{"id":8560,"date":"2010-08-06T03:40:00","date_gmt":"2010-08-05T20:40:00","guid":{"rendered":"https:\/\/syariahnew.uin-malang.ac.id\/metodologi-studi-al-quran\/"},"modified":"2010-08-06T03:40:00","modified_gmt":"2010-08-05T20:40:00","slug":"metodologi-studi-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/metodologi-studi-al-quran\/","title":{"rendered":"METODOLOGI STUDI AL-QUR\u2019AN"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>METODOLOGI STUDI AL-QUR\u2019AN<\/strong><a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Oleh : Umi Sumbulah<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">A. Wacana tentang Al-Qur\u2019an dan Ilmu Pengetahuan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an yang merupakan seperangkat aturan hidup, memberikan porsi besar kepada perkembangan manusia terutama menyangkut maksimalisasi fungsi pikirnya.\u00a0 Isyarat ilmiah dalam al-Qur\u2019an, merupakan salah satu aspek I\u2019jaz al-Qur\u2019an yang lazim dikenal dengan i\u2019jaz \u2018ilmy. Membahas hubungan dan isyarat ilmiah dalam al-Qur\u2019an, penting mengutip pendapat Quraish Shihab bahwa melihat isyarat ilmiah dalam al-Qur\u2019an bukan berarti dengan melihat\u00a0 misalnya adakah teori relativitas atau bahasan tentang angkasa luar, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan\u00a0 atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur\u2019an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sudah mapan? dengan kata lain meletakkanal-Qur\u2019an pada sisi social psychology (psikologi sosial) dan bukan pada sisi \u201chistory of scientific progress\u201d (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan\u201d.<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernyataan Quraish Shihab di atas penting diingat karena ilmu pengetahuan sangat terkait dengan ruang dan waktu. Karena itu, tidak beralasan pendapat yang mencoba memaksakan bahwa al-Qur\u2019an mengandung semua pengetahuan\u00a0 ilmiah, sebab ini selanjutnya akan mengandaikan terikatnya kebenaran al-Qur\u2019an dengan ruang dan waktu. Mengandaikan hal ini akan mengakibatkan pemahaman kita terhadap al-Qur\u2019an menjadi absurd, sekaligus mereduksi keagungannya sebagai kitab suci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berangkat dari pemikiran di atas, para mufassirin memposisikan al-Qur\u2019an sebagai kitab hidayah\u00a0 yang di dalamya mengandung isyarat-isyarat ilmiah, untuk selanjutnya merangsang manusia untuk mengembangkan dan menganalisisnya lebih jauh lewat observasi dan penelitian. Untuk memberi arah pada observasi dan penelitian ilmiah inilah al-Qur\u2019an meletakkannya dalam kerangka memperkuat keimanan seseorang. Karena itu, logis kalau al-Qur\u2019an melabelkan ilmu pengetahuan pada kadar dan tingkat keimanan seseorang. Di sinilah bertemunya isyarat ilmiah al-Qur\u2019an dengan perintah iqra\u2019 yang sejak pertama diperintahkan Allah kepada Muhammad SAW.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkaitan dengan pemikiran di atas, Muhammad Isma\u2019il\u00a0 Ibrahim,<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a> menyebutkan bahwa maksimalisasi peran akal dan kecintaan ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan sekaligus keimanan seseorang.\u00a0 Ismail menyebutkan bahwa dalam melihat hal ini, ia harus diletakkan\u00a0 dalam kerangka pencarian kebenaran dan kedekatan pada sang Pencipta, serta harus bersesuaian dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah (bismi rabbik).<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kaitannya dengan kemu\u2019jizatan al-Qur\u2019an, isyarat-isyarat ilmiahnya muncul dalam porsi terbesarnya\u00a0 tentang anjuranya untuk membaca ayat-ayat kawniyah yang terdapat di alam.