9.png8.png7.png

Blog Sivitas Akademik Fakultas Syariah

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login
Posted by Dr. H. Roibin, M.HI on Monday, 28 May 2012 in Blog Fakultas

INTEGRASI AGAMA DAN SAINS: (MODEL INTEGRASI HOLISTIK-INTEGRALISTIK)

Oleh: Dr. H. Roibin, MHI

Pendahuluan
Diskursus tentang integrasi sains dan agama bukanlah hal baru. Relasi keduanya dianggap sebagai isu klasik menarik  dan telah lama mewarnai corak pemikiran para agamawan, termasuk para agamawan di kalangan masyarakat muslim. Atas dasar itu, setiap kali isu perjumpaan sains dan agama didengungkan kembali, di mata mereka selalu saja memunculkan dua emage mendasar yang paradoks. Pertama; mengingatkan para agamawan belakangan atas sikap traumatika abad pertengahan mengenai relasi kritis keduanya.  Kedua; membukakan kenangan baru terhadap bukti kesuksesan masyarakat muslim era awal atas relasi dinamis keduanya. 
Kenangan di atas, baik yang pesimis maupun yang optimis sama-sama tidak pernah pudar dari cita-cita  idealnya untuk mengkonstruk kembali pengalaman gemilang para akademisi muslim yang respon terhadap paradigma integrasi tersebut. Sikap optimistik terintegrasinya dua entitas tersebut semakin menguat, ketika mereka sengaja mengenang kembali bukti riil pola integrasi yang dilakukan oleh para filsuf muslim beberapa abad yang silam. Beberapa filsuf muslim dimaksud antara lain Al-Kindi, Al-farabi, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd,  Ibnu Khaldun, dll. Di mana, masing-masing filsuf terkemuka tersebut dalam upayanya membedah hakikat kebenaran selalu menggunakan dua pendekatan holistik-integralistik, melalui penalaran rasional-diskursif (filsafat) pada satu sisi dan kesadaran emosional-intuitif (batin) pada sisi yang lain. Filsafat dalam hal ini mewakili dimensi sainsnya, sementara batin mewakili aspek agama. Inilah yang menurut al-Jabiri disebut dengan pendekatan bayani (tek), burhani (filsafat), dan irfani (rasa). Meski demikian kokohnya semangat integrasi itu, namun secara perlahan --dari masa ke masa—relasi keduanya telah mengalami pasang surut dan jatuh terpuruk hingga keduanya saling melupakan, bahkan tidak saling menyapa, seakan terdapat dinding kokoh yang membatasi hubungan harmonis keduanya. Terjadinya sekat pembatas di antara keduanya tampak mulai meruncing ketika Ian G. Barbour menghadirkan bukti empirik, terutama temuan teoretik Copernicus tentang teori "heliosentris"  yang kala itu mendapatkan dukungan kuat dari Galilio. Teori itu mengatakan bahwa matahari sebagai pusat tata surya, sementara itu Bible meyakini bahwa bumi sebagai pusat alam semesta. Pro kontra teori ini secara politis dianggap telah mencoreng otoritas kitab suci Bible, bahkan otoritas gereja. 
Lebih dahsyat lagi konflik agama dan sains itu, ketika Charles Darwin mengemukakan teori "Evolusinya". Sebab tanpa terasa komunitas saintis yang berfaham eteis, mengasumsikan bahwa teori evolusi Darwin dianggap sebagai grand theory yang dapat mengelaborasi secara holistik mengenai teori penciptaan. Dengan kata lain, sejak munculnya teori itu para saintis ateis merasa tidak perlu lagi berdiskusi dengan teori Tuhan sebagai pencipta alam ini. Ernst Haeckel, sebagai representasi saintis ketika itu mengatakan bahwa teori evolusi Darwin dianggap dapat menjelaskan misteri alam semesta, yang secara otomatis telah meruntuhkan konstruk teori ilahiyah. 
Serangan dahsyat para saintis Barat yang dilandasi oleh paradigma positivis, dari hari ke hari semakin kuat dan semakin menunjukkan kesan-kesan akademik-konstruktif. Lebih-lebih sejak gerakan aufklarong di Barat menjadi impian mereka. Trend positivis ini, semakin berkembang, semakin tidak memberikan ruang sama sekali terhadap paradigma lain, bahkan  berhasil menggeser perhatian paradigma lain mengikuti karakteristik pemikirannya. Sejak inilah pola integrasi tidak lagi terkonstruk secara ilmiah. Integrasi hanya sebatas pada pemberian nilai-nilai etika keagamaan terhadap sains dengan mendekatkan teks-teks keagamaan pada aspek luarnya saja. Dengan demikian tek-tek keagamaan selama ini telah berubah fungsinya, ia tidak lagi menjadi pilar yang kokoh, menghunjam ke dalam relung-relung sains, melainkan hanya sebatas fungsi lipstik yang bisa dibayangkan tingkat kekokohan integrasinya. Tidak lama kemudian pemikiran ini akan mengantarkan model tradisi integrasi dengan cara labelisasi, islamisasi, dan justifikasi yang tidak memerlukan kehadiran cara kerja ilmiah. Uniknya, model ini semakin mendominasi. Kondisi ini semakin diperparah, oleh sikap ilmiah masyarakat muslim yang cepat dan mudah merasa puas. Lebih naif lagi, sikap kepuasan itu konon karena mereka mampu menjinakkan sains dari sikap kritisnya dengan nilai-nilai etika keagamaan. Pekerjaan para saintis muslim pada era itu hingga sekarang selalu berjalan secara linier dengan pola ini.
