5.png314.png

Blog Sivitas Akademik Fakultas Syariah

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login
Posted by Dr. H. Roibin, M.HI on Tuesday, 22 May 2012 in Blog Fakultas

POKOK BAHASAN I KONSEP DASAR IMTAQ

A.    AQIDAH
Aqidah ialah ajaran Islam yang mengatur cara berkeyakinan, yaitu bagaimana orang Islam seharusnya berkeyakinan. Aqidah dalam Islam diatur dalam rukun iman, diantarannya adalah iman kepada Allah. Dari keimanan kepada Allah itu akan muncul kewajiban beriman kepada lima lainnya sehingga seluruhnya menjadi enam. Iman kepada Allah SWT adalah hidup sesuai dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh-Nya. Konsep penting yang terkandung di dalam istilah iman kepada Allah ialah suatu kepercayaan yang mantap dan kepercayaan itu menyebabkan orang tersebut melakukan kehidupannya sesuai dengan keimanannya itu. Keimanan seseorang tidak dapat diketahui dari kepercayaan dan ucapannya saja, keimanan seseorang dapat diketahui dari perbuatannya dalam menjalani hidup. Ada tiga tahap yang dilalui manusia dalam mengenal Allah, yaitu tahap orang awam, tahap orang khusus, dan tahap khusus lil khusus, adapun cara yang paling mudah untuk mengenal Allah SWT adalah dengan membaca Alquran yang menerangkan tentang Allah dan sifat-sifat yang wajib bagi-Nya.

1.    SIFAT WAJIB BAGI ALLAH
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah adanya pemenuhan rasa ingin tahu manusia akan adanya kekuatan yang menentukan kehidupannya. Atas dasar kebutuhan ini, lahirlah berbagai kepercayaan seperti animisme, yang menganggap roh nenek moyang sebagai sesuatu yang menentukan kehidupan dan karenanya lalu dianggap sebagai tuhan yang perlu disembah , atau Dinamisme, yang menganggap benda-benda yang sekiranya berbentuk luar biasa sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan luar biasa pula. Benda ini, seperti gunung, api, patung, keris, pohon besar, dan sungai yang kemudian dianggap sebagi Tuhan yang berhak disembah sekaligus tempat meminta.
Islam datang untuk mengoreksi sekaligus menyempurnakan paham dan kepercayaan yang salah tersebut. Islam sebagai agama yang hak, dengan ajaran yang mengajarkan bahwa Allah-lah Tuhan sejati. Tiada Tuhan selain Allah. Allah merupakan zat yang diyakini sebagai satu-satunya Tuhan. Kita sebagai orang beriman harus meyakini bahwa Dia memiliki sifat-sifat yang agung dan tidak dapat disamai oleh siapapun dari makhluk-Nya. Sifat-sifat Allah itu ada yang termasuk wajib bagi-Nya, ada yang mustahil bahkan ada juga yang jaiz
Adapun sifat-sifat wajib bagi Allah yang wajib diyakini oleh setiap Muslim, ada tiga belas, ditambah tujuh sifat maknawiyah. Jadi keseluruhannya berjumlah dua puluh. Sifat-sifat Allah SWT yang dua puluh tersebut di atas, dibagi menjadi empat bagian :
a.    Sifat-sifat Nafsiyah
Sifat-sifat nafsiyah ialah sifat yang berhubungan dengan zat Allah SWT. Sifat-sifat tersebut yaitu :
(1). Wujud  ( ada )
“Wujud” artinya ada, mustahil Allah bersifat “adam” artinya tidak ada. Allah wajib ada. Alam ini atau setiap makhluk ada yang membuatnya (Khalik). Demikian juga langit dan bumi, matahari yang setiap pagi terbit dari Timur dan terbenam di ufuk Barat, adanya siang dan malam. Semua ada yang mengatur dan menciptakannya, yaitu Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surat al An'am: 102
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ  شَيْءٍ وَكِيلٌ (الأنعام: 102)
(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.

Quraish Shihab menafisrkan ayat ini bahwa yang memiliki sifat tinggi dan mulia hanyalah Allah, Yang Maha Esa Tuhan pemelihara kalian, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, pencipta segala sesuatu. Karena itu sembahlah Dia satu-satunya dan semata-mata karena yang mempersekutukan-Nya, tidak dinilai menyembah-Nya. Dia yang Maha kuasa tidak butuh kepada ibadah dan pengabdian makhluk karena Dia Maha Kaya dan di atas segala sesuatu adalah wakil, yakni pemelihara. Beribadah adalah konsekuensi dari kepercayaan tentang wujud Allah yang disebut dalam sifat-sifatNya diatas, yakni tidak ada Tuhan selain Dia, karena Dia yang mencipta segala sesuatu, jika demikian maka tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam ketuhanan dan penciptaan serta karena itu pula ibadah dan ketundukan semata-mata hanya tertuju kepada-Nya. (Shihab, 2007, v 4:223)
Ada golongan manusia yang tidak percaya atau meragukan adanya Allah, dengan alasan karena mereka belum pernah melihat wujud-Nya. Kepercayaan tersebut keliru, karena banyak zat yang tidak dapat dilihat wujudnya, tetapi diyakini adanya, seperti nyawa ( roh ) dan angin. Nyawa dan angin diyakini ada semata-mata berdasarkan kepada tanda-tanda yang menunjukkan wujudnya. Tanda-tanda wujudnya nyawa pada manusia adalah manusia bernafas, makan, minum, bergerak, dan bekerja. Tanda-tanda wujudnya angin antara lain, pohon nyiur melambai-lambai karena ditiup angin dan kapal layar dapat melaju karena didorong pleh tenaga angin.
Adapun  tanda-tanda wujudnya Allah SWT itu sangat banyak, sehingga manusia tidak akan mampu menyebutkannya satu persatu. Singkatnya, bukti-bukti tentang wujud Allah itu terdapat di dalam diri manusia dan di luar diri manusia. Allah SWT berfirman dalam surat al Dzariyat; 20-21:


وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (21)
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.  Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
Ayat ini menyatakan bahwa banyak sekali tanda-tanda keesaan, kebesaran dan kekuasaan Allah yang terbentang di langit dan di bumi yakni bagi orang-orang yang yakin dan mantap keyakinanya. Bukti keesaan Allah yang terdapat dibumi antara lain sistem kerja bumi dan keseimbangan yang ada dialamnya, disamping keindahan dan kelanggenganya, kesemuanya terjadi secara berulang yang menampik dugaan kebetulan dan kesemuanya terjadi dengan sangat konsisten dan teratur. Andai ada dua Tuhan maka keharmonisan dan kesinambungan itu tidak mungkin terjadi. Bukti ke beradaan Allah juga terdapat pada diri manusia antara lain proses kejadian manusia yang sangat unik, organ tubuhnya yang sedemikian serasi tapi kompleks demikian juga pada tingkah lakunya yang sedemikian rumit. (Shihab, 2007; v 13: 334 )
Manusia tidak dapat melihat zat Allah karena kemampuan manusia terbatas, sedangkan Allah sebagai khalik ( pencipta ) alam semesta dan segala isinya, dapat melihat segala apa yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al an'am ayat 103:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (103)
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.

b. Sifat Salbiyah
Sifat salbiyah ialah sifat yang menolak dan meniadakan sebaliknya, dengan kata lain memustahilkan adanya sifat tersebut, sifat salbiyah ada lima yaitu :


(1). Qidam ( Lebih dahulu )
Jika kita melihat mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang tentu logika kita akan berbicara bahwa alat-alat transportasi tersebut ada yang membuatnya. Pembuat alat-alat transportasi tersebut pasti lebih dulu ada dari pada alat-alat transportasi yang dibuatnya. Disini berlaku hukum kausalitas ( hukum sebab akibat ).
Allah SWT sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya, secara logika sudah tentu wajib bersifat qidam, artinya lebih dahulu ada dari segala makhluk-Nya. Mustahil Allah bersifat huduts ( baru ), karena Allah itu sudah ada sebelum alam semesta dan segala isinya ini ada. Adanya Allah tidak bermulasan dan tidak berkesudahan, karena adanya Allah itu mutlak. Dalam hal ini hukum kausalitas tidak berlaku pada zat Allah, Tuhan Yang Maha Agung . Firman Allah SWT dalam surat al Hadid ayat 3:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (3)
Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Setelah Allah menyebutkan kuasa-Nya yang tak terbatas, kini Allah melalui ayat ini menjelaskan tentang wujud-Nya yang mutlak. Dialah Allah yang Awwal yang telah wujud sebelum segala sesuatu wujud sehingga tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya dan yang Akhir yakni akan hidup selama-lamanya setelah segala sesuatu musnah dan hanya Dia yang Zhahir yang begitu jelas wujud-Nya melalui alam raya yang Dia ciptakan dan pembuktian logika dan rasa dan hanya Dia pula sendiri yang Bathin dzat dan Hakikat-Nya sehingga tidak dapat dijangkau, jangankan oleh mata tetapi juga oleh akal dan khayal dan Dia menyangkut segala sesuatu Maha mengetahui (Quraish, 2007, v 14; 8)
Dalam ayat ini Allah memeperkenalkan diri-Nya: Dialah sendiri yang awal yang telah wujud sebelum segala sesuatu wujud sehingga tidak ada yang mendahului-Nya dan Yang Akhir yakni yang akan hidup selama-lamanya setelah segala sesuatu musnah dan hanya Dia pula yang Zhahir yang begitu jelas.

   (2). Baqa’ ( Kekal )
Allah wajib bersifat baqa’, maksudnya Allah itu wajib bersifat kekal, senantiasa ada dan tidak akan mengalami kebinasaan, firman Allah SWT dalam surat ar Rahman ayat 27:
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Ayat tersebut diatas adalah merupakan dalil naqli tentang kekekalan Allah, adapun dalil aqli bahwa Allah SWT itu wajib bersifat baqa adalah sebagai berikut. Jika Allah itu tidak bersifat kekal, berarti Allah itu binasa atau berkesudahan. Jika Allah itu berkesudahan atau binasa, berarti Allah itu sama dengan makhluknya. Padahal Allah itu bukan makhluk yang diciptakan dan dibinasakan , tetapi Allah itu adalah khalik yang menciptakan dan membinasakan

(3). Mukhalafatu li al Hawaditsi ( Berbeda dengan Makhluk-Nya )
Menurut dalil aqli, sesuatu yang dibuat manusia tidak sama dengan pembuatnya. Begitu juga dengan Allah SWT sebagai pencipta ( Khalik ) tentu berbeda  dengan hasil ciptaan-Nya ( Makhluk ). Maka wajib bagi Allah SWT bersifat mukhalafatu li al hawaditsi, artinya Allah SWT wajib berlainan atau berbeda dengan segala yang baru ( Makhluk ). Perbedaan antara Allah dan semua makhluk-Nya itu terdapat pada zat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya.
Salah satu perbedaan antara zat Allah dan semua makhluk-Nya ialah zat Allah ada dengan sendiri-Nya, sedangkan adanya semua makhluk Allah karena ada yang mengadakan. Segala sifat Allah berlainan dengan segala sifat makhluk-Nya. Manusia sebagai makhluk Allah memiliki sifat berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat, dan berkata-kata. Sifat-sifat tersebut tampaknya sama seperti yang terdapat pada Allah SWT, akan tetapi, persamaan sifat manusia dengan sifat Allah tersebut hanya dalam sebutan saja, sedangkan pada hakikatnya berbeda.
Demikian juga segala perbuatan Allah berbeda dengan segala perbuatan makhluk-Nya. Apa yang di ciptakan Allah berlainan dengan apa yang di ciptakan makhluk-Nya. Jika Allah menciptakan sesuatu yang dikehendaki-Nya, Dia tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Sebaliknya, apabila makhluk Allah membuat sesuatu yang dikehendakinya , ia membutuhkan bahan lain selain dari dirinya. Semua yang dibuat manusia menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al Syura ayat 11:
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11)
(Dia) Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.

Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwasanya Allah SWT wajib bersifat Mukhalafatu li al hawaditsi. Adapun dalil aqlinya jika Allah tidak bersifat Mukhalafatu li al hawaditsi, berarti Allah itu bersifat mumasalatu li al hawaditsi atau bersifat sama dengan makhluk-Nya. Mustahil Allah sama dengan makhluk-Nya. Jika Allah sama dengan makhluk-Nya berarti Allah itu makhluk. Padahal Allah itu khalik.
 (4). Qiyamuhu binafsihi ( berdiri sendiri )
 Hanya Allahlah yang mengurus makhluk-Nya secara terus menerus. Dia tidak pernah merasa berat, Allah mengetahui yang lahir dan yang batin. Dia berkuasa mandiri, tak pernah membutuhkan bantuan orang lain.Maka wajib bagi Allah bersifat qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri dan mustahil bagi-Nya bersifat ikhtiyaju ligairihi, artinya membutuhkan kepada yang selain-Nya. Firman Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 255:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi, tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam surat Fathir ayat 15:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
Dari ayat-ayat Alquran tersebut dapat dipahami, bahwa di dalam mencipta dan mengurus alam semesta, Allah SWT tidak membutuhkan bantuan kepada sesuatu apa pun selain diri-Nya. Namun sebaliknya makhluklah yang sebenarnya selalu membutuhkan pertolongan Allah dalam segala hal


(5). Wahdaniyah ( Esa )
Islam menetapkan, bahwa keesaan Allah meliputi keesaan ketuhanan. Maka tidak ada Tuhan yang menciptakan, mengelola dan melaksanakan segala sesuatu melainkan Dia. Wahdaniyah artinya satu atau esa. Kalau kita perhatikan alam semesta dan segala isinya, bumi, bulan, matahari, dan planet-planet lainnya berjalan begitu rapi tidak ada yang berbenturan. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan itu menurut sunatullah atau disebut hukum alam.
Hanya Allah saja yang membuat, memelihara, dan mengaturnya sedemikian rapi. Manusia tidak bias membuat atau mengubahnya. Semua itu menunjkkan bahwa yang menciptakannya adalah satu, yaitu Allah. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 26:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26)
Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kerusakanlah yang terjadi kalau ada beberapa Tuhan. Kalau demikian wajib bagi Allah bersifat wahdaniyah artinya Allah itu esa atau satu. Esa dalam sifat-Nya, zat-Nya, dan mustahil bagi Allah bersifat taadud ( berbilang. Firman Allah SWT dalam surat Ikhlasa ayat 1-4:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ  كُفُوًا أَحَدٌ (4) 
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Kata Ahad/ Esa terambil dari akar kata وحدة yang artinya kesatuan seperti juga kata واحد  yang beraarti satu. Kata ahad bisa berfugsi sebagai nama dan bisa juga berfungsi sebagai sifat bagi sesuatu. Apabila ia berkedudukan sebagai sifat, maka ia hanya digunakan untuk Allah SWT. Dalam ayat ini kata ahad berfungsi sebagai sifat Allah dalam arti bahwa Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.
Ke Esaan dzat mengendung pengertian bahwa seseorang percaya bahwa Allah tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian. Karena jika Allah terdiri dari dua unsure sekecil apapun unsure itu maka berarti Ia masih membutuhkan itu dan ini adalah sifat yang mustahil bagi Allah. Pengesaan Allah terdiri dari keesaan sifat, keesaan dalam perpbuatan dan keesaan dalam beribadah kepadaNya. (Shihab, 2007, v.14; 607-611)

c.    Sifat Ma’ani
Sifat ma’ani ialah sifat ma’na, yaitu memastikan yang disifati itu bersifat dengan sifat tersebut. Sifat salbiyah ada tujuh yaitu :
(1). Qudrat ( yang Berkuasa )
Allah bersifat qudrat yang artinya kuasa, dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang menyamai kekuasaan-Nya. Ketika manusia diberi tanggung jawab untuk mengatur dan memanfaatkan serta memakmurkan bumi, bukan berarti Allah tidak berkuasa untuk melakukannya. Allah berkuasa menciptakan alam, memelihara dan mengaturnya. Firman Allah SWT dalam surat Anbiya' ayat 22:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آَلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ  عَمَّا يَصِفُونَ (22)
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Ayat tersebut diatas menerangkan kekuasaan Allah itu Maha Sempurna, tidak terbatas dan mutlak. Tidak ada zat selain Allah (makhluk) yang memiliki kekuasaan sama dengan Allah apalagi melebihi. Bahkan kekuasaan yang dimiliki oleh makhluk Allah sebenarnya merupakan anugerah dari Allah SWT. Jika Allah berkehendak mencabut kekuasaan yang terdapat pada makhluk-Nya, tidak seorangpun dapat menghalangi-Nya.
Bukti-bukti  keMahakuasaan Allah itu terdapat dalam alam semesta dan segala isinya, baik dalam hal mewujudkannya dan mengurusnya, maupun dalam hal membinasakannya, karena itu wajib bagi-Nya bersifat qudrat. Mustahil Allah bersifat ajzun yang artinya lemah.

(2). Iradah ( Maha Berkehendak )
Kekuasaan Allah Maha mutlak, tidak terbatas, dan Maha mengatur sekalian alam yang tampak maupun yang tidak tampak ( gaib ) serta tidak diatur atau dipaksa oleh siapapun.
Allah SWT Maha Berkehendak, maksudnya kehendak Allah itu Maha Sempurna, tidak terbatas dan mutlak. Allah SWT dalam mencipta dan mengurus alam semesta, semata-mata berdasarkan kehendak-Nya, bukan karena dipaksa atau terpaksa.
Sifat iradah Allah SWT sangat erat hubungannya dengan sifat qudranya. Seisi alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT semata-semata karena kehendaknya. Tidak ada sesuatu selain yang dapat menghalangi kehendak dan kekuasaan Allah, jika Allah SWT menghendaki atau menciptakan sesuatu cukup mengatakan kun, “jadilah “ fayakun “ maka terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yasin ayat 82:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82)
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.

Manusia diciptakan oleh Allah menjadi makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah sudah menjadi airadah (kehendak) Allah SWT, adanya perbedaan diantara makhluk ciptaan Allah adalah sudah menjadi kehendak-Nya sebagaimana firman Allah dalam surat al Maidah 1:
َا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1)
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.
Menurut ayat diatas cukup jelas bahwa Allah wajib bersifat Iradah (berkehendak) dan mustahil bagi Allah bersifat karahah (terpaksa).

(3). Ilmu  ( Maha Mengetahui )
Allah SWT itu Maha Mengetahui, pengetahuan Alah itu Maha Sempurna dan tidak terbatas. Allah SWT mengetahui segalanya tanpa dibatasi oleh waktu dan ruang, Allah SWT senantiasa mengetahui segala sesuatu yang akan dan sudah terjadi pada setiap ciptaan-Nya, baik yang nyata maupun yang gaib. Singkatny Allah SWT, mengetahui segala isi alam semesta. Akal sehat tidak akan memerima (mustahil ) Allah itu bersifat tidak mengetahui atau bodoh.Allah SWT berfirman dalam surat al Mujadalah ayat 1:
َا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ
حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1)
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang Telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Dari beberapa ayat tersebut, jelaslah bahwa Allah SWT adalah Maha berilmu dan sumber ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh manusia pada hakikatnya merupakan anugrah/pemberian dari Allah SWT, ilmu yang dimiliki manusia tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT. Allah SWT berfirman

(4). Hayat ( Maha Hidup )
Bagi Allah SWT zat yang Maha Hidup. Hidup tidak berakhir dengan kematian, karena mati hanyalah menjadi milik makhluk yang diciptakan. Allah ada dengan sendirinya dan kekal adanya. Hidup Allah SWT tidak berpermulaan dan tidak berkesudahan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al Baqarah:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi, tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Dari petikan ayat tersebut, jelaslah bahwa Allah SWT bersifat hayat atau hidup, menurut akal sehat mustail sesuatu yang mati dapat mencipta, mengatur, dan mengendalikan sesuatu yang lain. Dengan demikian wajib bagi Allah SWT bersifat hayat, artinya hidup, mustahil bagi Allah SWT bersifat maut artinya mati. Allah Maha Hidup dan memberi kehidupan pada makhluk-Nya serta mencabut kembali kehidupan itu dari siapa yang dikehendaki-Nya. Firman Allah SWT :

 
 (5).  Sama’ (Maha Mendengar )
Allah bersifat sama’ artinya bahwa Allah adalah Maha Mendengar terhadap segala sesuatu, baik yang diucapkan makhluk-Nya maupun yang masih dalam bisikan hati nurani. Firman Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 127:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Pendengaran Allah berbeda dengan pendengaran manusia, baik bentuk maupun daya jangkauannya, sesuai dengan sifat Allah mukhalatu lil haditsi. Karena manusia hanya dapat mendengar sebatas yang dapat dijangkaunya saja. Walaupun kalau kita perhatikan di abad yang serba modern ini orang bisa bercakap-cakap dari jarak jauh melalui komunikasi, tetapi pendengaran manusia tetap terbatas oleh kemampuan peralatan yang digunakan. Tidak demikian dengan Allah SWT, dia selalu mendengarkan suara hati semua manusia  di bumi ini tanpa kecuali. Bagi orang yang beriman kepada Allah SWT niscaya akan merasa senang dan tenang karena tidak khawatir bahwa doa atau permohonannya tidak akan didengar oleh Allah. Allah SWT sangat dekat dan Maha Mendengar. Sebagaimana firman Allah SWT surat al Maidah ayat 76:
أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (76)
Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan demikian, maka wajib bagi setiap Muslim beriman bahwa Allah SWT bersifat sama’ artinya Maha Mendengar, mustahil Allah SWT bersifat summu artinya tuli. Oleh karena itu manusia dituntut untuk berbicara, bertingkah laku, berpikir, dan beriktikad baik, serta dituntut untuk selalu ingat kepada Allah SWT dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, karena Allah SWT selalu mendengar segala ucapan dan gerak gerik kita.

