5.png314.png

Blog Sivitas Akademik Fakultas Syariah

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login
Posted by Dr. H. Roibin, M.HI on Tuesday, 22 May 2012 in Blog Fakultas

POKOK BAHASAN V PENGINTEGRASIAN IMTAQ DALAM IPTEK

A.SAINS DAN AL QURAN
Allah telah menstimulus para manusia agar bias melihat dan mempelajari alam dan seisinya karena dari sanalah Allah menunjukan kebesaranNya kepada para makhluknya:
قل انظروا ماذا في السموات والأرض
Artinya: katakalnlah (wahai muhamad) periksalah dengan nadhor apa yang ada dilangit dan dibumi. (QS: Yunus:101)
Agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam di sekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan serta makanan selama hidupnya. Disini digunakan kata memeriksa dengan nadhor atau intidhor karena tindakan melihat bukanlah sekedar untuk melihat dengan pikiran kosong, melainkan dengan perhatian pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan dan makna yang teramti dari gejala-gejala alam tersebut. Hal ini akan tampak lebih jelas jika kita ikuti teguran-teguran Allah dalam ayat 17-20 Surah al-Ghosyiah sebagaimana berikut:
أفلا ينظرون ألى الإبل كيف خلقت - و إلى السماء كيف رفعت – وإلى الجبال كيف نصبت – وإلى الأرض كيف سطحت
Maka apakah mereka tidak melakukan nazhar dan memeperhatikan ota bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia dijinjing, dan gunung-gunung bagaimana mereka ditegakan. Dan bumi bagaimana dibentangkan

Sebenarnya inilah yang dilakukan oleh para pengembang sains pada umumnya; melakukan observasi dengan pernuh perhatian untuk dapat jawaban dari pertanyaan “bagaimana proses itu terjadi?”. Memeriksa alam semesta dapat diartikan membaca ayat Allah yang dapat merinci dan menguraikan serta menerangkan ayat-ayat dalam alquran yang merupakan garis besar, sebab dalam kitab suci sendiri alam semesta serta proses yang terjdai didalamnya sering dinyatakan sebagai ayat Allah.
Keberhasilan suatu teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk memilih kondisi yang mendorong alam untuk bertindak seperti yang diinginkannya; dan sudah barang tentu tingkah laku alam dikendalikan oleh sunnatullah yang mengatur bagaimana alam harus berkelakuan pada kondisi tersebut, karena ia tidak dapat berbuat lain. Marilah kita perhatikan misalnya yang terdapat dalam ayat 13 surah jatsiah
وسخر لكم ما فى السموات وما فى الأرض جميعا منه, إن فى ذالك لأيات لقوم يتفكرون.
dan Dia menundukan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya (sebagai rahmat) dari adaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Ayat ini menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukan al khaliq bagi umat manusia dengan sains yang diterapkan dengan tekhnologi yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dengan menggunakan pikiranya.
Penalaran tentang “bagaimana” dan “mengapa”, yang menyangkut proses-proses dilangit itu, menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astro-fisika, yang bersama-sama dengan astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Meskipun ilmu pengetahuan kealaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama kita, kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sama dengan yang terdapat dalam al quran. Sebab obor sains telah beralih kepada para cendekiawan non Muslim sejak pertengahan abad ke-XIII sampai selesai dalam abad ke-XVII, sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya, mental dan spiritual yang bukan Islam, yang memiliki nilai-nilai tidak Islami. (Baiquni, 1996:34)