Sejak itulah temuan-temuan teoretik yang terinspirasi dari ruh agama semakin langka. Dengan kata lain sangatlah minim temuan teoretik yang lahir dari dunia Islam pasca kejayaannya, kecuali sebatas pada upaya-upaya labelisasi. Inilah sebuah keprihatinan akademik yang selama ini dirasakan oleh para ilmuan yang concern pada paradigma integrasi dengan nilai-nilai etos kerja ilmiah.
Harapan dan Peluang Integrasi Agama dan Sains
Sikap pesimistik sebagai bentuk keprihatinan akademik mengenai kemungkinan terjadinya integrasi agama dan sains ketika itu memang telah beredar keseluruh urat nadi kita. Namun demikian idealitas generasi muslim dalam rangka menemukan kembali gagasan dan paradigma integrasi holistik-integralistik yang pernah hilang  tidak pernah surut dari cita-cita mereka. sekalipun di sana sini cita-cita memadukan agama dan sains hampir tidak pernah luput dari kritik maupun tolakan beberapa aliran yang kontras terhadap paradigma integrasi ini.  Sebab secara historis sikap ekspansionis antara ilmu dan agama yang telah banyak digagas oleh para orientalis selalu menyisakan akar permasalahan yang tidak sederhana. Dengan demikian konflik antara keduanya sangat potensial terjadi, jika dalam realitasnya cara pandang para ilmuan islam tentang sains dan agama banyak berkiblat terhadap mayoritas paradigma Barat yang acapkali menjadikan keduanya berpotensi konflik. 
Keraguan yang senantiasa menghantui konsistensi ilmuan integrasi agama dan sains muncul terutama sejak nalar pemikiran yang berusaha mengkonflikkan dan menkontraskan agama dan sains mendominasi. Lebih-lebih upaya mengkonflikkan antar keduanya itu telah diperkuat secara akademis dan filosofis oleh para orientalis yang sengaja membuat fragmentasi antar keduanya, mulai dari alasan-alasan ontologis, epitemologis, maupun aksiologis.
Dalam realitasnya tidak sedikit sistematika pemikiran muslim yang telah terhipnotis oleh model penalaran orientalis ini, bahkan mereka meng-amininya. Sebut saja misalnya adanya asumsi dasar yang mengatakan bahwa agama dianggap sebagai memiliki kebenaran mutlak, sakral, sementara ilmu adalah sebaliknya, yaitu nisbi dan profan. Agama dalam realitasnya senantiasa dipahami secara sangat normatif-intuitif,  sedangkan ilmu identik dengan nalar teoretik-diskursifnya. Agama berangkat dari sebuah keyakinan, sementara sains berangkat dari pemahaman dan observasi. Agama akan disebut utama jika diawali dengan keyakinan yang kuat tanpa harus menanyakan secara kritis terlebih dahulu apa sebenarnya hakikat yang diyakini tersebut. Sementara yang dianggap utama dalam sains jika diawali dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan sebagai indikator keraguan atas eksistensi sains tersebut.
Cara pandang di atas telah menggambarkan corak penalaran positivistik yang sangat menuhankan metode ilmiah-empirik. Aliran pemikiran yang sengaja mengkonflikkan antara agama dan sains. Sain menurut aliran ini dianggap sebagai dewa yang memiliki otoritas dalam menentukan suatu kebenaran.  Model penalaran di atas berangkat dari kerangka paradigmatik pemikiran orientalis yang berpijak pada statemen sains adalah bebas nilai. Melalui asumsi dasar pemikiran ini sains dan agama selamanya tidak akan pernah bersinergi, lebih-lebih berintegrasi. Kemungkinan di antara keduanya adalah konflik. Namun demikian tidak sedikit di antara kecenderungan pemikiran masyarakat muslim yang berpihak ke dalam corak Barat ini. Dengan begitu perhelatan wacana keilmuan integrasi yang saling melemahkan di dalam tubuh internal masyarakat muslim itu sendiri semakin menajam.
Hanya saja, tidak semua gagasan orientalis setuju terhadap upaya pemisahan itu. Huston Smith, mengatakan bahwa saling terjadinya pertentangan antara agama dan sains disebabkan karena kedua-duanya tidak saling terbuka dalam konteks ilmiah. Bahkan menurutnya, konflik yang diajukan oleh pandangan dunia ilmiah bukanlah pandangan yang dihasilkan dari sains murni, melainkan karena mayoritas mereka telah diwarnai oleh sikap ismenya yang berlebihan, yaitu sebagai saintisme. Klaim kebenaran komunitas dunia ilmiah itu menurut Smith tidak lebih merupakan asumsi-asumsi filosofis  yang sangat subjektif. Lebih-lebih Stephan J. Gould mengatakan bahwa konflik antara keduanya hanya ada dalam kognisi (fikiran) manusia, dan bukan berada pada kedua subjek yang sama sekali berbeda. Yang mengesankan sains tampak memusuhi agama sesungguhnya karena sikap skiptis ilmiah, yang hanya sebatas memberikan asumsi-asumsi pejoratif-subjektif terhadap temuan sains, guna mendukung faham materialisme ilmiah yang sengaja mereka konstruksi. Lebih jauh Hought menegaskan statemen di atas, bahwa bagi kita asumsi itu jelas bukanlah sains, melainkan sekadar peleburan sains yang dihiasi dengan sikap skeptis ilmiahnya, sehingga terkesan agama dan sains senantiasa menemukan konfliknya.