<a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a> Anjurannya untuk mleihat alam semesta ini, menurut Sirajuddin Zar bertujuan untuk mengantarkan manusia agar mereka\u00a0 menyadari bahwa di balik \u201ctirai\u201d alam semesta yang disebutnya sebagai kitab alam, ada Zat Yang Maha Kuasa, seklaigus untuk menguatkan keyakinan bahwa Tuhan memang Maha Kuasa sebagaimana yang ditunjukkan al-Qur\u2019an. Dalam konteks ini, Mehdi Ghulsyani,<a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a> menyatakan bahwa lebih dari 10%\u00a0 ayat-ayat al-Qur\u2019an merupakan rujukan-rujukan kepada fenomena alam.Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di era sekarang kita menemukan banyak tafsir ayat al-Qur\u2019an yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan alam. Di sinilah letak perpaduan harmonis antara ilmu tafsir dan i\u2019jaz al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di antara dorongan untuk bersikap dan memiliki kesadaran ilmiah ini, secara lebih khusus\u00a0 lagi muncul dalam anjuran al-Qur\u2019an untuk :1) memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi; 2)Memikirkan diri manusia sendiri; 3) memikirkan bumi dan alam yang mengitari matahari; 4)mengangkat kedudukan orang-orang yang berilmu dan membedakan kualifikasi antara yang berilmu dan yang tidak, dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Misalnya dalam QS. Yunus; 5 disebutkan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan merupakan pantulan dari cahaya matahari. Sebuah pernyataan yang jika ditinjau dari segi ilmiah, dapat diterima kebenarannya. Ia juga merupakan buah kemu\u2019jizatan, sebab kitab suci\u00a0 yang diturunkan Tuhan beberapa abad silam kepada Muhammad SAW yang ummi itu, ternyata\u00a0 mampu berbicara sesuatu yang lewat perspektif modern dapat diterima kebenarannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">B.\u00a0 Metode Studi al-Qur\u2019an: Menuju Pemahaman Holistik<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Beberapa pendekatan dalam penafsiran al-Qur\u2019an<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beragam kitab tafsir mulai era klasik\u00a0 hingga era modern yang didominasi dan hegemoni oleh metode tahlily, menyisakan catatan penting tentang beberapa kelemahan metode\u00a0 tersebut. Selain pendekatannya yang menekankan pada kronologi ayat berdasarkan tertib surat mushaf Usmani, pendekatan ini juga mengedepankan logika keumuman lafadz daripada kekhususan sebab (al-\u2018ibrah bi umum al-lafdzi la bi khushus al-sabab) serta kurang memperhatikan koteks ketika ayat tersebut turun. Hal ini mengakibatkan kurang tersentuhnya problem masyarakat oleh al-Qur\u2019an yang sesungguhnya prinsip umumnya telah digariskan di dalamnya. Demikian juga dua metode lainnya, yakni metode Ijmaly (tafsir global) dan muqaran (tafsir komparatif).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena interpretasi teks-teks suci berkaitan dengan\u00a0 konsep jender yang mendiskreditkan kaum perempuan ini, menurut kesimpulan beberapa feminis muslim, disebbkan oleh beberapa hal : 1) belum jelasnya konsep seks dan jender dalam mendefinisikan\u00a0 peran laki-laki dan perempuan, 2)ilfiltrasi israiliyat dalam teks-teks suci yang berkembang di kawasan Timur Tengah, 3)metode interpretasi yang mengandalkan\u00a0 metode tahlili dan bukan maudhu\u2019i serta 4)kemungkinan ketidaknetralannya mencermati teks. Karena itu, perlu adanya\u00a0 penggalakan interpretasi\u00a0 teks dengan metode maudhu\u2019i, yang sangat menekankan aspek kontekstual\/sosial-budaya ketika att tersebut turun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teks yang sesungguhnya tidak netral, kemudian dipahami oleh para pembaca (mufassir, fuqaha\u2019, dosen, da\u2019i dsb) dengan hanya berdasarlajn teks, tanpa\u00a0 melihat lebih jauh kapan, di mana dan untuk apa teks itu muncul. Kendati ada perbenturan terus menerus antara pengarang dan pembaca, namun dengan pendekatan yang demokratis tanpa ada hegemoni tertentu, maka isu-isu kontemporer dapat terakomodir di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan metode mawdhu\u2019iy ini, akan dikukuhkan kembali fungsi al-Qur\u2019an sebagai Kitab suci yang menuntun jalan setiap gerak kehidupan manusia, serta dapat menjadi\u00a0 bukti bahwa ayat-ayat