123

Blog Sivitas Akademik Fakultas Syariah

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login
Posted by Dr. H. Roibin, M.HI on Sunday, 20 May 2012 in Blog Fakultas

BEBERAPA FAKTOR SOSIAL-POLITIK PENYEBAB MUNCULNYA KONFLIK HORISONTAL ANTAR INTERN UMAT BERAGAMA

Oleh : Roibin

Kebudayaan suatu bangsa pada prinsipnya adalah realitas yang majemuk atau varian. Hanya bagi masyarakat yang tergolong kecil saja, yang dapat berkembang tanpa memiliki pluralitas budaya sama sekali, seperti pada masyarakat suku-suku terpencil yang tidak mampu mengembangkan pola hidupnya. Sebaliknya, pengembangan pola kehidupan yang meniscayakan adanya keseragaman atau upaya-upaya sentralisasi adalah menggambarkan pola pengembangan kehidupan yang tidak berbudaya. Pala kehidupan yang tidak memberi ruang kepada masyarakatnya untuk berkreasi dan berimajinasi subjektif berdasarkan pengalaman kehidupannya. Anehnya pola kehidupan sejenis inilah yang banyak berkembang di masyarakat. Padahal masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang berangkat dari kemandirian subjektif itu, dan dari sanalah kamajemukan atau apa yang disebut dengan pluralitas itu menjadi keniscayaan adanya.
    Sementara itu pula, agama sebagai hasil rancang bangun dari akumulasi konsep, pandangan, penafsiran, dan gagasan manusia (Pattern of Behaviour) melalui pedoman teks sucinya (Pattern For Behaviour) berdasarkan pengalaman kemanusiannya, senantiasa berada di atas siklus budaya yang plural itu. Dengan demikian sadar atau tidak, agama --sebagai sistem nilai-- pada satu sisi, telah mempersilahkan dirinya secara terbuka untuk selalu berdialektika dengan siklus budaya yang dinamis itu—sistem kognisi--. Agama sebagai sistem nilai, sudah barang tentu pada saatnya telah mengalami proses akulturasi, kolaborasi bahkan sinkretisasi terhadap kemajemukan budaya sebagai hasil tindakan manusia, atau kemajemukan budaya yang masih berada pada ranah pemikiran maupun sikap manusia itu sendiri. 
    Bertitik tolak dari premis dasar inilah, problem  perbedaan pembacaan antar intern umat beragama terhadap eksistensi agama itu terjadi. Pada satu pihak, diantara mereka memiliki idealitas untuk mengembalikan agama itu dari kontaminasi-kontaminasi budaya yang sangat akut, seraya menjaganya dari kemungkinan-kemungkinan bid’ah, khurafat, dan tahayul. Agama Islam dalam hal ini dipersonifikasikan sebagai agama milik bagsa Arab, sehingga cara pemahamannya, kulturnya, serta semangatnya dikonstruk dengan cara pemahaman ala Arab. Sementara pada pihak lain ingin membumikan agama itu dalam konteks pengalaman kemanusiaan dengan basis kearifan lokalnya. Dengan demikian agama tentu saja menyatu dengan budaya, sehingga tidak terlihat lagi mana wajah kemurnian dari agama itu sendiri. Disinilah cikal bakal munculnya perbedaan pandangan antar intern umat beragama terhadap apa yang dimaksudkan dengan agama itu sendiri.  
    Perbedaan cara pemahaman agama di atas, pada hakikatnya adalah  sunatullah dan disitulah rahmat bagi yang mengetahuinya. Sebaliknya, perbedaan itu bagi mereka yang tidak memahaminya seringkali dianggap sebagai penyebab terjadinya fragmentasi, keretakan dan konflik horisontal antar intern umat beragama itu sendiri. Oleh karena itu, jika perbedaan  pemahaman mengenai eksistensi agama itu,  didasarkan pada upaya pencarian kebenaran suatu ajaran, maka pada saatnya perbedaan-perbedaan itu akan menemukan titik perjumpaannya. Disinilah keindahan rahmat yang digambarkan agama akan terhayati.
Sementara itu, ketika perbedaan-perbedaan pemahaman itu telah memperoleh legitimasi kepentingan politis, yaitu ingin memperoleh pendukung atas kebenaran konsep dari kelompoknya masing-masing, maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu semakin menajamnya tingkat perbedaan-perbedaan tersebut. Penalaran tersebut bisa dibenarkan karena, dengan cara itu masing-masing kelompok yang berbeda juga akan sama-sama melakukan truth claim.
Karena itu ketika pemahaman agama telah terasuki oleh cara berpikir politis, tentu saja konsepsi agama akan kehilangan makna universalitasnya. Reduksi makna agama terjadi, karena pertimbangan-pertimbangan konsepsional yang menguntungkan kepada kelompoknya akan tetap dibela sekalipun salah. Uniknya, konsepsi yang terlanjur salah ini, secara pereodik telah memperoleh justifikasi-justifikasi. Dengan demikian pandangan keagamaan ini telah beralih fungsinya menjadi keyakinan mitologis yang memiliki nilai kesakralan, melebihi tingkat kesakralan teks sucinya.