Lebih spesifik Sayyed Husen Nasr mengatakan bahwa terjadinya pertentangan antara agama dan sains disebabkan karena sain kosmologi dan metafisika telah dipahami secara sempit dari arti hakikinya. Menurutnya, kosmologi yang semestinya membincang semua tatanan realitas formal, di mana materi adalah salah satu bagian darinya, kini pemahaman kosmologi telah mengalami reduksi, kosmologi hanya dipahami terdiri dari materi fisik semata, sementara menafikan selainnya. Padahal dalam kosmologi inilah sains suci yang terdiri dari wahyu dan doktrin metafisika idealnya difahami.  Metafisika kini lebih akrab difahami sebagai kerangka pemikiran filsafat rasionalistik yang telah menggeser dimensi metafisis dari eksistensi sains itu sendiri. 
Walhasil terma integrasi ilmu dan agama telah mengundang perdebatan multi tafsir, yang tak jarang memunculkan cara pandang paradoksal di antara mereka. Ada yang mengatakan integrasi yang valid, sementara yang lain mengkritik integrasi yang naif, yaitu berusaha mencocok-cocokkan secara dangkal berbagai ayat suci dengan hasil temuan ilmiah. Dengan kata lain labelisasi sains dengan ayat. Kritik di atas ada kalanya tidak semuanya salah, karena selama ini—sejak kemunduran Islam--integrasi ilmu dan agama dalam realitasnya belum menunjukkan sikap holistik-integralistik dari ketiga ranah pembagian filsafat ilmu, yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Selalu saja praktik integrasi masih dominan pada ranah ontologis, itupun dengan cara legal formalistik  berupa labelisasi. Atas dasar itu ilmuwan muslim yang memiliki paradigma integrasi agama dan ilmu ini, tentu harus memiliki sikap yang inklusif, yaitu terbuka atas kritik yang ada. Sebab kritik itu kadang banyak hal yang memberikan masukan-masukan konstruktif. Keterbukaan kita terhadap integrasi itu, boleh jadi pada pola dan modelnya dan bukan pada masalah menerima atau tidaknya gagasan integrasi itu. Sebab bagi masyarakat muslim pro pada gagasan integrasi agama dan sains adalah keniscayaan akademis yang tidak dapat diingkarinya.
Beberapa Catatan Tentang Gagalnya Integrasi                                                       
serta Langkah-langkah solusinya
Sejauh ini diskursus wacana keagamaan dan sains belum menunjukkan adanya tata kerja ilmiah. Satu sisi sebatas pada upaya untuk mendekatkan keduanya secara paksa (emosional), hingga belum menunjukkan adanya sinergitas antara keduanya secara ilmiah. Pada sisi lain sengaja memisahkan hubungan keduanya secara pejoratif, dengan cara mempertajam perbedaan pelabelan di antara kedua entitas tersebut. Anggapan yang kedua ini mengatakan bahwa agama dan sain, sekalipun diupayakan untuk saling berdialektika, dalam realitasnya masih berjalan sendiri-sendiri. Dengan kata lain keduanya telah terjadi independensi, sama-sama berjalan linier sesuai dengan relnya masing-masing dan saling tidak menyapa. Tidak hanya itu, kadang di antara keduanya terjadi konflik yang sangat tajam. Menurut komunitas ini, jangankan akan terjadi integrasi di antara keduanya, dialog pun tidak akan pernah terjadi.
Dua kecenderungan paradoksal pemikiran di atas senada dengan pandangan Ion Barbour yang berhasil mentipologikan hubungan keduanya menjadi empat macam. Di antara keempat tipologi hubungan agama dan sain tersebut adalah, 1). Konflik, sains dan agama dianggap sebagai dua entitas yang saling bertentangan, sehingga manusia hanya berada pada satu pilihan, yaitu memilih sains dan menolak agama atau sebaliknya. Dari sinilah akan melahirkan dua kubu yang sama-sama berpotensi menjadi militanisme.2). Independensi, sains dan agama adalah dua bidang yang sama sekali berbeda, baik metodenya maupun substansi kajiannya. Ia bisa menghindari konflik tetapi mempersulit dialog antar keduanya. 3). Dialog, sesungguhnya ada titik-titik perjumpaan antara keduanya, yaitu adanya kemungkinan teori-teori ilmiah tertentu yang menerangi kepercayaan agama, demikian sebaliknya. 4). Integrasi, jika dalam pendekatan konflik evolusi dianggap sebagai menyingkirkan Tuhan, maka konflik dalam pandangan integrasi kurang lebih dianggap sebagai cara Tuhan menciptakan alam semesta dan isinya.
