7.png

Blog Sivitas Akademik Fakultas Syariah

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login
Posted by Dr. H. Roibin, M.HI on Sunday, 20 May 2012 in Blog Fakultas

MENELUSURI KEBENARAN ILMIAH MELALUI LOGIKA SAINS, FILSAFAT, DAN AGAMA

Dr. Roibin, MHI


Sebagai sebuah pendekatan ilmiah, sains, filsafat, dan agama, ketiga-tiganya selalu dipandang memiliki konteks dan ruang sendiri-sendiri. Antara entitas satu dengan yang lainnya dianggap tidak bersinergi secara holistik, karena masing-masing memiliki keunikan yang tidak terdapat pada yang lainnya. Penggalian kebenaran ilmiah melalui logika sains acapkali dianggap telah melahirkan kebenaran empirik-positivistik, sementara penggalian kebenaran dengan logika filsafat akan melahirkan kebenaran spekulatif-idealistik, sedangkan kebenaran melalui logika agama adalah kebenaran dogmatis-finalistik. Pengkaplingan tiga ranah pendekatan di atas yang terjadi secara berulang-ulang, secara perlahan ikut menjustifikasi semakin kokohnya tiga pembidangan konstruksi mitos ilmiah dimaksud. Padahal secara ideal ketiga terma pendekatan di atas dalam konteks tertentu menghendaki adanya sinergitas ilmiah yang terbangun secara intensif. Oleh karena itu makalah ini akan terlebih dahulu menelaah secara terpisah, sebelum menyentuh ranah kajian yang lebih fokus terkait dengan perbedaan dan persamaan antara sains, filsafat, agama, filsafat ilmu, filsafat agama & filsafat ilmu agama.
Sains (Ilmu Pengetahuan) dalam Berbagai Perspektif
Sains (ilmu pengetahuan), filsafat, dan Agama dalam uraian di atas, merupakan tiga istilah kunci dalam kajian ini. Kata “science” dalam kamus Webster’s New World Dictionary, berasal dari kata latin “scire” yang berarti mengetahui, dan sering diidentikan dengan pengertian pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan kepercayaan. Kata ini kemudian mengalami perkembangan dan perubahan makna yang berarti, sehingga “science” kemudian berarti pengetahuan sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan – percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip dari apa yang di kaji. Sejak itulah makna sains telah terjadi pergeseran, yaitu dari pengetahuan ke pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi indrawi.
Dengan maknanya seperti ini, lingkup sains hanya terbatas pada  dunia fisik. Dengan kata lain sains telah dipahami sebagai pegetahuan yang sistematis tentang alam dan dunia fisik.  Sains berarti segala sesuatu yang mempelajari aspek dunia fisik. Atas dasar ini hakikat sains dalam pemahamannya tidak jarang bertabrakan dengan  filsafat maupun agama.
          Pembatasan lingkup sains pada dunia fisik dan empirik telah membuatnya bersifat sekularistik-materialistik. Kosmologi yang diciptakan sains selalu tampil dengan kosmologi yang menghindarkan dari unsur-unsur spiritual, seperti Tuhan, malaikat, ruh, surga, neraka dan sebaginya. Kosmologi saintifik adalah susunan kosmos fisik. Memang, sains (ilmu pengetahuan) juga bertujuan untuk mencari kebenaran, namun kebenaran dalam persepsi sains adalah kebenaran yang nisbi. Ia akan gugur bilamana dihadapkan pada teori baru yang lebih kuat.
    Selain di lihat dari ruang lingkupnya, yang dimaksud ilmu pengetahuan setidaknya mencakup enam komponen yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Di antara enam komponen itu antara lain 1) masalah, 2) sikap, 3) metode, 4) aktifitas, 5) kesimpulan dan 6) efek. Pemahaman mengenai masing-masing komponen di atas menjadi sangat urgen untuk memahami sifat-sifat ilmu pengetahuan itu.