    Fenomena perilaku keberagamaan yang terjadi dikalangan intern umat beragama, utamanya di Indonesia –selama ini--, telah mengindikasikan sebagai corak keberagamaan yang politis-ideologis dan legal-formalistik itu. Dengan demikian tipologi aliran keberagamaan yang ada di Indonesia dengan mudah bisa dilabeli dengan simbol dan karakter yang relatif permanen. Misalnya tipologi keberagamaan tradisionalis, modernis, fundamentalis, kesemuanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dan relatif permanen.
Pola keberagamaan tradisionalis misalnya, yang akrab dengan kehidupan turatsnya, serta kondisi sosio-kultural yang melingkupinya, sedangkan pola keberagamaan modernis yang cenderung memutus warisan sejarah dan kembali kepada qur’an dan hadis, sementara itu, fundamentalis yang cenderung kembali pada kehidupan rasul dan para sahabatnya. Cara dan model keberagamaan semacam ini, terjadi secara regeneratif dan turun-temurun.
Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing tipologi keagamaan tersebut secara politis-ideologis saling mempertahankan  cara pemahaman dan perilaku penghayatan keagamaannya. Di antara kelompok keagamaan tersebut tidak ditemukan adanya pembaharuan-pembaharuan cara pemahaman keagamaan dan penghayatan kegamaannya sesuai dengan tuntutan situasional dan kondisional. Mereka khawatir bahwa dengan melakukan pembaharuan terhadap bagaimana cara pemahaman dan penghayatan keagamaannya itu, kelompoknya akan kehilangan nilai-nilai sakralitas dan kewibawaannya. Keadaan inilah yang membuat masing-masing kelompok keagamaan tersebut menganggap bahwa apa yang telah dipahaminya, telah memiliki kebenaran final. Sementara yang dipahami oleh kelompok lain dianggap sesat.
Padahal kebenaran pemahaman suatu ajaran agama, menuntut adanya pembaharua-pembaharuan secara kontinuitas, sesuai dengan perkembangan zamannya. Atas dasar inilah maka munculnya pola keberagamaan baru seperti post-tradisionalis dari kalangan tradisionalis muda, post-modernis dari kalangan modernis muda adalah tuntutan, sekaligus mengindikasikan perlunya penyegaran-penyegaran baru dalam sebuah pemahaman keagamaan.
Dari beberapa faktor pemahaman di atas akan melahirkan beberapa sikap keberagamaan baru, antara lain :
Pertama : panatisme dan militanisme terhadap golongan. Sikap ini akan melahirkan perilaku yang tendensius dan cenderung subjektif terhadap kelompoknya. Membela membela dan mempertahankan mati-matian terhadap eksistensi kelompoknya sekalipun keberadaan mereka salah, dan tidak menguntungkan masyarakat beragama pada umumnya. Selain itu sikap ini juga akan memunculkan perilaku yang komit, dalam artian berani melakukan pembelaan-pembelaan subjektif terhadap kelompoknya. Keadaan inilah yang membuat konflik horisontal cenderung menajam di kalangan masing-masing kelompok keberagamaan tersebut.
Bermula dari sikap ini pulalah kesadaran peradaban (Civilization Consciousness) yang bersekala universal (general) berubah menjadi sekala lokal (particular), pada kelompoknya. Karena itu dunia semakin menyempit, karena keseharian yang dipikirkan adalah mempertemukan perbedaan-perbedaan secara intensif di antara masing-masing kelompok tersebut. Yang ada dalam bayangan mereka adalah mencari perbedaan dan menampak-nampakkan perbedaan itu   
Kedua : eksklusifisme, sikap yang lain dari yang lain. Sikap ini menyatakan bahwa hanya kelompoknyalah yang memiliki kebenaran, sementara kelompok lain di anggap sesat. Sikap ini bisa membuat kelompok ini sangat tertutup, tidak menerima kritikan, masukan, bahkan menilai kelompok lain itu najis, masuk neraka. Padahal Islam itu hakikatnya adalah terbuka, mampu berdialektika dengan peradaban dan budaya manapun. Islam juga mengakui adanya kebenaran yang dimiliki oleh kelompok lain.
Ketiga : Perilaku stagnan, yaitu perilaku tercerabutnya daya kritis dan analitis yang menciptakan dinamisasi pemikiran keagamaan para pemeluknya. Hal ini terjadi karena para pemeluknya tidak memperoleh ruang untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan pemikiran keagamaan yang ada pada kelompoknya masing-masing, yang ada justru sebaliknya, yaitu kecenderungan untuk mewarisi, mensakralkan, dan memitologikannya.