(6). Bashar ( Maha Melihat )
Allah SWT bersifat Maha Melihat. Cara Allah melihat berbeda dengan cara melihat makhluk-Nya. Contohnya manusia melihat dengan mata, sedangkan mata manusia dalam melihat memiliki keterbatasan dan kekurangan. Allah SWT melihat segala sesuatu tidak dengan mata sebagaimana mata yang dimiliki manusia.
Melihatnya Allah SWT Maha Sempurna tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Allah SWT dapat melihat semua sikap dan perbuatan manusia, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, yang dikerjakan sendiri-sendiri maupun yang dikerjakan secara berjamaah (ramai-ramai ) sebagai mana firman Allah SWT :
إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Bagi orang yang beriman dimanapun ia berada senantiasa merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat baik siang maupun malam, di tempat ramai maupun di tempat sepi, sebab Allah SWT tidak memiliki sifat umyun ( buta )

 (7). Kalam ( Maha Berfirman )
Allah SWT berrsifat kalam, artinya Maha Berfirman yang tidak ada batasnya, sebagai petunjuk bagi manusia, firman Allah SWT :
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ
مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (146)
Kecuali orang-orang yang Taubat dan mengadakan perbaikan[369] dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka Karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Cara Allah SWT berfirman berbeda dengan cara manusia berkata. Manusia berkata dengan menggunakan mulut atau alat ucap lainnya, sedangkan Allah SWT berfirman tidak dengan mulut dan alat ucap lainnya yang biasa dipergunakan manusia. Cara Allah SWT berfirman Maha Sempurna, tidak ada kekurangan ayaupun cacat dan celanya.
Alquran adalah merupakan kumpulan firman-firman Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia. Dengan membaca dan meMahami Alquran, umat manusia dapat mengetahui mana firman Allah yang berisi perintah yang wajib dikerjakan dan mana firman Allah yang berisi larangan yang harus dijauhi.

d.    Sifat Ma’nawiyah
Sifat ma’nawiyah ialah sifat yang bergantung dan berhubungan dengan sifat ma’ani. Tiap-tiap ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah, karena itu maka lazim disebut sifat ma’nawiyah. Ma’nawiyah ialah kelanjutan daripada sifat ma’ani dan bukan merupakan sifat tersendiri. Sifat ma’nawiyah ada tujuh yaitu :
a.    Qadiran ( Maha Kuasa )
b.    Muridan ( Maha Berkehendak )
c.    Aliman ( Maha Mengetahui )
d.    Hayyan ( Maha Hidup )
e.    Sam’an ( Maha Mendengar )
f.    Bashiran ( Maha Melihat )
g.    Mutakalliman ( Maha berfirman )


2.    SIFAT-SIFAT NABI / RASUL
Sebagai seorang Muslim kita wajib mengimani adanya para Nabi atau Rasul Allah SWT. Sikap mengimani tersebut berarti mau mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan para Rasul kepada umatnya. ajaran para Nabi dan Rasul ini tidak ada sedikitpun unsur kekerasan, penipuan, kerusakan, permusuhan dan lainnya. Semua sikap dan tindakan para Rasul Allah tidak semata-mata berdasarkan atas kehendaknya sendiri, melainkan sesuai dengan bimbingan yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya. Didalam Islam tidak ada perbedaan antara Rasul yang satu dengan Rasul lainnya, sebab semuanya adalah utusan Allah. Para Rasul itu mempunyai empat sifat wajib  yaitu :

a.    Sidik ( benar )
Artinya setiap Rasul itu wajib berkata, bersikap, dan berbuat benar dalam kehidupannya,mustahil para Rasul sebagai utusan Allah SWT itu berdusta didalam menyampaikan wahyu yang datangnya dari Allah, karena para Rasul itu senantiasa terjaga dari perbuatan dosa (maksum) dan tidak mungkin para Rasul itu bersifat kizib (berdusta) didalam menyampaikan risalah yang datangnya dari Allah SWT.

b.    Amanah ( dapat dipercaya )
Setiap Rasul yang diutus oleh Allah SWT wajib berlaku amanah baik terhadap Allah SWT maupun terhadap umatnya, tidak mungkin para Rasul itu berkhianat terhadap yang diamanatkan oleh Allah kepadanya.

c.    Tabligh ( menyampaikan )
Para utusan Allah SWT pasti menyampaikan wahyu yang ia terima kepada umatnya. Ia tidak menambah atau mengurangi wahyu Allah SWT tersebut. Ia sampaikan semua wahyu Allah kepada semua manusia tanpa melihat suku, ras , atau pangkat dan kedudukan. Seorang Rasul tidak mungkin menyembunyikan apa yang ia peroleh dari wahyu Allah SWT.

d.    Fathanah ( Cerdas )
Tugas para Rasul itu sangat berat, berbagai rintangan, tantangan, dan hambatan senantiasa berada di depan mereka pada saat melaksanakan misi dakwah, para Rasul dituntut untuk bisa menyelesaikan dan mengatasi berbagai persoalan yang ada pada umatnya, untuk itu para Rasul diberi  sifat fathonah  (kecerdasan) oleh Allah sehingga dapat menyelesaikan semua persolan yang dihadapinya, mustahil para utusan Allah itu bersifat bodoh ( baladah ).
 
3. AL-ASMAUL-HUSNA

Apa yang dimaksud dengan Al-Asma’ul Husna? Al-Asma’ul Husna artinya nama-nama Allah SWT yang baik. Mengapa demikian ? Karena  mustahil Allah SWT memiliki nama yang buruk.
Kebaikan Allah SWT tersebut tergambar pada seluruh Al-Asma’ul Husna. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al-Asma’ul Husna
انّ لله تسعة وتسعين اسمامائةالا واحدامن احصا ها دخل الجنة[رواه البخاري ومسلم]
Artinya:“Seseungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.(H.R. Bukhari dan Muslim)
umlahnya 99, sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:
    Dari sembilan puluh sembilan nama tersebut semuanya menjelaskan dan menggambarkan betapa baiknya Allah SWT tersebut.
    Al-Asma’ul Husna hanya milik Allah SWT. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya dapat memahami, mempelajari dan meniru kandungan makna dari nama-nama yang baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya diucapkan ketika berzkir atau berdoa. Ketika berdoa, nama-nama dalam Al-Asma’ul Husna kita baca dan kita pilih sesuai dengan permintaan kita. Misalnya kita mohon diberi sifat kasih saying, maka bacalah Ar-Rahman, artinya Maha Pengasih. Bila kita mohon petunjuk, maka yang kita baca adalah Al-HAdi, yang berartu MAha Pemberi Petunjuk, dan demikian selanjutnya dengan nama-nama yang lain.
    Anjuran untuk menggunakan Al-Asma’ul Husna dalam berzikir atau berdoa, diterangkan Allah SWT dalam Al-Qur’an sebgai berikut:

ولله الا سماءالحسنى فا د عوه بها و ذرواالّذين يلحدون في اسما ئه سيجزون ما كانوايعملون

Artinya:“Hanya milik Allah Al-Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asma’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf,7:180

    Dalam pembahasan tentang asmaul husna berikut ini tidak semua akan  dibahas akan tetapi hanya sebahagian kecil saja. Mudah-mudahan dari pembahasan asmaul husna ini kita akan dapat mengaflikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

a.  Al-Aziz (yang MahaPerkasa)
    Allah disebut Al-Aziz artinya Allah Mahaperkasa. Keperkasaan Allah SWT tidak dapat diukur atau disamakan dengan keperkasaan manusia atau yang lain. Keperkasaan Allah tidak terbatas. Sedang keperkasaan manusia sangat terbatas atau bersifat sangat sementara. Betapa pun perkasanya manusia, pasti masih ada yang mengunggulinya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

انّ الله يعلم يدعون من دو نه من شيء وهوالعزيزالحكيم
Artinya:“Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah, Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (Q.S. Al-Ankabut, 29:42)

    Ayat 42 Surah Al –Ankabut, 29 tersebut mengajarkan kepada kita untuk lebih menyadari bahwa manusia, dengan segala keterbatasanya, tidak patut menyombongkan diri, meskipun andaikata ia memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Mengapa demikian? Karena kelebihan sebesar apapun, pada dasarnya merupakan pemberian Allah SWT. Kekuatan, keperkasaan, kepandaian, kekayaan, kekuasaan, semua adalah pemberian Allah SWT. Semuanya menjadi tidak berdaya ketika Allah SWT mencabutnya (La haula wala quwwata illa billahi aliyyil azim).
    Dengan memahami bahwa yang memiliki keperkasaan sejati hanyalah Allah SWT, Dialah yang Maha Perkasa, berlaku sombong bukanlah sikap yang terpuji. Sebaiknya dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengembangkan sikap saling menghargai dan menghormati serta berusaha memberi manfaat kepada yang lain. Yang kuat membantu yang lemah. Yang lemah berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain. Hadits Rasulullah SAW:

خيرا النّس انفعهم للنّا س [رواه البيهقي]
Artinya :“Sebaik-baiknya manusia ialah yang memberi manfaat kepada orang lain.”(H.R. Al-Baihaqi)

    Hadits diatas mengajarkan kepada kita untuk mengembangkan sikap saling membantu dan memberi manfaat kepada yang lain, mengedepankan kebersamaan dan tidak menyombongkan diri.

b.  Al-Wahhab (yang Maha Pemberi)
    Al-Wahhab berarti Maha Pemberi. Maksudnya hanya Allah SWT yang paling banyak memberi. Dia memberikan berulang-ulang, bahkan secara terus-menerus tanpa mengharap imbalan dari yang diberi. Sifat semacam ini hanya dimiliki oleh Allah SWT.
    Pemberian yang dilakukan manusia kepada yang lain tidak dapat dinamakan  “Wahhab”, karena pemberian tersebut sekecil apapun pasti disertai tujuan atau pengharapan, misalnya berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan, mendapatkan penghormatan, atau bahkan mendapat pahala dari Allah SWT.
    Manusia diperbolehkan memberikan sesuatu dengan pengharapan selama  pengharapan tersebut bertujuan untuk ibadah dan berbuat baik. Contoh: melakukan salat, bersedekah, menjalin silaturrahmi, dan persahabatan dengan berharap mendapat pahala dan menghindari neraka.
    Kebahagiaan, kesedihan, sehat atau sakit, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, beruntung atau merugi, semuanya merupakan wujud pemberian Allah SWT. Jika Allah SWT sudah memberikannya, manusia tidak dapat menolak atau menghindarinya. Allah SWT hanya memberikan kebebasan kepada manusia untuk berusaha dan berencana. Namun, hasil dari semua itu tetap bergantung kepada kepastian atau pemberian Allah SWT.

    Firman Allah SWT:

ربّنا لا تزغ قلوبنابعداذهديتناوهب لنامن لّدنك رحمةانّك انت الوهب

Artinya:“(Mereka berdoa), ‘Ya tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (Q.S. Ali-Imran, 3:8)

    Ketiga ayat tersebut menjelaskan bahwa pemberian Allah SWT sifatnya berkesinambungan atau terus-menerus serta berupa rahmat. Pemberian Allah SWT kepada makhluk-Nya jumlahnya tidak terbatas. Allah SWT tidak pernah pilih kasih, Allah SWT sangat memperhatikan makhluk ciptaan-Nya.
    Sifat Allah SWT tersebut memberi pelajaran kepada kita, setidaknya kita bisa meniru untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan.
    Sebagai manusia, sekaligus sebagai anggota masyarakat, akan lebih baik manakala kita mampu mengembangkan kebiasaan saling memberi, saling membantu kepada siapa saja yang membutuhkan sesuai kemampuan yang kita miliki. Yang memiliki harta memberi bantuan harta, yang memiliki tenaga membantu dengan tenaganya, yang memilki ilmu membantu dengan ilmu pengetahaunya.

c.  Al-Fattah (Maha Pemberi Keputusan)
    Al-Fattah artinya Allah Maha Pemberi Keputusan. Maksudnya, Allah yang memberi keputusan terhadap segala sesuatu. Tidak ada yang terjadi tanpa ketentuan dan keputusan Allah SWT. Dengan keputusan memberi rahmat kepada makhluk-Nya, maka burung-burung dapat terbang di angkasa, ikan dapat berenang di air, dan manusia, hewan, serta tanaman dapat hidup di bumi. Di hari kiamat kelak Allah pula yang mengadili manusia dengan seadil-adilnya, yang baik amalnya dibalas dengan kebaikan dan yang buruk dibalas dengan keburukan. Pada hari itu pula Allah memberikan keputusan, bagi yang ahli neraka akan dimasukkan ke neraka dan yang ahli surga akan masuk ke surga. Hanya Allah hakim yang seadil-adilnya karena Dia Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu sebagai mana firman Allah SWT, berikut:

قل يجمع بينناربّنا ثمّ يفتح بيننا بالحقّ وهوالفتّاحا العليم

Artinya:“Katakanlah; Tuhan kita akan mengumpul kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Saba: 26)

    Oleh karena itu, kita diwajibkan berusaha sebelum mendapat keputusan terburuk. Caranya adalah dengan melakukan amal perbuatan yang baik, rajin beribabadah, taat kepada orang tua, gemar membantu atau menolong orang lain dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh ajaran Islam.

d.  Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri)

    Al-Qayyum artinya Maha Berdiri Sendiri. Maksudnya, hanya Allah sendiri yang mengurus dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Indahnya alam dan teraturnya semesta tidak pernah lepas dari perhatian Allah SWT. Demikian pula perputaran bumi, pergantian siang dan malam, semilirnya angin sepanjang masa, pertukaran musim, pepohonan berbuah, turunya hujan, dan sebagainya. Semua itu hanya Allah yang mengatur dan mengurusnya. Manusia harus yakin, berusaha, dan berserah diri kepada-Nya karena Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur dalam mengatur dan mengurus makhluk-Nya tanpa bantuan pihak lain, sebagaimana firman Allah SWT, berikut:
الله لآالاّهوالحيّ القيّوم
Artinya:“Allah, Tidk ada Tuhan melainkan Dia Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (Q.S. Al-Imran: 2)

    Kutipan arti trus-menerus mengurus makhluk-Nya, maksudnya adalah Dialah yang mengatur langit dan bumi serta isinya dan Dia tidak memerlukan yang lain, tetapi Dialah yang diperlukan oleh yang lainnya.
    Berbeda dengan manusia, sekedar makan nasi satu piring saja sudah membutuhkan bantuan tidak kurang dari 5 sampai 10 orang. Penjelasannya adalah harus ada petani yan menanam padi, para pedagang beras yang ada dipasar lalu harus ada yang memasak dan seterusnya. Oleh karena itu, setiap manusia pasti membutuhkan bantuan orang lain.
    Menyadari hal tersebut, manusia wajib mengedepankan tolong-menolong, saling membantu. Tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri, egois, tidak menghiraukan orang lain, apa lagi bermusuhan. Semampu apapun, manusia tetap membutuhkan bantuan   orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup sendiri, setiap kebutuhannya pasti membutuhkan peran orang lain.

e.  Al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk)

    Adapun yang dimaksud dengan Al-Hadi ialah bahwa Allah Maha Pemberi Petunjuk. Allah memberikan petunjuk atau hidayah kepada hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya.
    Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa putrai Nabi Nuh AS, tidak beriman walaupun ayahnya seorang nabi. Ayah Nabi Ibrahim diseru kejalan yang benar untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, tetapi tidak mau sehingga mati dalam kekafiran. Demikian pula terjadi pada keluarga nabi Muhammad SAW yaitu Abu Thalib (paman nabi) yang melindungi Rasulullah sejak kecil, tidak mau masuk Islam karena tidak mendapat petunjuk dari Allah SWT. Gambaran di atas menunjukkan bahwa mereka tidak mendapt petunjuk atau hidayah dari Allah SWT.
Allah berfirman dalam surah Al-Qashash ayat : 56

ا نك لا تهد ى من احببت و لكنّ اللّه يهد ى من يّشاء وهواعلم با لمهتد ين

Artinya:“Sesungguhnya kamu tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima  perunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56)

    Hidayah adalah petunjuk Allah kepada hamba-hambaNya, agar menyadari dan mengingat akan Allah untuk mengerjakan perintahnya dan menjauhi laranganNya. Sebagaiman firman Allah SWT, berikut:

وما انت بهد العمي عن ضللتهم ان تسمع الآمن يّؤمن بايتنافهم مّسلمون

Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah yang berserah diri (kepada Kami).” (Q.S. Ar-Rum: 53)

    Sebagai muslim kita diwajibkan menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT meskipun satu patah kata. Adapun jika mereka tidak mau menerima kebenaran itu, kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah Yang Maha Memiliki Petunjuk yang akan diberikan kepada siapa saja  yang dikehendakiNya.
    Bagi yang dikehendaki Allah SWT, menerima hidayah berupa kebenaran iman dan Islam tidaklah sulit. Sebagai Muslim kita wajib bersyukur telah mendapat hidayah-Nya. Caranya adalah tetap menjaga dan memelihara keimanan dan keislaman tersebut, antara lain dengan tetap melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya sesuai pengetahuan dan kemampuan kita.
    Jika Allah menghendaki, siapa saja akan mendapat hidayah tersebut, siapa pun orangnya. Orang semula tidak beriman, karena mendapat hidayah dari Allah SWT, kemudian menjadi beriman. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari- hari tugas kita adalah berdakwah, menyampaikan ajaran islam dengan benar,  masalah orang mau beriman atau tidak, mengamalkan ajarannya atau tidak, hal ini sangat bergantung pada hidayah  Allah SWT.

f.  As-Salam (Yang Maha Sejahtera)

    Kata “As-Salam” artinya Yang Maha Mensejahtera”. Firman Allah SWT.
هوالله الذي لآاله الاّهوالملك القدّوس السّلم المؤمن المهيمن العزيزالجبّارالمتكبّر سبحان اللّه عمّايشركون
Artinya:“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Raja Yang MahaSuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S. Al-Hasyr, 59:23)

    Sesuai penjelasan Al-Qur’an kata “As-Salam”  memiliki beberapa arti yaitu:
1)    Allah terhindar dari aib dan kekurangan
2)    Hanya Allahlah yang menyelamatkan makhluk-Nya dari siksa Neraka
3)    Yang memberi salam kepada hamba-hamba-Nya kelak disurga (Q.S. Yasin: 58)
    Dari ketiga makna As-Salam sebagaimana kutipan diatas dapat dipahami bahwa Allah adalah Zat yang baik dan mulia, tidak ada sedikit pun pada diri Allah suatu keburukan. Dia pemilik segala kebaikan dan keselamatan.
    Allah juga sebagai sumber keselamatan dan kebaikan, artinya jika segalanya dilakukan atas dasar keyakinan dan kebenaran yang bersumber dari Allah akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan. Karena keselamatan dan kebaikan semata-mata bersumber dari Allah SWT.
    Sebaliknya jika segala hal yang dilakukan bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah, maka akan menimbulkan keburukan dan kemudaratan  bagi dirinya maupun orang lain.
    Keburukan yang dirasakan oleh hamba-hamba-Nya pada dasarnya ber sumber dari Allah. Allah adalah Zat pemilik segala kebaikan dan keselamatan.
           Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari sudah seharusnya kita sebagai umat islam menebar keselamatan di manapun berada, baik melalui ucapan maupun perbuatan kita. Tidak menimbulkan kerusakan dan keresahan. Sudah seharusnya ambil bagian dalam mensejahterakan umat, baik denan harta, ilmu maupun tenaga yang kita miliki, sebagai aflikasi kita dalam memahami asma  Allah SWT ini,

g.  Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta)
    Kata “Al-Khaliq” dalam Al-Qur’an disebut tidak kurang dari 150 kali. Kata Al-Khaliq diambil dari kata “Khalq” yang berarti “mengukur atau memperhalus”. Kemudian arti tersebut dimaknai secara luas yakni “menciptakan dari tiada”. Menciptakan tanpa contoh terlebih dahulu”


Q.s. At-Tin: 4
لقد خلقناالانسان في احسن تقويم
Artinya:“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dlam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At-Tin: 4)

    Kata “Al-Khaliq” yang dijelaskan dalam Al-Qur’an memberi gambaran tentang kehebatan dan kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya . betapa tidak! “Dia Menciptakan dari tiada”, “Menciptakan tanpa satu contoh terlebih dahulu”. Segala ciptaan-Nya sangat sempurna, kesempurnaan tersebut meliputi bentuk, ukuran, fungsi, sifat dan keagungannya, yang semuanya diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Hal tersebut dapat dilakukan Allah tanpa bantuan sipapun, karena Allah memiliki sifat Mahakuasa, Maha Mengetahui dan berbagai sifat mulia lainnya, sehingga segala yan diciptakan menggambarakn betapa hebatnya Allah.
    Untuk lebih memahami bahwa Allah adalah “Al-Khaliq”yakni Tuhan Yang Maha Pencipta, simak beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pergantian siang dan malam selalu berjalan dengan baik. Adakah manusia yang mampu menciptakan dan mengaturnya?
    Cermatilah baik-baik tubuhmu, hewan, atau tumbuhan disekitarmu. Betapa semuanya tercipta dari detail-detail yang sempurna. Mungkinkah manusia mampu melaksanakannya?
    Pikirkanlah bahwa tidak ada seorang manusia pun yang mempunyai sidik jari yang sama.

Oleh karena itu orang yang diberi karunia oleh Allah SWT berupa kepandaian dan kepintaran, otak yang brilian ia harus bersyukur kepada Allah SWT, ia dapat mencipatakan sesuatu, misalnya mobil, kapal laut, pesawat terbang dan lain sebagainya, semua itu ia ciptakan dari bahan dasar yang telah disediakan oleh Allah SWT  untuk itu, jika tidak ada bahan-bahan dasar tadi tentu ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan demikian sepintar apapun ia tidak boleh takabur dan menyombongkan diri  apalagi mengingkari adanya Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia ibarat setitis air di lautan. Hari ini apa yang ia ciptakan  bisa dikatakan paling modern, bagaimana dua atau tiga tahun yang akan datang?.  Bukankah di atas langit ada langit ?. Allah SWT lah Maha Pencipta, Ia menciptakan segalanya.

h. Al-Gaffar (Yang Maha Pengampun)
            Menurut pengertian bahasa, Al-gaffar berarti Yang maha Pengampun. Allah SWT, bernama Al-gaffar sebab Allah SWT Yang Maha Pengampun, yang mmiliki kebebasan penuh untuk memberikan ampunan dosa kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
    Manusia dalam hidupnya di dunia tidak luput dari dosa. Baik dosa yang ditimbulkan karena tidak melaksanakan suruhan Allah yang wajib, maupun dosa yang disebabkan karena melanggar larangan Allah yang haram. Allah SWT tentu akan mengampuni dosa hamba-Nya, apabila hamba-Nya itu mohon ampun kepada-Nya dan bertu-betul bertobat. Sedangkan syarat-syarat bertobat adalah:

1)    Menyesal terhadap perbuatan dosa yang lebih terlanjur diperbuatnya.
2)    Bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosanya itu dan tekadnya itu langsung dilaksanakan. Seseorang yang berulang kali berbuat dosa setelah bertobat dari dosa, tidak dianggap tobat yang sebenarnya, bahkan dianggap mempermainkan Tuhan.
3)    Membaca istighfar dengan khusyuk dan benar-benar minta ampun dalam hatinya. Bila dosanya berhubungan dengan hak Allah, hendaklah mengqadlanya. Sedangkan yang berhubungan dengan hak orang lain, hendaklah mengembalikan hak orang lain  tersebut dan mohon maaf atas kesalahnnya.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran: 135-136).

