2B2A12021611G

Tulisan Terbaru 

Tulis Artikel 


Segera daftarkan diri Anda di Blog Fakultas Syariah yang akan terintegrasi dengan komunitas jejaring sosial dan diskusi Fakultas Syariah. Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan dengan Dosen, Mahasiswa, Staf, dan Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Selamat Bersilaturrahim dan Berkarya.

Proses Perhitungan Awal Bulan Syawal 1428 H. (2K17)

Menghitung Awal Bulan Syawal 1438 H. 1. Memperkirakan ijtima’ awal bulan Syawal 1424 H, dengan menggunakan Perbandingan Tarikh. Sebagai berikut : 29 Ramadhan 1438 H 1438-1= 1437 (tahun Tam/yang sudah dilewati) 1437 / 30 tahun = 47 daur lebih 27 tahun [ (47,9)=0,9x30=27] 29 Ramadhan 1438 = 47 daur + 27 tahun + 8 bulan + 29 hari 47 daur = 47 x 10631 = 499657 hari 27 tahun = (27 x 354) + 10 (10 tahun kabisat) = 9568 hari 8 bulan = ( 4 x 30 ) + ( 4 x 29 ) = 236 hari 29 hari = 29 hari + 509490 hari Selisih Hijriyah dan Masehi = 227016 hari + 736506 hari Anggaran Gregrorius XIII 13 hari + 736519 hari 736519 /1461 = 504.119781 0.119781x1461 = 175 hari 504 siklus x 4 = 2016 lebih 175 = 2017 M 175/31 = 5.6451...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
44 Hits
0 Comments

