2A2A.png12021611G

Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

ASWAJA : SEJARAH, DOKTRIN DAN IMPLEMENTASINYA

Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4

 

 

Oleh : Dr. Roibin, MHI.

 

Terminologiaswaja (ahlussunnah waljamaah) bukankah terma baru di mata masyarakat muslim. Ia adalah terminologi keagamaan klasik yang telah mengakar kuat di dalam keyakinan eskatologis masyarakat muslim. Aswaja tanpa terasa telah memberikan arah dan corak model keberagamaan yang sangat varian bagi masyarakat muslim sesuai dengan hasil pendekatan tafsir para imam yang diikutinya. Namun demikian, terma aswaja tidak sedikit menyisakan problematika di kalangan internal umat Islam itu sendiri, utamanya dalam hal yang berkenaan dengan dimensi teologis (aqidah) mereka. Banyak pihak mengatakan bahwa akar permasalahan terma keagamaan tersebut sejatinya bersumber dari kepentingan politis yang bermuara pada simbol-simbol teologis dan hajat keagamaan lainnya. Sebaliknya, mereka menganggap bahwa permasalahan yang muncul dari aswaja itu murni sebagai isu teologis an sich, hanya saja semangat perjuangannya banyak menggunakan muatan politik-praktis.

 

 Disadari atau tidak, perjuangan ketat yang dipicu oleh kepentingan politis masing-masing maupun kepentingan teologis dengan paradigma truth claimnya akan sangat berpotensi bagi munculnya fragmentasi di antara mereka, hingga muncul fraksi-fraksi maupun golongan. Tidak hanya itu, di antara fraksi-fraksi/ golongan dimaksud secara normatif-teologis akan memposisikan kelompoknya sebagai seperti kelompok yang paling memiliki otoritas penuh dalam hal keaswajaan. Masing-masing mengklaim bahwa hanya kelompoknyalah kelak yang akan masuk surga, sementara yang lainnya adalah masuk neraka. Uniknya mata rantai pemahaman sejenisnya tidak berhenti di eranya, namun ia banyak memberi inspirasi baru bagi model keberagamaan terkemudian. Itulah sebabnya tidak sedikit di antara organisasi-organisasi sosial keagamaan yang secara panatis dan ekslusif merasa paling memiliki aswaja.

 

Oleh karenanya memahami hakikat aswaja perspektif historis tidaklah bisa diabaikan, tentu dengan kerangka pemahaman modernitas, mulai dari bagaimana para ulama dan pakar ketika itu mengkonsepsikan, mendoktrinkan, hingga mengimplementasikannya. Makalah ini akan diawali dengan kajian konseptual (ontologis) tentang aswaja dalam konstalasi sejarah, berikut doktrin dan implementasinya.

 

Ahmad Amin mengatakan bahwa term ahl adalah badal an-nisbah yang jika dikaitkan dengan sunnah berarti orang yang berpaham sunni (al-suniyyun). Sementara itu Fairuzzabadi berpandangan bahwa kata ahl berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab. Sedangkan term al-sunah acapkali dipahami sebagai tradisi, kebiasaan atau jalan dan model. Dengan demikian secara sederhana al-sunnah bisa dipahami sebagai tradisi atau jalan para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabi’-tabi’in dalam menjalani hidupnya. Sedangkan al-jama’ah adalah sekumpulan orang atau kelompok yang terorganisir yang memiliki visi, misi dan tujuan. Jika ini dihubungkan dengan sekte-sekte dalam Islam maka hanya berlaku untuk komunitas al-sunnah, karena istilah al-jama’ah  belum dikenal di kalangan khawarij maupun Rafidah.

 

            Kata ahlussunah wal jamaah secara normatif belum ditemukan dalam beberapa kitab-kitab referensi lama, bahkan pada masa al-Asy’ari pun yang dianggap sebagai pendiri madzhab ini, istilah tersebut belum dijumpai. Bahkan dalam pernyataan kepindahan beliau dari paham mu’tazilah pun bukan karena istilah ini telah jelas. Kepindahannya dari paham mu’tazilah ke paham as’ariyah adalah karena ia memperoleh bisikan dari Rasul melalui impiannya bertemu dengan Rasul. Inti impian itu adalah wahai Ali (al-As’ari)… aku (Rasulullah SAW) tidak memerintahkanmu meninggalkan ilmu kalam, namun aku hanya menyuruhmu membela madzhab yang telah disampaikan dariku (al-madzahabi al-marwiyah ‘anny), karena hanya itulah yang benar (haq).

 

            Secara historis pengenalan term ahlussunah waljama’ah  sebagai suatu aliran, baru mulai nampak pada ashab al-asy’ary (asya’irah—Sunni). Mereka itu adalah al-Baqillani (403 H), al-Bagdadi (429 H), Al-juwaini (478). Meskipun demikian tidak berarti secara tegas mereka membawa bendera aswaja sebagai madzhabnya. Baru pernyataan itu mulai tegas ketika al-Zabidi (1205 H) dalam Ithaff Sadat al-Muttaqin (syarah Ihya ulumu al-din) mengatakan idza uthliqa ahlussunah fa al murad bihi al-asya’irah wal maturidiyah ( jika diungkapkan kata ahlussunah, maka yang dimaksud adalah penganut al-Asy’ari dan al-Maturidi).