B.HUBUNGAN TIMBAL BALIK IMAN DAN ILMU
Allah memrintahkan kepada semua umat manusia dalam ayat alquran yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhamad agar mereka mau membaca:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang telah diketahuinya” (QS. al ‘Alaq (96): 1-5).
Ayat pertama yang diturunkan ini tidak berbicara tentang apa yang harus dibaca, karena al Qur’an menghendaki manusia membaca apa saja yang ada di dunia sepanjang bacaan tersebut dalam koridor “bismi rabbik” (nama Tuhanmu). Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak tertulis (Shihab, 1996: 433).
Dalam al Qur’an kata “ilmu” disebut 854 kali yang digunakan dalam proses mencapai pengetahuan dan obyek pengetahuan. Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan keistimewaan yang menjadikan manusia unggul bila dibanding dengan makhluk lain karena digunakan modal menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Karena itu Allah memberikan penghargaan yang tinggi bagi orang-orang yang memiliki ilmu (QS. al Fathir (35): 28). Islam mewajibkan setiap umatnya mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dengan konsekuen.
Ilmu pengetahuan (science) dalam peradaban modern mendominasi cara berfikir manusia pada umumnya, penalaran dan logika merupakan komponen terpenting. Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia-rahasia kekuasaanNya. Agar pengetahuan yang dihasilkan mempunyai dasar kebenaran maka proses berfikir itu dilakukan melalui cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika. Pengetahuan (knowledge) juga dapat ditinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan tersebut. Dalam hal wahyu dan intuisi , maka secara implisit dapat diakui bahwa wahyu atau dalam hal ini Tuhan yang menyampaikan wahyu dan intuisi adalah sumber pengetahuan.
Dengan wahyu maka kita mendapatkan pengetahuan melalui keyakinan atau kepercayaan atau keimanan bahwa yang diwahyukan adalah benar. Demikian juga dengan intuisi, dimana kita percaya bahwa intuisi adalah sumber yang benar, meskipun kegiatan berfikir intuitif ini tidak mempunyai logika atau pola fikir tertentu.
Al-Qur’an adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan.( Abuddin Nata, 2005:93) Kandungan al-Qur'an berisi dasar-dasar segala ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum termasuk sains baik fisika (Mulyono dan Abtokhi) Arsitektur (Fikriarini & Maslucha), botani dan zoology Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat al-Qur’an yang Berkaitan dengan Botani & Zoologi (Ilmu Tumbuhan && Hewan: 2001) maupun ilmu sains yang lain . Dari segi perolehan, ilmu dibagi dua yaitu ilmu aqaly dan sama’iy.( Quraish Shihab, Ed.,  2007:329.8). Ilmu aqaly yaitu ilmu diperoleh melalui penelitian, seperti ilmu biologi, kimia dan sebagainya dan ilmu sama’iy adalah ilmu didapat melalui  pendengaran seperti ilmu bahasa dan sastra. 
Kemudian segi pemahaman objek-objek ilmu dalam Islam dapat digunakan tiga cara, yaitu melalui indera, akal, dan hati (Mulyadi Kertanegara, Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik:2005,h;219).  Berbagai cara perolehan iilmu pengetahuan serta objek-objeknya terutama indera dan akal semua bermuara pada otak sebagai pusat pemrosesan informasi yang akan diungakpan oleh mulut manusia. Namun bagi ilmu agama tidak cukup peMahaman melalui akal (otak) saja, akan tetapi juga melalui renungan spiritual (hati), sebab agama terfokus pada dua unsur kajian yaitu unsur gaib dan nyata.