Sementara itu terdapat juga tipologi lain menurut Ibrahim Kalin, Ia membagi menjadi beberapa kelompok, 1). Kelompok yang melihat sains dari dimensi etika sosialnya, kelompok yang menekankan penyerapan sains dan teknologi modern yang bebas nilai untuk kemajuan muslim, sekalipun harus melengkapinya dengan etika Islam. 2). Kelompok yang melakukan kritik tajam terhadap epistemologi sains modern. Sehingga tidak dianggap memiliki kebenaran. 3). Kelompok yang setia pada pandangan metafisika tradisional dan mengkritik secara radikal terhadap metafisika sains modern.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa muncul beberapa varian tipologi mengenai hubungan sains dan agama pasca kejayaan Islam? Mengapa pula model tipologi tersebut senantiasa terdaur ulang sepanjang sejarah kehidupan umat Islam pasca kejayaannya? Jawabnya adalah karena belum adanya keterbukaan masyarakat muslim—karena menghindari rasional, filsafat-- dalam menangkap makna esensi suatu agama pada satu sisi, di sisi lain belum adanya kesadaran untuk mengakui pentingnya sains  bagi agama. Mereka masih memandang agama adalah agama. Ia adalah wahyu yang suci, sebagai isu langit yang sakral, murni, sehingga ada jarak yang jauh dengan manusia. Ia hadir di tengah-tengah kehidupan sains dengan karakteristik dan watak aslinya, yaitu sebagai doktrin. Ia belum hadir sebagai manifestasi penjelasan teoretik melalui proses dan kerja ilmiah. Dengan demikian penjelasan-penjelasan yang terlontar dan terinspirasi dari wahyu masih berujud bahasa agama (doktrin), dan belum menjadi bahasa sains, sudah barang tentu melalui logika dan penalaran ilmiah.
Atas dasar ini semua, agar kiranya agama itu bisa bersinergi dan berintegrasi dengan sains, maka pemahaman atas agama harus mampu memanifestasi menjadi bahasa sains, bahasa yang sesuai dengan kerangka kosmologisnya (‘ala qadri ‘uquulih). Bahasa agama setidaknya harus ditafsir dalam kerangka bahasa sains, melalui piranti epistemologi sains modern, yaitu logika keagamaan yang dikonstruk melalui kekuatan nalar logis, rasionalis, filosofis, dan empiris. Demikian sebaliknya, bahwa nalar logis, rasionalis, filosofis yang empiris tidak akan pernah merasa liar, sebab dalam implementasinya ia selalu diinspirasi oleh  logika penalaran  keagamaan (wahyu). Dari sini, penggalian makna hakikat keagamaan tidak akan menuai pemahaman yang dangkal, karena kuatnya sistem penalaran logis, rasionalis dan filosofis. Oleh karena itu, kedua entitas tersebut pada hakikatnya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri apalagi konflik. Atas dasar inilah, benar apa yang distatemenkan oleh Rasul bahwa agama adalah rangkaian-rangkaian ‘aqal, dan tidak disebut agama bagi siapa saja yang tidak cukup nalar untuk memahaminya. Dengan demikian di dalam sains terdapat dimensi agama (sistem nilai), sebaliknya di dalam agama terdapat sains (sistem kognisi).   
Oleh sebab itu dalam kajian ini perlu kiranya menghadirkan langkah-langkah sistematis untuk membangun pola integrasi agama dan sains. Beberapa upaya solutif-sistematis tersebut antara lain:
1). Sainisasi wahyu, bagaimana wahyu dipahami dan dibaca dalam kerangka sains, melalui logika sains. Tentu belum semua wahyu sanggup diartikulasi secara sains, melainkan beberapa bagian wahyu saja yang bisa dijelaskan secara teoretik dengan bahasa sains. Dalam hal ini tidak berarti wahyu pada akhirnya akan mengalami pergeseran makna, esensi maupun eksistensi fungsinya tetap saja sebagai wahyu. Pada satu sisi ia memiliki kekuatan doktriner, sakral, namun disi lain ia telah memberikan ispirasi sains berupa penjelasan teoretik. Dengan munculnya penjelasan teoretik baru yang terinspirasi dari wahyu tersebut maka secara otomatis bahasa agama yang demikian ini akan bisa disandingkan, di dialogkan bahkan diintegrasikan dengan sains murni.