            Selain itu hendaklah orang yang telah bertaubat dari suatu dosa hendaklah mengiringi perbuatan dosa yang telah ditinggalkannya itu dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah SWT.
    Nabi Muhammad saw telah bersabda:

اتّقواالله حيثما كنت و اتبع السّيّّْةاحسنتةتمحهاوخالقالنّاس بخلق حسن [زواه الترمذى]
Artinya:“Takutlah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan dapat menghapusnya (keburukan) dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang terpuji.” (H.R. Al Tarmidzi).

    Manusia sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial, sudah tentu dalam pergaulan hidup bemasyarakat, satu dengan yang lainnya tidak luput dari berbuat salah, baik disengaja ataupun tidak. Maka agar hubungan sesama manusia tidak saling mendendam dan hidup rukun dapat terwujud, setiap manusia harus berlapang dada dan suka memberi maaf.

    Allah SWT berfirman:

وليعفواوليصفحوا الاتحبّون ان يغفرالله لكم والله غفوررحيم

Artinya:“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nur: 22).

    Kalau Allah SWT yang memiliki segalanya mau memberi maaf dan ampunan kepada hambaNya yang terlanjur berbuat dosa, padahal Dia dengan segala kekuasaanNya dapat menghukum dan menyiksanya.tapi Allah tidak menghukum bahkan mau memaafkan hambanya, bagaimana dengan kita sebagai makhlukNya yang lemah, kenapa tidak mau memberikan maaf dan ampunan kepada sesama?. Tentu kita yang serba memiliki kekurangan dan kelemahan seharusnya mengambil pelajaran dari asma Allah ini, sehingga timbul dalam diri kita sifat pemaaf, dengan demikian mudah bagi kita memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita. Kalau hal ini dapat dilakukan oleh kita sebagai umat islam pasti akan tercipta kehidupan yang damai dan harmonis baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Bukankah kehidupan yang harmonis, damai dan sejahtera merupakan dambaan semua orang?. Oleh karena itu berlapang dadalah dan jadilah pemaaf sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita para  hambaNya.

i.  Al-Adlu (Maha Adil)
Salah satu nama Allah yang termasuk Al-Asmaul Husna ialah Al-adlu, berarti Maha Adil dan sangat sempurna keadilan-Nya. Tidak ada Zat selain Allah yang memiliki keadilan sama dengan Allah, apalagi melebihi-Nya. Adil artinya meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Allah Maha Adil, karena Allah selalu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya, sesuai dengan keadilan-Nya yang Maha Sempurna. Tidak ada manusia yang Maha Adil, karena keadilan manusia itu terbatas dan tidak sempurna. Manusia yang berada dalam keadaan lupa dan salah, sudah tentu tidak dapat berlaku adil.
    Bukti-bukti bahwa Allah itu Maha Adil terdapat dalam diri manusia dan diluar diri manusia. Yang terdapat dalam diri manusia misalnya:

1)    Bentuk tubuh manusia, susunan dan bagian-bagiannya serta letaknya betul-betul begitu proporsional dan harmoni. Ini menunjukan bahwa Allah itu Maha Adil.
2)    Manfaat dari masing-masing bagian tubuh manusia, juga menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Adil. Tidak ada satu bagian pun dari tubuh manusia yang tidak ada manfaatnya.
3)    Allah SWT telah mengangkat manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini. Agar umat manusia dapat melaksanakan tugas memimpin itu dengan baik, Allah Yang Maha Adil telah menganugerahi manusia akal pikiran.
    Bukti-bukti bahwa Allah SWT itu Maha Adil yang terdapat diluar diri manusi sangat banyak, sehingga manusia tidak akan mampu menghitungnya satu persatu.
    Aplikasinya dalam kehidupan kita adalah bahwa manusia sebagai makhluk Allah yan berakal dan sebagai khalifah di muka bumi ini diperintah oleh Allah SWT untuk berlaku adil terhadap dirinya dan keluarganya maupun terhadap orang lain.
    Allah SWT berfirman:

انّ الله يامرل والاحسان وايتاءذى القربى وينهى عن الفحشاءوالمنكروالبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون

Artinya:“Sesungguhnnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran permusuhan. Dia memberi kepadamu pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl: 90)

    Allah SWT Maha Adil dalam segala hal. Dalam menciptakan segala sesuatu Allah SWT Maha Adil, meskipun terkadang manusia salah dalam memahaminya. Terkadang timbul satu pertanyaan kenapa Allah SWT menciptakan buah yang besar sementara pohonnya kecil, bahkan terkadang pohonnya menjalar di atas tanah, sementara pohon yang besar dan tinggi tetapi buahnya kecil.  Akan tetapi ketika ia lewat di bawah pohon yang besar ia tertimpa oleh buah yang kecil, barulah ia berpikir, seandainya pohon ini berbuah besar tentu celakalah ia, barulah ia paham  Allah SWT Maha Adil,  kenapa Allah menciptakan buah yang kecil pada pohon yang besar.
            Allah SWT juga Maha Adil dalam memutuskan hukum terhadap hamba-hambaNya yang bersalah,  lihatlah misalnya bagaimana Allah SWT memerintahkan hukuman qishash, hukuman yang setimpal bagi orang yang melanggar, pembunuh jika terbukti maka hukumannya dibunuh  pula , sehingga tidak ada dendam berkepanjangan bagi kerabat-kerabatnya atau anak keturunannya. Di mana hukum qishash tersebut juga pada dasarnya melindungi jiwa masing-masing sehingga  tidak  ada orang yang berani melakukannya karena pelakunya pun akan mendapatkan hukuman yang sama yaitu di bunuh pula.
     Keadilan Allah dalam bidang ekonomi pun bisa kita lihat bagaimana Allah SWT dalam rangka mewujudkan pemerataan memerintahkan orang-orang kaya yang berharta untuk membayar zakat , infaq dan shadaqah yang harus diberikan kepada orang yang berhak menerimanya, salah satu di antaranya adalah orang yang miskin.
    Sebagai umat islam kita dituntut untuk dapat menerapkan ajaran dari asmaul husna ini yaitu berlaku adil dalam segala hal baik dalam bidang hukum, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya, baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada kawan maupun kepada lawan.
           
j.  As-Sabur (Yang Maha Sabar)
    Imam Gazhali mengartikan As-Sabur sebagai sifat Allah yang Maha Sabar dalam melakukan sesuatu, semua dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada, Dia tidak menundanya dari waktu yang ditentukan, Dia tidak mempercepat waktunya sehingga tergesa-gesa. Sifat tergesa-gesa dan suka menunda sesuatu hanya dimiliki oleh makhluk-Nya. Allah SWT menerangkan masalah sabar dalam Al-Qur’an tidak kurang dari seratus kali. Semuanya berkaitan dengan perbuatan manusia, antara lain perintah bersabar, memuji kesabaran dan orang-orang sabar, sifat kesabaran serta manfaatnya, dan ancaman bagi orang-orang yang tidak sabar. Pada intinya, kedudukan tertinggi akan diperoleh seseorang karena kesabarannya.
    Adapun kesabaran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an antara lain:
1)    Bersabar dalam mengerjakan ibadah (Q/S/ Taha:132)
2)    Bersabar dalam menghadapi musibah (Q.S. Al-Baqarah: 155)
3)    Sabar dalam menhan hawa nafsu

Lihatlah bagaimana Allah SWT  telah menciptakan langit dan bumi dengan enam masa, tidak bisakah lebih cepat dari itu?. Lihatlah bagaimana Allah menciptakan manusia pertama yaitu Adam As dengan memberitahukan terlebih dahulu kepada para malaikatNya ( seolah-olah sedang bermusyawarah kepada malaikatNya )., tidak bisakah Allah memutuskan dan menciptakannya sendiri ?.  Lihatlah bagaimana Allah memutuskan haramnya khamar ( minuman yang memabukkan ) melalui tiga tahapan, tidak bisakah Allah memutuskan dan menetapkan haramnya khamar dengan langsung, tidak berproses atau bertahap ? . Jawabnya adalah apapun yang Allah kehendaki, dengan sifat kemahakuasaanNya, dengan sifat qudrat dan iradahNya, Allah SWT pasti bisa.  Akan tetapi seperti itulah yang Ia kehendaki. Di situlah kita melihat dan kita fahami, bukan saja Allah itu Maha Kuasa tetapi juga  Allah menunjukan Maha SabarNya.
           Ini adalah merupakan pelajaran yang sangat penting dan berharga bagi manusia umumnya, khususnya umat muslimin, kita semua , untuk selalu mengembangkan dan menerapkan sifat sabar  dalam kehidupan sehari hari-hari. Sabar dalam mengerjakan suatu perbuatan ( baik ) , tidak tergesa-gesa.
Sabar dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat dengan mengedepankan prinsip-prinsip bermusyawarah dalam mewujudkan kehidupan bersama yang damai dan harmonis, saling menghargai dan menghormati.  Sabar dalam memutuskan sesuatu  ( menetapkan hukum ) , agar terhindar dari kesalahan.yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Bukankah membebaskan orang yang bersalah lebih baik dari pada menghukum  orang yang tidak bersalah?.   

Contoh-contoh penerapan aqidah dalam kehidupan sehari-hari
1) Contoh berdasarkan Dalil Aqli (akal)
            Akal itu suatu tenaga jiwa yang dapat mengetahui segala sesuatu yang tak dapat diraba atau dirasa dengan pancaindera. Fikiran adalah pekerjaan akal dalam mencapai pengertian tentang sesuatu, pendapat akal lebih mulia dari pendapat-pendapat pancaindera, dan sesuatu yang dicapai oleh akal, lebih kuat dari apa yan dicapai oleh pancaindera. Pendapat akal akan sampai pada hakikat, sedang pendapat pancaindera hanya memperoleh yang lahir atau yang terasa saja, pendapat akal tidak ada batasnya sedang pendapat pancaindera terbatas. Itulah sebabnya Al-Qur’an dalam tuntunannya untuk mengakui adanya Allah dan ke EsaanNya, mendorong agar mempergunakan akal untuk berfikir dalam lapangannya yang telah ditundukkan yaitu alam  semesta yang terbentang diluar diri manusia dan yang ada didalam dirinya  sendiri.
    Penerapan aqidah berdasarkan dalil aqli adalah satu pemahaman dan keyakinan bahwa apa yang telah ditentukan Allah SWT dalam kitabnya pasti sangat cocok dan sesuai dengan kebutuhan manusia, karena manusia adalah ciptaan-Nya, maka Allah melengkapinya dengan aturan-aturan yang sesuai dengan fitrah-Nya. Contoh yang sederhana, bukankah pabrik yang memproduksi TV juga mengeluarkan aturan yang sesuai tentang bagaimana menoperasikannya.
    Aturan-aturan yang berkaitan dengan keimanan pasti sesuai dengan fitrah manusia, keyakinan bahwa Allah itu Maha Esa. misalnya, itu sesuai dengan nalar dan fitrah manusia, menurut akal manusia adalah hal yang mustahil kalau yang Maha Kuasa itu lebih dari satu, pasti akan terjadi pertentangan dan konflik satu sama lain.
    Aturan-aturan yang berkaitan dengan ibadah misalnya, pasti sangat sesuai dan cocok dengan fitrah manusia, salah satu contoh diperintahkannya melaksanakan puasa, setelah diteliti dalam dunia kedokteran, ternyata puasa itu menyehatkan, puasa dapat menormalkan system kerja pencernaan, yang selama sebelas bulan bekerja tanpa beristirahat, ternyata puasa bulan Ramadhan telah dapat membuat system kerja pencernaan dapat beristirahat secara total tidak kurang dari 6 jam setiap hari, karena setelah jam 12.00 sampai sore system kerja pencernaan istirahat total, tidak lagi mendistribusikan sari pati makan ke seluruh tubuh dan ini amat baik pengaruhnya bagi kesehatan manusia.
    Aturan-aturan yan berkaitan dengan akhlak misalnya, sangat sesuai dan sejalan dengan akal pikiran manusia. Menghormati orangtua (ibu bapak) diperintahkan dalam Islam. Menurut akal sehat menghormati orangtua sudah merupakan satu keharusan bagi anak, meskipun tanpa ada perintah agama, mengingat jasa-jasa yang telah diberikan pada sang anak, yang mengandungnya, melahirkanya, merawatnya, mendidiknya, dsb. Apalagi ditambah dengan perintah agama, tentu anak berbakti (berbuat baik) pada kedua orang tua merupakan satu kewajiban yang lebih utama lagi untuk melaksanakannya..
    Aturan-aturan yang berkaitan dengan  Muamalah, misalnya, aturan dalam berjual beli harus dilakukan suka sama suka, harus didasari kejujuran tidak boleh dengan paksan dan tidak boleh tipu-menipu. Segala sesuatu yang didasari dengan paksaan akan berdampak negatif. Kejujuran adalah fitrah manusia. Pada dasarnya semua orang membutuhkan kejujuran, sipapun dia, bahkan seorang pencuri pun membutuhkan kejujuran. Ketika pembagian hasil curian, pencuri yang satu bilang pada temannya, “ kamu harus jujur, kamu tidak boleh menyembunyikan hasil curian, kamu harus membagi secara adil”. Ini adalah bukti bahwa menurut akal dan pemikiran, kejujuran yang diajarkan pada ajaran islam, salah satu dalam berjual beli, sangat sesuai dengan fitrah manusia.
            . Ini adalah bebrapa contoh penerapan aqidah berdasarkan dalil aqli, yaitu berdasarkan argumentasi-argumentasi akal manusia, untuk membuktikan bahwa penerapan aqidah dalam kehidupan manusia sehari-hari, baik dari segi aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah bisa dijelaskan penerapannya dengan dalil aqli atau dengan argumentasi-argumentasi akal manusia. Karena pada dasarnya semua ajaran agama sejalan dan tidak bertentangan dengan daya nalar akal manusia.

2.)    Contoh berdasarkan Dalil Naqli
    Pada dasarnya keimanan (Aqidah) yang terdapat pada sesorang akan menentukan bagaimana pengamalannya (penerapannya) dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kuat dan bagus iman seseorang, semakin nyata penerapannya, semakin rendah keimanan seseorang, semakin rendah pula penerapnnya. Karena iman adanya dalam hati, yang kita tidak mengetahui sejauh mana kedalamnnya, maka kita hanya akan mengetahuinya dari segi pengamalannya atau penerapannya. Yang dimaksud dengan penerapan disini adalah sejauh mana seseorang menerapkan Aqidah/keimanan tersebut dalam bentuk pemuatan Imtaq kedalam kehidupan sehari-hari, salah satu di antaranya adalah memuatkan Imtaq dalam Iptek.
    Dalam bidang ekonomi, Allah telah mengajarkan beberapa hal diantarannya system pemerataan dan pola hidup hemat /tidak boros, kalau ajaran ini benar-benar dilaksanakan dengan baik, kesejahteraan umat akan dapat terwujud.
    Firman Allah SWT:

يايّهاالّذين امنواانفقوامن طيّبت ما كسبتم وممّااخرجنالكم مّن الارض ولاتيمّمواالخبيث منه تنفقون ولستم باخذيه الاّان تغمضوافيه واعلمواانّ الله غنيّ حميد.
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baikdan sebgian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketehuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Al-Baqarah:267)

    Sejak zaman Nabi Muhammad saw asas pemerataaan sudah ditegakkan, yaitu dengan diperintahkannya kepada orang yang beriman untuk mengeluarkan dan membelanjakan sebahagian hartanya di jalan kebaikan, sebahagian dari hasil usahannya dan hasil bumi yang dimilikinya. Namun pada zaman kini ,masih terdapat jurang pemisah yang sangat mencolok antara si miskin dengan si kaya. Hal ini, di Indonesia,  masih banyak penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Salah satu penyebabnya    adalah karena si kaya enggan mengeluarkan sebagian rezekinya kepada si miskin, baik sebagai modal usaha maupun diberikan secara cuma-cuma sebagai zakat mal atau zakat tatawuk/sedekah.
    Kalaupun mau mengeluarkan sebagian rezekinya diluar ketentuan zakat (sedekah), namun dipilihkan yang ia sendiri tidak suka pada benda tersebut. Sehingga makin jauhlah jarak kesejahteraan hidup antara si miskin dan si kaya. Padahal Allah dengan tegas melarangnya “La tayammamul khabisa”, yang artinya:janganlah kamu memilih yang buruk-buruk ( untuk sedekah ).
Allah juga melarang orang-orang yang beriman berlaku boros. Firman Allah:

وات ذ االقربى حقّه والمسكين وابن السّنيل ولاتبذّرتبذيرا. انّ المبذّرين كانوااخونالشّيطين وكان الشّيطن لربّه كفورا.
Artinya:“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra’: 26-27)
     Ayat ini mengandung dua konsep ajaran Islam yang berbeda tapi saling mempengaruhi dengan sangat kuat satu sama lain. Sebab dengan memberikan sebagain harta kepada kerabat terdekat sebagai haknya dan kepada orang miskin serta orang yang dalam perjalanan, berarti telah mengeluarkan sebagian hasil usahanya untuk pemerataan pendapatan guna membantu pengentasan kemiskinan sekaligus mencegah sikap boros.
    Boros menurut jumhur adalah menafkahkan harta bukan pada haknya. Tidak boros dalam amal baik, artinya tidak israf (berlebih-lebihan), atau menghambur-hamburkan dalam beramal baik, sehingga untuk dirinya sendi berkekurangan. Bahkan dalam berbelanja, makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan sehingga  makanan terbuang karena basi, sementara si miskin kelaparan, dan mencabik-cabik pakaian untuk dipakai sebagai mode, sementara si miskin berpakaian robek karena tidak ada baju lagi. Sikap semacam inilah sebagai teman (ikhwan) setan, sedang setan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. Oleh karena itu, berbelanja cukuplah sesuai dengan kebutuhan  dan kemampuan.
    Dalam dunia kedokteran, sudah sejak lama Islam mengajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan, baik rohani maupun jasmani. Bahkan menjaga kebersihan dapat dijadikan barometer keimanan seseorang, sabda Rasulullah Saw:

النّظافة من الأيمان.
Artinya:“Kebersihan sebahagian dari iman”. (H.R.Thabrani dan Al-Hakim)
    Sebaliknya orang yang tidak menjaga kebersihan dinyatakan imannya tidak sempurna, bahkan  timbulnya berbagai penyakit, sering kali disebabkan oleh lingkungan dan pola hidup yang tidak bersih. Bukankah terjadinya musibah, diantaranya banjir, disebabkan pola hidup yang tidak bersih, membuang sampah sembarangan dan tidak pada tempatnya, dan tidak ramah pada lingkungan?.
            Beberapa contoh yang sederhana ini hanya sebagian kecil contoh yang disajikan dan memberikan gambaran jika Imtaq benar-benar diterapkan pada Iptek tentu dampaknya akan sangat positif dalam kehidupan manusia dan alam lingkungannya.


B.    IBADAH
Ibadah merupakan manifestasi dan pembuktian pernyataan iman, oleh sebab itu sebelum seseorang hendak menjalankan ibadah harus didasari dengan rasa keimanan. Muatan-muatan ibadah dianggap berkualitas jika didalamnya tercakup aspek kekaguman kepada Tuhan karena kebesaran, kenikmatan atau kekuasaanNy; keikhlasan yang mendalam karena rasa kepatuhan, ketakutan kepada Allah jika meninggalkan Ibadah tersebut; pengharapan akan ridlo-Nya dan sekaligus kecintaan kepada Tuhan.
Dari sudut pandang yang berbeda ibadah dapat juga disebut sebagai ritus atau tindakan ritual yang merupakan elemen penting dari setiap aliran kepercayaan atau agama. Dalam kepercayaan Agama Islam Allah sebagai sang pencipta seluruh alam dan isinya serta pencipta seluruh jin dan manusia telah menitahkan kewajiban bagi mereka untuk beribadah kepadaNya sebagaimana firman Allah;
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".(QS.51:56)
Ibadah dalam Islam secara global dapat dikelompokan menjadi 2 tipologi. Pertama, ibadah mahdlah (ibadah murni). kedua, ibadah ghoiru mahdlah (tidak murni). Berikut penjelasan tentang pengelompokan ini:

1.    Pengertian Ibadah
a)    Ibadah mahdhah
Ibadah mahdlah adalah ibadah yang merupakan pembuktian kepatuhan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Ibadah yang didalamnya tidak dicampuri kemanfaatan lain kecuali kebaktian dan kepasrahan total kepada Allah. Ibadah ini adalah ibadah yang sifatnya rigid (tauqifi) sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan seterusnya.
b)    Ibadah ghairu mahdhah
Dalam buku dinamika kehidupan religius disebutkan bahwa ibadah ghoiru mahdhah atau ibadah mustfadah adalah ibadah yang dapat diambil manfaatnya dari ibadah itu sendiri. (M. Tholchah Hasan;2004: 41). Sebagaimana berbuat baik kepada orang lain, saling memaafkan, bertegur sapa dengan sesama, tidak merusak alam menyantuni anak yatim dan seterusnya. Jenis ibadah yang kedua ini memiliki sifat yang lebih fleksibel dibandingkan yang mahdhah dalam hal pelaksanaannya karena memang dalam Islam hanya disebutkan substansi dari amalan-amalan tersebut.

2.    Prinsip-prinsip Ibadah
a). Dilakukan dengan  ikhlas dan penuh kesadaran
Pengertian ikhlas terbagi beberapa bagian: Pertama, ikhlas ialah mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah SWT semata. Pengkhususan ini mengharuskan tujuan perbuata itu hanya untuk-Nya, bukan yang lain. Kedua, ikhlas ialah melupakan pandangan manusia, sehingga hanya melihat Sang Pencipta alam. Orang yang menangis kerena takut kepada Allah SWT, memberikan infaq, atau mengerjakan shalat di tengah ribuan, bahkan jutaan orang akan tetap ikhlas karena tidak menggubris pandangan manusia tadi. Ia hanya melihat pandangan Allah SWT semata. Ketiga, ikhlas diartikan dengan tidak memaksudkan perbuatan agar dilihat orang, namun memaksudkan agar dilihat oleh Allah SWT.
Sebagaiman firman Allah :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
 “Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan kebenaran agar menjelaskan keseluruhan agamaNya dan cukup lah Allah SWT sebagai saksi…” ( Al-Fath: 28 )

Ikhlas merupakan kunci amalan hati. Semua amalan shalih tidak akan sempurna tanpa dilandasi keikhlasan kepada Allah SWT semata. Bahkan makan, minum ataupun berolah raa, juga harus didasari keikhlasan.
Sebagaimana firman Allah :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
“Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk ALLAH SWT,Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulahyang diperintahkan kepadaku,,, “ (Al – An’am: 162-163).