Rate this blog entry:
Tags: Array
BIODATA PENULIS

ROIBIN, lahir di Nganjuk pada 18 Desember 1968. Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Warujayeng IV Kec. Tanjunganom (1977-1983). Selanjutnya meneruskan ke SMPN I Tanjunganom (1983-1986). Pada tingkat selanjutnya, meneruskan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nglawak Kertosono (1986-1989). Setelah itu ia melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Malang pada fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Arab (1989-1994). Sedangkan gelar magisternya diperoleh dari UNISMA dengan konsentrasi Hukum Islam. Karir studi doktoral (S-3) nya di selesaikan di IAIN “SA” Surabaya pada tahun 2008 dengan konsentrasi keilmuan “Antropologi Hukum Islam”.

Kini, selain aktif sebagai dosen tetap di almamaternya (UIN Malang, sejak 1994-sekarang) ROIBIN juga aktif melakukan kajian-kajian, seminar dan penelitian di berbagai lintas Perguruan Tinggi. Di antara penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian kompetitif STAIN Malang “Pernikahan Dini (Kontradiksi Antara Hukum Syar’i dan Hukum Positif) (1999), penelitian kompetitif di kalangan dosen STAIN Malang “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani Santri Gondanglegi” (2002), penelitian kompetitif STAIN Malang “Pemikiran Hukum Islam di Tengah Perubahan Sosial Budaya” (2002), penelitian Pemda Pasuruan “Managemen dan Pemberdayaan Pesantren di Pasuruan” (2004), penelitian dari Pemda Pasuruan (2004) “Ketergantungan Masyarakat terhadap Keberadaan PSK (Kasus di Tretes Pasuruan)”, penelitian dari Litbang “Pemetaan Kurikulum Nasional” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Pergeseran Tafsir Wanita Perspektif Islam Kontemporer” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Perubahan Perilaku Sosial Akademik di Kalangan para Aktifis OMIK UIN Malang” (2005), penelitian kompetitif UIN Malang “Praktik Poligami di Kalangan Kyai Pesantren Jawa Timur” (2007). Penelitian individu tentang “Mitos Pesugihan dalam Tradisi Keberagamaan Masyarakat Islam Kejawen (Studi Konstruksi Sosial Mitos Pesugihan di Kalangan Para Peziarah Masyarakat Muslim Kejawen” (2008).

Adapun beberapa karya ilmiah yang telah terbit di beberapa jurnal, majalah, maupun Koran antara lain: 1) Menengok Dimensi Spiritualitas dan Moralitas di Tengah Kemajuan Iptek, Majalah Tarbiyah ((1996), 2) Wilayatu al-Faqih Ayatullah Khumaini, Jurnal STAIN Malang (1998), 3). Agama dan Tantangan Masyarakat Indonesia Baru, Jurnal Ulul albab STAIN Malang (1999), 4). Islam: Antara Idealita dan Realita, Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 5). Islam dan HAM (Antara Ansolutisme dan Relatifisme), Jurnal Ulul Albab STAIN Malang (1999), 6). Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita, Majalah El-Harakah (2000), 7). Upaya Memperkecil Pintu Kesenjangan Sosial, Tabloid Gema STAIN Malang (2000), 8). Berhaji Meriah Berzakat Susah, Jawa Pos Kajian Utan Kayu (2003), 9). Menuju Pendidikan Berbasis Kerukunan, El-Harakah (2003), 10). Membangun Kerangka Epistemologi Pengembangan Ilmu, dalam buku”Memadu Sains dan Agama” (2004), 11). Rekonstruksi Pemikiran Ulul albab, Radar Malang (2005), 12). Mitos dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Islam Kejawen, Jurnal Lorong (2005), 13). Reformulasi Epistemologi dalam Islam, Jurnal Terakreditasi, Akademika IAIN “SA” Surabaya (2005), 14). Pembacaan Teoretik Perilaku Politik Ikhwanu al-Muslimin, Jurnal el-Qisth Syari’ah UIN Malang (2005), 15). Pembacaan Kontekstual Fazlur Rahman atas Sunnah dan Hadits (Dialektika Pemikiran Tradisionalis dan Modernis), Jurnal LKQS UIN Malang (2007), 16). Kyai, Santri dan Kitab Kuning, Majalah INOVASI UAPM UIN Malang (2008), 17). Menuju Pendidikan Berbasis Humanisme, Jurnal STAIN Jember (2008)

Comments

Statistik Komunitas 

Statistics
Total Members : 266
Total Groups : 0
Total Discussion : 0
Total Bulletins : 0
Total Activities : 156
Total Wall Posts : 0
Total Events : 0

Data Pengunjung 

2435028
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2556
5091
22144
2379409
79331
160356
2435028

Your IP: 54.211.138.180
Server Time: 2014-04-17 12:28:48