Sebab bahasa agama yang terkesan sangat sakral tersebut telah menjelma menjadi bahasa yang sederajat dengan logika sains murni melalui konstruksi penalaran rasional manusia. Inilah yang dimaksud dengan sainisasi wahyu. Sainisasi wahyu tidak berarti merubah sedikit pun teks wahyu menjadi bahasa teks sains yang baru, melainkan berusaha menafsirkan teks wahyu sesuai dengan konteks kehidupan sains yang berkembang. Dengan begitu keberadaan wahyu bagi kehidupan manusia memiliki multi fungsi, yaitu fungsi doktrin (petunjuk, pembeda hak dan batil, obat, penjelas, nasihat, pedoman, dll.) dan fungsi sains. Tanpa dengan cara itu hanya omong kosong belaka proses integrasi sains dan agama akan terjadi.
2). Konkritisasi dan humanisasi wahyu, dalam hal ini bagaimana dimensi wahyu yang sangat abstrak dan universal itu secara humanis bisa diimplementasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain bagaimana membaca wahyu dalam kerangka kehidupan praksis-humanistis sesuai dengan semangat ajaran nilai-nilai kearifan lokal. Tentu saja langkah yang kedua inipun juga tidak akan menggeser makna universalitasnya. Justru dengan cara ini wahyu akan terlihat aspek-aspek universalitas dan aktualitasnya. Sebab pada awalnya wahyu bersifat imaterial yang  sangat abstrak, namun karena tuntutan situasional dan kondisional untuk menyapa dan merespon kehidupan yang material dan kongkrit ini, membuatnya berubah menjadi simbol-simbol, huruf atau lafdz yang berupa teks. Oleh sebab itu kita bermaksud menangkap kembali aspek-aspek kongkrit melalui simbol-simbol teks wahyu itu. Sebab pada hakikatnya kehadiran wahyu adalah untuk pedoman bagi manusia.
Mengingat fungsinya sebagai pedoman, maka ia secara lintas bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan kongkrit di mana masyarakat itu berada. Sebab wahyu bukan untuk kelompok tertentu saja, ia bisa menjawab berbagai permasalahan kompleks dan multi-kultural. Bagi masyarakat abangan mereka bisa beribadah kepada Allah dengan simbolnya, bahasanya, dan semangat kulturnya. Mereka tidak harus bergamis dan bersorban, tetapi cukup dengan sarung dan berkopyah hitam. Demikian juga bagi masyarakat priyayi, dalam beribadah mereka tidak harus sama sebagaimana simbol abangan, melainkan mereka bisa mengenakan celana dan berdasi. Demikian juga dari komunits lain yang berlatar belakang kultur sosial berbeda, tentu mereka juga akan mengenakan simbol yang berbeda pula. Mereka secara kongkrit bisa mengenakan simbolnya masing-masing, tanpa harus mengekang dan mengikatnya dengan simbol aliran tertentu.
Inilah yang dimaksud dengan kongkritisasi wahyu. Konkritisasi wahyu tidak berati menganggap wahyu tidak konkrit, sehingga harus dirubah redaksi bahasanya. Konkritisasi wahyu berarti upaya penafsiran terhadap teks yang mampu menghasilkan pemahaman konkrit dan mudah diterapkan oleh komunitasnya masing-masing. Inilah sebabnya penafsiran wahyu membutuhkan kesadaran dan kemampuan penelusuran secara historis, baik bi al-riwayat (teks) maupun bi al-dirayat (konteks). Ini pulalah yang menyebabkan adanya pergeseran pemahaman keagamaan antara komunitas satu dengan yang lainnya. Yang satu tunduk atas pemahaman secara teks, sementara yang lain mengikuti tuntutan konteksnya. Dengan begitu tidak menutup kemungkinan tafsir dan implementasi keagamaan berbeda-beda sekalipun dengan panduan teks wahyu yang sama.