Lebih mengherankan, ternyata iblis tidak berkuasa untuk menggoda semua manusia yang ikhlas, seperti firman Allah :

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)
“iblis berkata, ‘ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan’. Allah subhanahu wa ta”ala berirman, ‘sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)’. Iblis menjawab ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas diantara mereka’.” (al Hajar ayat 36-40)

Pada kenyataannya setiap orag melakukan ibadah karena bebagai motivasi,  yang motivasi tulus hanya karena Allah namun tidak sedikit yang motivasinya karena hal lain baik harta benda, wanita, ataupun jabatan disisi manusia. Seabagaimana telah disebutkan diatas bahwa ibadah yang bagus memiliki beberapa aspek yakni: kekaguman, keikhlasan, kepatuhan, ketakutan, pengharapan dan kecintaan. Maka yang dituntut dalam sebuah ibadah adalah keikhlasan serta kemurnian pengabdian kepada Allah.
Menurut Tolchah secara umum motivasi seseorang dalam menjalankan ibadah bisa diktegorisasi menjadi dua hal; pertana, ibadah yang dijalankan tulus karena Allah semata (Lillah Ta’ala) kedua, ibadah yang dijalani karean unsur riya’ (karena motivasi selain Allah). Namun sesungguhnya keikhlasan dan karena Allah-lah ibadah yang  akan diterima olehAllah baik itu ibadah yang bersifat qolbiyah (perbuatan hati) ataupun jasmaniyah (perbuatan fisik) semua hanya bermuara dari rasa syukur dan ikhlas dalam menjalani perintahnya sebagaimana firman Allah:
وما أمروا إلا أن يعبدوا الله   مخلصين له الدين
Artinya: ”dan tidaklah kalian diperintah apa-apa kecuali hanya beribadah secara ikhlas dengan menunaikan ketaatan menjalakan agamanya..,..(QS. Al Bayyinah: 5)
.....فاعبد الله مخلصا له الدين  
Artinya: “sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Az Zumar:2).

Ibadah yang ikhlas bukan hanya berguna bagi orang yang melaksanakan dalam keadaan normal. Pun keikhlasan dalam ibadah seringkali membuka ruang kemanfaatan diluar kebiasaan. Ada sebuah cerita tentang tiga orang yang sedang terjebak reruntuhan batu di dalam gua, ketiga orang ini telah berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat batu-batu dan keluar dari dalam gua yang pengap, namun usaha mereka sia-sia karena besarnya batu yang menutup pintu gua. Sampai akhirnya ketiga orang ini bersepakat untuk ber-wasilah dengan amal shalih mereka yang ia lakukan dengan sepenuh hati ikhlas dan tulus karena Allah. Kemudian mereka bergantian berdoa dengan menyebutkan amal mereka dan terbukalah batu penutup gua sedikit demi sedikit sehingga keluarlah mereka dari gua tersebut dalam keadaan selamat. Kisah ini adalah bukti bahwa ibadah yang dilakukan tulus ikhlas karena Allah dapat digunakan sebagai alat tawasul kepada Allah (Tolchah Hasan, 20)

b). Sesuai dengan rukun dan syaratnya
Sebagaimana telah disebut diatas ibadah mahdhah  adalah ibadah yang sifatnya  rigid artinya harus dilaksanakan sesuai dengan contoh Rasulullah. Kemudian munculah istilah rukun dan syarat dalam ibadah tersebut agar ibadah sah dan sesuai dengan syari’at, jika rukun dan syarat tersebut tidak terpenuhi maka ibadah seseorang dianggap tidak sah.
Ikhlas karena Allah dalam suatu amalan adalah pilar asasi bagi setiap amal shalih. Itulah landasan keabsahan dan diterimanya amal disisi Allah. Demikian pula itiba' (mengikuti cara Rasul) ádalah rukun kedua dari amal salíh yang diterima Allah. Sebagaimana firman Allah
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله وحد- فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادته أحدا
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhanya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhanya. (al Kahfi:110)

Imam ibnu katsir mengatakan, ketika menafsirkan ayat ini "barangsiapa mengahrap perjumpaan dengan rabb-nya" yakni pahala dan ganjaran amal shalihnya, "maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih" yakni amal yang selaras dengan syariat. "dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya" yaitu amal yang yang ditujukan hanya untuk ridlo Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kedua hal ini adalah rukum amal yang diterima oleh Allah, yaitu: amal tersebut harus ikhlas dan benar-benar sesuai syari'at yang telah diajarkan Rasulullah SAW. (Ibrahim amir, 2006: 51)
c). Kontinyu (istiqamah)
Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata, ''Wahai Rasulullah SAW, katakanlah suatu perkataan kepadaku tentang Islam, sehingga aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain engkau.
قال قل امنت بالله ثم استقم 
'' Beliau bersabda, ''Katakan aku beriman kepada Allah SWT, lalu istiqamahlah.'' (HR Ahmad).

Konsep istiqamah (continuities) tidak sesederhana seperti yang sering dipahami selama ini. Istiqamah seringkali diidentikkan dengan kontinyuitas sebuah amal. Al Qurthubi menyatakan bahwa ayat istiqamah (QS Hud:112) telah membuat rambut Nabi Muhammad SAW beruban. Diceritakan bahwa Abi Ali Asy-Syanawi mengaku pernah melihat Rasulullah SAW dalam mimpi. Dia kemudian bertanya, ''Wahai Rasulullah SAW, ada sebuah riwayat darimu bahwa engkau pernah berkata, Surat Hud telah membuat kepala beruban.'' Beliau menjawab, ''Benar.'' Asy Syanawi bertanya kembali, ''Ayat apakah yang membuat rambutmu beruban, apakah ayat yang menceritakan tentang kisah-kisah para Nabi atau kehancuran umat terdahulu?'' Beliau bersabda,''Tidak, tetapi disebabkan ayat yang berbunyi, 'istiqamahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan'.'' ( Ash Shadiqi, I/282).
Secara bahasa, kata istiqamah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata istaqama, yastaqimu yang artinya lurus, teguh, dan konsisten. Namun, pengertian secara bahasa ini belumlah cukup untuk mewujudkan istiqamah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Oleh karena itu, ulama tasawuf mendefinisikan bahwa istiqamah adalah bersikap konsisten terhadap pengakuan iman dan Islam, serta dengan tulus mengabdikan diri kepada Allah SWT untuk mengharapkan ridha-Nya di dunia dan akhirat.
Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan para ulama, dapat dipahami bahwa dalam beristikamah ada dua hal pokok yang harus dipenuhinya. Pertama, beriman kepada Allah SWT. Kedua, mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik secara lahir maupun batin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang istiqamah adalah orang yang bisa mengaktualisasikan nilai keimanan, keIslaman, dan keihsanan dalam dirinya secara total. Meski untuk bisa mencapai tingkatan istiqamah itu terasa amat sulit, namun harus tetap berusaha dan ber-munajah sebatas kemampuan. Sebab, seperti dikatakan Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat istiqamah (QS Hud:112) ini, bahwa istiqamah merupakan media yang paling baik untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai kesulitan duniawi.
Untuk mewujudkan istiqamah dapat diperhatikan beberapa kiat-kiat berikut ini:
1)    Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah SWT. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.
2)    Bertahap dalam beramal maksudnya, ketika menjalankan suatu ibadah, hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqaMahan. Seperti dalam bertilawah Al-Qur’an, dalam qiyamul lail dan lain sebagainya; hendaknya dimulai dari sedikit demi sedikit, kemudian ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.
3)    Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, terkadang seseorang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dalam menghilangkan rasa malas ini, guna menjalankan ibadah atau amalan yang akan diistiqamahi.
4)    Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah SWT. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5)    Istiqamah juga sangat terkait erat dengan iman yang benar. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi rasa takabur (sombaong) walaupun sangat kecil, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri seseorang merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6)    Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika seseorang meMahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat dilakukan. Demikian juga sebaliknya, jika dirasakan ‘kehampaan’ atau ‘kegersangan’ dari amalan yang dilakukan, tentu hal ini menjadi mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.
7)    Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal Islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan dilakukan. Jika melakukan kesalahan, tentu ada yang menegur. Jika berbuat lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Demikian pula, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan dirasakan ketika beramal seorang diri.
8)    Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqaMahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Justru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9)    Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar memperoleh anugerah sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha yang dilakukan sudah tampak baik, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

3.    Hikmah Beribadah
Allah adalah al-Hakim, pemilik hikmah, tidak ada sesuatu yang Dia syariatkan kecuali ia pasti mengandung hikmah, tidak ada sesuatu dari Allah yang sia-sia dan tidak berguna karena hal itu bertentangan dengan hikmahNya, sebagai manusia dengan keterbatasan tidak mungkin mengetahui dan mengungkap seluruh hikmah yang terkandung dalam apa yang Allah syariatkan dan tetapkan, apa yang kita ketahui dari hikmah Allah hanyalah sebagian kecil, dan yang tidak kita ketahui jauh lebih besar, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra`: 85). Sekecil apapun dari hikmah Allah dalam sesuatu yang bisa kita ketahui, hal itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong dan memacu kita untuk melakukan sesuatu tersebut karena pengetahuan tentang kebaikan sesuatu mendorong orang untuk melakukannya.

a)    Makna shalat dalam kehidupan
Pada dasarnya, shalat lima waktu merupakan rangkaian perjalanan menghadap Tuhan yang telah diwajibkan Allah kepada hambaNya. Di dalam waktu yang berbeda, pada setiap siang dan malam hari. Dalam shalat itu seorang mukmin melepaskan dirinya dari segala urusan duniawi dan menumpahkan seluruh pengabdianya kepada Tuhannya dengan cara mengingat kebesaranNya. Dalam shalat itu pula ia menyerahan diri sepenuhnya kedalam perlindungan Tuhan yang pengasih sambil menghayati kebesaranNya yang absolut, yang menjadi kecil di hadapan kebsaraNya segala kebesaran yang ada dalam kehidupan duniawi ini. Sesungguhnyalah bahwa perjalanan ini bisa melepaskan duka nestapa, meringankan kesengsaraan dan mewujudkan segala keinginanya yag baik.
Telah menjadi sunnah Nabi SAW- apabila terjadi sesuatu yang menggelisahkan hatinya beliau melepaskanya dengan shalat. Maka beliau bersabda:
جعلت قرة عيني فى  الصلاة
Telah diwujudkan kecintaanku tercurah kepada shalat.

Allah SWT berfirman:
يأيها الذين أمنوا استعينوا بالصبر والصلاة
Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat (QS:2:153)

Shalat yang berpengaruh besar dalam mendidik jiwa dan mendekatkanya kedalam kesucian merupakan ibadah yang paling tua seiring lahirnya keimanan. Bahkan tidak ada satu syariat pun yang meninggalkan shalat. Demikikanlah yang diriwayatkan dari para Nabi dan Rasul.
    Sebagai contoh tatkala Nabi Ibrahim mencari tempat tinggal bagi kaum keluarganya disuatu lembah yang tidak terdapat tumbuh-tumbuhan padanya, yakni di samping baitul haram, maka beliaupun berkata:
ربنا ليقيموا الصلوة فاجعل افئدة من الناس تهوى إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون.
Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur (Ibrahim,14: 37)
Orang yang shalatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, artinya orang tersebut hanya mengerjakan formalitas ritualnya saja tidak disertai dengan kesadaran dalam dirinya sehingga ibadah yang dilakukan tidak berdampak pada peningkatan kualitas dirinya.  Beda halnya dengan ibadah yang berdampak pada perubahan diri seseorang dimulai dari konsistensi antara kekhusyu’an shalat dengan amal perbuatan sehari-hari, sebagaimana Rasulullah menerima perintah shalat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.
Shalat dapat membentengi diri dari perbuatan munkar, sebagaimana firman Allah
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر
Artinya: sesungguhnya shalat melindungimu dari perbuatan buruk dan kemunkaran.
Dari ayat diatas jelas Allah memberi jaminan bagi orang yang menjalankan shalat bahwa dia akan selamat dari perbuatn tercela dan kemungkara. Namun apakah hanya dengan shalat yang tanpa ada rasa khusu’ dan meMahami makna shalat? Tentu jawabnya tidak. Karena shalat adalah kamus besar kearifan di dunia maka seorang hamba akan bisa meraih kearifan dan eksholehan itu ketika ia benar-benar telah meMahami makna shalat tersebut.
Shalat bukan sekadar ibadah perorangan yang dikerjakan oleh seorang mukmin antara dirinya dengan Tuhannya semata dan terbatas kegunaanya hanya untuk mendidik jiwa. Lebih dari itu shalat juga merupakan ibadah yang dikerjakan secara berjama’ah. Baik berjama’ah itu suatu kewajiban atau sunnah, atau hanya keutamaan belaka – merupakan media perkenalan antar sesama mukmin dan arena pertukaran pendapat didalam segala masalah yang mereka perlukan guna mencapai kebaikan bagi agama dan keduniaan mereka. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat" (HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar)

 Dengan demikian tempat mereka berkumpul untuk menunaikan shalat lima waktu lebih menyerupai sebuah rumah perkumpulan yang bisa didatangi dengan segera oleh para penghuni sebuah kampung, dalam beberapa waktu yang tertentu, dengan cara yang disiplin. Ditempat tersebut, mereka bisa saling berkenalan, bertukar pendapat dan kemanfaatan tentang berbagai persoalan yang mereka butuhkan, baik secara berkelompok maupun perorangan.  (Syaltut, 1996: 131)

b). Hikmah ibadah zakat dan dampaknya dalam kehidupan sosial   
    Salah satu ayat yang menegaskan pentingnya zakat yang mempu mengatasi masalah kesenjangan kesejahteraan sosial dapat diperhatikan pada ayat berikut ini.
    إنما الصدقت للفقراء والمساكين والعملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفى الرقاب والغرمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat, para mu’alaf yang dibujuk hatinya, orang yag dalam usaha memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijkasana. (at taubah, 9;60)

Dengan mengkaji ayat tadi, nyatalah bahwa lingkup yang berhak menerima pemberian zakat terdiri dari dua golongan. Pertama; perorangan yang diberikan kepada mereka zakat dan diberi kebebasan kepada mereka untuk membelanjakanya menurut cara yang disukai. Mereka adalah golongan yang disandarkan padanya lafadz ash-shodaqot dengan penguhubung lam yakni orang-orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, para mu’alaf (orang-orang yang masih perlu dibujuk hatinya), orang-orang yang berhutang dan tidak mampu lagi membayar hutangnya serta para musafir. Kedua; kemashlahatan umum, yakni yang bias diambil manfaatnya oleh seluruh umat dan mereka adalah golongan yang disandarkan kepadanya lafadz ash-shodaqot dengan kata penghubung fi yakni urusan memerdekakan budak dan kebajikan dijalan Allah.
Islam memiliki konsep solidaritas yang berbeda dengan konsep sosialis yang ditawarkan oleh Barat. Sejak Islam mengantur metode yang tepat dalam memanfaatkan harta sebagai karunia Allah baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat, konsep zakat menjadi titik awal dari konsep solidaritas sosial yang dikembangkan pada masyarakat Muslim. Harta dalam pandangan Islam merupakan  salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia, namun dengan harta pula  manusia dapat diukur tingkat kesadarannya terhadap kepentingan umum, sebab pada dasarnya setiap harta menjadi milik bersama umat yang dipelihara oleh siapa saja yang dititipi Allah untuk menguasai, mengembangkn dan mendistribusikannya dengan benar. Kemudian, seluruh ummat mengambil manfaat dari harta itu – yakni harta yang keluar dari satu tangan dan jatuh ke tangan yang lain, dari umat kembali kepada umat. Maka tangan pemberi (si kaya)dan penerima (si miskin) tak lain adalah dua tangan dari satu tubuh, yang keduanya bekerja sama dalam menggerakkan tubuh yang satu, sehingga tidak ada pelayan dan majikan. Yang ada hanyalah dua pelayan untuk satu tubuh – yakni tubuh masyarakat – yang tidak akan bisa tegak dan kekal melainkan dengan adanya kerja sama yang erat antara kedua tangan tadi dalam upaya mewujudkan kebaikan dan keabadianya.
Dengan zakat, dapat mewujudkan perpaduan dua ekstrim (kaya-miskin) yang cenderung dikotomis yang menimbulkan problem di masyarakat. Islam memberikan solusi untuk memecahkan problem pemilikan harta kekayaan secara mutlak, di sisi lain peniadaan hak pemilikan harta perseorangan sama sekali. Dengan demikian terputuslah hubungan persaudaraan antar sesama manusia. Orang kaya akan menghina kaum fakir dan sebaliknya kaum fakir akan berontak terhadap orang-orang kaya. Kesenjangan dan kecemburuan sosial akan mengganggu stabikitas kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian zakat bukan sekedar membangun solidarits namun juga mengatasi kesenjangan dan problem ekonomi masyarakat yang harus dilakukan secara bersama-sama. Dalam al Qura’n ditegaskan:
خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها
Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyuikan mereka. (at taubah,9:103)

يأيها الذين أمنوا انفقوا من طيبت ما كسبتم ومما اخرجنا لكم من الأرض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ولستم بأخذيه إلا ان تغمضوا فيه
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. (al Baqarah, 2:267)

c). Puasa sebagai kontrol diri dalam kehidupan sosial
Dalam QS. Al Baqarah ayat a183 ditegaskan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebsgaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kalian bertaqwa
Dari ayat tersebut di atas, perintah puasa dimulai dari sasarannya yaitu orang-orang yang beriman. Iman merupakan landasan dilaksanakannya ibadah puasa untuk membangun kesadaran bahwa setiap orang yang merasa dirinya sebagai orang yang beriman menyadari pentingnya berpuasa. Ayat ini tidak menentukan siapa yang mewajibkannya, sehingga dipahami bahwa andaikat Allah tidak mewajibkan, maka yang mewajibkan adalah dirinya sendiri. Demikian pula jika dilihat dari kapan dimulainya tradisi puasa dalam agama-agama, maka puasa merupakan ajaran agama yang telah dilakukan sejak zaman kuno. Sebelum manusia mengenal agama samawi, puasa telah menjadi praktik ritual kepercayaan-kepercayaan bangsa-bangsa di dunia. Puasa dikenal di kalangan pemeluk Yahudi, Budha, Kristen, Hindu dan berbagai kepercayaan yang hidup di masyarakat dengan ragam tatalaksananya.
Tujuan puasa yang terkandung dalam ayat tersebut adalah mencetak manusia yang bertaqwa yaitu terhindar dari segala macam sanksi dan dampak buruk baik di dunia maupun di akhirat. Untuk meraih ketaqwaan melalui puasa ini, seseorang dianjurkan melaksanakan kewajiban puasa dengan niat yang sungguh-sungguh, memenuhi rukun dan syaratnya, serta mampu mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.
Alalh SWT tidak menjadikan pernghentian makan dan minum sebagai tujuan diwajibkanya puasa kepada kaum Muslimin. Hanya saja, tetapi penahanan diri dari makan dan minum merupakan gambaran lahiriah dari puasa itu, yang dibalik pengekangan tersebut tersimpan hikmah hakiki yakni, menanamkan kebiasaan mengawasi diri sediri dan menumbuhkan akhlak kesabaran di dalam jiwa kaum Muslimin. Karena dengan dua perkara ini, akan menjadi benarlah niat mereka, sedang semangat merekapun menjadi kuat, sehingga mereka benar-benar tangguh dalam menghadapi segala peristiwa zaman dan segala rintangan berupa kesulitan dan kesusahan. Dalam kehidupan ini terdapat gejolak syahwat dan hawa nafsu, dorongan kemarahan dan pembalasan dendam. Didalam kehidupan juga terjadi pergantian antara kenikmatan dan penderitaan, problem kehidupan silih berganti yang menuntut kesabaran dan ketahanan mental agar tidak terjerumus dalam keputusasaan. Dalam kehidupan juga ada jihad di jalan Allah, perjuangan membela tanah air dan kehormatan bangsa, membela masyarakat yang tertindas, menegakkan adil, serta memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang bertumpu pada keadilan dan kebaikan.
Dengan demikian, terwujudlah kebijaksanaan (hikmah) Allah dalam ibadah puasa, dan menjadilah puasa sumber kebaikan dalam diri manusia. Dengan puasa pula, manusia menghiasai dirinya dengan kebersihan hati, kejernihan jiwa dan kehalusan rohani, sehingga dapat mempengaruhi sikap yang baik bagi diri, bangsa dan manusia pada umumnya. Terwujudnya masyarakat yang penuh kasih sayang, keharmonisan dan tolong-menolong dalam kedamaian hidup. Dengan puasa dapat membangkitkan n tanpa mengenal lelah, dengan keteguhan hati tantap merasa bosan, denga keikhlasan tanpa mengharap pujian dan dengan keimanan tanpa mengenal keraguan yang diperoleh dari menjalankan ibadah puasa ini, maka kehidupan menjadi baik, sedang manusia pun memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.(Syaltut, 1996: 165)

d). Haji sebagai manifestasi masyarakat egaliter
Haji merupakan suatu lambang dari puncak ”ketangguhan pribadi” dan puncak ”ketangguhan sosial”. Haji adalah sublimasi dari keseluruhan rukun iman; lambang perwujudan akhir dari langkah-langkah rukun Islam. Haji merupakan langkah penyelarasan nyata antar suara hati dan aplikasi. ia juga merupakan simbol langkah sempurna; transformasi dari suatu pemikiran yang ideal (fitrah) ke alam nyata secara sempurna. Secara singkat haji adalah wujud keselarasan antara idealisme dan langkah, keselarasan antara iman dan Islam.
Secara prinsip haji adalah langkah yang berpusat kepada Allah SWT dimana segala tujuan tak lagi berprinsip kepada yang lain. Seperti yang dikatakan Covey:”pusat prinsip (principle center) anda, kesadaran diri (self awareness) anda, dan suara hati (conscience) anda dapat memberikan rasa aman intrinsik, pedoman serta kebijaksanaan yang memberi kekuatan kepada anda untuk menggunakan kehendak bebas anda serta mempertahankan integritas pada hal yang benar-benar penting”.
Secara sosial haji merupakan simbol dari kolaborasi tertinggi, yaitu pertemuan pada sekala tinggi, dimana seluruh umat Islam sedunia melaksanakan core values atau nilai dasar yang sama dengan tujuan dasar atau core purposes yang sama. Inilah contoh ketangguhan sosial yang sesunggunya. Tidak ada sinergi antara manusia dengan manusia, atau antara negara dengan negara, namun juga antara manusia dengan Tuhannya, dimana Ia berdiri di tengah sebagai pemimpin segenap suara hati manusia yang fitrah. Inilah kolaborasi Maha dahsyat yang pernah dibuktikan kehebatanya pada abad ketujuh dan kedelaan masehi, ketika zaman keemasan Islam berjaya. Saat itulah Islam melahirkan generasi peretas terbaik bagi seluruh umat manusia-manusia berhati emas dan bermental baja.(Ary Giananjar,2001:359)
Setiap perbuatan dari manasik haji terkandung rahasia dan makna yang disimbolkan dan wajib diperhatikan oleh setiap Muslim ketika melaksanakanya agar masing-masing individu menerima pesan dari ibadah yang dilaksanakan. Perbuatan tersebut adalah:
Ihram
Ia merupakan simbol pelepasan diri dari syahwat dan hawa nafsu serta pengarahan pemikiran terhadap keagungan Allah SWT. Pengenaan pakaian ihram memiliki arti yang luas dan dalam. Dari si si mentalitas, ia adalah simbol dari fitrah manusia yang ”zero”. Dengan pakaian ini maka suara hati untuk bersifat adil, bijaksana, pengasih, jujur, bisa dipercaya, memiliki komitmen, menolong, mau mendengar, mau melihat, ingin memelihara serta dorongan-dorongan sifat mulia dari Allah tersebut terbebas dari belenggu, kembali merdeka dan siap menjadi wakil Allah dimuka bumi. Mereka melangkah dengan pasti, langkah yang dilandasi oleh hati jernih, komitmen kuat dan integritas tinggi melakukan perjuangan terbaiknya sebagai khalifah dimuka bumi.
Talbiyah
Merupakan simbol persaksian diri disertai kepatuhan dan ketaatan terhadap Tuhan. Akan kesanggupan menjalankan ketentuan dan menjadi penyambung rahmat Allah bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi. labbaik Allahuma labbaik.