Mengapa masalah merupakan komponen penting dalam sains? Jawabanya adalah ilmu pengetahuan itu ada, karena masalah yang terpecahkan. Dengan kata lain tanpa masalah, tidak pernah akan ada apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Demikian juga tanpa masalah tidak akan ada solusi dan dengan sendirinya tidak akan ada pengetahuan ilmiah.
Berangkat dari pandangan di atas muncul pertanyaan baru, 1) apakah semua masalah itu ilmiah? 2) Apa yang menyebabkan masalah menjadi ilmiah? Jika jawaban pertama adalah tidak semua masalah itu ilmiah, lalu apa yang menjadikan masalah menjadi ilmiah? Masalah itu dianggap ilmiah jika memenuhi tiga ciri khas, yaitu dapat dikomunikasikan, bisa didekati dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah. Demikian pula sebaliknya, jika masalah yang dimaksud tidak memenuhi tiga karakter di atas maka tidak layak di anggap sebagai masalah ilmiah. Dengan demikian masalah yang dapat dikomunikasikan, mampu didekati dengan sikap dan metode ilmiah, ia disebut sebagai masalah yang ilmiah.
Komponen kedua adalah sikap (attitude). Bagaimana suatu sikap akan dianggap sebagai sikap ilmiah? Adakah sikap yang tidak ilmiah? Ada lima hal pokok yang menandai suatu sikap, sehingga bisa disebut sikap ilmiah. 1) rasa ingin tahu (curiosity) 2) bersikap spekulasi (speculativeness). 3) terbuka/objektif (willingness to be objective). 4) mau menunda kesimpulan, 5) bersifat sementara (relativity).
Rasa ingin tahu dalam poin di atas bertujuan mempelajari secara mendalam bagaimana sesuatu itu ada, apa sifat sesuatu itu, fungsi serta hubungan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain. Semua pertanyaan itu akan dibuktikan melalui pencarian, penyelidikan, pemeriksaan, eksplorasi dan eksperimentasi. Sikap rasa ingin tahu inilah yang merupakan bagian dari pandangan hidup seorang ilmuwan. Sehingga sikap tersebut menjadi sikap ilmiah.
Sementara itu sikap spekulasi, juga merupakan sikap yang sangat menentukan. Acapkali masalah yang tidak dapat segera diselesaikan, berspekulasi menjadi suatu keharusan. Karena spekulasi itu diciptakan untuk memecahkan masalah. Dengan demikian sikap spekulasi merupakan karakteristik yang penting dari sikap ilmiah.
Demikian juga sikap objektif. Bersikap objektif merupakan hal penting untuk membuat sesuatu menjadi ilmiah, sebab sikap tersebut sangat baik dan kondusif untuk mengembangkan hasil yang nyata. Ia selalu menjadi lawan dari subjek, tidak ada subjek, tidak akan ada objek, tidak ada subjektifitas, tidak akan ada objektifititas. Dengan demikian objektifitas adalah kemauan untuk memahami sifat dari objek itu sendiri. Lebih jelasnya sikap objektif ini harus menerima beberapa hal, 1) sifat ingin tahu yang kuat 2) melangkah berdasarkan pengalaman dan alasan 3) menerima data dengan apa adanya 4) bisa menerima perubahan dari objek 5) berani melakukan kekeliruan 6) tidak mengenal putus asa.
Sikap sabar juga di anggap sebagai sub bagian dari komponen penting ilmu pengetahuan. Acapkali penelitian yang dilakukan dengan tidak sabar selalu akan memanipulasi data yang ada. Sementara itu sikap sabar tidak selalu menuntut jawaban yang lebih baik dari pada data yang ia peroleh. Ia mampu dan bersedia menunda hingga ia memperoleh semua data-data penting itu setelah melakukan pelacakan kembali terhadap objek.
Lebih-lebih sikap untuk mengatakan kesementaraan pada  ilmu pengetahuan adalah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan sendiri. Jangankan hipotesa yang belum dikembangkan, hipotesa yang sudah jadi sekalipun harus bersifat sementara, bahkan semua hasil interpretasi ilmiah juga harus diragukan. Dengan demikian dalam ilmu pengetahuan tidak ada kepastian yang mutlak, yang ada adalah kenisbian.