 

            Oleh karena itu definisi-definisi tentang aswaja ketika itu masih dalah tataran klaim-klaim saja. Sebab dalam tataran konseptual, betapapun cara pandang al-asy’ari  juga banyak dipengaruhi oleh beberapa cara atau model berpikirnya para imam-imam sebelumnya. Atas dasar inilah maka ahlussunah waljamaah bisa dipahami sebagai jalan, metode berpikir keagamaan dalam semua aspek kehidupan yang berlandasan moderasi, keseimbangan dan toleran. Indikasi sikap moderatnya terlihat ketika al-Asy’arimelakukan istinbat hukum, yaitu tidak semata-mata dengan pendekatan bayani (tek) tetapi juga memperhatikan pendekatan burhani dan irfani (kontek). Manhaj ini secara jelas tercermin pada pola penalaran imam madhab yang empat ketika bersentuhan dengan permasalahan-permasalah fiqih. Demikian juga dalam kontek tasawuf, yaitu al-Junaidi dan al-Ghazali menjadi kiblatnya, sementara dalam hal aqidah, al-asy’ari adalah panutannya.  

 

            Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa cakupan aswaja sangatlah luas, dalam konteks aqidah misalnya, tidak berarti secara mutlak cara pandang kita tentang aqidah hanya dibatasi dan diikat oleh cara pandang al-Asy’ari dan al-Maturidi. Karena bagaimanapun mereka berdua adalah lahir dari sebuah proses panjang yang telah diwarnai dan bergesekan dengan ragam dan model pemikiran para ulama sebelumnya.

 

            Cara pandang aswaja model ini adalah cara pandang yang mencoba mengakumulasi semua pemikiran yang muncul semenjak Nabi Muhammad SAW. Pada potret permulaan Islam aswaja diidentikan dengan kelompok ortodoks (salafiyyun). Dalam beberapa aspek mereka selalu memegangi hal-hal yang ma’tsur (irrasional) dari pada yang ma’qul ( rasional). Dalam memahami ayat pun mereka cenderung bi al-riwayah (teks) dan tidak bi al-dirayah (konteks), mengutamakan dalil nas dari pada dalil aql. Dengan demikian pada masa permulaan islam mereka yang menyatakan dirinya sebagai aswaja dikesankan sebagai aliran ortodoks (salafiyyun).

 

Padahal secara teoretis para salafiyyun tidaklah berarti mengebiri akal, mereka tetap memberikan porsi yang layak bagi aqal. Sekalipun secara praktis dalam proses istinbat hukumnya, baik yang prinsip maupun yang parsial mereka senantiasa bersandar kepada alquran dan al-sunnah tanpa membutuhkan perdebatan akal. Namun demikian seirama dengan perkembangannya,aswaja mulai berakulturasi dengan ranah-ranah penalaran (filsafat), terutama adalah filsafat ketuhanan. Pemikiran filsafat ini terlihat sekali terutama ketika al-Asy’ari menalarkan tentang ism dan sifat allah, kaitannya dalam rangka menepis cara pandang mu’tazilah terhadap konsep  yang meniadakan sifat-sifat Allah (nafy Allah). Dinamika pemikiran di kalangan aswaja tentu saja tidak linier, namun mengikuti pasang surut perkembangangan sikon yang melingkupinya.

 

Dengan demikian dalam beraswaja tidak berarti harus persis, saklek dengan sikap dan perilaku yang pernah dilakukan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi.Pilar-pilar yang menjadi pegangan aswaja dalam beraqidahlah yang harus dipertahankan, sementara masalah ikhtilaf pemikiran di sana-sini tidaklah menjadi masalah apa-apa. Adapun pilar-pilar aswaja itu adalah ketuhanan, kenabian dan eskatologis.

 

Oleh karena itu selama orang islam masih mengakui tiga pilar ini berarti mereka tergolong aswaja, sekalipun berbeda cara pandangnya terhadap masing-masing pilar tersebut.

 

 

Share this article:

You have already rated this entry:
Berkenalan Dengan Model Pembelajaran Al-Azhar Univ...
BAGAIMANA BERAGAMA DI TENGAH LAJU PERKEMBANGAN IPT...
FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Alamat Kantor:
Gedung Megawati Soekarno Putri, Jl. Gajayana 50, Malang, Kode Pos 65144.
Telepon / Faksimile: 0341-559399
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.">This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website: http://syariah.uin-malang.ac.id

Data Pengunjung 

4146318
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
6071
7274
23335
4084561
136453
223462
4146318

Your IP: 127.0.0.1
2016-08-24 16:07
#fc3424 #5835a1 #1975f2 #2fc86b #feduc9 #eef11045 #140114115202