Adanya dua unsur gaib dan nyata dalam bidang agama menunjukkan agama tidak bisa sepenuhnya dipahami secara akal (otak) sebab akal tidak akan mampu menembus peMahaman ilmu gaib, melainkan wilayah pembahasan hati untuk menangkapnya. Adapun yang termasuk unsur gaib, seperti Allah, malaikat, jin, kiamat, surga, neraka dan sebagainya. Sedangkan unsur nyata semua ciptaan Allah di atas muka bumi dan di kolong langit, seperti diri manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, fenomena alam, benda-benda langit, lautan dan aneka  ragam isinya, matahari, bulan, hujan dan sebagainya. Unsur gaib, meskipun tidak nampak secara kasak mata, tetapi umat Islam tetap meyakininya (beriman) sebagai sebuah kebenaran dan kenyataan di alam yang lain. Sungguhpun berada di alam tidak tampak, namun Allah sudah memberikan perumpamaan atau kiasaan kepada manusia sebagai bahan pembelajaran. Artinya Allah membelajarkan manusia masalah gaib dapat menemukannya secara konkrit melalui miniatur atau modelnya yang menyerupai bentuk aslinya. Baik unsur gaib maupun unsur nyata di alam dunia ini semua dapat dipahami melalui akal (berpikir).
Adapun hubungannya dengan kajian sains (science) bahwa semua bertumpu pada masalah yang bisa diteliti, diamati, dan dipelajari secara seksama. Artinya pembelajaran sains pendekatannya menggunakan hal-hal yang konkrit. Untuk meMahami segala macam sains sudah pasti menggunakan andalan akal (otak), sebab ia berhadapan dengan masalah konkrit (nyata). Dengan demikian antara agama dengan sains ada sesuatu yang sama yaitu sama-sama menggunakan potensi otak untuk berbagai tujuan manusia, seperti mengamati, menganalisa, mengkritisi, membandingkan,  menyimpulkan dan sebagainya.
Allah dengan tegas memuji kepada golongan orang-orang yang dinamakan ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki cirriciri sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran (3) 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab. Yaitu mereka yang berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk atau berbaring, dan mereka yang berfikir tentang kejadian langit dan bumi. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab neraka”.
Dalam ayat ini tergambar dua ciri pokok ulul albab yaitu tafakkur dan dzikir. Tafakkur merupakan aktifitas mengerahkan akal manusia terhadap ayat-ayat Allah yang disebut ayat-ayat “kauniyah” yang diawali dengan berfikir kemudian ditindaklanjuti dengan amal shalih. Dengan memikirkan tentang sistem tata kerja alam semesta, penciptaan, pengukuran yang cermat dan teliti dapat mengantarkan ilmuwan kepada rahasia-rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan dan manfaat bagi umat manusia. Adapun “dzikir” merupakan sistem kendali ilahiyah yang berfungsi mengarahkan agar tafakkur tidak bebas nilai atau netral. Tafakkur yang mengabaikan nilai-nilai ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan), penggunaan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi justru akan menghancurkan manusia, menjauhkan dari Tuhan.
Fikir dan dzikir atau dapat disebut ilmu dan iman, merupakan perpaduan harmonis yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat yang mulia. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus menerus dikembangkan dengan memanfaatkan anugerah Allah, sehingga Allah akan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dan juga bagi manusia umumnya.