Persoalan lain yang membuat kajian itu menjadi ilmiah bukan disebabkan sifat dari sesuatu yang diperlukan, melainkan karena metode yang sangat ideal dengan sesuatu itu. Dengan demikian esensi dari pengetahuan adalah  karena metode. Pengetahuan sebagai teori adalah sesuatu yang selalu berubah. Teori hari ini bukan teori ratusan tahun yang lampau. Meskipun diantara para ilmuan tengah terjadi perdebatan serius menyangkut tentang metode ilmiah, yaitu persoalan observasi atau masalah yang harus didahulukan, mereka telah menyadari bahwa masalah tanpa observasi tidak akan menjadi ilmiah, demikian sebaliknya.
Selain ketiga komponen di atas, aktifitas yang dilakukan oleh ilmuan juga akan menandai munculnya ilmu pengetahuan. Apa yang dilakukan oleh ilmuan sering disebut dengan penelitian ilmiah, baik secara individu maupun sosial. Aktifitas ilmuan acapkali membuatnya menjadi seorang spesialis. Aktifitasnya dibentuk oleh berbagai jenis tugas, perangkat, proses, ukuran dan hitungan yang ia buat serta laboratorium atau tempat dimana ia bekerja. Aktifitas ternyata telah melampaui apa yang dilakukan oleh ilmuan. Ilmuan telah menjadi pelaksana bagi lembaga yang begitu luas. Ilmuan telah menjadi kelompok kerja yang memegang peranan penting di dunia saat ini. Dari ilmu pengetahuan telah berubah menjadi tumpukan yang luar biasa dari hasil berbagai pekerjaan.
Demikian juga kesimpulan. Ia merupakan komponen yang tidak kalah pentingnya di banding dengan kompenen yang lainnya. Kesimpulan adalah pemahaman yang dicapai sebagai hasil dari pemecahan masalah yang menjadi tujuan dari ilmu pengetahuan itu. Ia juga merupakan penilaian akhir dari suatu sikap, metode dan aktifitas. Disamping itu ia juga merupakan buah dari hasil kerja dan investasi.
Namun demikian, betapapun kesimpulan ilmiah itu tetap tidak pasti. Tidak saja berkaitan dengan perbedaan antara hipotesa, teori dan hukum sebagai penggambaran dari hasil pemahaman, melainkan semua itu bersifat kesementaraan dan nisbi yang merupakan bagian dari sikap ilmiah. Dengan kata lain kesimpulan-kesimpulan yang ada tidak dipandang sebagai hasil yang dogmatis, kebal kritik dan mutlak. Semakin kesimpulan itu dianggap dogmatis, mutlak maka sifat dasar dari ilmu pengetahuan tersebut telah terdistorsi.
Kompenen yang terakhir adalah efek. Apa yang dilakukan oleh para ilmuan adalah untuk menghasilkan produk/pengaruh. Pengaruh tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1) pengaruh ilmu pengetahuan pada teknologi dan industri ilmu terapan 2) pengaruh ilmu pengetahuan pada masyarakat dan peradaban.
Ilmu terapan adalah Ilmu yang lebih nyata dari pada ilmu murni (pure science). Dengan kata lain ilmu yang ada dalam lingkungan teknik, kedokteran, sosial, seni tentu lebih dominan dibanding dengan ilmu matematika, fisika. Mengapa demikian? Makna terapan itu sendiri memiliki pengertian aplikatif, lebih leluasa mengenai perwujudan penerapannya. Ia tidak saja sebagaimana sifat ilmu, yaitu untuk meningkatkan pemahaman, tetapi dibalik itu ia juga berfungsi untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia (meningkatkan kesejahteraan manusia).
Sementara itu ilmu sosial adalah Ilmu yang dilakukan ketika terjadi perkembangan dalam peradaban.
Filsafat dan Agama
Jika sains menitikberatkan pada pengamatan Indrawi, maka filsafat menekankan pada penalaran rasional. Sains menilai fakta–fakta, sementara filsafat adalah ide–ide. Hal ini tidak berarti tidak ada hubungan di antara keduanya. Karena banyak sekali teori–teori yang berlaku pada bidang sains telah memperoleh inspirasi dari filsafat  atau sebaliknya, yaitu pandangan filosofis seringkali merupakan refleksi  atau karena pengaruh secara signifikan oleh teori– teori ilmiah. Dan ini umumnya berlaku pada sistem pemikiran filosofis modern atau kontemporer.
