menurunkan atau menjatuhkan harkat dan martabat keluarga sang pelanggar mitos, karena dianggap sebagai sikap ketidakpatuhan terhadap <span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>warisan nenek moyang. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoBodyText2\" style=\"text-align: justify; text-indent: 26.95pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Kedua, sebagian masyarakat bersifat ambigu, antara percaya dan tidak terhadap mitos. Dalam kondisi seperti itu, mitos dalam kehidupan masyarakat menjadi <\/span><span style=\"mso-ansi-language: DE;\" lang=\"DE\">semacam tahayyul, namun bawah sadarnya memberitahukan tentang adanya suatu kekuatan yang menguasai dirinya serta alam lingkungannya. Bawah sadar inilah yang kemudian menimbulkan rekaan-rekaan dalam pikiran, yang lambat laun berubah menjadi kepercayaan. Kondisi ini, biasanya dibarengi dengan rasa ketakjuban, ketakutan, atau kedua-duanya, yang pada akhirnya melahirkan sikap pemujaan atau kultus. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 26.95pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Ketiga, masyarakat yang tidak percaya, bahkan tidak meyakini sama sekali terhadap mitos. Kelompok ketiga ini adalah kelompok santri yang sudah tercerahkan melalui <\/span>dakwah-dakwah dan pendidikan <span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">agama. <\/span>Dalam hal ini, mereka <span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">berpandangan bahwa <\/span>sebuah mitos <span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">boleh <\/span>dilarang selama bukan menjadi larangan <span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">agama. Mitos hanya dianggap sebagai cerita orang-orang dulu yang tidak dapat dipercaya, sebab semua yang ada di dunia ini hanya dapat ditentukan oleh Tuhan. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"layout-grid-mode: line; color: black;\">Sekalipun demikian, dalam menanggapi realitas mitos<\/span><em><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">, <\/span><\/em><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">para kyai memberikan hukum yang berbeda-beda. <span style=\"layout-grid-mode: line; color: black;\">KH. Mudastsir Sahlan, salah seorang Pengasuh di sebuah Pondok Pesantren<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>di Blumbungan, menjelaskan bahwa perkawinan yang dilarang berdasrkan atas mitos, seperti <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>, tidak di dapatkan hukumnya di dalam kitab-kitab fiqh. <\/span><\/span><em><span style=\"layout-grid-mode: line; color: black;\">Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/span><\/em><span style=\"layout-grid-mode: line; color: black;\"> hanyalah adat orang-orang dulu, tidak satupun ulama salafus sholeh yang melarangnya. Jadi, istilah <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> itu bisa mendatangkan bencana dan musibah hanyalah sebuah mitos yang tidak boleh dipercayai, apalagi diyakini, sebab orang yang percaya terhadap mitos-mitos seperi ini bisa menyebabkan murtad <em>i&rsquo;tiqodi<\/em>.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Senada dengan pandangan tersebut, KH. Ahmad Makmun berpandangan bahwa larangan <em><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/span><\/em><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"> sama sekali tidak berdasarkan atas kaedah-kaedah fiqhiyyah yang benar. Selengkapnya Kyai Makmun mengatakan:<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 49.7pt 0pt 35.45pt;\"><em><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">&ldquo;Istilah Sal\u0113p Tarjh&acirc; <span style=\"layout-grid-mode: line; color: black;\">ka&rsquo;dhinto<\/span> sobung sakale pembahasanna e dhelem ketab-ketab fiqih, selama den gule maos ketab-ketab fiqih syafi&rsquo;iyah, den guleh ta&rsquo; pernah manggii pembahasan se menyangkut ta&rsquo; e olle agina kabin a kadiye Sal\u0113p Tarjh&acirc; ka&rsquo; dhinto, enggi den guleh ta&rsquo; pernah manggii. <\/span>Daddhi istilana namong coma kalam se sobung ong-naongna, kalam se tadhe&rsquo; hokomma maksotthe. Mila dhari ka&rsquo;dhinto bennya&rsquo; para ulama&rsquo;, para alim, para keyae se a lakone, enggi para ulama&rsquo; ka&rsquo;dhinto ngalakone<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>minangka a berri&rsquo; contoh, a bukteagina dhe&rsquo; ka masyarakat je&rsquo; reng mitos ka&rsquo;dhinto ta&rsquo; kengeng e kaparcaje, masalana manabi parcaje dhe&rsquo; ka mitos-mitos a kadiye mitosse Sal\u0113p Tarjh&acirc; ka&rsquo;dhinto, rejekkena mlarat, e ka duli sobung omor ban cem-semacemma, ka&rsquo;dhinto bisa a rosak agi dhe&rsquo; ka aqidah.&rdquo; <\/span><\/span><\/em><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; text-indent: -1.35pt; margin: 0cm 49.7pt 0pt 35.45pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 49.7pt 0pt 35.45pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&ldquo;Istilah <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> itu tidak ada sama sekali pembahasannya di dalam kitab-kitab fiqh, selama saya membaca kitab-kitab fiqh syafi&rsquo;iyah, saya belum pernah menemukan\/mendapati pembahasan menyangkut dilarangnya perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>, iya saya belum pernah menemukan. Jadi, istilahnya hanya sekedar <em>kalam<\/em> atau perkataan yang tidak ada hukumnya di dalam kitab-kitab. Oleh karena itu, para ulama, para alim, para kiai<em> (keyae)<\/em> banyak yang melakukan perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> ini dalam rangka memberikan contoh dan membuktikan kepada masyarakat bahwa mitos itu tidak boleh dipercayai, sebab apabila percaya terhadap mitos-mitos seperti mitos <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> tersebut, rezekinya melarat\/sulit, cepat meninggal dunia dan lain sebagainya, maka hal ini bisa merusak terhadap akidah.