Tanggapan Tentang Tarawih Cepat

Penulis sebagai seorang Muslim serta para pembaca sekalian yang se-Iman dengan penulis, tentu akan merasa risih dengan cuatan informasi di MetroTV yang memberitakan tentang Sholat Tarawih 23 rakaat berjamaah 5.000 orang di Ponpes Mamba'ul Hikam, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur hanya diperlukan waktu ±7 menit. Menurut penulis, hal itu adalah terlalu cepat dan bisa masuk dalam kategori sangat tergesa-gesa. Penulis dan mungkin semua ummat Muslim, sholat pada 4 rakaat saja setiap dalam 5 waktu sholat, memakan waktu ±5 menit. Seharusnya pada Sholat Tarawih 23 rakaat (Tarawih 20 rakaat ditambah Witir 3 rakaat) yang wajar menempuh waktu selama ±25 menit itupun sudah termasuk membaca ayat-ayat setelah surat Al Fatihah dalam surat Al Qur'an yang pendek-pendek. Perlu diketahui, menurut penulis, bahwa Sholat lima waktu serta Sholat Tarawih serta Sholat-Sholat yang lainnya, adalah merupakan waktu/periode ritual ummat Islam untuk berkomunikasi, bersilaturahim rohani, mengadu tentang berbagai aneka persoalan dunia kepada Yang Maha Pencipta Allah SWT., agar manusia Muslim bisa mendapatkan inspirasi-ilham, agar dapat/bisa mensolusi atas segala ujian yang dihadapi dalam kehidupan. Kalau semua pembaca sepakat atas pendapat penulis ini, apakah Sholat hanya kita gunakan sebagai peluang waktu untuk melepas hutang sebuah kewajiban ritual ? Padahal Sholat itu juga, jika mengkaji dari gerakan Sholat adalah sebagai terapi psikologis, terapi relaksasi untuk mendukung keseimbangan kesehatan jiwa dan raga kita. Pantaskah kita tergesa-gesa dalam perilaku adab ber-Sholat ? Tentu tidak. Bacaan ayat-ayat dalam Sholat perlu dibaca dalam ketenangan, ucapan serta tartil yang baik dan indah agar bacaan ayat menjadi terapi rohani dan bisa menjadi sugesti kesehatan rohani kita. Begitu juga dengan gerakan Sholatnya harus mengikuti irama penyelesaian bacaan Sholat sehingga manfaat relaksasi bagi kesehatan juga didapatkan. Kalau kita menghadap Presiden saja dalam bersilaturahim, tentu kita akan mengikuti tata krama dan sopan santun berbicara serta adab melangkah masuk ruangan Presiden. Mungkinkah kita masuk keruangan Presiden dengan gerakan dan berbicara secara tergesa-gesa ingin cepat selesai ? Pastilah kita akan diusir atau ditegur oleh para pengawal Presiden atau Sang Presiden sendiri akan mengusir kita. Hakikat Sholat serta Sholat berjamaah adalah ritual ummat Islam untuk mengadu, bersilaturahim rohani kepada yang mencipta Presiden dan mencipta kita semua dan mencipta segala isi jagad raya ini yaitu Allah SWT. pantaskah kita tergesa-gesa lalu berbicara dalam kecepatan ucapan kalimat yang sulit dimengerti lalu dalam gerakan Sholat yang berkesan tergesa-gesa tak beradab, lalu kita tidak mendapatkan manfaat rohani dan jasmani dari Sholat kita. Lalu dengan sikap kita yang tergesa-gesa itu didalam Sholat, apakah kita didalam sikap menghormati dan menjungjung tinggi memuliakan Allah SWT. seperti kita menghormati seorang Presiden tadi. Inilah keteledoran kita, ternyata kita selama ini bersikap didalam Sholat, lebih menghormati seorang Presiden atau Bupati, Gubernur daripada Allah SWT. yang mencipta kita semua dan kebutuhan hidup kita, kesehatan dan rezeki kita beserta isinya berikut rasanya. Dialah Allahu Akbar Yang Maha Besar. Penulis termasuk orang dan kelompok yang tidak setuju dengan Tarawih Cepat seperti tergesa-gesa dan dalam pandangan penulis, adalah sebagai upaya yang mungkin tidak disadari mengarah untuk mendegradasi hubungan manusia kepada Yang Maha Esa Allah SWT. Sehingga manfaat Sholat untuk memposisikan diri kita selalu berada dijalan Allah tidak tercapai. Sholat itu juga bisa dijadikan sebagai terapi dan untuk dinikmati dalam kehidupan ini serta Sholat sudah merupakan kebutuhan hidup kita sebagai manusia berIman. Mungkin kelompok Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba'ul Hikam,Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur belum menjadikan Sholat sebagai kenikmatan dan terapi bagi kesehatan Rohani dan Jasmani ummat Islam. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi semuanya untuk memperbaiki dan mengkorekasi hubungan terindah kita kepada Allah SWT. agar semua do'a kita dapat diterima serta diwujudkan untuk kita oleh Allah SWT

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/abahpitung/tanggapan-sholat-tarawih-tercepat-di-blitar_558ca074b77a61fe0b722b63

You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
64 Hits
0 Comments

MENGENAL KELOMPOK KEKERABATAN (KINGROUP)

  Authentication required.

This is a password protected blog, please kindly enter the password into the password field below to view the blog.

Jadwal Puasa dan Imsakiyah Ramadhan 2017 Semua Kota

https://www.bikin-seru.com/jadwal-puasa-ramadhan-2017/
Link shared on Minggu, 28 Mei 2017 19:32
Rate this blog entry:

Share this article:

Continue reading
35 Hits
0 Comments

SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT BANJARMASIN (KALIMANTAN SELATAN) DALAM MELESTARIKAN PASAR TRADISIONAL TERAPUNG