Thawaf
Adalah simbol sirkulasi hati disekeliling kekudusan dan kesucian Allah. Thawaf akan membangun suatu visi yang hanya berpusat kepada Allah Yang Maha Esa, yang dilambangkan dengan Ka’bah. Ka’bah sebagai simbol ”pusat orbit thawaf” yang akan memudahkan manusia dalam visualisasi prinsip ketauhidan Ibrahim AS.
Sa’i
Adalah simbol kebimbangan antara dua bukit rahmat untuk memohon ampunan dan keridha’anNya. Sa’i akan membangun wawasan yang berlandaskan sikap mental serta fisik yang tangguh. Sikap mental yang pantang menyerah dan sikap mental yang pantang putus asa.
Wuquf
Sesudah sa’i  merupakan simbol penyerahan jiwa dengan hati penuh takwa memohon belas kasih kepada sang Pencipta
Melempar jumrah
Simbol untuk berkomitmen mengusir hawa nafsu yang merusak perorangan dan kelompok. Melempar jumrah di Mina, adalah simbol dari perlawanan aktif terhadap musuh-musuh diri yang berupa kesombongan, kebodohan, individualis dan sifat-sifat buruk manusia.
Penyembelihan kurban
Sebagai penutup bagi upaya penigkatan diri kepada derajat kesucian dan kemurnian juga sebagai simbol menghilangkan sifat kebinatangan dalam diri setiap Muslim.
Hikmah haji sebagaimana disebut dalam al quran adalah agar orang-orang bertauhid bisa berhimpun pada satu masa dan tempat. Akan halnya pembersihan hati adalah hilangnya rasa dengki dan rasa tidak peduli kepada masyarakat sekelilingnya. Apabila demikian, maka makna penghilangan kotoran adalah segala sesuatu yang tidak pantas bagi individu dan masyarakat. Sedangkan pencapaian manfaat adalah mengupayakan segala sesuatu yang layak bagi individu dan masyarakat. Sedangakan ibadah haji adalah ibadah yang disyariatkan untuk pencapaian tersebut. (Syaltut, 1996; 205)

C.AKHLAQ
1.Akhlaq terhadap Allah
a). Menunaikan hak Allah
Sebagai seorang manusia, salah satu dari ciptaan Allah, ia harus menunaikan hak penciptanya. Hak Allah adalah untuk disembah sesuai dengan firmannya dalam Surat al-Dzariyyat (51: 56):
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Allah SWT sebagai pencipta, tentu saja Dia mempunyai hak atas apa yang diciptakan. Dia Maha kuasa, dan adalah hakNya untuk menyempurnakan ciptaanNya. Karena Dia Maha berkehendak, maka sesungguhnya tak ada pilihan lain bagi makhluk kecuali menunaikan hak Allah. Hak Allah sebagai khaliq menjadi kewajiban mutlak bagi makhluk untuk menunaikannya. Makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah adalah manusia, dan adalah wajar jika Allah menginginkan manusia mengabdi/menyembah kepada Nya. Sifat-sifat wajib bagi Allah dan al-asma’al-husna adalah hak Allah untuk diimani manusia.
Jika makhluk meminta, adalah hak Allah akan memberi atau tidak, namun Allah merasa malu jika tak mengabulkan doa hambaNya yang baik, karena Dia Maha pemurah dan Maha memberi tanpa janji dan jika berjanji pasti akan menepatinya, oleh karena itu mintalah dengan merendahkan diri, merasa kurang dan hina, lihat Ali ‘Imran 3: 123:
sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar.  Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah,  karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
Dan jika nikmat sudah diperoleh, janganlah manusia  menyibukkan diri dengan nikmat tersebut dan melupakan sang pemberi nikmat.
b). Menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah
Adalah kewajiban manusia yang berstatus sebagai hamba Allah untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhkan segala laranganNya. Hamba Allah bertugas untuk menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Wajib mengetahui apa saja yang diwajibkan, yang diharamkan, yang disunnahkan dalam agama, apa yang makruh dan apa yang mubah. Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk mengikuti semua petunjukNya, membuatNya senang dengan amal soleh yang dilakukan, yang sesungguhnya segala amal akan kembali kepada pelakunya, amal baik dengan balasan pahala dan amal buruk dengan siksa. Amar ma’ruf nahi munkar adalah juga kewajiban yang harus dilaksanakan manusia di muka bumi. Sebagai khalifatullah fil ardh manusia harus mencerminkan dirinya sebagai representasi Tuhannya.
Sebagai hamba Allah manusia hendaknya menyembah Allah sampai akhir hayatnya, lihat   al-Hijr 15:  99
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Manusia wajib menyembah Allah karena Dialah pencipta segala sesuatu, sesuai firman Allah dalam al-An’am 6:102
(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.
Manusia hendaknya tidak meminta sesuatu yang tidak layak kepada Allah, tidak banyak mengeluh kepada Tuhan atas apa yang menimpanya. Seseorang  harus selalu memuji Allah dan bersyukur kepadaNya dalam segala keadaan, tidak lalai sekejappun dari mregingatNya, senantiasa memikirkan kekuasaanNya, tidak meyia-nyiakan waktu tanpa beramal untuk mendapat ridlaNya.

2.Akhlaq terhadap Rasul
a). Menunaikan hak Rasul
Rasul dalam Islam mempunyai hak atas ummatnya, hak untuk didengar, dan dipatuhi sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada manusia, yakni dalam al-Qur’an Allah berfirman dalam surat al-Hasyr (59: 7):
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.
Tiap Rasul diutus untuk umat tertentu seperti yang diterangkan al-Quran, contoh Nabi Syu’aib untuk kaum ‘Ad, Nabi Musa untuk Bani Isra’il, Nabi Isa untuk kaum Nasrani, dan hanya Rasulullah saw untuk seluruh alam. Para Rasul mempunyai hak untuk didengar dan diikuti oleh kaumnya.
b). Menunaikan kewajiban sebagai ummat
Kewajiban sebagai ummat terhadap Rasulnya adalah mencontoh sifat-sifatnya, meneladani apa yang sudah dicontohkan oleh para beliau baik sifat-sifatnya maupun ibadah dan akhlaknya. Adapun sifat para Rasul yaitu shiddiq berarti benar; amanah berarti jujur; tabligh artinya menyampaikan; dan fathanah berarti cerdas. Para Rasul dipelihara Allah dari dosa dan maksiyat (ma’shum), oleh karena itu pantas untuk diteladani.
Ketaatan kepada Rasul terletak sesudah ketaatan kepada Allah, oleh karena itu menduduki posisi yang sangat penting, perhatikan surat al-Anfal  8 :1
dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman."
Beruntunglah kaum Muslimin yang merendahkan  suaranya  dari suara Nabi, hal ini diterangkan dalam surat al-Hujurat 49: 3:
Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
1)Meneladani Rasulullah SAW
Meneladani Rasulullah saw adalah sifat yang baik dan dianjurkan dalam Islam, karena figur Muslim yang ideal adalah beliau. Dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa beliau mempunyai akhlak yang mulia, lihat surat al-Qalam 68: 4
dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Secara eksplisit dalam Qur’an disebut bahwa Rasulullah adalah contoh teladan yang baik bagi kaum yang beriman dalam surat al-Ahzab 33: 21 yaitu:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Adalah kewajiban ummat Nabi Muhammad saw untuk mengetahui dan mempelajari sunnah Nabi, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan dan ketetapannya (taqrir), karena beliau tidaklah berucap atau bertindak menurut hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu. Dalam al-Qur’an surat al-Najm 53: 3-4 disebutkan:
dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Kalau para Nabi sebelum beliau, hanya diutus untuk kaumnya saja, namun Rasulullah saw diutus untuk seluruh alam, Allah menerangkan dalam surat al-Anbiya’ 21: 107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Kaum Muslimin hendaknya berupaya mencintai Nabinya dengan setulus hati, mempelajari riwayat hidup, perjuangan dan pembelaan bagi umatnya dan selalu mengingatnya dengan membaca shalawat kepadanya. Beruntunglah mereka yang merasakan kehadiran Nabi dan bahkan dianugerahi Allah SWT bermimpi bertemu beliau yang kemudian menjadikannya dan merasa Nabi terus hidup bersamanya.

3.Akhlaq terhadap diri sendiri
a). Menunaikan hak-hak pribadi
Seorang manusia mempunyai hak atas dirinya, ia harus memperlakukan dirinya secara adil untuk keperluannya sehari-hari dan untuk masa depan. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, kedua elemen ini mempunyai hak yang sama untuk diperhatikan secara seksama dan dipenuhi haknya. Jasmani mempunyai hak untuk bergerak dan bekerja dan pada saat yang sama juga mempunyai hak untuk beristirahat. Mata punya hak untuk melihat, dan juga punya hak untuk tidur. Sementara itu elemen rohani dalam diri manusia mempunyai hak untuk dididik, diberi pencerahan, diperhatikan untuk peningkatan kualitasnya, bukan hanya keperluan sandang, pangan dan papan yang ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.
Diri pribadi mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, baik jasmani maupun rohani, hal ini penting karena rasa tanggungjawab pribadi kepada  diri sendiri sebagai individu, keluarga, sosial dan terlebih  kepada Allah SWT, firman Nya dalam surat al-Tahrim 66: 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
b). Menunaikan kewajiban sebagai pribadi
Sebagai pribadi manusia wajib menjaga keselamatan dirinya, baik jasmani maupun rohani, wajib memelihara keduanya secara seimbang dan memperlakukannya secara adil. Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental spiritual adalah mutlak. Bagi manusia yang mengabaikan pemenuhan kebutuhan spiritualnya dan hanya memikirkan dan memuaskan kebutuhan jasmaniyahnya berarti ia tidak adil dan tidak menunaikan kewajibannya sebagai pribadi secara sempurna.
Dalam Islam setiap pribadi yang menjalankan kewajiban maka akan mendapat pahala, dan tiap individu yang berbuat kemunkaran akan mendapat balasannya, firman Allah dalam surat al-Mu’min 40    : 40:
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.
Dalam Islam setiap amal siapapun dia, sekecil apapun amal tersebut, setiap individu nanti akan melihat balasannya, perhatikan firman Allah dalam surat al-Zalzalah 99 : 7-8 yaitu:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

4.Akhlaq terhadap sesama manusia
a). Akhlaq terhadap orang tua
Orang tua secara biologis adalah merupakan cikal bakal munculnya anak cucu. Orang tua mempunyai posisi yang tinggi dalam agama Islam. Dalam ayat Qur’an surat al-Isra’ 17: 23 diterangkan secara khusus tentang adab atau akhlak anak terhadap orang tua
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia .
Dan anak dianjurkan untuk selalu merendahkan diri kepada kedua orang tuanya dengan kasih sayang serta mendoakan keduanya sebagaimana disebut dalam surat al-Isra’ 17: 24:: 
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Di dalam al-Qur’an juga dijelaskan kisah Lukman yang memberi nasihat kepada anaknya, lihat surat Luqman 31: 13 yang berbunyi:
dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan masih banyak nasihat Luqman lainnya terhadap putreranya,selain itu terutama ibu telah mengalami banyak kesulitan ketika mengandung dan masa menyusui, maka wajar Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya dan berterimakasih kepada kedua orang tua (surat Luqman 31:14).
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Hubungan anak dan orang tua sekalipun terpisah secara fisik karena kematian namun tidak terputus secara batin, karena sabda Nabi saw bahwa “…do’a anak yang sholih untuk kedua orang tuanya yang sudah wafat, tidak terputus.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)
Kualitas hubungan anak dengan orang tua adalah juga sebagai salah satu persyaratan anak mendapatkan keridhoan Allah SWT, dan juga menjadi salah satu sebab mendapatkan kemurkaan Allah. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: “ridhAllah fi ridhal walidain wa sakhatullah fi sukhtil walidain.”  Keridhoan Allah terletak pada keridloan kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua.
b). Akhlaq terhadap guru
Akhlaq terhadap guru dalam ajaran Islam mempunyai posisi yang khas. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim banyak dijelaskan tentang hubungan murid dan guru. Keberkahan ilmu yang diperoleh murid antara lain juga karena hubungan yang baik dan serasi yang dijalin oleh murid terhadap gurunya. Sikap menghormati dan menyayangi guru, menuruti nasihatnya dan membuatnya gembira dan bahagia dengan prestasi belajar yang tinggi akan lebih menghasilkan prestasi yang gemilang dan keberkahan, bukan hanya di dunia bahkan sampai ke alam akhirat, karena jika orang tua adalah sebagai penunjang kehidupan jasmani anak dengan sandang, pangan dan papan, sementara guru adalah penunjang kehidupan rohani dan budi pekerti anak.
Guru adalah digugu (dipercaya) dan ditiru, dalam al-Qur’an surat al-Kahf dikisahkan tentang bergurunya Nabi Musa dengan Nabi Khidr as.
c). Akhlaq terhadap tetangga
Islam mengajarkan supaya manusia hidup bertetangga secara baik sabda Nabi saw: “Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhiri fal yukrim jarahu.” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah memuliakan tetangganya. Nabi juga menganjurkan apabila seseorang hendak pindah rumah, dianjurkan supaya mengecek dulu siapa yang akan menjadi tetangganya. Tetangga terkadang dapat pula berfungsi sebagai keluarga, karena merekalah yang terlebih dulu mengetahui apabila ada peristiwa yang terjadi kepada seseorang sebelum keluarganya sendiri.
Peran rukun tetangga mejadi penting, karena sebagai alat dan sarana untuk saling kenal dan saling bantu, serta saling kontrol jika ada orang yang tidak dikenal masuk ke wilayah tersebut. Rukun tetangga juga berfungsi untuk pengamanan bagi penduduk dan warga yang tinggal disitu, baik yang menyangkut pengamanan harta, jiwa dan raga masyarakat. Tentang tetangga sejauh 40 rumah dari rumah seseorang masih digolongkan tetangga, bahkan Nabi menganjurkan jika memasak dan mungkin tercium aroma masakan tersebut maka hendaklah berbagi dengan tetangga.
Islam menekankan kepada orang-orang mukmin agar bersikap simpatik terhadap para tetangganya. Ia dituntut untuk menolong, bekerja sama, atau meminjamkan fasilitas kepada mereka tanpa membedakan status sosial, ras, etnis, warna kulit, agama, dan sebagainya. Al-Qur’an menyebutkan:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ…
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibn sabil, dan hamba sahayamu…” (Q.S. an-Nisā 4: 36).

Kewajiban terpenting orang mukmin adalah mengembangkan hubungan yang ramah dan penuh kebersamaan dengan tetangga-tetangganya. Ia harus bersikap santun dan baik terhadap mereka. Karena itu, mengabaikan tetangga yang miskin atau membuat mereka terganggu merupakan sikap yang bertentangan dengan spirit keimanan.
Ibn Abbas r.a. meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak termasuk kaum mukmin orang yang makan dengan sekenyang-kenyangnya, sementara tetangga dekatnya kelaparan” (H.R. Baihaqi). Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Orang yang berbuat tidak baik (misdeed) terhadap tetangganya tidak akan masuk surga” (H.R. Muslim).
Seseorang tidak akan memperoleh jaminan keselamatan hanya karena beribadah dengan khusyu’ hingga ia memperlakukan tetangganya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk membina kedamaian dan persahabatan sejati antar tetangga. Seseorang yang berbuat baik kepada tetangganya berarti meningkatkan derajatnya sendiri di sisi Allah SWT. Ia akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, orang yang sering mengganggu atau menyakiti tetangganya akan dilemparkan ke dalam api neraka.
Abu Hurairah r.a. menuturkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah! ada seorang perempuan yang shalat sunnatnya baik, puasanya baik, dan juga gemar bershadaqah, tetapi ia sering menyakiti tetangga-tetangganya dengan mulutnya.” Rasul menjawab: “Ia akan masuk neraka.” Orang itu melanjutkan: “Ada seorang perempuan dipandang puasa sunatnya kurang baik, shalatnya kurang baik, dan jarang bershadaqah, tetapi ia suka mendermakan sisa-sisa makanannya dan ia tidak menyakiti tetangga-tetangganya dengan mulutnya. Rasul bersabda: “Ia akan masuk surga” (H.R. Ahmad).
Seorang Muslim yang baik jangan cekcok dengan tetangganya hanya karena hal-hal sepele. Ia harus bersikap toleran sekalipun tetangganya itu bersalah. Jika ia merampas hak-hak tetangganya, maka ia akan memperoleh balasan dari Allah SWT. di hari pembalasan kelak.
Uqbah ibn Amir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Percekcokan pertama yang akan terjadi di hari pembalasan kelak adalah percekcokan antara dua tetangga” (H.R. Ahmad).
seyogyanya gemar memberi sesuatu kepada tetangganya. Ia jangan sampai tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Seorang Muslimah sejati sebaiknya mengirimkan sedikit makanan sebagai kado kepada Seseorang tetangganya, sekalipun kado itu kurang berarti. Sementara itu, tetangga yang diberi kado itu harus menerimanya dengan mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus terhadap kebaikan tersebut. Ia jangan sekali-kali menghina atau mengkritik pemberian itu.
Menurut sebuah hadits, Nabi Muhammad pernah menyuruh Abu Dzarr untuk menyiapkan dan membuat sup untuk tetangganya. Abu Dzarr r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Abu Dzarr, pada saat kamu menyiapkan sup daging, perbanyaklah airnya dan berikanlah (sebagai kado) kepada tetanggamu” (H.R. Muslim).
Dalam kesempatan berbeda, Nabi Muhammad saw. juga bersabda:
“Orang yang tidak mempunyai perasaan bukan orang Muslim, yaitu orang makan dengan mewah, sementara tetangga di sampingnya tidak memiliki sekerat dagingpun ( kelaparan)”
Karena sangat tingginya perhatian Rasulullah agar orang mukmin berbuat baik kepada tetangganya, beliau menegaskan bahwa:
“Demi Allah, dia tidak termasuk orang Islam; demi Allah, dia bukan orang mukmin; demi Allah, dia tidak memiliki keimanan. ‘Siapa (orang tersebut) wahai Rasul?’, tanya sahabat. Rasulullah saw. menjawab: ‘orang yang malang, di mana karena kejahatannya para tetangganya menjadi tidak tenteram’” (H.R. Muslim).
 