&rdquo;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 56.8pt 0pt 36pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Kyai Mahalli, salah seorang tokoh agama pembina TK Al-Qur&rsquo;an dan madrasah Ibtidaiyah (MI) di Desa Blumbungan, berpendapat senada dengan kedua tokoh tersebut dimana dia menyatakan bahwa di dalam kitab-kitab fiqh tidak pernah ditemukan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>, sebab istilah <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> hanya perkataan nenek moyang yang tidak ada ketentuan dan penjelasannya di dalam kitab-kitab fiqh. Perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>, katanya lebih lanjut, berdasarkan ketentuan hukum Islam boleh dan tidak dilarang. <\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Kyai Maimun, salah seorang guru agama yang cukup disegani, memandang bahwa persoalan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> sebenarnya tidak ada masalah walaupun dilanggar sebab tidak ada satupun ketentuan yang melarangnya, justru para kiai<em> (keyae)<\/em> banyak yang melakukan dan tidak ada menemukan masalah. Maksudnya, begitu katanya lebih lanjut, mitos yang mengatakan bahwa pelaku <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> rezekinya akan sulit, meninggal dunia dan sebagainya, tidak terbukti. Jadi, begitu dia menyimpulkan, <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc; <\/em>hanya lah perkataan yang tidak boleh dipercayai.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Berdasarkan atas keyakinan dan pandangan yang berbeda antara tokoh agama dan tokoh adat masyarakat, kejadian di balik pelanggaran mitos perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;, <\/em>seperti musibah dan bencana bagi pelaku maupun keluarganya, kemiskinan, terkena penyakit yang berkepanjangan atau bahkan meninggal dunia, juga dipahami secara berbeda. H. Abu Bakar alias Tono mengatakan bahwa realitas di kalangan masyarakat yang melanggar mitos tersebut memang tidak terdapat dalam kitab-kitab fiqh atau doktrin agama. Akan tetapi, begitu menurutnya lebih lanjut, <em>ca&rsquo;-oca&rsquo;enna reng lamba&rsquo; ta&rsquo; tao apa maksotthe, se penting kala sala sittongga dhe&rsquo;iye, ye la ka-sokanna pangiran roah pola. Tape je&rsquo; reng oca&rsquo;en reng lamba&rsquo;en a reah teppa.<\/em>&rdquo; <\/span><a name=\"_ftnref9\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn9\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[9]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Sama dengan pandangan tersebut, Ris alias Nikrah mengatakan bahwa <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc; <\/em>yang melarang adalah orang tua. Setiap akan melakukan perkawinan, orang-orang tua selalu mengingatkan: <em>&ldquo;<\/em>hati-hati takut melanggar <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;&rdquo;<\/em>. Pesan itu, katanya mengakibatkan munculnya rasa takut, was was, yang mengakibatkan kita pun hati-hati, sebab <em>nasehatthe reng toah mon e rompak (e langgar) na&rsquo;poto daddhi mang-mang, tako&rsquo; oreng toah nolae.<\/em><\/span><\/span><a name=\"_ftnref10\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn10\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[10]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 27pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black;\">Musahrih mempunyai pandangan yang tidak berbeda dengan duya tokoh adat tersebut dengan memberikan argumentasi bahwa <\/span><em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em> memang mendatangkan bahaya, membahayakan bagi anak-anaknya, membahayakan harta benda\/rezekinya. Contohnya, katanya lebih lanjut, kasus H. Risun yang menurut penilaian masyarakat dia meninggal dunia karena anaknya melakukan perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>. Setelah H. Risun meninggal dunia, katanya, besannya berkata: &ldquo;meninggalnya H. Risun itu disebabkan karena dia melanggar perkawinan <em>Sal\u0113p Tarjh&acirc;<\/em>, sebentar lagi saya akan meninggal dunia juga.&rdquo; Jelang beberapa waktu lamanya, besan H. Risun ini benar-benar meninggal dunia. Oleh sebab itu, bagi orang yang tetap melakukan perkawinan <em><span style=\"color: black;\">Sal\u0113p Tarjh&acirc;, <\/span><\/em><span style=\"color: black;\">kalau ingin selamat dari mara bahaya, dia harus mengadakan selamatan atau do&rsquo;a bersama dengan cara mengundang famili-famili dan para tetangga, kemudian dibacakan kepadanya <em>surat munjiyat<\/em><\/span>. <\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Berbeda dengan temuan Fajry tentang tanggapan masyarakat terhadap mitos pertunangan, Ijmaliyah<\/span><a name=\"_ftnref11\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftn11\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[11]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\"> justeru menemukan realitas masyarakat Ringinrejo yang berupaya untuk mempertahankan mitos