al-Qur\u2019an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berangkat dari kenyataan itulah, Sayyid al-Kumy mencetuskan pertama kali Tafsir Mawdhu\u2019iy pada tahun 1981,dengan harapan bahwa problematika masyarakat dapat dicarikan solusinya dalam al-Qur\u2019an. Gagasan ini kemudian banyak menginfiltrasi pemikiran dan ldikembangkan oleh dosen-dosen di Al-Azhar seperti Al-Husaini Abu Farhah, dan bahkan Abdul Hayy al-Farmawy sukses menyempurnakan formula gagasan tersebut lewat masterpeace-nya yang bertitel al-Bidayah fi\u00a0 al-Tafsir al-Mawdhu\u2019iy. Sebagaimana disitir Quraish Shihab,<a href=\"#_ftn8\">[8]<\/a> beberapa perincian dan kinerja metode tersebut :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menetapkan masalah yang akan dibahas<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">memperhatikan masalah yang terjadi di masyarakat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">locally dan temporal<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">melalui kosakata atau sinonimnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang\u00a0 asbab al-nuzul<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surat masing-masing<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menyusun\u00a0 pembahasan dalam kerangka\u00a0 yang sempurna (outline)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang memiliki pengertian yang sama, mengkompromikan antara yang \u2018am dan yang khash, muthlaq dan muqayyad, atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya\u00a0 bertemu dalam satu muara pemahman, tanpa perbedaan atau pemaksaan. Dalam konteks inilah interpretasi metode mawdhu\u2019i dengan pendekatan ilmu-ilmu modern menjadi penting adanya, bahkan\u00a0 juga mengharuskan pendekatan-pendekatan lintas-disipliner.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">D. Penafsiran Mawdhu\u2019i tentang Penciptaan Alam: Sekedar Contoh<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an mengungkapkan penciptaan alam dengan terma yang berbeda-beda, antara lain dengan kata\u00a0 khalaqa, bada\u2019a dan fathara. Hal ini misalnya dapat disimak dalam\u00a0 QS. 11:7, QS. 21:30 (ja\u2019ala), QS. 32:4, QS. 51: 47, 5. QS.41: 9-12,\u00a0 dan QS. 65: 12. Namun ketiga ungkapan tersebut tidak memberikan penjelasanyang tegas apakah\u00a0 alam semesta diciptakan dari materi yang sudah ada atau dari ketiadaan. Jadi ketiganya\u00a0 hanya menjelaskan bahwa Allah pencipta\u00a0 alam semesta tanpa menyebutkan dari ada dan tiadanya.<a href=\"#_ftn9\">[9]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam QS.Hud\/11:7, ada beberapa kata kunci yang\u00a0 memberikan penjelasan tentang hal ini, yakni sittati ayyam,\u2019arsyuhu \u2018ala al-ma\u2019, al-samawat dan al-ardh. Alam semesta diciptakan dalam 6 tahapan dan \u2018arasy Allah ketika berlangsungnya\u00a0 proses penciptaan alam\u00a0 semesta di atas zat alir atau sop kosmos (al-ma\u2019).Al-sama\u2019 dipahami sebagai ruang alam yang di dalamnya terdapat galaksi-galaksi, bintang-bintng dan lainya, dan bukan sebagai bola super raksasa yang mewadahi seluruh alam. Sedangkan al-ardh dalam konteks ayat ini dipahami sebagai mataeri yakni bakal bumi\u00a0 yang telah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagat raya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam QS. Al-Anbiya\u2019\/21: 30 dideskripsikan bahwa ruang alam (al-sama\u2019) dan materi (al-ardh) sebelum dipisahkan Allah\u00a0 adalah sesuatu yang padu (ratq), kendati al-Qur\u2019an tidak menyebutkan bagaimana bentuk keterpaduannya. Rangkaian proses berikutnya setelah terjadinya proses pemisahan, akan alam semesta mengalami proses transisi membentuk dukhan, yang hal ini dapat disimak dalam QS. Fusshilat\/41:11.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena\u00a0 tidak ada penjelasan rinci tentang arti al\u2014dukhan ini, Bucaile misalnya mengartikannya sebagai asap yang terdiri dari stratum gas dengan bagian-bagian kecil yang mungkin memasuki tahapan keadaan keras atau cair dalam suhu\u00a0 rendah atau tinggi.