MIU Login

Dema Fakultas Syariah UIN Malang Gelar Talkshow Inside Out tentang Kesehatan Mental

Reporter: Abdullah Hamdani Husain
Editor: Rizka Amaliah, M.Pd

SYARIAH – 12 Oktober 2025, Dema Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan talkshow Inside Out dengan tema “Inner Strength, Outer Success: Cara Ampuh Menghadapi Masalah Pribadi dan Sosial” di Aula Lantai 2 Gedung D, Sabtu (12/10/2025). Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi yang ada di Fakultas Syariah.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H., dengan menghadirkan Fuji Astutik, M.Psi., Dosen Fakultas Psikologi UIN Malang sebagai narasumber.

Nida Istaufa selaku Ketua Panitia menjelaskan tujuan kegiatan ini. “Kami ingin peserta mengaplikasikan ilmu yang didapat secara berkelanjutan. Hasil akhirnya adalah model mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, siap menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H. yang juga fasilitator bimbingan dan konseling (bimwin) nasional menekankan pentingnya mengelola emosi.

“Skill yang mahal itu menguasai emosi dan mengatur suasana hati. Jangan gampang baperan, jangan terlalu overthinking, jangan suka berharap kepada manusia dan jangan dikit-dikit mikirin apa kata orang, yang penting kita berbuat baik kepada siapa pun, orang lain tidak berbuat baik kepada kita tidak apa, orang lain membalas dengan kejahatan tidak apa-apa. Karena Allah tidak tidur,” ujarnya.

Pak Miftah melanjutkan dengan mengutip ayat Kursi, “Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum laa ta’khudzuhuu sinatuw wala naum. Allah melihat apa yang kita kerjakan dan Allah melihat apa yang orang lain kerjakan. Dan setiap perbuatan pasti ada balasannya.”

Fuji Astutik, M.Psi. dalam pemaparannya menegaskan definisi kesehatan mental.

“Sehat mental adalah kondisi kesejahteraan di mana setiap individu dapat menyadari potensinya sendiri, dapat mengatasi stres kehidupan normal, dapat bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya,” ujarnya.

Bu Fuji menjelaskan bahwa orang yang pernah tersakiti memiliki tiga respons: menjadi tersakiti selamanya, menjadi pelaku, atau mampu berdamai dan menjadi lebih bijak. Ia menyoroti fenomena penolakan emosi yang kerap terjadi.

“Semakin sering orang bilang tidak apa-apa, semakin dia apa-apa. Karena orang yang beneran tidak apa-apa tidak membutuhkan validasi dia tidak apa-apa,” jelasnya.

Selain menyajikan materi, dosen Fakultas Psikologi UIN Maliki ini juga mengajukan pertanyaan reflektif pada peserta untuk melakukan self analysis kondisi psikologis mereka.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang mengalihkan apa yang dirasakan, seakan-akan tenang dan baik-baik saja.

Bu Fuji juga menegaskan pentingnya mencari bantuan profesional dari psikolog atau terapis. Karena mereka dapat memberikan panduan dan dukungan yang tepat untuk membantu Anda dalam proses penyembuhan.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kondisi mental diri sendiri dan orang lain. Mereka juga dibekali dengan keterampilan dasar untuk mengelola stres dan menghadapi masalah secara mandiri.

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *

Berita Terkait