sekalipun telah mendapatkan pencerahan agama dan pendidikan, bahkan terkesan berlebih-lebihan. Realitas ini terlihat dalam fenomena perilaku masyarakat yang melakukan ritual dengan meletakkan <em>sesajen<\/em> di pinggir perempatan jalan, atau tempat-tempat lain, untuk meminta keselamatan desa dan mengusir roh-roh halus yang jahat. Ritual peletakan <em>sesajen<\/em> yang berisikan telur, ikan, uang logam, kue dan pisang, biasa dilakukan menjelang acara <em>hajatan kemanten<\/em>, yang diletakkan diperempatan jalan dan <em>sound system<\/em>. Sekalipun diyakini masa lalu nenek moyang mereka tidak menggunakan <em>sound system<\/em> dalam melaksanakan hajat, tetapi setiap pelaksanaan <em>hajatan kemanten<\/em> tetap diadakan ritual peletakan <em>sesajen<\/em> di <em>sound system<\/em>, mungkin sebagai pengganti dari meletakkannya di bawah kayu-kayu besar yang sekarang sudah tidak ada lagi (?).<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Keyakinan seperti ini tetap dipertahankan oleh masyarakat Ringinrejo, menurut Pak Mukani, salah seorang sesepuh desa Ringinrejo, sebab hal tersebut berhubungan dengan konsep nenek moyang masyarakat Ringinrejo. Setiap terjadi pelanggaran terhadap keyakinan masyarakat, maka sang pelanggar dan semua keluarganya akan menerima akibatnya sendiri dan dipersalahkan oleh semua orang. Oleh sebab itu, Pamuji Ali menimpali, setiap mau melakukan hajatan perkawinan atau kegiatan desa, maka selalu diadakan ikhtiar sebelum melakukan do&rsquo;a pada Allah swt., yaitu meminta penjelasan dari orang-orang yang ahli agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Yamin Nurdin juga menegaskan hal yang sama bahwa mitos pelarangan terhadap calon pasangan yang sudah ditentukan oleh tradisi dan adat istiadat Ringinrejo merupakan kebenaran yang harus dipertahankan da dilestarika. Oleh sebeb itu, kata Nurdin, 90 % masyarakat di sini percaya dan terus berusaha menceritakan pada anak-anaknya untuk melestarikan keyakinan itu agar mendapatkan ketentangan, kedamaian dan keselamatan.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Sekalipun keyakinan terhadap mitos tersebut mempunyai pengecualian (eksepsi) bagi mereka yang terpaksa melakukan pelanggaran dengan jalan melaksanakan ritual <em>tulak bala&rsquo;<\/em>, namun realitas keluarga yang melanggar tetap menunjukkan pada kebenaran mitos tersebut. Hal ini diakui oleh Pamuji Ali dan Aisyah yang sudah melaksanakan ritual <em>tulak bala&rsquo;<\/em> tetapi tetap saja mengalami kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, seperti diterpa penyakit yang kunjung sembuh bahkan hingga pada kematian. Kejadian-kejadian ini kemudian dihubung-hubungkan oleh masyarakat untuk menunjukkan bahwa eksepsi sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap kebenaran keyakinanterhadap mitos.<\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; line-height: 200%; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: small;\">Dari berbagai penjelasan di atas, perbedaan yang terdapat dalam doktrin agama dengan realitas tradisi pertunangan masyarakat Jawa dapat disajikan dalam tabel berikut:<\/span><\/p>\n<table class=\"MsoNormalTable\" style=\"margin: auto auto auto 5.4pt; border-collapse: collapse; mso-yfti-tbllook: 1184; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-insideh: .5pt solid windowtext; mso-border-insidev: .5pt solid windowtext;\" border=\"1\" cellspacing=\"0\" cellpadding=\"0\">\n<tbody>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-firstrow: yes;\">\n<td style=\"padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; border: windowtext 1pt solid;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><span style=\"color: white;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">No<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: windowtext 1pt solid; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><span style=\"color: white;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Jenis Perilaku<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: windowtext 1pt solid; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><span style=\"color: white;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Realitas Tradisi <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: windowtext 1pt solid; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><span style=\"color: white;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Doktrin Agama<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 1;\">\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: windowtext 1pt solid; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #b6dde8; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">1<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #b6dde8; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Pemilihan Calon<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #b6dde8; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -14.2pt; margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">1.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Mitos Ngelangkah Aratan, yakni suatu perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang berseberangan jalan<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -14.2pt; margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">2.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Larangan perkawinan antara dua orang yang asal daerahnya memiliki awalan huruf yang sama.