C.PENTINGNYA INTEGRASI IMAN DAN ILMU DALAM KEHIDUPAN
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, meMahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular serta bebas nilai, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Qur’an yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Dengan fikir dan dzikir ini ditegaskan dalam Firman Allah sebagai berikut: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Mujadillah,58 : 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal) KeMahaKuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu atau akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan  kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Pengetahuan yang dilimpahkan kepada manusia, tidak akan bermakna tanpa dilandasi iman yang benar. Iman tanpa ilmu seperti orang buta, sebaliknya ilmu tanpa iman dapat menjadi boomerang yang dapat menghancurkan diri sendiri maupun orang lain. Manusia tidak hanya bisa mengandalkan kecerdasan intelektual sebagai representasi potensi manusia dalam menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi kecerdasan spiritual yang bermanfaat membimbing manusia tetap berada pada jalur yang benar juga menjadi bagian yang sangat penting. Demikian pula dalam praktek kehidupan manusia sering ditemukan seseorang bisa berbuat bodoh atau jahat padahal ia termasuk orang-orang intelek. Sarjana hukum misalnya, melakukan rekayasa hukum dengan cara-cara yang sangat professional sehingga mengetahui celah-celah melakukan pelanggaran hokum. Seorang ahli di bidang ekonomi tetapi paling hebat dalam hal manipulasi dan koruspsi. Seorang yang mengaku paham tentang agama tetapi perilakukan menyimpang dari nilai-nilai agama. Di sejumlah Negara sekuler terjadi kasus bunuh diri missal yang dilakukan oleh sekelompok intelektual, menjadi indicator bahwa ilmu yang dimiliki tidak mampu memecahkan masalah hidupnya. Seorang hakim atau jaksa yang ahli dikenal profesional karena keluasan ilmunya, tetapi masih mau menerima suap. Seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan yang melindungi mereka, tetapi masih ada kasus pelecehan seksual terhadap anak didiknya sendiri.
Sejumlah kasus di atas dengan mudah dapat ditemukan di berbagai media, artinya telah menjadi fenomena di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh lepasnya iman dan ketaqwaan seseorang dari ilmu sebagai anugerah Allah. Mereka tidak menyadari bahwa Allah membagikan anugerah ilmu kepada manusia agar dapat mensyukurinya dalam bentuk ketundukan (taslim), kepatuhan (ta’at), meghindarkan diri dari maksiat terhadap Allah. Patologi (penyakit) sosial ini akan menjadi tradisi yang habitual (terbiasa) dan sulit untuk diputus mata rantainya jika tidak ada kesadaran untuk melakukan perubahan.
Dalam kasus yang berbeda, ditemukan pula sarjana, atau cendekiawan yang dapat memadukan iman dan ilmu dengan baik sehingga mereka mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam sosok kepribadiannya secara total. Misalnya, seorang ilmuwan ahli di bidangnya, memiliki iman yang kuat, akhlaq mulia, sikap ramah dan sopan yang mencerminkan pribadi dengan nilai-nilai iman dan taqwa sehingga dapat memberikan keteladanan kepada lingkungannya. Seorang pendidik yang professional di bidangnya, mampu menjadi teladan karena kepribadiannya baik, dapat mempengaruhi anak didik secara signifikan, sehingga tujuan pendidikan mudah tercapai.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa urgensi iman dan ilmu dalam kehidupan mencakup:
1.Meningkatkan derajat bagi seseorang di hadapan Allah maupun sesama manusia
2.MelurUskan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu hanya untuk ilmu, bukan untuk kehidupan.
3.Menyadarkan kepada manusia bahwa ilmu sebagi anugarah Allah harus dirawat dengan iman dan taqwa agar tidak terjerumus pada adzab Allah, dan kerusakan pada manusia dan diri sendiri.
4.Menemukan ketenangan hidup sebab apa yang dilakukan senantiasa dilandasi oleh iman yang benar dan ilmu yang bermanfaat.
5.Memelihara diri dari rasa sombong, sebab Allah memberikan ilmu kepada mhusia sangat terbatas.
6.Memudahkan seseorang menentukan alternative solusi atas problem kehidupan yang dihadapi, sehingga memunculkan rasa syukur, qana’ah (menerima apa adanya), sabar, adil, dan bijaksana.