<a href=\"#_ftn10\">[10]<\/a> Ibnu Katsir,<a href=\"#_ftn11\">[11]<\/a> menafsirkannya sebagai uap air,\u00a0 Al-Raghib menjelaskannya sebagai sesuatu yang halus dan ringan<a href=\"#_ftn12\">[12]<\/a>, sedangkan Hanafy Ahmad memberikan sifat dukhan sebagai sesuatu yang\u00a0 dapat mengalir dan beterbangan di udara seperti mengalirnya al-sahab.<a href=\"#_ftn13\">[13]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih dalam koteks QS. Fushilat ini, al-am\u2019 tidak diartikan sebagai zat alir\/sop kosmos sebagaimana dalam QS.Hud\/11:7, namun diartikan sebagai air yang daripadanya dijadikan segala sesuatu yang hidup (QS. Al-Anbiya\u2019\/21:30) yang diperkuat oleh QS. Al-Nur\/24: 45, yang menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan segala jenis hewan dari air.. Bhkan issyarat Al-Qur\u2019an ini dibuktikan oleh ilmu biologi kontemorer yang menunjukkan bahwa semua kehidupan dimulai dari air.<a href=\"#_ftn14\">[14]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkaitan dengan proses penciptaan alam dalam enam tahapan, yang secara umum disebut dalam QS. Hud\/11:7 disusul dalam QS. Al-sajdah\/32:4 dan\u00a0 dirinci oleh QS.Fushilat\/41: 9-12 dan didukung oleh QS.al-A\u2019raf\/7:54, Yunus\/10:3, al-Furqan\/25:59, Qaf\/50: 38 dan al-hadid\/57:4.Enam tahap dimaksud bukan menunjukkan urut-urutan dalam penciptaan ruang alam (al-sama)dan materi (al-ardh) namun diartikan sebagai tahapan atau periode penciptaan alam semesta secara keseluruan dalam waktu yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun satu hal yang perlu dicatat bahwa kata yawm (plural: ayyam) tidak mesti berarti 6 hari seperti dalam hitungan manusia, namun berarti suatu masa yang kadarnya tidak dapat ditentukan dan tiada seorangpun yang mengetahui hakikatnya. Ini karena hitungan hari seperti dimaksud manusia sekarang baru ada setelah sempurnanya penciptaan alam semesta. Sebagaimana diilustraskan dalam QS.al-Hajj\/22:47dan al-sajadah\/32:5 bahwa sehari dalam hitungan Tuhan sama dengan seribu tahu dalam hitungan manusia (inna yawman \u2018inda rabbik ka alfi sanat), dan al-Ma\u2019arij\/70:4 bahwa sehari dalam hitungan Tuhan sama dengan 50 ribu tahun (khamsina alfa sanat).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">E. Catatan Akhir<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Catatan sekelumit tentang metode studi al-Qur\u2019an di atas, sesungguhnya hanya merupakan upaya mengintegrasikan antara isyarat-isyarat ilmiah al-Qur\u2019an dengan temuan penelitian sains modern, serta untuk membuktikan bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia Tuhan menciptakan segala sesuatu. Untuk mencpai tujuan ini, metode tafsir klasik, bak tahlily, ijmaly dan muqaran tidak cukup memberikan penjelasan dan bahkan beberapa pesan al-Qur\u2019an justru terkesan parsial dan reduksionis. Oleh karena itu, kehadiran metode mawdhu\u2019iy dengan pendekatan-pendekatan ilmu modern menjadi penting adanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekali lagi bahwa hal ini bukan berarti bahwa studi al-Qur\u2019an dan sains semata-mata hanya sebagai\u00a0 upaya jusitifikasi yang apologetik, namun yang lebih penting dari itu adalah dalam rangka melaksanakan perintah IQRA\u2019 yang sejak awal telah dijadikan sebagai isyarat bagi tumbuh kembangnya Islam. Dengan demikian, tanpa IQRA mustahil Islam akan bisa berkembang dan dikembangkan sebagai agama yang benar-benar rahmatan li al -\u2019alamin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wa allah a\u2019lam bi al-shawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">DAFTAR BACAAN<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ahmad, Hanafy al-Tafsir al-\u2018Ilmy li Ayat al-Kawniyat. Kairo: Dar al-Ma\u2019arif, tt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Asfahany, al-Raghib. al-Mufradat fi Gharib al-Qur\u2019an. Beirut: Dar a-Ma\u2019arif, tt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ali Khan, Majid. Islam dan Evolusi Kehidupan, terj.Cuk Sukanto. Yogyakarta: PLP2M, 1987.