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -14.2pt; margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">3.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Larangan menikah dengan orang yang sudah meninggal salah satu orang tuanya.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -14.2pt; margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">4.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Larangan menikah dengan orang yang saudaranya sudah pernah menikah dengan seseorang di desa yang sama.<\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -14.2pt; margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">5.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\">Larangan menikah dengan seseorang yang saudaranya sudah menikah dengan tetangganya.<\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #b6dde8; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -18pt; margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt; mso-list: l1 level1 lfo2;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">1.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\">Penentuan sekufu&rsquo; dalam agama ditentukan berdasarkan atas, harta, nasab, wajah, dan agama, bukan ditentukan oleh lokasi atau tempat.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">&nbsp;<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-indent: -18pt; margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt; mso-list: l1 level1 lfo2;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"mso-list: Ignore;\">2.<span style=\"font: 7pt \"Times New Roman\";\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\">Larangan perjodohan dikarenakan hubungan senasab atau sesusuan, bukan atas keyakinan dan mitos. <\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 2;\">\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: windowtext 1pt solid; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">2<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Penentu pilihan<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\">Orang Tua<\/span><span style=\"color: black; font-size: 10pt; mso-ansi-language: IN;\" lang=\"IN\"><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Orang Tua dan Anak<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 3;\">\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: windowtext 1pt solid; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">3<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Ritual<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"><em><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\">Slametan<\/span><\/em><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"> dengan <em>sesajen<\/em><\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Syukuran<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 4;\">\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: windowtext 1pt solid; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">4<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Waktu<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Larangan berdasarkan hari <em>geblake <\/em>orang tua dan <em>galengan taon<\/em>.<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #f79646; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Bulan-bulan baik<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"mso-yfti-irow: 5; mso-yfti-lastrow: yes;\">\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: windowtext 1pt solid; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 20.1pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"27\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: center; margin: 0cm 0cm 0pt;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">5<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 81.6pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"109\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Sanksi<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 178.9pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"239\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Gunjingan dan saksi moral<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td style=\"border-bottom: windowtext 1pt solid; border-left: #ffffff; padding-bottom: 0cm; padding-left: 5.4pt; width: 113.35pt; padding-right: 5.4pt; background: #92cddc; border-top: #ffffff; border-right: windowtext 1pt solid; padding-top: 0cm; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt;\" width=\"151\" valign=\"top\">\n<p class=\"MsoNormal\" style=\"margin: 0cm 0cm 0pt 15.3pt;\"><span style=\"color: black; font-size: 10pt;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">Adzab akhirat<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<div style=\"mso-element: footnote-list;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\"> <\/p>\n<hr size=\"1\" \/> <\/span> <\/p>\n<div id=\"ftn1\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn1\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref1\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[1]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Nur Syam, <em>Islam Pesisir <\/em>(Yogyakarta: LKiS, 2005), 252.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn2\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn2\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref2\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[2]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Hasan Shadily, <em>Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia<\/em>, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), 53.