d). Akhlaq terhadap tamu
Islam mengajarkan etika bertamu. Beberapa ayat al-Qur’an berbicara khusus tentang tamu sesuai dengan masing-masing konteksnya. Ada sebuah hadits Nabi Muhammad saw tentang menghormati tamu, Nabi bersabda: “man kana yu’minu billahi wal yawmil akhiri falyukrim dlaifahu.” Berikut ini ayat-ayat Qur’an terkait dengan tamu (Surat Kahf 18: 77).
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
Ayat ini mengisahkan tentang penduduk negeri yang kurang ramah, yang enggan menjamu tamunya, enggan menjadikan mereka (Musa dan Khidr) sebagai tamu. Dan dalam Al-Hijr   15: 51.
Dan Kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim
Ibn ‘Asyur meMahami dari ayat ini untuk mengabarkan tentang tamu-tamu Ibrahim setelah sebelumnya telah diperintahkan mengabarkan tentang rahmat dan siksa Ilahi sebagai salah satu bukti bahwa apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. itu merupakan rahmat Allah yang melimpah kepada hamba-hamba;Nya yang taat.
Dapat juga dikatakan bahwa setelah memerintahkan untuk menyampaikan salah satu hakikat yang sangat penting menyangkut sifat-sifat Allah SWT., kini Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyampaikan hakikat penting lainnya menyangkut Nabi Ibrahim as., Bapak para Nabi, serta Pengumandang Tauhid, serta tokoh yang sangat dihormati oleh kaum musyrikin Mekah, bahkan juga oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Berita yang disampaikan tentang Nabi Ibrahim as. itu berkaitan dengan sikap kaum musyrikin yang demikian berani menuntut turunnya malaikat. Di sini dinyatakan: Dan kabarkan juga kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim, yakni para malaikat yang datang dalam bentuk para tamu. Ketika mereka masuk ke tempatnya, yakni ke rumahnya, maka pada saat masuk itu mereka mengucapkan,”Salam”. Ibrahim berkata – setelah menjawab salam tamu-tamunya itu – yakni berkata dengan bahasa lisan atau menampilkan sikap yang menyatakan bahwa:”Sesungguhnya kami, yakni aku bersama istriku merasa takut kepada kamu.” Selanjutnya lihat Al-Hijr 15: 68.
Luth berkata: "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; Maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku),”
Kata dlaifi tamu tamu menggunakan bentuk mashdar/kata jadian. Karena itu, ia dapat berarti tunggal dapat juga berarti jamak. Yang dimaksud disini adalah jamak, karena ayat-ayat yang lalu menggunakan bentuk jamak untuk menunjukkan kedatangan para malaikat yang merupakan utusan utusan Allah. Penekanan beliau dengan menyebut kata tamu sambil menunjuk bahwa tamu tamu itu adalah orang-orang yang berkunjung kepadanya, mengisyaratkan bahwa mereka adalah para tamu yang harus dihormati, karena demikianlah seharusnya pelayanan terhadap yang bertamu dan bahwa beliau yang paling bertanggungjawab karena mereka berkunjung untuk menemui beliau. Ucapan Nabi Luth as ini bertujuan membangkitkan dorongan agar kaumnya mengindahkan tatakrama penghormatan kepada tamu. Selanjutkan perhatikan surat Hud 11: 78.
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, Inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"
Al-Dzariyat 24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?
Menurut Quraish Shihab, kata (salam) terambil dari akar kata (salima) yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela.   
Kata (dhaif) berbentuk mashdar. Ia dapat digunakan menunjuk tunggal atau jamak serta mudzakkar (maskulin) atau muannats (feminin). Yang dimaksud disini adalah jamak. Hal tersebut dipahami dari kata (malaikah) yang merupakan jamak dari kata malak. Sementara ulama menyebut mereka yang datang itu berjumlah dua belas, atau sepuluh atau tiga orang malaikat. Namun angka-angka tersebut tidak didukung oleh riwayat yang dapat dipertangungjawabkan. Dalam Perjanjian Lama (Kejadian 18: 2) disebutkan bahwa jumlah mereka tiga orang.
KeraMahan merupakan sebuah kebajikan yang telah ada sejak zaman kegelapan (dark age) bangsa Arab, dan mereka memang terkenal dengan keraMahannya. Sikap yang muncul sebelum lahirnya Islam ini dikagumi oleh Rasulullah saw., dan beliau merumuskan sejumlah peraturan yang harus dijalankan oleh tamu dan tuan rumah.
Abu Huraira r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus memulyakan tamunya; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir jangan sekali-kali menyusahkan tetangganya; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus berkata baik atau diam saja” (Muttafaq Alaih).
Orang yang baik selalu mengekspresikan kebahagiaan dan kesenangan atas kedatangan seorang tamu. Ia menyalaminya dengan “hangat” dan menahan diri supaya tidak menunjukkan sikap “dingin”. Ia harus bersikap ramah, luhur, dan murah hati kepada tamunya. Ia sebaiknya bersedia untuk memeluknya dan menanyakan bagaimana keadaan keluarganya.
Sesaat setelah tamunya masuk, sebagai orang Muslim yang baik ia harus menawarkan minuman atau makanan yang diinginkan sang tamu dengan hati-hati, sehingga ia menerima tawaran tersebut. Tuan rumah kemudian menyiapkan makan dan juga tempat istirahat untuk tamunya. Tuan rumah sebaiknya tidak memasrahkan kepada anak atau pembantunya untuk menemui tamunya. Ia sendiri yang harus menemui tamunya sebagaimana dipraktikan oleh Rasulullah saw. ketika ia kedatangan tamu. Ia sebaiknya menyuguhi tamunya dengan hidangan yang enak dan lezat. Ia sebaiknya ikut makan bersama dengan tamunya dalam satu meja, sebab rahmat Allah terhampar dalam makan bersama tersebut.
Umar ibn Khattab r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah, sebab rahmat Allah ada dalam kebersamaan” (H.R. Ibn Majah).
Tuan rumah jangan sampai menunjukkan sikap pelit ketika menjamu tamunya. Tamu itu harus dianggap sebagai sumber rahmat, bukan sebagai beban. Kunjungannya menambah bekal, kemuliaan, dan kehormatan bagi tuan rumah. Tuan rumah juga harus melayaninya secara antusias, sebab ia memiliki hak untuk dijamu dengan baik hingga tiga hari. Ia sebaiknya menyusun rencana yang menarik untuk melayani tamunya, terutama pada hari pertama kedatangannya.
Abu Shuraih al-Ka`bi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapapun yang meyakini Allah dan hari akhir akan memuliakan dan melayani tamunya. Kesulitannya hanya sehari semalam, dan jamuannya adalah selama tiga hari. Sesuatu yang ada di balik itu semua adalah amal perbuatan. Ia tidak diperkenakan untuk duduk terlalu dekat dengan tamunya sehingga membuatnya merasa tidak nyaman” (Muttafaq Alaih).
Tuan rumah yang baik memperlihatkan dirinya sendiri dengan sikap  yang tidak kikir namun tidak foya-foya pada saat menjamu tamunya, sebab sikap semacam itu bertentangan dengan ajaran Islam. Tuan rumah tidak boleh menjamu tamunya dengan makanan atau minuman yang dilarang agama. Ketika sedang makan, tuan rumah tidak diperkenankan berhenti terlebih dahulu sebelum tamunya merasa kenyang dan tidak mampu untuk makan lagi.
Ibn Umar r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika meja dihamparkan, tidak ada seorang pun yang boleh berdiri hingga tutup makanannya dibuka, dan juga tidak boleh ada yang angkat tangan (baca: berhenti makan) sekalipun ia sudah merasa sangat kenyang hingga orang lain selesai; dan jika ia terpaksa melakukannya, maka ia harus minta izin, sebab (jika tidak izin) hal itu akan memalukan teman-temannya yang lain. Mereka bisa jadi berhenti makan, padahal ia sebetulnya masih ingin makan” (H.R. Ibn Majah).
Sehabis makan, tuan rumah harus mempersilahkan dan mengantarkan tamunya untuk cuci tangan, sedangkan ia sendiri baru boleh cuci tangan setelah yang lain selesai. Tuan rumah juga memiliki tanggungjawab moral untuk memberi kenyamanan bagi tamunya. Ia harus berusaha keras untuk menyenangkan tamunya. Meski demikian, ia sebaiknya tidak mengganggu tamunya dengan menamaninya sepanjang waktu. Sebaliknya, ia harus memberinya kesempatan untuk istirahat. Di pihak lain, tamu sebaiknya jangan terlambat bangun tidur akibat ngobrol sesuatu yang tidak penting. Sebelum pulang, ia harus mohon pamit terhadap tuan rumah, dan ia sebaiknya mengantar tamunya hingga ke pintu gerbang. Tuan rumah sepatutnya mengucapkan salam perpisahan di pintu gerbang itu dengan senyuman.
Abu Hurairah r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Termasuk perbuatan sunnah bagi tuan rumah untuk menemani tamunya hingga ke pintu gerbang rumahnya” (H.R. Ibn Majah).
Seseorang berkesempatan untuk bertandang ke rumah seseorang (baca: bertamu), ia sebaiknya membawa sesuatu sebagai oleh-oleh untuk anak-anak tuan rumah. Hal itu akan menambah rasa sayang antara tamu dan tuan rumahnya. Penting juga untuk diperhatikan bahwa tuan rumah tidak diperkanankan menjamu tamunya lebih dari tiga hari, sebab hal itu berdampak terhadap sektor perekonomian rumah tangga. Pihak tamu bisa tinggal dalam waktu yang relatif lama hanya dalam situasi dan kondisi yang sangat terpaksa atau pihak tuan rumah “memaksanya” untuk tinggal lebih lama lagi. Dalam konteks semacam itu, tamu harus merasa senang dengan permintaan tuan rumah dalam rangka menyenangkannya. Jika tamu tersebut tidak kenal dengan keluarga perempuan tuan rumah, ia tidak diperkenankan menyinggung privasinya. Ia juga harus mendoakan tuan rumah agar Allah memberkatinya dengan ampunan, rizki, yang berlimpah, dan derajat tinggi.
e). Akhlaq terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda
Adat bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah.KeramahtaMahan ditunjukkan antara lain dengan memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Sesungguhnya sikap yang demikian adalah sesuai dengan akhlak atau budi pekerti yang diajarkan Islam.
Hadits Nabi saw berbunyi:  laysa minna man lam yarham shaghirana wa lam yuwaqir haqqa kabirana.  Artinya: “Tidaklah sempurna menjadi ummat kami mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menunaikan hak/menghormati yang lebih tua.”
f). Akhlaq terhadap teman sebaya/sejawat
Berprilaku baik terhadap teman sebaya/sejawat adalah sangat penting, karena banyak hal yang tak dapat dikomunikasikan dengn orang tua, biasanya dapat dengan mudah didiskusikan dengan teman sebaya. Perasaan senasib sepenanggungan karena usia yang relatif sama akan memperlancar komunikasi dan melakukan curhat, oleh karena itu mempunyai akhlaq yang baik terhadap teman sebaya adalah mutlak diperlukan. Rasa saling percaya dan menghargai serta berupaya mendiskusikan alternatif solusi dari masalah yang dihadapi akan sangat menolong dan menimbulkan rasa percaya diri.
Kaum Muslimin dengan sesamanya adalah bersaudara dan menurut hadits Nabi ibarat satu tubuh yang apabila sakit anggota tubuh tertentu, maka seluruh badan terasa sakit.
Akhlaq dalam pergaulan harus memperhatikan apa yang diterangkan dalam al-Hujurat 49: 11:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri  dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Dalam sebuah hadits Nabi saw dijelaskan bahwa: “Hak  seorang Muslim terhadap sesama Muslim  ada enam, apabila berjumpa hendaklah ucapkan salam, jika mengundang penuhilah, jika minta nasihat nasihatilah, jika bersin dan membaca hamdalah maka jawablah, jika sakit ziarahilah, dan jika ia mati antarkanlah ke kuburnya (H.R. Muslim).

5.Akhlaq terhadap lingkungan
a). Akhlaq terhadap flora
Flora diciptakan Allah SWT untuk kepentingan dan kemanfaatan yang banyak bagi manusia, walaupun begitu manusia tak boleh memperlakukan flora yang ada dengan semena-mena. Existensi tetumbuhan dan pepohonan disebut dalam al-Qur’an, oleh karena itu akhlaq terhadap ciptaan Allah yang satu ini harus mendapat perhatian yang seksama. Di dalam al-Qur’an banyak ditemukan kata atau istilah yang terkait dengan tumbuh-tumbuhan termasuk bagian-bagiannya seperti akar, dahan, batang, ranting, jenis biji-bijian, sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Menurut Jamaluddin Husein Mahran, penyebuta ini terdapat dalam 112 ayat yang tersebar pada 47 surah, dan terdapat 16 jenis tumbuhan disebut secara tegas dalam al-Qur’an.
Menurut Sayyed Abdul Sattar al-Miliji, ayat-ayat yang berbicara tentang tumbuh-tumbuhan dari berbagai aspeknya berjumlah 115. Para ulama telah banyak melakukan penelitian sehingga mengetahui bahwa manfaat tumbuhan untuk pengobatan adalah sangat besar. Ayat-ayat tentang tumbuhan tidak hanya disebut dalam konteks menjelaskan berbagai nikmat Allah yang harus disyukuri, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan kekuasaanNya untuk membangkitkan manusia kembali setelah mati, atau menghidupkan sesuatu dari yang mati dan sebaliknya.
Melalui banyak ayat tentang tumbuhan al-Qur’an mengajak nalar dan hati manusia untuk mengakui keesaan dan kekuasaan Allah, firman Allah surat al-An’am 6: 99 
dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
Beberapa manfaat tumbuhan antara lain:
• Tumbuhan sebagai sumber makanan (Q.S. ‘Abasa 24:32)
• Tumbuhan sebagai obat-obatan (Q.S. Al-Nahl 68-69)
• Tumbuhan sebagai penghasil oksigen
• Tumbuhan dan Pohon-pohon sebagai peresap air dan keseimbangan alam (Q.S. Al-Mu’minun 23: 18-19).
Jelaslah dalam agama Islam bahwa bumi dan seisinya adalah amanat yang dititipkan kepada manusia untuk dipelihara dan dijaga (Q.S. Al-Ahzab 33: 72). Tumbuhan mempunyai hak yang menjadi kewajiban dan sebagai bagian dari akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan antara lain: harus memelihara dan menjaganya, tumbuhan untuk dinikmati keindahannya, harus memberikan lingkungan yang bersih, mengeluarkan zakatnya, dan bertoleransi jika dimakan burung atau manusia (harus diniatkan sedekah), sebagaimana petunjuk dalam hadits Nabi.
b). Akhlaq terhadap fauna
Fauna adalah juga makhluk ciptaan Allah,. Secara garis besar jenis makhluk Allah yang dijelaskan dalam al-Qur’an ada enam macam: benda mati, tumbuhan, binatang, malaikat, jin dan manusia. .Masing-masing makhluk tersebut memiliki peran dan fungsi dalam eksistensinya.
Diantara wawasan al-Qur’an tentang eksistensi binatang adalah:
- Sebagai kekuasaan Allah (al-Jatsiyah 45: 4);
- Binatang adalah bagian ummat seperti manusia (Al-An’am 6: 38);
- Seperti hal nya manusia, binatang juga mendapat rezeki (Hud: 11: 6);
- Binatangpun bertasbih memuji Allah (Al-Nur 24: 41);
- Binatang sebagai bagian dari kesenangan dunia (Ali ‘Imran 3: 14);
- Binatang sebagai perumpamaan yang buruk bagi manusia (yang lalai dari petunjuk Allah) lihat  Al-A’raf 7: 179);
- Binatang yang dikaitkan dengan halal untuk dikonsumsi (Al-Ma’idah 5:1);
- Binatang untuk berkurban (Al-Hajj 22: 34)
- Dilarang berburu binatang dan membunuhnya ketika sedang berhaji (al-Maidah 5: 1)
Ada beberapa jenis binatang yang disebut secara eksplisit dalam al-Qur’an dengan berbagai alasan dan argumen misalnya:
- Unta, dengan profil hewan yang menakjubkan  (al-Ghasyiyah 88: 17) dan sebagai alat transportasi (al-Nahl 16: 6-7),
- Sapi, kisah terkait dengan Nabi Musa dan seorang bani Israil yang terbunuh (al-Baqarah 2:67-73),
- Anjing, diantara pemuda ashabul kahfi (al-kahf 18:18),
- Babi, haram dimakan dan berprilaku buruk  (al-Maidah 5: 60),
- Keledai,  mempunyai suara yang buruk dan symbol kebodohan (Luqman 31: 19 dan al-Jumu’ah 62: 5), dan aspek positif keledai sebagi tunggangan selain bighal dan kuda (al-Nahl 16: 8),
- Semut, memiliki system kehidupan sosial yang canggih (al-Naml 27: 18).
- Lalat, sebagai perumpamaan terhadap sesembahan orang musyrik (al-Hajj 22: 73-74),
- Nyamuk, sebagai perumpamaan yang dengannya orang dapat petunjuk atau sebaliknya (al-Baqarah 2:26), dan
- Laba-laba, rumah yang rapuh, perumpamaan orang yang mengambil pelindung selain Allah (al-Ankabut 29: 41).
Bahkan al-Qur’an membuat pengelompokan binatang berdasarkan cara mereka bergerak dan berjalan (Al-Nur 24: 45)
dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sesungguhnyalah dengan keaneka ragaman binatang diciptakan Allah SWT untuk diambil manfaatnya oleh manusia dan juga sebagai keseimbangan dengan makhluk lainnya, maka manusia harus yakin tiada yang sia-sia apa yang diciptakan Allah baik untuk dimakan, dipakai tenaganya atau dilarang memakannya sehingga menghantarkan manusia untuk hidup berdampingan secara baik dan melestarikannya, karena seandainya ada yang tidak berguna untuk manusia namun di sisi lain mereka berguna untuk makhluk Tuhan yang lainnya.   
c). Akhlaq terhadap alam
Pandangan saat ini memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan manusia terhadap lingkungan hidupnya /alam bergantung pada apa yang mereka fikirkan tentang diri mereka sendiri. Sementara pada sisi yang sama manusia diciptakan sebagai bagian kecil dari makhluk hidup yang tinggal di bumi, beraktifitas dan berinteraksi dengan lingkungannya pada masa dan waktu yang terbatas.
Alam dengan segala isinya diciptakan Allah SWT untuk keperluan manusia, manusia dapat memanfaatkan alam untuk keperluan hidupnya. Namun demikian manusia harus tetap mempunyai tata krama dan tata kelola yang baik terhadap alam. Exploitasi terhadap alam yang melampaui batas hanya akan menimbulkan kerusakan di muka bumi, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-A’raf 7:  56 
dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik
telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Banyak hal yang dapat masuk dalam kategori alam, antara lain air, hutan,  gunung, laut, udara dan sebagainya. Air untuk kehidupan semua makhluk, supaya tidak diexploitasi untuk kepentingan investasi pemodal. Hutan juga untuk kehidupan, kehidupan manusia, kehidupan hewan dan tumbuhan juga. Manusia adalah bagian dari alam dan bagian dari lingkungan, dan adalah wajib bagi manusia secara gotong royong dan bersama-sama memperbaiki dan melestarikan lingkungan dan mewujudkan lingkungan yang sehat dan aman.

6.Akhlaq terhadap kehidupan
a). Etika sosial dan budaya
Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak dapat hidup dan berdiri sendiri, ia memerlukan bantuan orang lain, oleh karena itu dalam kehidupan sosial manusia harus berinteraksi sesamanya secara baik dan saling memberi manfaat. Bukan hanya jalinan dan komunikasi yang baik tercipta antar individu, melainkan juga etika dan tata karma berlaku antar suku bangsa dan antar bangsa supaya saling mengenal dan kerjasama, Firman Allah dalam surat al-Hujurat 49 : 13:
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Selain itu sekalipun lain bangsa dan lain budaya, pembinaan saling pengertian antar budaya melalui dialog, hubungan diplomatik dan kerjasama nasional, regional dan internasional mutlak diperlukan. Upaya saling menolong dalam kebaikan sangat dianjurkan dalam Islam, bukan saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, sebagaimana firman Allah surat al-Maidah 5: 2
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Adat istiadat daerah tertentu dan kearifan lokal harus dihormati, karena hanya dengan demikianlah kehidupan sosial masyarakat akan aman dan terpelihara.
b). Etika politik
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa manusia adalah makhluk sosial, tak dapat hidup sendiri. Kesenangan manusia dapat dicapai hanya dalam hidup bermasyarakat dan semua bekerja samauntuk kepentingan bersama. Teori politik dalam Islam berkaitan dengan filsafat kemabian. Nabi dan Rasul mendapatkan pengetahuan dari Tuhan mereka. Nabi dan Rasul diberi daya imaginasi yang begitu kuat yang dengannya dapat melepaskan diri dari pengaruh pengaruh panca indra dan tuntutan badan, sehingga ia dapat memusatkan perhatian dan mengadakan hubungan dengan Akal Kesepuluh (malaikat). Filsafat ini dikemukakan oleh Al-Farabi untuk menentang mereka yang tak percaya kepada Nabi atau Rasul ataupun wahyu.  
Di dalam kitabnya Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Al-Farabi menjelaskan bahwa model kota sebagaimana badan manusia mempunyai bagian bagian yang satu dengan yang lain rapat hubungannya dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang harus dijalankan untuk kepentingan keseluruhan badan. Dalam kota (masyarakat) kepada masing-masing anggota masyarakat harus diberikan tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Pekerjaan yang terpenting dalam masyarakat adalah pekerjaan sebagai pimpinan masyarakat (tokoh politik), yang dalam tubuh manusia serupa dengan pekerjaan akal. Kepala merupakan sumber dari segala peraturan dan keharmonisan dalam masyarakat.. Ia mesti bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta pada ilmu pengetahuan dan pada keadilan. Sebaik-baiknya kepala adalah Nabi atau Rasul. Kepala seperti inilah yang dapat membuat peraturan peraturan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat, sehingga masyarakat menjadi makmur dan baik dan di dalamnya anggota masyarakat dapat memperoleh kesenangan.
Tugas kepala Negara, bukan hanya mengatur Negara, tetapi mendidik manusia mempunyai akhlak yang baik. Kalau sifat-sifat yang dekat meyerupai sifat sifat Nabi atau Rasul tak terdapat dalam diri satu orang, tetapi dalam diri beberapa orang, maka negara diserahkan kepemimpinannya kepada mereka karena kualifikasi tersebut.
Disampin al-Madinah al-Fadhilah dengan situasi dan etika politik pimpinannya seperti disebutkan diatas, ada pula al-Madinah al Jahilah yang anggota-anggotanya bertujuan hanya mencarii kesenangan jasmani.
Perbedaan pendapat antar manusia adalah sesuatu yang wajar, Islam memandang sebagai suatu rahmah (ikhtilafu ummati rahmah). Aspirasi politik boleh berbeda namun cinta damai dan cinta tanah air adalah merupakan sesuatu yang mulia. Terlebih bagi pimpinan, sedangkan tjap-tiap individu saja dalam Islam adalah sebagai pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya baik di dunia maupun di hadapan Allah SWT Hadits Nabi saw: kullukum ra’in wa kullu ra’in mas’ulun ‘an ra’iyyatihi…
Politik dalam Islam tidak identik dengan kotor, sebagaimana yang diasumsikan sebagian orang dan dipraktekkan oleh orang yang tidak meMahami konsep politik dan etika politik dalam perspektif Islam.
c). Etika ekonomi
Tentang ekonomi, Islam mengatur cukup jelas. Islam mengatur agar ekonomi tidak hanya beredar di kalangan orang kaya. Perlakuan terhadap harta dalam Islam diatur secara seksama, bukan hanya menyangkut distribusi harta tetapi bagaimana harta diperoleh. Ekonomi dalam Islam sangat penting bukan hanya secara kuantitas terlebih yang menyangkut kualitas, apakah halal atau haram
Etika ekonomi kaum Muslimin jelas, yaitu harus diperoleh lewat jalan yang tidak merugikan orang lain, dan ketika didapat harus diperhatikan nishabnya harta tersebut sehingga wajib dikeluarkan zakatnya. Mereka yang kebetulan kurang beruntung dan memerlukan bantuan, termasuk mustahiq, adalah terkena tata kelola ekonomi dalam Islam. Selain zakat, orang kaya sangat dianjurkan untuk bersedekah, beramal jariah dan sejumlah kegiatan lain terkait penyadaran tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Bagi mereka yang berhak menerima zakat (mustahiq) diterangkan Allah dalam surat al-Taubah 9: 60
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana .
Di sisi lain Islam melarang pemborosan, firman Allah surat al-Isra’ 17: 26-27.
dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Dalam Islam kekayaan atau ekonomi yang dimiliki hendaklah yang mendatangkan/memiliki keberkahan. Yang dimaksud dengan keberkahan yaitu tsubut al-khayr ila fi al-syay’ artinya Allah menetapkan sesuatu kebaikan di dalam sesuatu (yang telah ditentukan Allah).   Jadi ketentuan kebaikan itu (al-khayr/alsa’adah, al-ziyadah) mempunyai makna tunggal yang adalah kepunyaan Allah pada tiap-tiap tempat tersebut Pada mulanya seseorang tidak punya apa-apa lalu Allah letakkan barakahnya maka orang itu menjadi mulya. Jika dalam harta terdapat barakah maka harta itu baik, manfaat dan mencukupi bahkan nilai kualitas maknanya melebihi nilai kuantitasnya. “Keberkahan ilahi datang dari arah yang sering kali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indera dinamai barakah.”
Mengenai keberkahan dalam rezeki, Rasulullah saw pernah berdo’a: “Allahuma ighfirli dzanbi wa wassi’ li fi dari wa barik li fi rizqi", ya Allah ampunilah dosaku, lapangkan bagiku di rumahku dan berkahilah aku dalam rezekiku. Beliaupun ditanya, “sering sekali engkau berdo’a dengan do’a ini ya Rasulullah?” Beliau berkata, “memangnya kau sudah tidak membutuhkannya?”
f). Etika hukum
Dalam Islam hukum adalah panglima, segala sesuatu ada hukumnya, dan perlakuan atas semua manusia sama di hadapan hukum olrh karena itu, manusia harus mengetahui apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya. Pelanggaran terhadap hak manusia maka ia melanggar hukum dan ada sangsi hukumnya.
Seorang Muslim harus mematuhi setiap hokum yang dibuat Allah SWT, ia tidak boleh memutar balikkan hokum, ia tidak boleh mencampur adukkan hukum yang telah ditentukan, firman Allah dalam surat al-Baqarah 2: 42:
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu,   sedang kamu mengetahui.
Kepatuhan manusia terhadap hukum Tuhan adalah mutlak, sebagai konsekuensi logis statusnya sebagai hamba Allah, seorang sahaya yang sudah seharusnya  bertatakrama yang baik terhadap Tuhannya, karena bagaimanapun Tuhan tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya, baik berkaitan dengan perintah ataupun laranganNya, lihat al-Baqarah 2: 286:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
Hukum harus diterapkan dan ditegakkan walaupun terkadang pahit, dalam hadits Nabi disebut qulilhaqqa walaw kana murran.
Dalam hadits lainnya beliau bersabda sesungguhnya yang halal jelas dan yang haram juga jelas…innal halala bayyinun wa innal harama bayyinun… Islam sangat tegas dalam kaitannya dengan hukum, tidak sama antara keburukan dan kebaikan, halal dan haram, taat dan ma’shiyat dst. Allah berfirman dalam Al-Ma’idah 5 : 100:
Katakanlah: "tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."