Hukum adalah sebuah produk kebudayaan. Dimana hukum memiliki karakteristik yang berbeda-beda berdasarkan daerah masing-masing. Artinya, hukum akan terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamika ini terlahir melalui proses kebudayaan yang berbeda-beda. Dinamika hukum dan kebudayaan sangatlah melekat dan tergambar pada pola hidup masyarakat disetiap masing-masing daerah. Banjarmasin yang terletak di Kalimantan Selatan ini terkenal dengan Pasar Apungnya. Pasar Terapung Muara Kuin atau Pasar Terapung Sungai Barito adalah Pasar Terapung tradisional yang berada diatas Sungai Barito di muara Sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar Terapung muara kuin ini merupakan pusaka saujana Kota Banjarmasin. Disana, para pembelinya menggunakan perahu yang biasa disebut dalam bahasa banjar oleh masyarakat banjarmasin dengan sebutan Jukung. Pasar ini buka setiap hari, dimulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul delapan pagi. Keistimewaan Pasar Terapung Muara Kuin ini salah sa...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
389 Hits
0 Comments

“Baayun Mulud” dalam Upacara Adat Suku Banjar, Kalimantan Selatan

Upacara Baayun Mulud merupakan salah satu bagian dari rangkaian upacara adat yang di modifikasi dengan menggunakan metode akulturasi, dalam tradisi ini terjadi persilangan antara budaya Banjar dengan ajaran Islam, yaitu pengabungan antara budaya khas banjar “Baayun Mulud” dengan memasukan nilai-nilai religi “pelaksanaannya pada bulan maulud” sebagai tanda bahwa masyarakat bersyukur dan berharap bahwa anaknya bisa menerima berkah dan meneladani akhlak sang Nabi dari upacara. Upacara baayun mulud termasuk kedalam upacara yang ditujukan untuk anak-anak menjelang dewasa. Upacara ini telah menjadi ritual wajib yang sudah menjadi tradisi jauh sebelum ajaran islam dianut oleh orang-orang suku banjar. Sebelum berakulturasi dengan ajaran islam, upacara Baayun Mulud dilaksanakan sebagai sarana atau media untuk mengenalkan si anak kepada leluhur yang digambarkan sakti mandraguna dan memiliki pengaruh yang sang sanggat besar. Orang banjar pada zaman dahulu meyakini bahwa anak-anak mereka bisa memp...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
265 Hits
0 Comments

“Baayun Mulud” dalam Upacara Adat Suku Banjar, Kalimantan Selatan

Upacara Baayun Mulud merupakan salah satu bagian dari rangkaian upacara adat yang di modifikasi dengan menggunakan metode akulturasi, dalam tradisi ini terjadi persilangan antara budaya Banjar dengan ajaran Islam, yaitu pengabungan antara budaya khas banjar “Baayun Mulud” dengan memasukan nilai-nilai religi “pelaksanaannya pada bulan maulud” sebagai tanda bahwa masyarakat bersyukur dan berharap bahwa anaknya bisa menerima berkah dan meneladani akhlak sang Nabi dari upacara. Upacara baayun mulud termasuk kedalam upacara yang ditujukan untuk anak-anak menjelang dewasa. Upacara ini telah menjadi ritual wajib yang sudah menjadi tradisi jauh sebelum ajaran islam dianut oleh orang-orang suku banjar. Sebelum berakulturasi dengan ajaran islam, upacara Baayun Mulud dilaksanakan sebagai sarana atau media untuk mengenalkan si anak kepada leluhur yang digambarkan sakti mandraguna dan memiliki pengaruh yang sang sanggat besar. Orang banjar pada zaman dahulu meyakini bahwa anak-anak mereka bisa memp...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
203 Hits
0 Comments

Budaya Ghasab dalam lingkup Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang

Nama : Abdul Hadi Kelas : D Di pesantren, para santri memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam. Bersama kyai/ustadz, mereka melakukan kegiatan pembelajaran tiap harinya dalam bilik-bilik kelas. Tentunya kesemuanya itu dilakukan bukannya tanpa tujuan. Tidak hanya sebagai proses transfer ilmu, pesantren menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan bertujuan untuk membentuk para santrinya menjadi muslim yang bertakwa yang tercermin dalam perilaku sehari-hari sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kebanyakan pesantren menggunakan sistem asrama dalam upayanya membentuk generasi yang berakhlak mulia. Dengan menggunakan sistem ini kyai sebagai guru, pembimbing, pembina, dan pemberi teladan, dapat hidup dalam lingkungan yang sama dengan para santri. Sehingga proses belajar dan pembentukan kepribadian bagi santri tidak hanya berlangsung saat pembelajaran di kelas, namun bisa berlangsung sepanjang hari. Metode ini sangat efektif dalam membentuk karakter santri. Berdasa...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
217 Hits
0 Comments

