MIU Login

Manusia Makhluk Pencipta Simbol Komunikasi

Mengenal Olah Pikir

Pada suatu hari, saya menjenguk seorang sahabat yang sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit Islam di wilayah Malang. Sesaat saya sampai di ruang tempat peristirahatannya, terlihat dia sedang bersitegang dengan dokter yang merawatnya. Suatu pemandangan yang agak sulit bisa dipahami jika seorang pasien bersitegang dengan dokter yang merawatnya. Dalam beberapa saat, saya tidak berani membuka pembicaraan hingga akhirnya dia menceritakan kejadian yang saya pikir cukup aneh itu.

“Dokter kok melarang pasien berpikir karena sakit …!”, katanya dengan raut muka yang masih kelihatan emosi. Bersamaan dengan itu, isterinya menatap saya dengan mata agak lebar sambil meletakkan telunjuk tangan di depan bibirnya, memberi isyarat agar saya tidak memberikan komentar apa pun tentang hal itu. “Kalau tidak boleh berpikir, suruh mati saja sekalian …!” Lanjutnya sambil memegang kepalanya yang mungkin terasa sakit.

Berpikir memang merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia normal dan sekaligus pembeda manusia dengan makhluk lain.[1] Para pakar logika (الْمَنَاطِقَة), untuk membedakan antara manusia dengan malaikat dan jin, mengatakan الْإِنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ (manusia adalah hewan berbicara). Kemudian untuk membedakan antara manusia dengan hewan, mereka mengatakan “الإنسان حيوان ناطق والفرس حيوان صاهل” (manusia adalah makhluk yang berbicara dan kuda adalah hewan yang meringkik). Dari pandangan ini dapat dipahami bahwa berbicara merupakan artikulasi dari gabungan berbagai potensi olah intelek, sebagaimana dalam teori JP. Guilford, salah seorang pakar psikologi intelgensia, digolongkan dalam tiga struktur, isi, operasi dan produk.[2]

Al-hasil, berpikir hanyalah potensi yang diberikan Allah kepada manusia, dengan segala keunikannya, dan tidak diberikan kepada makhlukNya yang lain. Dalam bahasa al-Qur’an, potensi ini terangkum dalam kata “ruh” yang diberikan kepada manusia sehingga mengakibatkan tunduknya para malaikat kepadanya, kecuali Iblis. Dalam hal ini al-Qur’an surat al-Hijr (15) ayat 28 menjelaskan:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (28)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”[3]

 

Ayat di atas menggambarkan suasana dialogis, antara Allah swt. dengan para malaikat, tentang penciptaan manusia dari صَلْصَالٍ  (tanah berwarna hitam) dan حَمَإٍ مَسْنُونٍ (multi warna). Pada ayat yang lain, diceritakan pula bahwa proyeksi penciptaan makhluk berinisial manusia, yang nantinya diproyeksikan sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi, tidak begitu saja diterima oleh para malaikat, karena mereka mengkhawatirkan potensi konflik yang dimiliki manusia dan akan berdampak pada terjadinya pertumpahan darah.

Hal ini digambarkan al-Qur’an QS. al-Baqarah (2) ayat 30 yang berbunyi:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[4]

 

Akan tetapi, penolakan malaikat tersebut direnspon Allah swt. dengan menyatakanإِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ  (Aku lebih tahu daripada kalian). Selanjutnya, untuk melanggengkan proyeksi kekhilafahan di muka bumi, Allah swt. kemudian memberikan potensi ruh ilahiyyah, dengan multi potensi, kepada manusia. Dalam al-Qur’an surat al-Hijr (15) ayat 29 menjelaskan:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (citaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.[5]

 

Dengan ruh ilahiyyah tersebut, manusia memiliki potensi mengetahui, memahami, menyampaikan, dan memberikan penjelasan segala sesuatu yang ada di muka bumi, sehingga ia dianggap memiliki kemampuan dalam mengelola bumi secara baik. Al-Qur’an QS. al-Baqarah (2) ayat 31 sampai 34 menjelaskan proses transmisi pengetahuan kepada manusia sebagai berikut:

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33) وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34)

(31) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukankannya pada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

(32) Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(33)  Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama Benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

(34) Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.[6]

 

Manusia, dalam sejarah kehidupannya, bukanlah satu-satunya makhluk yang diberikan potensi ruh ilahiyyah ini sehingga ia bisa mengalahkan para malaikat, akan tetapi Allah swt. juga pernah memberikan sebagian sangat kecil dari potensi ruh ilahiyyah kepada sebuah patung anak sapi dan mampu mengelabuhi manusia. Dalam hal ini al-Qur’an surat al-A’raf ayat 148 dan 149 menjelaskan:

وَاتَّخَذ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ (148) وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (149)

(148) Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Tsur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

(149) Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sesungguhnya jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.”[7]

 

Ayat ini menceritakan tentang perilaku kaum Nabi Musa as. yang menyembah sebuah patung anak sapi (jawa: pedet) yang bisa berbicara saat Nabi Musa menghadap pada Allah swt. selama 40 hari. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa ketika hal tersebut dikabarkan kepada Musa as., beliau mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Selengkapnya diceritakan sebagai berikut:

حدثنا أبو محمد بن حيان، حدثنا إسحاق بن إبراهيم، حدثنا محمد بن سهل، أنبأنا عبد الله ابن صالح، حدثنا معاوية بن صالح، عن راشد بن سعد، أن موسى عليه السلام: أتى ربه عز وجل لموعده – وكان وعد قومه أربعين يوماً – فقال: يا موسى إن قومك قد افتتنوا بعجل، فقال: يا رب وكيف يفتتنون وقد أنجيتهم من فرعون ونجيتهم من البحر وأنعمت عليهم؟ قال: يا موسى إنهم اتخذوا من بعدك عجلاً جسداً له خوار، قال: يا رب فمن جعل الروح فيه؟ قال أنا يا موسى، قال: فأنت أضللتهم يا رب، قال: يا موسى يا رأس النبيين، يا أبا الحكماء، إني رأيت ذلك في قلوبهم فيسرته لهم

Abu Muhammad bin Hayyan menceritakan kepada kami, menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl, menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih, dari Rasyid bin Sa’d, sesungguhnya Musa as. datang pada Tuhannya atas undangannya dan meninggalkan komunitas masyarakatnya selama 40 hari, maka Allah berfirman kepadanya: “Ya Musa sesungguhnya komunitas masyarakatmu mendapatkan cobaan dari anak sapi.” Maka Musa as. berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana mereka bisa tergoda, padahal saya sudah membantu mereka dari Fir’un dan menyelamatkan mereka (tenggelam) dari lautan, serta Engkau telah memberikan nikmat pada mereka?” Allah berfirman: “Wahai Musa, sesungguhnya setelah kamu (pergi) mereka telah menyembah berhala dari anak sapi yang bisa berkomunikasi.” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, siapa yang memberikan ruh padanya?” Allah menjawab: “Wahai Musa, Aku (yang telah memberikan ruh)!” Musa kemudian berkata: “kalau begitu Engkau (juga) yang telah membuat mereka terjerumus pada jalan yang salah, wahai Tuhanku.” Allah menjelaskan: “Wahai pimpinan para nabi, wahai pakar filsafat, sesungguhnya Aku melihat itu dalam hati mereka lalu Aku permudah mereka untuk bisa mencapai keinginannya itu.”

 

Hadits tersebut memberikan informasi bahwa manusia yang sudah diberikan potensi ruh masih bisa dikalahkan logikanya, jika terpengaruh oleh pemikiran ketuhanan yang tidak logis. Dalam hal ini, al-Qur’an Surat Thaha ayat 88 – 97 menjelaskan logika ketuhanan yang logis dan yang tidak sebagai berikut:

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ (88) أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا (89) وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي (90) قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى (91) قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93) قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94) قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ (95) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي (96) قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (97)

 

Marilah kita kembali pada pembahasan kegiatan berpikir sebagai salah satu potensi dari ruh yang diberikan Allah swt. kepada manusia. Pada bagian sebelum ini sudah dijelaskan bahwa berpikir merupakan olah batin manusia. Pertanyaannya kemudian ialah, di antara potensi batin yang dimiliki manusia, manakah yang menjadi alat berpikir? Apakah otak yang mempunyai potensi akal/berpikir? Ataukah hati yang menjadi potensi nurani untuk berpikir? Ataukah penggabungan dari keduanya?

Dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana kebanyakan pakar anatomi meyakini, otak lah yang dianggap mempunyai potensi akal dan menjadi alat untuk melakukan olah pikir. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat “anak itu memang memiliki otak ketela,” untuk menunjuk pada kecerdasan intelek yang terlihat dari kecepatannya menyelesaikan persoalan atau permasalahan yang dihadapinya. Masyarakat juga mengenal bahasa “otaknya tumpul!” untuk menunjuk nada emosi ketika menghadapi seorang anak yang diberikan penjelasan namun tak kunjung mengerti pula. Mengapa kecerdasan intelek dalam kehidupan masyarakat dihubungkan dengan otak? Bagaimanakah kerja otak dalam berpikir?


[1]. Makhluk secara etimologis berarti sesuatu yang diciptakan, sedangkan dalam terminologi filsafat ketuhanan Islam (Ilmu Tauhid) makhluk merupakan sebuah term yang digunakan untuk menunjuk pada makna selain dari Allah swt. sebagai Maha Pencipta (al-khaliq). Untuk memahami logika ketuhanan dengan melihat pada dua eksistensi yang berbeda ini baca misalnya Ibn Taymiyah, Jami’ al-Rasa’il (Juz I; ), 34.

[2].   JP. Guilford, Three Faces of Intelect (USA: American Psychologist, 1959), 14.

[3]. R. H. A. Soenarjo dkk., al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya ke dalam bahasa Indonesia (Saudi Arabia: Kementrian Agama, Waqaf , Da’wah, dan Bimbingan Islam, 1971), 393.

[4].  R. H. A. Soenarjo dkk, Ibid., 13.

[5].  R. H. A. Soenarjo dkk, Ibid., 393.

[6].  R. H. A. Soenarjo dkk, Ibid., 14.

[7].  R. H. A. Soenarjo dkk, Ibid., 244 – 245.

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *

Berita Terkait