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bucaile, Maurice. Bibel, Qur\u2019an dan Sains Modern, terj. M. Rasyidi .Jakarta: Bulan Bintang, 1978.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ghulsyani, Mehdi. Filsafat Sains Menurut al-Qur\u2019an, terj Agus Effendi.Bandung: Mizan, 1993.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibrahim, Muhammad Ismail. Al-Qur\u2019an wa I\u2019jazuh al\u2019Ilm. Dar al-Fikr al-\u2018Araby: tth.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Katsir, Ibnu. \u00a0Tafsir al-Qur\u2019an al-\u2018Adzim. Beirut: Isa al-Baby al-Halaby, 1969.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shihab,Quraish. Membumikan al-Qur\u2019an. Bandung: Mizan, 1994.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zar, Sirajuddin. Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan al-Qur\u2019an. Jakarta: Rajawali Press, 1994.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<hr width=\"33%\" size=\"1\" \/>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> Makalah pernah disampaikan dalam Diklat Al-Qur\u2019an dan sains oleh Jami\u2019atul Qurra\u2019 wa al-Huffadz LKQS UIIS Malang tanggal 16 Februari 2004.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Penulis kini adalah Dosen Pascasarjana dan Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> Quraish Shihab, <em>Membumikan al-Qur\u2019an <\/em>(Bandung: Mizan, 1994), 41.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> Muhammad Ismail Ibrahim<em>, al-Qur\u2019an wa I\u2019jazuh al\u2019Ilm<\/em> (Dar al-Fikr al-\u2018Araby: tt), 42-43.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> Al-Qur\u2019an surat al-\u2018Alaq: 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a> Lihat misalnya QS.10:101, 88:17-20, 3: 190, 51: 20-21, 45: 3-4, 50: 9-11 dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a> Mehdi Ghulsyani, <em>Filsafat Sains Menurut al-Qur\u2019an<\/em>, terj Ahus Efendi (Bandung: Mizan, 1993), 137.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref8\">[8]<\/a> Quraish Shihab, <em>Membumikan,<\/em> 114.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref9\">[9]<\/a> Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan al-Qur\u2019an (Jakarta: Rajawali Press, 1994) 135.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref10\">[10]<\/a> Maurice Bucaile, Bibel<em>, Qur\u2019an dan Sains Modern<\/em>, terj. M. Rasyidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 156.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref11\">[11]<\/a> Ibnu Katsir, <em> Tafsir al-Qur\u2019an al-\u2018Adzim<\/em> (Beirut: Isa al-Baby al-Halaby, 1969), 93.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref12\">[12]<\/a> Al-Raghib al-Asfahany, <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur\u2019an<\/em> (Beirut: Dar a-Ma\u2019arif, tt), 156.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref13\">[13]<\/a> Hanafy Ahmad, <em>al-Tafsir al-\u2018Ilmy li Ayat al-Kawniyat <\/em>( Kairo: Dar al-Ma\u2019arif, tt), 211.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"#_ftnref14\">[14]<\/a> Majid Ali Khan, <em>Islam dan Evolusi Kehidupan,<\/em> terj.Cuk Sukanto (Yogyakarta: PLP2M, 1987),\u00a0 155-156.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>METODOLOGI STUDI AL-QUR\u2019AN[1] Oleh : Umi Sumbulah[2] \u00a0 A. Wacana tentang Al-Qur\u2019an dan Ilmu Pengetahuan Al-Qur\u2019an yang merupakan seperangkat aturan hidup, memberikan porsi besar kepada perkembangan manusia terutama menyangkut maksimalisasi fungsi pikirnya.\u00a0 Isyarat ilmiah dalam al-Qur\u2019an, merupakan salah satu aspek I\u2019jaz al-Qur\u2019an yang lazim dikenal dengan i\u2019jaz \u2018ilmy. Membahas hubungan dan isyarat ilmiah dalam al-Qur\u2019an, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-8560","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8560"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8560\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/syariah.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}