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn3\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn3\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref3\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[3]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Soerojo Wignjodipoero, <em>Pengantar dan<span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp; <\/span>Asas-asas Hukum Adat <\/em>(Jakarta: PT Gunung Agung, 1967),122<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn4\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn4\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref4\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[4]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Departermen Pendidikan dan Kebudayaan, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia <\/em>(Jakarta: Balai Pustaka, 1988), 959.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn5\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn5\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref5\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[5]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Brian Morris, <em>Antropologi Agama <\/em>(Yogyakarta: AK Group, 2003),<em> <\/em>272,<em> <\/em>276, dan<em> <\/em>278<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn6\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn6\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref6\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[6]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Nur Syam, <em>Op. Cit., <\/em>245<em> <\/em>dan<em> <\/em>247<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn7\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn7\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref7\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[7]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Baca Roger M. Keesing, &ldquo;Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective&rdquo;, diterjemahkan R.G. Soekadijo, <em>Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer<\/em> (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1992), 109.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn8\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn8\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref8\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[8]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Helman Fajry, <span style=\"mso-ansi-language: SV;\" lang=\"SV\">Sal\u0113p Tarjh&acirc;: Antara Realitas, Normatifitas, Dan Mitos, <em>Skripsi <\/em><\/span>(Malang: Fakultas Syari&rsquo;ah UIN Malang, 2007).<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn9\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn9\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref9\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[9]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Cuma kata orang-orang dulu (nenek moyang), saya tidak tahu apa maksudnya, yang penting mesti &ldquo;kalah&rdquo; salah satunya begitu, ya itu mungkin sudah kehendak tuhan. Tapi, apa yang dikatakan orang-orang dulu itu benar.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn10\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn10\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref10\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[10]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Apabila nasehat orang tua itu di langgar khawatir bisa mendatangkan <em>bala&rsquo;<\/em>.<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<div id=\"ftn11\" style=\"mso-element: footnote;\">\n<p class=\"MsoFootnoteText\" style=\"text-align: justify; text-indent: 36pt; margin: 0cm 0cm 0pt;\"><a name=\"_ftn11\" href=\"http:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/#_ftnref11\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"mso-special-character: footnote;\"><span class=\"MsoFootnoteReference\"><span style=\"font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA;\"><span style=\"font-family: Times New Roman;\">[11]<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><span style=\"font-family: Times New Roman; font-size: x-small;\">Selengkapnya baca Ijmaliyah, &ldquo;<span style=\"mso-ansi-language: DE;\" lang=\"DE\">Mitos <em>&#8220;<\/em>Segoro<em> Getih&#8221;<\/em> <em><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span><\/em>Sebagai Larangan Penentuan Calon Suami Atau Istri di Masyarakat Ringinrejo Kediri&rdquo; (Studi Akulturasi Mitos dan Syari&#8217;at)<\/span>,&rdquo; <em>Skripsi<\/em> (Malang: Fakultas Syari&rsquo;ah UIN Malang, 2006).<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mitos dan Simbol dalam Tradisi Setelah memperhatikan berbagai tradisi, yang muncul pertanyaannya kemudian ialah mengapa mitos-mitos tersebut masih bertahan dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang sudah terkenal religius? Mengapa masyarakat Indonesia dengan sengaja mempertahankan mitos-mitos tersebut dalam kehidupan berkeluarga? Menjawab hal itu, saya sepakat dengan Nursyam yang berpandangan bahwa pada dasarnya ada dua tindakan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-8592","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8592\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}