D.IMPLIKASI PENERAPAN IMAN DAN TAQWA TERHADAP PENGEMBANGAN IPTEK
Persoalan yang sering dibicarakan sebagai suatu masalah yang controversial yaitu mengenai netral dan tidaknya ilmu pengetahuan yang kita sebut dengan sains itu. Jika kata-kata "sains" didefinisikan sebagai himpunan rasionalitas kolektif insani,yakni: himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsesus para pakar, pada penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data-data pengukuran yang diperoleh dari observasi apda gejala-gejala alam, maka kiranya hal ini cukup jelas. Selanjutnya kita dapat mendefinisikan "teknologi" sebagai himpunan pengetahuan terapan manusia tentang proses-proses pemanfaatan alam yang diperoleh dari penerapan sains, dalam kegiatan yang produktif ekonomis.
Orang yang mengatakan bahwa sains dan teknologi bersifat netral akan mengatakan bahwa sesungguhnya teori reaksi kimiawi itu baik ketika digunakan untuk kebaikan umat manusia namun akan menjadi jelek ketika dipegang orang yang yang tidak baik semisal digunkan untuk membuat bom pemusnah masal. Jadi dianggaplah sains dan teknologi tinggal siapa yang mengendalikan.
Pada akhir tahun 1960-an consensus para ilmuwan mengakui bahwa alam tercipta sekitar 15 milyar tahun yang lalu; tetapi kelanggenganya diusahakan beberapa pakar dengan berbagai cara untuk diakui secara consensus. Ada beberapa pakar kosmologi yang mencoba memutar kembali perkembangan sains menuju arah pengingkaran penciptaan alam semesta oleh Tuhan seru sekalian alam. Dengan mengatakan bahwa keberdaan alam adalah karena kebetulan saja. Unsure "kebetulan" inilah yang dipergunakan juga oleh para pakar biologi untuk mengingkari penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan sang pencipta. Mereka menguraikan mulai terbentuknya DNA dari molekul-molekul, sampai pembentukan gen-gen dan kromosom, serta evolusinya menjadi berbagai bentuk semuanya dianggap kebetulan tanpa ada Tuhan dibalik semua itu, menyebut nama Allah menjadi tabu dalam teori ini, lalu netralkah ilmu biologi?
Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa biologi, fisika, kimia dan sains pada umumnya tidak dapat dikatakan netral, melainkan mengandung nilai yang menyusup melalui konsensus para pakar yang mengembangkannya. Ia sarat dengan nilai-nilai kebudayaan mereka, dan karena sains telah sejak lama jatuh ke tangan orang Eropa yang mempunyai kebudayaan lain, perkembangan sains dan teknologi selama lima abad berada dalam lingkungan tidak Islami. Orang-orang itu membatasi sains dengan mengatakan bahwa apa yang tidak dapat di inderakan atau dideteksi keberadaanya dengan alat tidaklah ada.(Baiquni, 1996:63)
Pengembangan iptek yang sejalan dengan nilai-nilai Islam akan mendidik manusia yang meiliki otak brilian secara akal atau logika namun tetap memiliki hati yang bersih sadar akan kebesaran Allah dibalik semua itu sehingga para saintis meMahami tujuan pencipataan mahluk dan alam ini dengan tidak merusak atau mengeksploitisir secara berlebihan karena ini bertentangan dengan syari'at Islam. Memegang teguh etika dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, iman dan taqwa terintergasi dalam proses tafakkur (pemikiran), dan pengembangan iptek  sehingga hasil yang diperoleh sejalan dengan nilai-nilai agama. Manusia akan mengambil manfaat iptek yang telah dikemas dengan nilai-nilai yang bersumber dari ketuhanan dan juga kemanusiaan akan menciptakan insan yang memiliki kedalaman spiritual, ketinggian akhlaq, keluasan ilmu pengetahuan, dan profesional di bidangnya yang disebut dengan beramal ibadah yang efektif, perpaduan fikir dan dzikir (insan ulul albab). Di sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh semua manusia telah terfilter dengan baik melalui rambu-rambu agama yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa, sehingga iman dan taqwa yang berintegrasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mendatangkan manfaat besar dalam kehidupan umat, mengantarkan sebuah kemajuan bangsa menuju ”baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang baik senantiasa mendapatkan ampunan dari Tuhan).