Manusia juga diiberikan hak untuk memilih, bahkan Allah Maha kasih kepada manusia, diturunkanNya Nabi dan kitab suci serta diberikannya akal agar manusia memilih yang tepat yaitu kebaikan, lihat al-Syams 91: 7-10:

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
g). Etika pertahanan dan keamanan
Pertahanan dan keamanan suatu negara adalah mutlak diwujudkan, dan setiap warganegara harus dapat menjadi warga negara yang baik. Setiap warga Negara baik secara perorangan maupun bersama-sama mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan pertahanan negaranya, dimulai dari kesadaran mempertahankan pertahanan diri dan keluarga serta lingkungannya hingga terhadap negaranya.
Kaum Muslimin harus dapat menunaikan kewajibannya untuk melakukan kegiatan terkait upaya-upaya pertahanan dan keamanan. Apabila ia sebagai penguasa, dengan kekuasaannya ia harus dapat mencegah kemungkaran, atau jika ia tidak berkuasa, ia dapat melakukannya dengan lidahnya, atau setidak-tidaknya ia melalui hatinya tidak menyukai kemunkaran tersebut. Karena dengan mencegah dan menangani kemunkaran pertahanan dan keamanan Negara dapat terpelihara.
Hadits Nabi saw: “man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu bi yadihi fain lam yastathi’ fabi lisanihi, fain lam yastathi’ fa bi qalbihi fadzalika adh’af al-iman.,” artinya: Barangsiapa diantaramu melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya (kekuasaannya), jika ia tak mampu maka lakukanlah dengan lidahnya, jika ia tak mampu maka lakukanlah dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.
Untuk etika pertahanan dan keamanan, seluruh unsur dalam satu Negara harus saling menolong dan saling melengkapi, karena ini menyangkut kepentingan dan kemaslahatan bersama.
Kaum Muslimin juga harus mendoakan tanah airnya supaya aman dan damai seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, lihat surat Ibrahim 14: 35.
dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

 
Latihan:
1.Jelaskan pentingnya memahami sifat-sifat wajib bagi Allah SWT dalam kehidupan kita sehari-hari!
2.Bagaimanakah cara meneladani sifat wajib bagi Rasul?
3.Jelaskan manifestasi 4 macam diantara asma alhusna  bagi berikut ini dalam kaitanya dengan tugas kita sehari-hari. (al wahhab, al qayyum, al hadi, al salam, al khaliq, al ghofar, al shabur, al adl)
4.Jelaskan ciri ibadah yang baik dan benar disertai contoh-contohnya nya!
5.Mengapa kita perlu memahami hikmah ibadah mahdhah (shalat, zakat, puasa, haji) yang kita laksanakan?
6.Jelaskan hak-hak  Allah dan terangkan bagaimana seorang hamba menunaikan hakNya.!
7.Jelaskan hak-hak rasul dan terangkan bagaimana seorang umat menunaikan hak rasul !
8.Sebutkan dalil naqli yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw adalah contoh teladan yang baik!
9.Apakah yang dimaksud dengan akhlaq terhadap lingkungan, jelaskan!


POKOK BAHASAN III
NILAI NILAI IMTAQ DALAM PEMBELAJARAN
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, nampak kehidupan duniawi semakin mendapatkan prioritas, padahal kehidupan manusia yang sementara di dunia ini dan nanti akan menuju kea lam akhirat nampak kurang mendapat perhatian yang cukup. Oleh karena itu nilai-nilai iman dan taqwa sangat penting dalam pembelajaran di sekolah untuk mewujudkan perhatian dan kesadaran yang seimbang bagi keberhasilan hidup di dunia dan di akhirat. Adapun nilai-nilai tersebut adalah:

10.Keikhlasan
Ikhlas adalah mengharap keridhoan Allah semata, tidak mengharap balasan dari manusia. Keikhlasan merupakan kunci diterimanya amal, karena ikhlas terdapat di dalam hati. Hadits Nabi saw menyatakan “innamal a’malu binniyyat wa innama likullimriin manawa.” Artinya sesungguhnya setiap amal itu dilakukan dengan niat, dan setiap amal dinilai karena niatnya.” Di dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT keikhlasan adalah faktor utama surat  Al Zumar 39:  2, 3
sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

11.Keadilan
Konsep adil dalam Islam berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya, lawan kata adil adalah dzalim. Keadilan harus ditegakkan apabila ketentraman hidup ingin dicapai, tanpa keadilan manusia akan resah, gelisah dan tidak puas. Setiap manusian pasti ingin diperlakukan secara adil, dan keinginan seperti ini adalah wajar, sehingga nampaknya keadilan ini merupakan ajaran yang bersifat universal dalam konteks kemanusiaan global.
Menurut Qaradhawi, keadilan adalah keseimbangan antara berbagai potensi individu, baik moral ataupun material, antara individu dengan komunitas (masyarakat), antara komunitas dengan komunitas. Keadilan tidak berarti kesamaan secara mutlak karena menyamakan antara dua hal yang berbeda seperti membedakan antara dua hal yang sama. Prinsip keadilan yang ingin dibangun oleh Islam adalah keadilan yang berbasis kesejahteraan sosial. Negara harus memberikan kesempatan kerja dan akses yang sama bagi setiap warganya, baik laki-laki maupun perempuan, miskin ataupun kaya, tidak diskriminatif agar kemakmuran dapat diciptakan. Kemiskinan yang terjadi di suatu Negara adalah antara lain karena struktur masyarakat yang tidak adil, yang diistilahkan dengan kemiskinanan struktural
Orang beriman diperintahkan untuk berlaku adil kepada siapapun karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, firman Allah dalam surat al-Ma’idah 5: 8:
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Yang dimaksud al-qisth adalah al-‘adl, namun sebenarnya kata al-qisth merupakan proses arabisasi untuk menunjukkan arti adil dalam masalah putusan (qadha’) dan hukum.Sementara al-‘adl adalah lebih umum, ia menyangkut banyak hal, sehingga perpindahan term dari term al-qisth menjadi al-‘adl adalah sangat tepat, terlebih ketika menjadi saksi yang terkait dengan putusan dan hukum, dan terkadang rasa kebencian mempengaruhi seseorang untuk berlaku adil.
Islam memerintahkan untuk memvonis atau menjatuhkan  hukum secara adil, lihat surat al-Nahl 16: 90
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Karakter term al-‘adl ini selanjutnya dapat dilihat pada aspek selain hukum antara lain pada masalah poligami (al-Nisa’ 4: 3 dan 129), utang piutang (al-Baqarah 2: 282), penyelesaian konflik (al-Hujurat 49: 9), perceraian atau talak (al-Thalaq 65: 2), pergaulan antar umat beragama (al-Syura 42: 15), dan sebagainya.

12.Kejujuran
Jujur adalah sifat yang baik yaitu termasuk sifat terpuji yang dimiliki para Rasul. Salah satu tanda kejujuran adalah menyampaikankan amanat krpada yang memilikinya, dalam al-Qur’an disebutkan, al-Nisa’ 4:58
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
Kejujuran akan mengantarkan manusia pada kepuasan batin, jauh dari perasaan bersalah. Sebagai contoh  bagi transaksi jual beli sering terjadi praktek yang tidak jujur yakni mengurangi timbangan, lihat surat Muthaffifin 83: 1-3:
kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,  dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
Kejujuran amat penting dalam kehidupan manusia , dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw sepanjang hidupnya.

4.Kesabaran
Sabar adalah satu sifat yang baik, terutama ketika kita menjalani kehidupan di dunia ini, sabar dan shalat dapat menjadi obat penolong. Dalam al-Qur’an Allah SWT menyatakan dalam al-Baqarah 2: 153
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu  Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Allah SWT menerangkan masalah sabar dalam Al-Qur’an tidak kurang dari seratus kali. Semuanya berkaitan dengan perbuatan manusia, antara lain perintah bersabar, memuji kesabaran dan orang-orang sabar, sifat kesabaran serta manfaatnya, dan ancaman bagi orang-orang yang tidak sabar, yang pada dasarnya kedudukan tertinggi akan diperoleh seseorang karena kesabarannya. Adapun beberapa jenis kesabaran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an antara lain, bersabar dalam mengerjakan ibadah (Q/S/ Taha 20:132):
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
Dalam al-Qur’an surat Ma’arij 70: 5 diterangkan bahwa sabar adalah sifat yang baik. 
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.
Dalam kaitannya dengan cobaan yang beragam  yang menimpa manusia antara lain rasa takut, lapar berkurangnya harta, kematian dan sebagainya, orang yang sabar atas musibah akan diberi kabar gembira oleh Allah, lihat Al-Baqarah 2: 155:
dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Dalam hal sabar menghadapi saudara kandung sendiri yang berlaku aniaya, dikisahkan dalam surat Yusuf 12: 18
mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
Dalam konteks tasawuf, pengertian sabar termasuk sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar di dalam menjauhi laranganNya,  dan dalam menerima segala cobaan, sabar menunggu datangnya pertolongan Tuhan bahkan sabar dalam menderita kesabaran serta tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan.

5.Tawakal
Dalam bahasa Arab disebut tawakkul, artinya berserahdiri/pasrah.Dalam pengertian yang lebih luas, seorang Muslim harus bertawakkal kepada Allah yaitu menyerahkan dirinya dan segala persoalannya kepada Allah, karena manusia hanya dapat berusaha dan berikhtiar, namun ketentuan yang berlaku adalah dari Allah.
Ali “Imran 3: 159:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkAllah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Tawakal adalah sifat hamba Allah yang terpuji, karena dengannya manusia dapat menahan dirinya dari rasa sombong, setelah berikhtiar maka tawakal memegang peran yang sangat penting, untuk kemudian manusia bersyukur apabila berhasil dan bersabar apabila belum sukses.
 
6.Ishlah (cinta damai).
Pada dasarnya agama Islam adalah agama yang cinta damai. Mengucapkan salam dalam Islam juga berarti menyebar perdamaian. Salam dalam tasyahud akhir sebagai jawaban Nabi terhadap salamnya Allah kepada beliau, menandakan betapa Nabi saw amat tawadhu, mau berbagi kedamaian dengan orang-orang yang sholeh: “Assalamu’alayna wa ‘ala ‘ibadillahishsholihin.”
Sesama manusia harus digalang cinta damai, karena pada dasarnya mereka adalah satu, hal ini sesuai surat al-Baqarah 2: 213
manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Secara spesifik, demikian juga bagi sesama Muslim, sebagai ummat yang satu, yang semuanya harus menyembah kepada Allah, lihat  al-Anbiya’ 21: 92
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku.
Agama Islam sesungguhnya cinta damai, karena setiap orang beriman adalah bersaudara, lihat surat Al-Hujurat 49: 10
orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Apabila ada peperangan di kalangan orang-orang beriman, solusi diberikan Allah dalam surat al-Hujurat 49: 9:
dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.
Konsep cinta damai dalam Islam bukan hanya dengan fihak di luar diri sendiri, yaitu dengan masyarakat dan dunia, tetapi yang lebih penting adalah merasakan damai pada diri sendiri, orang tak bias dengan orang lain apabila tak merasakan damai dalam dirinya.

h.Iffah (kewaspadaan)
Kewaspadaan amat diperlukan dalam hidup, karena kewaspadaan mengindikasikan kehati-hatian. Dalam konteks tasawuf kewaspadaanmungkin dapat disebut muraqabah, yakni merasa selalu bdalam pengawasan Allah SWT.
Kewaspadaan amat penting, karena dapat mencegah seseorang untuk melakukan yang dilarang agama. Waspada terhadap apa yang ia makan, minum dan pakai, ia mewaspadai dirinya dari hal-hal yang meragukan, yang syubhat, apalagi yang jelas haramnya.
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda: Da’ ma yuribuka ila ma la yuribuk, artinya tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak kamu ragukan”
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
i.Ta’awun (kerjasama)
Firman Allah:  “wa ta’awanu ‘alal birri wattaqwa wala ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan.” Artinya: Dan bertolong-tolongan lah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
firman Allah surat al-Maidah 5: 2
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Orang-orang beriman dan beramal sholeh dan mereka yang saling  menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran adalah orang yang tidak merugi, lihat  al-‘Ashr 103: 3, oleh karenanya saling menasihati ini termasuk dalam kategori saling menolong.
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
j.Tasamuh (toleransi)
Dalam Islam tasamuh/al-samhah atau toleransi sangat dianjurkan. Menurut Ibn ‘Asyur, al-samhah adalah mudah dilakukan secara wajar. Kata tersebut juga mengandung arti melakukan hal-hal yang baik, bersikap adil, dan seimbang (tidak melampaui batas atau bersifat wajar). Oleh karenanya, Islam adalah agama yang didasarkan pada sifat samhah tersebut, seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Baqarah 2: 185
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Walaupun ayat ini mulanya terkait dengan puasa namun menurut al-Razi ayat ini menyangkut keseluruhan syari’at Allah, bahwa ini merupakan rahmat Allah bagi seluruh hambaNya, yakni seluruh syari’atnya ditetapkan dalam konteks al-yusr (mudah) , bukan al-‘usr (sulit). Dalam hal jual beli kemudahan sangat dianjurkan, bagi musafir shalat boleh di jamak dan di qashar dan masih banyak toleransi dan kemudahan serta dispensasi lainnya. Beberapa firman Allah terkait kemudahan dan toleransi dan kemudahan, lihat al-Ma’idah 5: 6
Allah tidak hendak menyulitkan kamu,
Lihat juga al-Hajj 22: 78 yaitu
Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Islam tidak pernah mempersulit manusia untuk melaksanakan aturan aturanNya. Peniadaan kesulitan di sini baik terkait langsung dengan hokum pokok maupun karena sebab-sebab lain, sehingga menjadi sulit, maka Islam mengizinkan untuk mencari yang lebih mudah asalkan tidak haram.
Dalam hadits Nabi saw dijelaskan: Ahabb al-din ila Allah al-hanifiyyah al-samhah artinya agama yang paling dicintai Allah adalah yang condong kepada kebenaran tauhid lagi toleran (mudah dilakukan). H.R. Bukhari. Dan dalam hadits yang lain disebutkan yassir wa la tu’assir (permudahlah jangan mempersulit).
Agama Islam sesuai dengan fitrah manusia oleh karena itu, sikap al-samhah (toleran dan mudah) inilah yang memungkinkan syari’at Islam dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam rangka toleransi terhadap agama lain dan pemeluknya berarti bahwa kaum Muslimin boleh menghormatinya tetapi tidak mengikutinya.
k.Tawazun (moderasi)
Islam sesungguhnya menghendaki ummatnya menjadi ummatan wasatha (ummat yang moderat), tidak ekstrim, tentang hal ini lihat al-Qur’an surat al-Baqarah 2: 143
dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Ummatan wasathan juga  mengandung makna bahwa kaum Muslimin harus dapat mengimbangi antara kepentingan duniawi dan ukhrawi.
k. Hubbul Wathon (Cinta Tanah Air)
Hubbul wathon minal iman  artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman, demikan bunyi sebuah hadits Nabi saw. Hadits ini mengajak kepada seluruh penduduk dari suatu negeri untuk mencintai tanah airnya.  Setiap warga Negara hendaknya mempunyai cita-cita dan keinginan agar negerinya menjadi negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan. Lihat surat Saba’ 34: 15
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".
Nabi Ibrahim sangat cinta kepada tanah airnya dan mendoakan supaya negerinya aman dan penduduknya diberi rezeki oleh Allah, lihat syrat  al-Baqarah 2: 126
dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali".

Penutup
Demikianlah uraian bahan ajar peningkatan imtaq yang sangat perlu untuk terus didiseminasikan dan diterapkan di dalam kehidupan pendidikan nasional kita

Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari uraian diatas adalah pentingnya peMahaman yang komprehensif tentang aqidah, ibadah dan akhlaq. PeMahaman yang terpadu tentang hal tersebut diharapkan dapat meningk.atkan iman dan taqwa.

Saran
Saran yang dapat kami sampaikan adalah contoh teladan implementasi imtaq harus diberikan terlebih dahulu oleh pimpinan, baik pimpinan pada instansi ataupun pimpinan masyarakat.
Latihan (berupa post test dalam bentuk essay)
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas
1.Jelaskan sekurang-kurangnya lima nilai-nilai imtaq dalam pembelajaran yang anda ketahui.