3). Rasionalisasi wahyu, mengapa rasionalisasi wahyu dianggap sebagai langkah penting dalam integrasi sains dan agama? Dalam hal ini pada awalnya teks wahyu itu sendiri juga menyesuaikan dengan pemikiran rasional kehidupan masyarakat di mana teks wahyu tersebut diturunkan. Oleh karena itu, rasionalisasi wahyu berarti berupaya mengembalikan dan menguak dimensi rasional kehidupan masyarakat melalui konstruksi teks wahyu yang ada. Dengan demikian teks tersebut berarti tetap hidup, sebab ia selalu berdialektika dengan masanya kaitannya dengan rasionalitas kehidupan masyarakat terkini.
Dengan kata lain upaya para mufasir untuk menangkap makna wahyu dengan pendekatan rasional-filosofis, empiris, dan praksis adalah salah satu upaya membumikan teks wahyu tersebut dengan bahasa sains. Tentu saja penjelasan teks wahyu dengan pendekatan tersebut akan bisa mendudukkan agama pada posisi yang akrab dengan sains murni. Pada gilirannya agama yang demikian akan secara otomatis mengalami proses integrasi dengan sains murni. Penalaran semacam ini tentu akan membawa dampak perilaku keagamaan mereka menjadi lebih terbuka. Memandang agama bukanlah harga mati, karena agama pada hakikatnya adalah hasil konstruksi penafsiran dan pemahaman manusia melalui inspirasi wahyunya.
Dengan begitu agama adalah bagian dari sains itu sendiri. Sebab ia adalah hasil keputusan subjektif manusia dari shara’ atau wahyu. Agama dalam hal ini juga berarti nisbi, dengan kata lain hasil penafsiran keagamaan pada suatu ketika akan tergeser oleh hasil tafsir maupun penjelasan keagamaan orang lain. Hanya wahyu atau syara’lah yang memiliki absolusitas dan ketetapan yang tidak berubah-rubah.  
Cara pemahaman agama seperti ini tentu memiliki efek dan resiko akademik yang berbeda. Resiko akademik yang akan dirasakan adalah semakin dekatnya sains dan agama dalam kehidupan sehari-hari. Jika sains harus bersandar pada  observasi, pengamatan terlibat, pemahaman, berangkat dari keraguan dan tak mudah percaya, ketidakpercayaan sebelum adanya pembuktian adalah keutamaan, bersikap terbuka terhadap pandangan baru, bahasa yang digunakan cenderung lebih lugas, faktual, dan literal, memiliki kebenaran nisbi, maka agama pun dalam hal ini juga berada pada posisi yang sederajat. Agama tidak cukup hanya bersandar pada otonomi keyakinan, melainkan beragama memerlukan seperangkat penalaranan kritis, yang berfungsi mempertanyakan, mengobservasi, memahami, menafsirkan, sebagaimana proses keberagamaan yang dialami dan dirasakan oleh Nabi Ibrahim AS. ketika itu.
Agama tidak cukup berangkat dari doktrin supernatural, beragama juga membutuhkan doktrin-doktrin rasional pada wilayah yang lebih natural. Oleh karenanya untuk menguatkan keimanan dan ketaqwaan, seorang beragama tidak cukup dengan melakukan doktrin supranatural, melainkan juga dengan doktrin rasionalnya. Pertama dengan melalui pendekatan normatif-intuitif, sementara kedua dengan menggunakan pendekatan natural-diskursif. Hal ini berarti bahwa sikap pasrah dan percaya terhadap otoritas lain tanpa bertindak kritis merupakan potret beragama yang apatis dan pasif. Dalam beragama orang dituntut lebih aktif, dinamis dan konstruktif. Termasuk juga, sikap yang cenderung defensif terhadap cara baru pemahaman keagamaan, menggambarkan cara beragama yang pasif.
Tidak hanya dari kalangan antropolog, dari kalangan Islamolog yang menaruh respon pemahaman agama secara kontekstual, juga memiliki pemahaman serupa bahwa agama yang tampil di tengah kehidupan masyarakat akan senantiasa beradaptasi dengan zamannya. Para pemerhati keislaman itu antara lain Fazlur Rahmān dengan neomodernismenya , Muhammad Abed al-Jābiri, dengan post-tradisionalismenya  (pendekatan historisitas, objektivitas dan kontinyuitas), Muhammad Arkoun dengan post-modernismenya , Nasr Hamid Abū Zaid dengan strukturalismenya , Hasan Hanāfi dengan oksidentalismenya , dan  M. Shahrūr dengan marxismenya , termasuk juga kalangan muda Islam belakangan dengan liberalismenya.