Rate this blog entry:
Tags: Array
BIODATA PENULIS

ROIBIN, lahir di Nganjuk pada 18 Desember 1968. Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Warujayeng IV Kec. Tanjunganom (1977-1983). Selanjutnya meneruskan ke SMPN I Tanjunganom (1983-1986). Pada tingkat selanjutnya, meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nglawak Kertosono (1986-1989). Setelah itu ia melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Malang pada fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab (1989-1994). Sedangkan gelar magisternya diperoleh dari UNISMA dengan konsentrasi Hukum Islam. Karir studi doktoral (S-3) nya di selesaikan di IAIN “SA” Surabaya pada tahun 2008 dengan konsentrasi keilmuan “Antropologi Hukum Islam”.

Kini, selain aktif sebagai dosen tetap di almamaternya (UIN Malang, sejak 1994-sekarang) ROIBIN juga aktif melakukan kajian-kajian, seminar dan penelitian di berbagai lintas Perguruan Tinggi. Di antara penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian kompetitif STAIN Malang “Pernikahan Dini (Kontradiksi Antara Hukum Syar’i dan Hukum Positif) (1999), penelitian kompetitif di kalangan dosen STAIN Malang “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani Santri Gondanglegi” (2002), penelitian kompetitif STAIN Malang “Pemikiran Hukum Islam di Tengah Perubahan Sosial Budaya” (2002), penelitian Pemda Pasuruan “Managemen dan Pemberdayaan Pesantren di Pasuruan” (2004), penelitian dari Pemda Pasuruan (2004) “Ketergantungan Masyarakat terhadap Keberadaan PSK (Kasus di Tretes Pasuruan)”, penelitian dari Litbang “Pemetaan Kurikulum Nasional” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Pergeseran Tafsir Wanita Perspektif Islam Kontemporer” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Perubahan Perilaku Sosial Akademik di Kalangan para Aktifis OMIK UIN Malang” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Praktik Poligami di Kalangan Kyai Pesantren Jawa Timur” (2007). Penelitian individu tentang “Mitos Pesugihan dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat Islam Kejawen (Studi Konstruksi Sosial Mitos Pesugihan di Kalangan Para Peziarah Masyarakat Muslim Kejawen” (2008).

Adapun beberapa karya ilmiah yang telah terbit di beberapa jurnal, majalah, maupun Koran antara lain: 1) Menengok Dimensi Spiritualitas dan Moralitas di Tengah Kemajuan Iptek, Majalah Tarbiyah ((1996), 2) Wilayatu al-Faqih Ayatullah Khumaini, Jurnal STAIN Malang (1998), 3). Agama dan Tantangan Masyarakat Indonesia Baru, Jurnal Ulul albab STAIN Malang (1999), 4). Islam: Antara Idealita dan Realita, Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 5). Islam dan HAM (Antara Ansolutisme dan Relatifisme), Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 6). Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita, Majalah El-Harakah (2000), 7). Upaya Memperkecil Pintu Kesenjangan Sosial, Tabloid Gema STAIN Malang (2000), 8). Berhaji Meriah Berzakat Susah, Jawa Pos Kajian Utan Kayu (2003), 9). Menuju Pendidikan Berbasis Kerukunan, El-Harakah (2003), 10). Membangun Kerangka Epistemologi Pengembangan Ilmu, dalam buku”Memadu Sains dan Agama” (2004), 11). Rekonstruksi Pemikiran Ulul albab, Radar Malang (2005), 12). Mitos dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Islam Kejawen, Jurnal Lorong (2005), 13). Reformulasi Epistemologi dalam Islam, Jurnal Terakreditasi, Akademika IAIN “SA” Surabaya (2005), 14). Pembacaan Teoretik Perilaku Politik Ikhwanu al-Muslimin, Jurnal el-Qisth Syari’ah UIN Malang (2005), 15). Pembacaan Kontekstual Fazlur Rahman atas Sunnah dan Hadits (Dialektika Pemikiran Tradisionalis dan Modernis), Jurnal LKQS UIN Malang (2007), 16). Kyai, Santri dan Kitab Kuning, Majalah INOVASI UAPM UIN Malang (2008), 17). Menuju Pendidikan Berbasis Humanisme, Jurnal STAIN Jember (2008)

Comments

Statistik Komunitas 

Statistics
Total Members : 267
Total Groups : 0
Total Discussion : 0
Total Bulletins : 0
Total Activities : 157
Total Wall Posts : 0
Total Events : 0

Data Pengunjung 

3126335
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3344
6578
15735
3069680
9922
157453
3126335

Your IP: 54.226.18.74
Server Time: 2014-09-02 11:33:07