Sebagaimana sains, filsafat juga merupakan pengetahuan yang sistematis (karena itu Epistemologi Barat mengatakan bahwa filsafat tidak disebut sebagai ilmu). Ilmu tidak akan menjadi filsafat, kalau ia membatasi dirinya pada bidang fisik. Dengan demikian jangkauan filsafat adalah berada pada level yang lebih tinggi dari dunia fisik. Oleh karenanya Comte menyebutnya dengan  metafisik,  yakni level yang ada dibalik fisik. Karena itu proses penelitianya lebih banyak melibatkan penalaran akal/ rasional katimbang pengamatan atau observasi indrawi. Itulah sebabnya dalam epislemologi Barat yang meragukan ontologi ide–ide, filsafat tidak disebut sains, sementara dalam epislemologi Islam ia disebut ilmu sebagaimana fisika & ilmu – ilmu yang lain.
 Dengan demikian filsafat telah cukup signifikan memperkaya dan melengkapi pandangan saintifik, berarti pula filsafat memiliki fleksibilitas dalam mengembanngkan dunianya. Karena ia berada di mana–mana, dan selalu di butuhkan untuk pengembangan ilmu–ilmu yang lain. Sebab tanpa filsafat, ilmu tidak akan pernah bisa ditemukan dan diteorikan.
Sebagaimana pandangan umum, bahwa filsafat juga berarti pengetahuan tentang kebijaksanaan, yaitu prinsip mencari kebenaran. Ia juga berarti philos, yaitu cinta dan sophia yang berarti bijaksana. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran.  Berfilsafat berarti berpikir rasional–logis, mendalam, bebas, tidak terikat oleh aturan dan dogma  serta tradisi. Tujuan akhir dari filsafat sama dengan ilmu yaitu pencarian kebenaran. Hanya saja kebenaran filsafat merupakan kebenaran spekulatif yang nisbi juga. Wilayah jangkauannya dibanding dengan ilmu, ia lebih longgar sampai pada wilayah metafisik pun juga tersentuh.
Nah bagaimana dengan agama? Dimana posisi agama di antara filsafat dan ilmu? Secara ideal hubungan antara ilmu, filsafat dan agama seyogyanya menunjukkan hubungan yang sinergis, artinya apa-apa yang selama ini dinilai dan diyakini benar dalam Agama sudah saatnya untuk dikaji ulang secara filosofis dengan melaui pendekatan ilmiah yang multi interdisipliner.  Agama, sebagaimana yang selama ini kita ikuti dan kita peluk merupakan sistem keyakinan yang sakral dan rasional. Memberi tuntunan, aturan–aturan, nilai–nilai dan norma pada kehidupan manusia.
Ia juga merupakan sistem kepercayaann terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan supra-natural (Tuhan). Agama  juga merupakan sistem yang mengatur hubungan individu dengan penciptanya dan antara individu dengan yang lainya. Dengan demikian unsur–unsur agama meliputi kepercayaan, peribadatan dan normaa–norma. Inilah sebabnya ia disebut sebagai sumber pengetahuan tentang moral, penilaian yang baik dan yang buruk. Agama menjelaskan dan memberi petunjuk tentang tujuan akhir yang akan dicapai oleh manusia.
Dengan begitu agama mampu memberikan penjelasan yang rinci tentang berbagai hal yang tidak mungkin dijangkau oleh sains dan tidak bisa di olah semata oleh akal manusia (filsafat). Misalnya tentang nasib manusia, keadaan di dalam qubur dan masa kebangkitan. Hanya agama dengan  melalui wahyu yang diturunkan  rosulnya yang dapat menguak dengan jelas wilayah kegiatan tersebut, bukan dengan   pendekatan sains, juga bukan pula filsafat.
Namun demikian juga diakui bahwa agama dalam hal-hal tertentu juga belum secara lengkap menginformasikan persoalan-persoalan keseharian manusia, yang selalui mengalami perubahan dan perkembangannya.
Oleh karena itu menurut Erns Cassirer dan Susane Langer, agama tidak perlu kawatir terdesak oleh pandangan sainitifik, karena kedua “entitas” tersebut mempunyai sumbangannya masing – masing.