Bangunan epistemologi dari para tokoh di atas tidak saja berusaha untuk mengadopsi epistemologi yang berkembang di Barat, yaitu murni sebagai antropologi Barat, lebih dari itu mereka berupaya untuk mengkolaborasikan dengan epistemologi Islam secara kritis, analitis dan objektif. Implikasi metodologis pemahaman keagamaan Fazlur Rahmān tersebut melahirkan pemahaman bahwa agama dianggap sebagai tindakan untuk mengikuti shara’ yang subjeknya adalah manusia . Pandangan Fazlur Rahmān ini mengandung pengertian bahwa agama adalah otoritas subjektif manusia yang dikomunikasikan melalui shara’.  Hal ini sama artinya bahwa agama adalah tindakan manusia yang sangat subjektif untuk mengikuti shara’. Dengan kata lain agama adalah hasil dialektika kompromistik dari wahyu dan pengalaman subjektif manusia.
Karena itu, agama oleh para ilmuwan muslim yang berbasis ilmu-ilmu antropologi tidak jarang dianggap sebagai bagian dari sistem budaya (sistem kognisi). Selain agama juga dianggap sebagai sumber nilai (sistem nilai) yang tetap harus dipertahankan aspek otentisitasnya. Di satu sisi agama dalam perspektif ini, dipahami sebagai hasil dari tindakan manusia, baik berupa budaya maupun peradaban. Pada sisi lain agama tampil sebagai sumber nilai yang mengarahkan bagaimana manusia berperilaku. Hans Khün dan Ignas Kleden juga memiliki cara pandang yang sama tentang apa yang dimaksud agama . Keduanya berkesimpulan bahwa agama adalah tergantung oleh keputusan yang menghayatinya. Keputusan yang dimaksud tentu saja suatu keputusan yang dihasilkan  setelah terjadinya proses dialektik antara agama sebagai sumber nilai dan agama sebagai hasil pengalaman kemanusiaan.   
Idealitas Cara Pandang Epistemologis antara Nalar Ilmu dan Agama
Berangkat dari cara pandang agama seperti di atas, maka akan ada perjumpaan nilai-nilai epistemologis antara sains dan agama. Di antara kesamaan epistemologis tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1). Sains bersifat dinamis dan transformatif mengikuti perkembangan nalar manusia. Terbuka kemungkinan kritik atas temuan teori baru yang lebih signifikan. Berpotensi  menjadi model dan disakralisasikan oleh masyarakat. Murni hasil konstruksi pemikiran manusia pada zamannya.
Tidak hanya sains, makna dan nilai-nilai agama pun juga bersifat dinamis, kolaboratif, dan kompromistis dengan zamannya. Terbuka kemungkinan kritik dan penilaian dari hasil tafsir keagamaan baru yang lebih relevan denga zamannya. Berpotensi menjadi keyakinan mitis dari penghayatnya. Agama adalah hasil konstruksi kompromistik (dua arah) antara pemikiran logis (konteks) yang terinspirasi oleh pemikiran normatif (teks). Dengan demikian, baik nalar sains maupun agama tidak lagi ada jarak yang senjang yang mengantarai keduanya. Sebab nalar agama yang dimaksudkan di sini bukanlah nalar agama yang belum melalui proses sentuhan pemikiran manusia, melainkan nalar pemikiran subjektif yang terinspirasi dari teks suci keagamaan. Dengan kata lain proses penalaran tersebut dapat dinamakan dengan proses sainisasi wahyu.
A.Tawaran Integrasi ”Holistik-Integralistik” antara Sains dan Agama
Model integrasi agama dan sains secara ” holistik-integralistik” adalah model integrasi yang melibatkan secara holistik semua ranah filsafat, mulai dari a). Ontologis “Hakikat yang ada” . b). Epistemologi “Teori pengetahuan” terdiri dari sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Ada dua aliran pokok dalam epistemologi, 1) aliran idealisme-rasionalis, aliran yang menekankan akal, ide, kategori, form sebagai sumber mencapai pengetahuan ilmiah, dalam hal ini indra dinomorduakan. 2) Aliran realisme-empiris yang menekankan pada objek empiris melelui pengindraan, dan c). Aksiologis, pada dasarnya ilmu harus dimanfaatkan bagi kemaslahatan manusia