Karakter Masyarakat Dalam Membangun Keluarga Sakinah ( studi kasus keluarga bude )

Nama : Abdul Hadi Kelas : D Keluarga adalah insititusi yang paling penting dalam kehidupan seseorang, karena dari keluargaseseorang melangkah keluar dan kepada keluarga pula seseorang akan kembali. Di dalam keluarga seseoranghidup bersama dengan sekelompok orang secara akrab. Sebab keluarga merupakan community primer yangpaling penting, yang mencerminkan keakraban yang relative kekal. Secara etimologis keluarga terdiri dari perkataan “kawula” dan “warga. Kawula berarti abdi dan warga adalah anggota.Artinya kumpulan individu yang memiliki rasa pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan seluruh individu yangbernaung di dalamnya (Ki Hadjar Dewantara). Latar belakang keluarga yang menjadi kajian saya sebagai penulis yakni, keluarga ini berlatarbelakang keluarga salafi ( keluarga dengan latar belakang berpendidikan salaf atau dari keluarga pondok salaf). Dengan budaya atau adat yang mengutamakan berpengetahuan atau berpendidikian salaf. Dengan beranggotakan ibu dan ayah yang mendapat ti...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
143 Hits
0 Comments

RELASI HUKUM ANTARA ADAT, HUKUM ISLAM, dan HUKUM POSITIF

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa hukum adalah hal yang mengatur tingkah laku atau tindakan manusia dalam masyarakat. Dalam beberapa hukum, hukum tersebut ada bukan hanya demi mengatur manusia dengan manusia namun juga berkaitan dengan hubungannya dengan Tuhan-Nya hingga alam-Nya. Hukum sendiri terbentuk berdasar hukum tulis dan hukum tidak tertulis dengan sangsi yang berbeda tiap bentuknya. Dalam hal ini hukum tertulis berkaitan dengan hukum positif serta hukum agama, dan yang berkaitan dengan hukum tidak tertulis berkaitan dengan hukum adat yang ada dan dibuat oleh masyarakat adat yang mereka yakini sejak nenek moyang dan berlaku hingga saat ini dengan sangsi adat yang telah ditetapkan oleh ketua adat. 

Namun meskipun hukum agama diyakini sebagai hukum tertulis seperti halnya telah tertulis dalam Al-Qur'an, tetap saja hukum tersebut dapat juga dikatakan sebagai hukum tidak tertulis karena seperti hanya hadits mereka tertulis berdasarkan ucapan Rasul pada masanya. 

Berkaitan dengan hubungannya, hubungan akan ketiga hukum yang tersebut dalam judaul tentunya saling berkaitan. Sebagaimana contoh yang bisanya terjadi dalam masyarakat adalah mengenai perkara yang terkadang dihadapi mereka kaitkan dengan adat yang mereka percaya dan tanpa disadari juga telah ada dalam agama mereka yang selanjutnya jika terjadi sesuatu hal hukum positif juga telah mengaturnya. 

