MIU Login

Ikuti Pelatihan Hisab Waktu Salat, Qiblatuna Berharap Lolos Akhirat Tanpa Hisab

Reporter : Marsela Rosiana

Syariah-Qiblatuna (komunitas pegiat ilmu falak) Fakultas Syariah UIN Maliki Malang, baru saja mengikuti pelatihan pembuatan jadwal waktu shalat, imsakkiyah berbasis VBA (visual basic for applications) dan userform, yang diselenggarakan oleh Lembaga Falakkiyah PCNU Kab. Mojokerto. Acara yang dibuka untuk umum ini diselenggarakan selama dua hari, yakni tanggal 5-6 Maret 2022.

“Ilmu yang diajarkan diharapkan bermanfaat untuk mempersiapkan datangnya bulan suci Ramadhan “ tutur ketua panitia acara “Sinau Bareng Falak” yang menjadi latar belakang sekaligus tujuan dari diadakannya acara ini. Mengundang seluruh pegiat falak se-nusantara, peserta acara sinau membludak. Estimasi peserta adalah 50-80 orang. Namun, jelang pelaksanaan, jumlah pendaftar membludak hingga 107 peserta.

Tim Qiblatuna Fakultas Syariah UIN Maliki hadir di Pondok Pesantren Segoro Agung Troloyo, Trowulan, Kabupaten Mojokerto dengan formasi dua dosen dan dua mahasiswa. Miftahuddin Azmi, S.HI melontar kelakar saat di lokasi sinau, “Semoga dengan mengikuti kegiatan ini, kita bisa lolos akhirat tanpa hisab.”

Pelatihan pembuatan jadwal waktu salat dan imsakkiyah berbasis VBA serta juga userform diajarkan pada hari pertama dengan bimbingan Kyai Mohammad Nashor asal Kutorejo. Semangat para peserta pelatihan tidak terbendung hingga pukul setengah tiga dini hari untuk memahami materi yang disampaikan. “Istilah populer yang sering muncul dalam pelatihan berbasis VBA yakni mumet berjamaah,” ungkap pemateri untuk memantik semangat pelatihan pada malam hari. Praktik penggunaan Microsoft Excel untuk mengembangkan program waktu salat menjadi materi yang paling sulit menurut peserta. Karenanya, para peserta yang sudah bisa mengaplikasikan materi, termasuk tim Qiblatuna, turut membantu peserta lain yang mengalami kesulitan.          

Pada hari kedua, peserta pelatihan melanjutkan pembuatan jadwal waktu salat yang berfokus pada userform Ms. Excel. Momen ini menjadi puncak dan penentu keberhasilan serta pemahaman materi. Antusiasme peserta dalam menerapkan rumus yang telah dibuat sebelumnya sangat tinggi. Ini terlihat dari banyaknya peserta yang berhasil menyusun jadwal waktu salat, termasuk delegasi dari Qiblatuna.

Tidak hanya pelatihan, talkshow mengenai Rukhyatul Hilal juga menjadi penutup yang melengkapi acara Sinau Bareng Falak. Acara ini dimeriahkan oleh dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Gus Milal (salah satu anggota Lembaga Falakkiyah Kabupaten Mojokerto yang berfokus pada bidang Fiqh) dan Ustaz Inwannudin (salah satu anggota Lembaga Falakkiyah Kabupaten Gresik yang menjadi ahlu hibrah/ahli suri tauladan dalam bidang rukhyatul hilal). “ Saya cukup sering melihat hilal di bawah ketinggian hilal dua derajat, dan itu sangat mungkin”, jelas Ustaz Inwannudin dalam membuka sesi talkshow. Keberhasilan rukhyatul hilal tidak dipengaruhi dengan ada tidaknya bukti citra hilal, karena menurut Gus Milal, secara fiqh Islam keduanya tidak berhubungan. Sangat sering terjadi rukhyatul hilal berhasil dilakukan tanpa bukti citra hilal, karena citra hilal bukan menjadi syarat dari keberhasilan rukhyatul hilal. Ustaz Inwanudin menjelaskan bahwa beliau sering melihat hilal pada ketinggian hilal di bawah dua derajat, meski umumnya hilal akan terlihat pada ketinggian tiga derajat. Dengan mata telanjang beliau sering melakukan rukhyat dan berhasil melihat hilal.

Beliau menyampaikan cara-cara agar berhasil dalam melakukan rukhyat hilal bagi pemula, yaitu dengan melakukan hisab (perhitungan), observasi tempat/lokasi, menentukan kitab yang menjadi pedoman, membagi tugas dan bekerja sebagai tim, dan memahami keadaan/kondisi langit. Sesi talkshow ditutup dengan tanya jawab antara pemateri dengan peserta. Banyak peserta yang antusias mengajukan pertanyaan seputar kendala-kendala yang dialami selama melakukan rukhyat, bahkan perbedaan hasil rukhyat yang dilakukan berbagai organisasi agama di Indonesia.

Berita Terkait