Rate this blog entry:
0
Tags: Array
BIODATA PENULIS

ROIBIN, lahir di Nganjuk pada 18 Desember 1968. Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Warujayeng IV Kec. Tanjunganom (1977-1983). Selanjutnya meneruskan ke SMPN I Tanjunganom (1983-1986). Pada tingkat selanjutnya, meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nglawak Kertosono (1986-1989). Setelah itu ia melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Malang pada fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab (1989-1994). Sedangkan gelar magisternya diperoleh dari UNISMA dengan konsentrasi Hukum Islam. Karir studi doktoral (S-3) nya di selesaikan di IAIN “SA” Surabaya pada tahun 2008 dengan konsentrasi keilmuan “Antropologi Hukum Islam”.

Kini, selain aktif sebagai dosen tetap di almamaternya (UIN Malang, sejak 1994-sekarang) ROIBIN juga aktif melakukan kajian-kajian, seminar dan penelitian di berbagai lintas Perguruan Tinggi. Di antara penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian kompetitif STAIN Malang “Pernikahan Dini (Kontradiksi Antara Hukum Syar’i dan Hukum Positif) (1999), penelitian kompetitif di kalangan dosen STAIN Malang “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani Santri Gondanglegi” (2002), penelitian kompetitif STAIN Malang “Pemikiran Hukum Islam di Tengah Perubahan Sosial Budaya” (2002), penelitian Pemda Pasuruan “Managemen dan Pemberdayaan Pesantren di Pasuruan” (2004), penelitian dari Pemda Pasuruan (2004) “Ketergantungan Masyarakat terhadap Keberadaan PSK (Kasus di Tretes Pasuruan)”, penelitian dari Litbang “Pemetaan Kurikulum Nasional” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Pergeseran Tafsir Wanita Perspektif Islam Kontemporer” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Perubahan Perilaku Sosial Akademik di Kalangan para Aktifis OMIK UIN Malang” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Praktik Poligami di Kalangan Kyai Pesantren Jawa Timur” (2007). Penelitian individu tentang “Mitos Pesugihan dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat Islam Kejawen (Studi Konstruksi Sosial Mitos Pesugihan di Kalangan Para Peziarah Masyarakat Muslim Kejawen” (2008).

Adapun beberapa karya ilmiah yang telah terbit di beberapa jurnal, majalah, maupun Koran antara lain: 1) Menengok Dimensi Spiritualitas dan Moralitas di Tengah Kemajuan Iptek, Majalah Tarbiyah ((1996), 2) Wilayatu al-Faqih Ayatullah Khumaini, Jurnal STAIN Malang (1998), 3). Agama dan Tantangan Masyarakat Indonesia Baru, Jurnal Ulul albab STAIN Malang (1999), 4). Islam: Antara Idealita dan Realita, Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 5). Islam dan HAM (Antara Ansolutisme dan Relatifisme), Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 6). Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita, Majalah El-Harakah (2000), 7). Upaya Memperkecil Pintu Kesenjangan Sosial, Tabloid Gema STAIN Malang (2000), 8). Berhaji Meriah Berzakat Susah, Jawa Pos Kajian Utan Kayu (2003), 9). Menuju Pendidikan Berbasis Kerukunan, El-Harakah (2003), 10). Membangun Kerangka Epistemologi Pengembangan Ilmu, dalam buku”Memadu Sains dan Agama” (2004), 11). Rekonstruksi Pemikiran Ulul albab, Radar Malang (2005), 12). Mitos dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Islam Kejawen, Jurnal Lorong (2005), 13). Reformulasi Epistemologi dalam Islam, Jurnal Terakreditasi, Akademika IAIN “SA” Surabaya (2005), 14). Pembacaan Teoretik Perilaku Politik Ikhwanu al-Muslimin, Jurnal el-Qisth Syari’ah UIN Malang (2005), 15). Pembacaan Kontekstual Fazlur Rahman atas Sunnah dan Hadits (Dialektika Pemikiran Tradisionalis dan Modernis), Jurnal LKQS UIN Malang (2007), 16). Kyai, Santri dan Kitab Kuning, Majalah INOVASI UAPM UIN Malang (2008), 17). Menuju Pendidikan Berbasis Humanisme, Jurnal STAIN Jember (2008)

Comments

Statistik Komunitas 

Statistics
Total Members : 268
Total Groups : 0
Total Discussion : 0
Total Bulletins : 0
Total Activities : 157
Total Wall Posts : 0
Total Events : 0

Data Pengunjung 

3638423
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2477
6034
51761
3536617
151246
186616
3638423

Your IP: 54.205.207.53
Server Time: 2014-11-23 15:38:02