Filsafat Ilmu
Hubunganya dengan pengembangan ilmu, filsafat ilmu berfungsi memberikan landasan filosofik, minimal memerlukan berbagai konsep dan teori sesuai disiplin ilmu sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
Setidaknya ada empat telaah substantif filsafat ilmu, yaitu: kenyataan, kebenaran, kepastian/konfirmasi dan keempat logika inferensi.  Sedangkan cabang utama filsafat ilmu meliputi ontologi, epistemologi & axiologi. Dengan    kata lain beberapa persoalan yang hendak di jawab dalam filsafat ilmu ini harus dihadirkan dengan tiga pertanyaan berikut, yaitu apa ilmu itu? Bagaimana ia muncul dan untuk apa? Dengan demikiann filsafat Ilmu adalah penyelidikan tentang cirri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara–cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut. 
Filsafat Agama dan Filsafat Ilmu Agama
Agaknya istilah yang lebih tepat untuk disejajarkan dengan    filsafat agama adalah The Philosophy of Religion artinya agama menjadi objek telaah, studi, kajian dari  bidang filsafat.
Dilihat dari pengertian masing term di atas dapat dipahami bahwa filsafat agama adalah usaha untuk menggali makna agama secara mendalam, komprehensif.sistematis dan logis serta tidak terikat oleh dogma & tradisi.
Menurut Harun Nnasution filsafat Agama adalah berfikir tentang dasar–dasar agama menurut logika secara bebas. Maksud dari hal pemikiran di atas memiliki dua pengertian: pertama ; bisa berarti membahas dasar-dasar agama secara kritis analitis tanpa terikat oleh doktrin agama dan tanpa ada kepentingan untuk mengatakan kebenaran pada suatu agama. Kedua : membahas dasar-dasar agama secara kritis analitis dengan maksud mendukung kebenaran ajaran-ajaran agama, atau setidaknya ingin menjelaskan bahwa ajaran agama, atau setidaknya ingin menjelaskan bahwa apa yang diajarkan oleh agama tidaklah bersebarangan dengan logika. Persoalan kemudian adalah akankah kebenaran agama yang mutlak menjadi goyah dengan pendekatan filsafat?
Dengan demikian filsafat agama dalam pengertian sebagai the Philosophy of Religion, adalah suatu upaya mengkaji secara radikal berbagai unsur-unsur agama secara sistematis logis dan bebas. Bagaimana agama, sebagai suatu system kepercayaan yang diyakini secara doktriner, kebenarannya disentuh oleh pemikiran filosofis melalui tata cara berfikir radikal dan mendalam? Seringkali dalam kenyataan sosiologis filsafat dituding sebagai menghilangkan ikatan-ikatan dogma dan dasar-dasar agama disamping juga dianggap menggangu keimanan yang mengakibatkan pada memudarnya nilai-nilai fundamental keagamaan. Tarik menarik antara filsafat dan agama acapkali melahirkan cara pandang baru yang dikotomis.
Untuk menjawab semua persoalan di atas, terlebih dahulu kita kaji menyangkut persoalan bangunan keilmuan dari agama itu sendiri. Persoalan kemudian adalah apakah agama memiliki bangunan keilmuannya? Apakah agama itu identik dengan ilmu? Secara normatif doktriner Islam memang agama yang sarat dengan konsep-konsep keilmuannya. Islam lebih dari sekedar ilmu teologi, tetapi ia sarat dengan peradaban. Dengan kata lain Islam adalah sebagai agama yang memiliki sistem ajaran. Atas dasar inilah pada perkembangan berikutnya sistem ajaran tersebut menjadi sangat luas cakupannya. Mulai dari sistem ajaran aqidah, sistem ajaran syariah, dan sistem ajaran akhlak. Ketiganya memiliki bangunan keilmuan. Sebut saja misalnya sistem ajaran aqidah pada perkembangannya memunculkan ilmu kalam, sistem ajaran syariah melahirkan ilmu fiqih demikian juga sistem ajaran akhlak melahirkan ilmu etika.
Disitulah wilayah filsafat ilmu agama, yaitu cara berfikir yang mendalam, menyeluruh, sistematis dan logis tentang ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu agama itu antara lain ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu akhlak dan lain sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA
Antony Flew, A Dictionary of Philosophy, Servied Scand Editor (new York; st Martin’s Press, 1984), 69.