POKOK BAHASAN V
PENGINTEGRASIAN IMTAQ DALAM IPTEK

A.SAINS DAN AL QURAN
Allah telah menstimulus para manusia agar bias melihat dan mempelajari alam dan seisinya karena dari sanalah Allah menunjukan kebesaranNya kepada para makhluknya:
قل انظروا ماذا في السموات والأرض
Artinya: katakalnlah (wahai muhamad) periksalah dengan nadhor apa yang ada dilangit dan dibumi. (QS: Yunus:101)
Agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam di sekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan serta makanan selama hidupnya. Disini digunakan kata memeriksa dengan nadhor atau intidhor karena tindakan melihat bukanlah sekedar untuk melihat dengan pikiran kosong, melainkan dengan perhatian pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan dan makna yang teramti dari gejala-gejala alam tersebut. Hal ini akan tampak lebih jelas jika kita ikuti teguran-teguran Allah dalam ayat 17-20 Surah al-Ghosyiah sebagaimana berikut:
أفلا ينظرون ألى الإبل كيف خلقت - و إلى السماء كيف رفعت – وإلى الجبال كيف نصبت – وإلى الأرض كيف سطحت
Maka apakah mereka tidak melakukan nazhar dan memeperhatikan ota bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia dijinjing, dan gunung-gunung bagaimana mereka ditegakan. Dan bumi bagaimana dibentangkan

Sebenarnya inilah yang dilakukan oleh para pengembang sains pada umumnya; melakukan observasi dengan dengan pernuh perhatian untuk dapat jawaban dari pertanyaan “bagaimana prose situ terjadi?”. Memeriksa alam semesta dapat diartikan membaca ayatollah yang dapat merinci dan menguraikan serta menerangkan ayat-ayat dalam alquran yang merupakan garis besar sebab dalam kitab suci sendiri alam semesta serta proses yang terjdai didalamnya sering dinyatakan sebagai ayat Allah.
Keberhasilan suatu teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk memilih kondisi yang mendorong alam untuk bertindak seperti yang diinginkannya; dan sudah barang tentu tingkah laku alam dikendalikan oleh sunnatullah yang mengatur bagaimana alam harus berkelakuan pada kondisi tersebut, karena ia tidak dapat berbuat lain. Marilah kita perhatikan misalnya yang terdapat dalam ayat 13 surah jatsiah
وسخر لكم ما فى السموات وما فى الأرض جميعا منه, إن فى ذالك لأيات لقوم يتفكرون.
dan Dia menundukan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya (sebagai rahmat) dari adaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Ayat ini menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukan al khaliq bagi umat manusia dengan sains yang diterapkan dengan tekhnologi yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dengan menggunakan pikiranya.
Penalaran tentang “bagaimana” dan “mengapa”, yang menyangkut proses-proses dilangit itu, menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astro-fisika, yang bersama-sama dengan astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Meskipun ilmu pengetahuan kealaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama kita, kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sama dengan yang terdapat dalam al quran. Sebab obor sains telah beralih kepada para cendekiawan non Muslim sejak pertengahan abad ke-XIII sampai selesai dalam abad ke-XVII, sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya, mental dan spiritual yang bukan Islam, yang memiliki nilai-nilai tidak Islami. (Baiquni, 1996:34)

B.HUBUNGAN TIMBAL BALIK IMAN DAN ILMU
Allah memrintahkan kepada semua umat manusia dalam ayat alquran yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhamad agar mereka mau membaca:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang telah diketahuinya” (QS. al ‘Alaq (96): 1-5).
Ayat pertama yang diturunkan ini tidak berbicara tentang apa yang harus dibaca, karena al Qur’an menghendaki manusia membaca apa saja yang ada di dunia sepanjang bacaan tersebut dalam koridor “bismi rabbik” (nama Tuhanmu). Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak tertulis (Shihab, 1996: 433).
Dalam al Qur’an kata “ilmu” disebut 854 kali yang digunakan dalam proses mencapai pengetahuan dan obyek pengetahuan. Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan keistimewaan yang menjadikan manusia unggul bila dibanding dengan makhluk lain karena digunakan modal menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Karena itu Allah memberikan penghargaan yang tinggi bagi orang-orang yang memiliki ilmu (QS. al Fathir (35): 28). Islam mewajibkan setiap umatnya mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dengan konsekuen.
Ilmu pengetahuan (science) dalam peradaban modern mendominasi cara berfikir manusia pada umumnya, penalaran dan logika merupakan komponen terpenting. Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia-rahasia kekuasaanNya. Agar pengetahuan yang dihasilkan mempunyai dasar kebenaran maka proses berfikir itu dilakukan melalui cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika. Pengetahuan (knowledge) juga dapat ditinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan tersebut. Dalam hal wahyu dan intuisi , maka secara implisit dapat diakui bahwa wahyu atau dalam hal ini Tuhan yang menyampaikan wahyu dan intuisi adalah sumber pengetahuan.
Dengan wahyu maka kita mendapatkan pengetahuan melalui keyakinan atau kepercayaan atau keimanan bahwa yang diwahyukan adalah benar. Demikian juga dengan intuisi, dimana kita percaya bahwa intuisi adalah sumber yang benar, meskipun kegiatan berfikir intuitif ini tidak mempunyai logika atau pola fikir tertentu.
Al-Qur’an adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan.( Abuddin Nata, 2005:93) Kandungan al-Qur'an berisi dasar-dasar segala ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum termasuk sains baik fisika (Mulyono dan Abtokhi) Arsitektur (Fikriarini & Maslucha), botani dan zoology Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat al-Qur’an yang Berkaitan dengan Botani & Zoologi (Ilmu Tumbuhan && Hewan: 2001) maupun ilmu sains yang lain . Dari segi perolehan, ilmu dibagi dua yaitu ilmu aqaly dan sama’iy.( Quraish Shihab, Ed.,  2007:329.8). Ilmu aqaly yaitu ilmu diperoleh melalui penelitian, seperti ilmu biologi, kimia dan sebagainya dan ilmu sama’iy adalah ilmu didapat melalui  pendengaran seperti ilmu bahasa dan sastra. 
Kemudian segi pemahaman objek-objek ilmu dalam Islam dapat digunakan tiga cara, yaitu melalui indera, akal, dan hati (Mulyadi Kertanegara, Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik:2005,h;219).  Berbagai cara perolehan iilmu pengetahuan serta objek-objeknya terutama indera dan akal semua bermuara pada otak sebagai pusat pemrosesan informasi yang akan diungakpan oleh mulut manusia. Namun bagi ilmu agama tidak cukup peMahaman melalui akal (otak) saja, akan tetapi juga melalui renungan spiritual (hati), sebab agama terfokus pada dua unsur kajian yaitu unsur gaib dan nyata.
Adanya dua unsur gaib dan nyata dalam bidang agama menunjukkan agama tidak bisa sepenuhnya dipahami secara akal (otak) sebab akal tidak akan mampu menembus peMahaman ilmu gaib, melainkan wilayah pembahasan hati untuk menangkapnya. Adapun yang termasuk unsur gaib, seperti Allah, malaikat, jin, kiamat, surga, neraka dan sebagainya. Sedangkan unsur nyata semua ciptaan Allah di atas muka bumi dan di kolong langit, seperti diri manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, fenomena alam, benda-benda langit, lautan dan aneka  ragam isinya, matahari, bulan, hujan dan sebagainya. Unsur gaib, meskipun tidak nampak secara kasak mata, tetapi umat Islam tetap meyakininya (beriman) sebagai sebuah kebenaran dan kenyataan di alam yang lain. Sungguhpun berada di alam tidak tampak, namun Allah sudah memberikan perumpamaan atau kiasaan kepada manusia sebagai bahan pembelajaran. Artinya Allah membelajarkan manusia masalah gaib dapat menemukannya secara konkrit melalui miniatur atau modelnya yang menyerupai bentuk aslinya. Baik unsur gaib maupun unsur nyata di alam dunia ini semua dapat dipahami melalui akal (berpikir).
Adapun hubungannya dengan kajian sains (science) bahwa semua bertumpu pada masalah yang bisa diteliti, diamati, dan dipelajari secara seksama. Artinya pembelajaran sains pendekatannya menggunakan hal-hal yang konkrit. Untuk meMahami segala macam sains sudah pasti menggunakan andalan akal (otak), sebab ia berhadapan dengan masalah konkrit (nyata). Dengan demikian antara agama dengan sains ada sesuatu yang sama yaitu sama-sama menggunakan potensi otak untuk berbagai tujuan manusia, seperti mengamati, menganalisa, mengkritisi, membandingkan,  menyimpulkan dan sebagainya.
Allah dengan tegas memuji kepada golongan orang-orang yang dinamakan ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki cirriciri sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran (3) 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab. Yaitu mereka yang berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk atau berbaring, dan mereka yang berfikir tentang kejadian langit dan bumi. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab neraka”.
Dalam ayat ini tergambar dua ciri pokok ulul albab yaitu tafakkur dan dzikir. Tafakkur merupakan aktifitas mengerahkan akal manusia terhadap ayat-ayat Allah yang disebut ayat-ayat “kauniyah” yang diawali dengan berfikir kemudian ditindaklanjuti dengan amal shalih. Dengan memikirkan tentang sistem tata kerja alam semesta, penciptaan, pengukuran yang cermat dan teliti dapat mengantarkan ilmuwan kepada rahasia-rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan dan manfaat bagi umat manusia. Adapun “dzikir” merupakan sistem kendali ilahiyah yang berfungsi mengarahkan agar tafakkur tidak bebas nilai atau netral. Tafakkur yang mengabaikan nilai-nilai ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan), penggunaan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi justru akan menghancurkan manusia, menjauhkan dari Tuhan.
Fikir dan dzikir atau dapat disebut ilmu dan iman, merupakan perpaduan harmonis yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat yang mulia. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus menerus dikembangkan dengan memanfaatkan anugerah Allah, sehingga Allah akan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dan juga bagi manusia umumnya.

C.PENTINGNYA INTEGRASI IMAN DAN ILMU DALAM KEHIDUPAN
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, meMahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular serta bebas nilai, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Qur’an yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Dengan fikir dan dzikir ini ditegaskan dalam Firman Allah sebagai berikut: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Mujadillah,58 : 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal) KeMahaKuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu atau akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan  kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Pengetahuan yang dilimpahkan kepada manusia, tidak akan bermakna tanpa dilandasi iman yang benar. Iman tanpa ilmu seperti orang buta, sebaliknya ilmu tanpa iman dapat menjadi boomerang yang dapat menghancurkan diri sendiri maupun orang lain. Manusia tidak hanya bisa mengandalkan kecerdasan intelektual sebagai representasi potensi manusia dalam menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi kecerdasan spiritual yang bermanfaat membimbing manusia tetap berada pada jalur yang benar juga menjadi bagian yang sangat penting. Demikian pula dalam praktek kehidupan manusia sering ditemukan seseorang bisa berbuat bodoh atau jahat padahal ia termasuk orang-orang intelek. Sarjana hukum misalnya, melakukan rekayasa hukum dengan cara-cara yang sangat professional sehingga mengetahui celah-celah melakukan pelanggaran hokum. Seorang ahli di bidang ekonomi tetapi paling hebat dalam hal manipulasi dan koruspsi. Seorang yang mengaku paham tentang agama tetapi perilakukan menyimpang dari nilai-nilai agama. Di sejumlah Negara sekuler terjadi kasus bunuh diri missal yang dilakukan oleh sekelompok intelektual, menjadi indicator bahwa ilmu yang dimiliki tidak mampu memecahkan masalah hidupnya. Seorang hakim atau jaksa yang ahli dikenal profesional karena keluasan ilmunya, tetapi masih mau menerima suap. Seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan yang melindungi mereka, tetapi masih ada kasus pelecehan seksual terhadap anak didiknya sendiri.
Sejumlah kasus di atas dengan mudah dapat ditemukan di berbagai media, artinya telah menjadi fenomena di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh lepasnya iman dan ketaqwaan seseorang dari ilmu sebagai anugerah Allah. Mereka tidak menyadari bahwa Allah membagikan anugerah ilmu kepada manusia agar dapat mensyukurinya dalam bentuk ketundukan (taslim), kepatuhan (ta’at), meghindarkan diri dari maksiat terhadap Allah. Patologi (penyakit) sosial ini akan menjadi tradisi yang habitual (terbiasa) dan sulit untuk diputus mata rantainya jika tidak ada kesadaran untuk melakukan perubahan.
Dalam kasus yang berbeda, ditemukan pula sarjana, atau cendekiawan yang dapat memadukan iman dan ilmu dengan baik sehingga mereka mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam sosok kepribadiannya secara total. Misalnya, seorang ilmuwan ahli di bidangnya, memiliki iman yang kuat, akhlaq mulia, sikap ramah dan sopan yang mencerminkan pribadi dengan nilai-nilai iman dan taqwa sehingga dapat memberikan keteladanan kepada lingkungannya. Seorang pendidik yang professional di bidangnya, mampu menjadi teladan karena kepribadiannya baik, dapat mempengaruhi anak didik secara signifikan, sehingga tujuan pendidikan mudah tercapai.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa urgensi iman dan ilmu dalam kehidupan mencakup:
1.Meningkatkan derajat bagi seseorang di hadapan Allah maupun sesama manusia
2.Meluruskan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu hanya untuk ilmu, bukan untuk kehidupan.
3.Menyadarkan kepada manusia bahwa ilmu sebagi anugarah Allah harus dirawat dengan iman dan taqwa agar tidak terjerumus pada adzab Allah, dan kerusakan pada manusia dan diri sendiri.
4.Menemukan ketenangan hidup sebab apa yang dilakukan senantiasa dilandasi oleh iman yang benar dan ilmu yang bermanfaat.
5.Memelihara diri dari rasa sombong, sebab Allah memberikan ilmu kepada mhusia sangat terbatas.
6.Memudahkan seseorang menentukan alternative solusi atas problem kehidupan yang dihadapi, sehingga memunculkan rasa syukur, qana’ah (menerima apa adanya), sabar, adil, dan bijaksana.

D.IMPLIKASI PENERAPAN IMAN DAN TAQWA TERHADAP PENGEMBANGAN IPTEK
Persoalan yang sering dibicarakan sebagai suatu masalah yang controversial yaitu mengenai netral dan tidaknya ilmu pengetahuan yang kita sebut dengan sains itu. Jika kata-kata "sains" didefinisikan sebagai himpunan rasionalitas kolektif insani,yakni: himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsesus para pakar, pada penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data-data pengukuran yang diperoleh dari observasi apda gejala-gejala alam, maka kiranya hal ini cukup jelas. Selanjutnya kita dapat mendefinisikan "teknologi" sebagai himpunan pengetahuan terapan manusia tentang proses-proses pemanfaatan alam yang diperoleh dari penerapan sains, dalam kegiatan yang produktif ekonomis.
Orang yang mengatakan bahwa sains dan teknologi bersifat netral akan mengatakan bahwa sesungguhnya teori reaksi kimiawi itu baik ketika digunakan untuk kebaikan umat manusia namun akan menjadi jelek ketika dipegang orang yang yang tidak baik semisal digunkan untuk membuat bom pemusnah masal. Jadi dianggaplah sains dan teknologi tinggal siapa yang mengendalikan.
Pada akhir tahun 1960-an consensus para ilmuwan mengakui bahwa alam tercipta sekitar 15 milyar tahun yang lalu; tetapi kelanggenganya diusahakan beberapa pakar dengan berbagai cara untuk diakui secara consensus. Ada beberapa pakar kosmologi yang mencoba memutar kembali perkembangan sains menuju arah pengingkaran penciptaan alam semesta oleh Tuhan seru sekalian alam. Dengan mengatakan bahwa keberdaan alam adalah karena kebetulan saja. Unsure "kebetulan" inilah yang dipergunakan juga oleh para pakar biologi untuk mengingkari penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan sang pencipta. Mereka menguraikan mulai terbentuknya DNA dari molekul-molekul, sampai pembentukan gen-gen dan kromosom, serta evolusinya menjadi berbagai bentuk semuanya dianggap kebetulan tanpa ada Tuhan dibalik semua itu, menyebut nama Allah menjadi tabu dalam teori ini, lalu netralkah ilmu biologi?
Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa biologi, fisika, kimia dan sains pada umumnya tidak dapat dikatakan netral, melainkan mengandung nilai yang menyusup melalui konsensus para pakar yang mengembangkannya. Ia sarat dengan nilai-nilai kebudayaan mereka, dan karena sains telah sejak lama jatuh ke tangan orang Eropa yang mempunyai kebudayaan lain, perkembangan sains dan teknologi selama lima abad berada dalam lingkungan tidak Islami. Orang-orang itu membatasi sains dengan mengatakan bahwa apa yang tidak dapat di inderakan atau dideteksi keberadaanya dengan alat tidaklah ada.(Baiquni, 1996:63)
Pengembangan iptek yang sejalan dengan nilai-nilai Islam akan mendidik manusia yang meiliki otak brilian secara akal atau logika namun tetap memiliki hati yang bersih sadar akan kebesaran Allah dibalik semua itu sehingga para saintis meMahami tujuan pencipataan mahluk dan alam ini dengan tidak merusak atau mengeksploitisir secara berlebihan karena ini bertentangan dengan syari'at Islam. Memegang teguh etika dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, iman dan taqwa terintergasi dalam proses tafakkur (pemikiran), dan pengembangan iptek  sehingga hasil yang diperoleh sejalan dengan nilai-nilai agama. Manusia akan mengambil manfaat iptek yang telah dikemas dengan nilai-nilai yang bersumber dari ketuhanan dan juga kemanusiaan akan menciptakan insan yang memiliki kedalaman spiritual, ketinggian akhlaq, keluasan ilmu pengetahuan, dan profesional di bidangnya yang disebut dengan beramal ibadah yang efektif, perpaduan fikir dan dzikir (insan ulul albab). Di sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh semua manusia telah terfilter dengan baik melalui rambu-rambu agama yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa, sehingga iman dan taqwa yang berintegrasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mendatangkan manfaat besar dalam kehidupan umat, mengantarkan sebuah kemajuan bangsa menuju ”baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang baik senantiasa mendapatkan ampunan dari Tuhan).
Latihan:
1.Tunjukan bukti-bukti bahwa al quran merupakan sumber ilmu
2.Jelaskan hubungan timbal balik antara iman dengan ilmu pengetahuan
3.Jika iptek adalah netral, bagaimanakah cara mengintegrasikan iman dan taqwa dalam ilmu pengetahuan.
4.Jelaskan manfaat iman dan ilmu dalam kehidupan manusia.


 
Daftar Pustaka
Adz Dzaky, M. Hamdani Bahran, Konseling dan Psikoterapi, ( Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2004)

Agus Mulyono&A. Abtokhi. Fisika dan  al Qur'an (Malang: UIN Press, 2006)

Baiquni, Ahmad. al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1996)

Fikriarini, Aulia&Luluk Maslucha, Arsitektur Islam Refleksi dan Transformasi Ilahiyah, (Malang, UIN Press, 2007)

Jamaluddin Husein Mahran, Al-Nabatat fi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Kementrian wakaf Mesir, 2000)

Kertanegara, Mulyadi. Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005)

Mahfudz, A. Sahal,  Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta, Lkis, 1994)

Muhammad bin Allan Ash Shadiqi, Dalil Al Falihin (Surabaya: Pustaka Hidayah, TT)

Naim, Mochtar, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat al-Qur’an yang Berkaitan dengan Botani & Zoologi (Ilmu Tumbuhan & Hewan), (Jakarta: Penerbit Hasanah, 2001)

Nata, Abuddin. Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005)

Ruhaili, Ibrahim Amir. Bayan Asbab Tafadhul al A’mal, terjemah Beni Sarbeni, Rahasia Keutamaan Amal Tuntunan Nabi Dalam Meningkatkan Kualitas Amal (Jakarta: Pustaka Tazkia, 2006)

Sayyed Abdul Sattar al-Miliji, ‘Ilmu al-Nabatfi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Al-Hay’at al-Mishriyyah al-‘Ammah lil Kitab, 2005)

Shihab, Quraish, Ed.. Ensiklopedia al-Qur’an dan Kajian Kosakata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007)

Shihab, Quraish. Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2007)
Shihab, Quraish, Wawasan al Quran (Bandung: Mizan, 1996)

Syaltut, Muhamad. al Islam Aqidah wa Syari’ah, terjemah Badurahman Zein, Islam Aqidah dan Syari’ah. (Jakarta: Pustaka Amani, 1996)

Tholchah Hasan, Muhamad, Dinamika Kehidupan Religius, (Jakarta: PT. Lista Farista Putra, 2004)

Rate this blog entry:
Tags: Array
BIODATA PENULIS

ROIBIN, lahir di Nganjuk pada 18 Desember 1968. Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Warujayeng IV Kec. Tanjunganom (1977-1983). Selanjutnya meneruskan ke SMPN I Tanjunganom (1983-1986). Pada tingkat selanjutnya, meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nglawak Kertosono (1986-1989). Setelah itu ia melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Malang pada fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab (1989-1994). Sedangkan gelar magisternya diperoleh dari UNISMA dengan konsentrasi Hukum Islam. Karir studi doktoral (S-3) nya di selesaikan di IAIN “SA” Surabaya pada tahun 2008 dengan konsentrasi keilmuan “Antropologi Hukum Islam”.

Kini, selain aktif sebagai dosen tetap di almamaternya (UIN Malang, sejak 1994-sekarang) ROIBIN juga aktif melakukan kajian-kajian, seminar dan penelitian di berbagai lintas Perguruan Tinggi. Di antara penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian kompetitif STAIN Malang “Pernikahan Dini (Kontradiksi Antara Hukum Syar’i dan Hukum Positif) (1999), penelitian kompetitif di kalangan dosen STAIN Malang “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani Santri Gondanglegi” (2002), penelitian kompetitif STAIN Malang “Pemikiran Hukum Islam di Tengah Perubahan Sosial Budaya” (2002), penelitian Pemda Pasuruan “Managemen dan Pemberdayaan Pesantren di Pasuruan” (2004), penelitian dari Pemda Pasuruan (2004) “Ketergantungan Masyarakat terhadap Keberadaan PSK (Kasus di Tretes Pasuruan)”, penelitian dari Litbang “Pemetaan Kurikulum Nasional” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Pergeseran Tafsir Wanita Perspektif Islam Kontemporer” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Perubahan Perilaku Sosial Akademik di Kalangan para Aktifis OMIK UIN Malang” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Praktik Poligami di Kalangan Kyai Pesantren Jawa Timur” (2007). Penelitian individu tentang “Mitos Pesugihan dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat Islam Kejawen (Studi Konstruksi Sosial Mitos Pesugihan di Kalangan Para Peziarah Masyarakat Muslim Kejawen” (2008).

Adapun beberapa karya ilmiah yang telah terbit di beberapa jurnal, majalah, maupun Koran antara lain: 1) Menengok Dimensi Spiritualitas dan Moralitas di Tengah Kemajuan Iptek, Majalah Tarbiyah ((1996), 2) Wilayatu al-Faqih Ayatullah Khumaini, Jurnal STAIN Malang (1998), 3). Agama dan Tantangan Masyarakat Indonesia Baru, Jurnal Ulul albab STAIN Malang (1999), 4). Islam: Antara Idealita dan Realita, Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 5). Islam dan HAM (Antara Ansolutisme dan Relatifisme), Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 6). Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita, Majalah El-Harakah (2000), 7). Upaya Memperkecil Pintu Kesenjangan Sosial, Tabloid Gema STAIN Malang (2000), 8). Berhaji Meriah Berzakat Susah, Jawa Pos Kajian Utan Kayu (2003), 9). Menuju Pendidikan Berbasis Kerukunan, El-Harakah (2003), 10). Membangun Kerangka Epistemologi Pengembangan Ilmu, dalam buku”Memadu Sains dan Agama” (2004), 11). Rekonstruksi Pemikiran Ulul albab, Radar Malang (2005), 12). Mitos dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Islam Kejawen, Jurnal Lorong (2005), 13). Reformulasi Epistemologi dalam Islam, Jurnal Terakreditasi, Akademika IAIN “SA” Surabaya (2005), 14). Pembacaan Teoretik Perilaku Politik Ikhwanu al-Muslimin, Jurnal el-Qisth Syari’ah UIN Malang (2005), 15). Pembacaan Kontekstual Fazlur Rahman atas Sunnah dan Hadits (Dialektika Pemikiran Tradisionalis dan Modernis), Jurnal LKQS UIN Malang (2007), 16). Kyai, Santri dan Kitab Kuning, Majalah INOVASI UAPM UIN Malang (2008), 17). Menuju Pendidikan Berbasis Humanisme, Jurnal STAIN Jember (2008)

Comments

Statistik Komunitas 

Statistics
Total Members : 267
Total Groups : 0
Total Discussion : 0
Total Bulletins : 0
Total Activities : 157
Total Wall Posts : 0
Total Events : 0

Data Pengunjung 

3417214
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3369
4214
7583
3369477
116653
184148
3417214

Your IP: 54.91.47.154
Server Time: 2014-10-21 10:20:36