Beerling. D.F. et. Al., Filsafat Dewasa Ini, terjemahan Hasan Amin (Jakarta : Balai Pustaka, 1988).

Endang saifuddin Anshari, Kuliah al-Islam, pendidikan agama islam di Perguruan Tinggi (Bandung: Pustaka Salman ITB, 1980),13.

Kunto Wibisono, Filsafat Ilmu, PPS IAIN SA Surabaya, 6 Maret 2003

Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Edisi I (Yogyakarta : Rake Sarasin, 1998), 2.

Muhajir, Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, 5.

Walfer H. Capps. Religious Sludies: The Making of A Discipline (mimneapolis: Fortress Press, 1995), 213.

Webster’s New Word Dictionary of the Amirican Language Cleveland and New York: The World Publishing Companny, 1962, 1305.

Rate this blog entry:
0
Tags: Array
BIODATA PENULIS

ROIBIN, lahir di Nganjuk pada 18 Desember 1968. Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Warujayeng IV Kec. Tanjunganom (1977-1983). Selanjutnya meneruskan ke SMPN I Tanjunganom (1983-1986). Pada tingkat selanjutnya, meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nglawak Kertosono (1986-1989). Setelah itu ia melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Malang pada fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab (1989-1994). Sedangkan gelar magisternya diperoleh dari UNISMA dengan konsentrasi Hukum Islam. Karir studi doktoral (S-3) nya di selesaikan di IAIN “SA” Surabaya pada tahun 2008 dengan konsentrasi keilmuan “Antropologi Hukum Islam”.

Kini, selain aktif sebagai dosen tetap di almamaternya (UIN Malang, sejak 1994-sekarang) ROIBIN juga aktif melakukan kajian-kajian, seminar dan penelitian di berbagai lintas Perguruan Tinggi. Di antara penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian kompetitif STAIN Malang “Pernikahan Dini (Kontradiksi Antara Hukum Syar’i dan Hukum Positif) (1999), penelitian kompetitif di kalangan dosen STAIN Malang “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani Santri Gondanglegi” (2002), penelitian kompetitif STAIN Malang “Pemikiran Hukum Islam di Tengah Perubahan Sosial Budaya” (2002), penelitian Pemda Pasuruan “Managemen dan Pemberdayaan Pesantren di Pasuruan” (2004), penelitian dari Pemda Pasuruan (2004) “Ketergantungan Masyarakat terhadap Keberadaan PSK (Kasus di Tretes Pasuruan)”, penelitian dari Litbang “Pemetaan Kurikulum Nasional” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Pergeseran Tafsir Wanita Perspektif Islam Kontemporer” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Perubahan Perilaku Sosial Akademik di Kalangan para Aktifis OMIK UIN Malang” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Praktik Poligami di Kalangan Kyai Pesantren Jawa Timur” (2007). Penelitian individu tentang “Mitos Pesugihan dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat Islam Kejawen (Studi Konstruksi Sosial Mitos Pesugihan di Kalangan Para Peziarah Masyarakat Muslim Kejawen” (2008).

Adapun beberapa karya ilmiah yang telah terbit di beberapa jurnal, majalah, maupun Koran antara lain: 1) Menengok Dimensi Spiritualitas dan Moralitas di Tengah Kemajuan Iptek, Majalah Tarbiyah ((1996), 2) Wilayatu al-Faqih Ayatullah Khumaini, Jurnal STAIN Malang (1998), 3). Agama dan Tantangan Masyarakat Indonesia Baru, Jurnal Ulul albab STAIN Malang (1999), 4). Islam: Antara Idealita dan Realita, Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 5). Islam dan HAM (Antara Ansolutisme dan Relatifisme), Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 6). Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita, Majalah El-Harakah (2000), 7). Upaya Memperkecil Pintu Kesenjangan Sosial, Tabloid Gema STAIN Malang (2000), 8). Berhaji Meriah Berzakat Susah, Jawa Pos Kajian Utan Kayu (2003), 9). Menuju Pendidikan Berbasis Kerukunan, El-Harakah (2003), 10). Membangun Kerangka Epistemologi Pengembangan Ilmu, dalam buku”Memadu Sains dan Agama” (2004), 11). Rekonstruksi Pemikiran Ulul albab, Radar Malang (2005), 12). Mitos dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Islam Kejawen, Jurnal Lorong (2005), 13). Reformulasi Epistemologi dalam Islam, Jurnal Terakreditasi, Akademika IAIN “SA” Surabaya (2005), 14). Pembacaan Teoretik Perilaku Politik Ikhwanu al-Muslimin, Jurnal el-Qisth Syari’ah UIN Malang (2005), 15). Pembacaan Kontekstual Fazlur Rahman atas Sunnah dan Hadits (Dialektika Pemikiran Tradisionalis dan Modernis), Jurnal LKQS UIN Malang (2007), 16). Kyai, Santri dan Kitab Kuning, Majalah INOVASI UAPM UIN Malang (2008), 17). Menuju Pendidikan Berbasis Humanisme, Jurnal STAIN Jember (2008)

Comments

Statistik Komunitas 

Statistics
Total Members : 267
Total Groups : 0
Total Discussion : 0
Total Bulletins : 0
Total Activities : 157
Total Wall Posts : 0
Total Events : 0

Data Pengunjung 

3481941
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1664
7532
35841
3409631
181380
184148
3481941

Your IP: 54.205.144.54
Server Time: 2014-10-31 04:41:17