Dapat pula dilihat hal yang berkaitan dengan adat yang tercantum dalam agama adalah berkaitan dengan 'Urf yag berarti adat seperti dalam kaidahnya berbunyi العَادَةُ مُحَكَّمَةُ. Selanjutnya hukum adat juga tertuang dalam hukum positif diantaranya yaitu : 

1. UUD 1945

 2. Konstitusi RIS 

3. UUD Sementara 1950

 4. UU Nomor 1 darurat 1951

 5. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dan kembali berlaku UUD 1945 

6. Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960 Lampiran A Paragraf 402 

7. UU Nomor 5 Tahun 1960 beserta peraturan pelaksanaanya 

8. UU Nomor 2 Tahun 1960 

9. UU Nomor 19 Tahun 1964

 10. UU Nomor 5 Tahun 1967 beserta peraturan pelaksanaanya 

11. UU Nomor 14 Tahun 1970 

12. UU Nomor 1 Tahun 1974 

13. UU Nomor 11 Tahun 1974 

14. UU Nomor 5 Tahun 1979. 

Dalam aturan tersebut dapat dicontohkan mengenai hukum waris. Dalam hukum adat waris biasnya berdasarkan kesepatan musyawarah atau berkaitan dengan kontribusinya dalam merawat keluarga sehingga mendapat bagian waris tertinggi. Namun jika kesepakatan tidak dipatkan maka dapat diambil jalan berupa hukum waris seperti yang tertuang dalam QS. An-Nisa ayat 7 hingga ayat 12 yang menyebutkan siapa saja yang berhak atas harta waris dan berapa bagian yang bisa didapatkan oleh tiap orang yang berhak untuk mendapatkannya. Namun, bila tetap saja tidak mendapat kesepakatan mengenai pengatura tersebut dan lebih memilih dengan hukum positif maka akan termuat dalam UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No. 1 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 

Dalam kasus lain juga antara ketiga hukum tersebut pertentangan dalam hukumnya, seperti halnya mengenai pernikahan. Dalam hukum adat banyak terdapat peraturan atau tradisi yang melekat di masyarakat saat ini yang dipercaya sudah modern namun ternayat masih memegang ajaran nenek moyang. Dalam hukum adat pernikahan memiliki tradisi yang berbeda ditiap daerahnya seperti halnya aturan di Desa Gadungan Kec. Puncu Kab. Kediri terdapat larangan nikah antar Desa dan bila mana tetap akan menjalankan pernikahan maka tradisi masyarakat setempat akan memberikan sesaji di tempat keramat di desa mereka sedangkan dalam hukum Islam pemberiang sesaji tersebut merupakan larangan agama dan termasuk perbuatan syirik. 

Dengan demikian maka peraturan antara ketiga hukum tersebut tidak selamanya memiliki kesamaan dalam pengaturannya. Namun tetap saja dapat menjadi anternatif dalam kerumitan perkara dan juga dalam hukum satu dengan hukum lainya dapat menjadi penguat terhadap masalah tertentu. 

Maka dengan dukungan peraturan-peraturan yang telah ada, perlunya kita dapat menggunakan hukum tersebut secara bijak lagi.


 -Dyah Puspita-

Rate this blog entry:

Share this article:

Continue reading
182 Hits
0 Comments

ISLAM DAN UPACARA ADAT KACAR-KUCUR DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA

Indonesia kaya akan ragam budaya, tak hanya ragam budaya milik daerah yang ada, bahkan ada juga dalam internal adat istiadat satu daerah yang sama. Salah satu kekayaan ragam budaya yang ada adalah upacara adat Kacar-Kucur dalam adat pernikahan Jawa. Upacara adat kacar-kucur merupakan salah satu ritual dalam pernikahan adat jawa. Dalam proses ini pengantin pria menumpahkan segala isi kantung yang biasanya berwarna merah dan putih yang berisi biji-bijian berupa beras, kacang, kedelai, dan beberapa uang logam yang ditempatkan dalam sekantong kain yang dibawa oleh mempelai wanita. Untuk biji-bijian yang paling utama adalah beras karena beras merupakan makanan pokok yang dijadikan bahan makanan utama. Dalam melaksanakan upacara kacar-kucur banyak juga orang yang mencampurkan kunir didalam kantung tersebut tujuannya agar warna beras enak di pandang karena kunir disini sebagai rempah atau bumbu. Maknanya setiap manusia pasti akan menemui kesulitan dalam menjalani hidupnya, ibaratkan ini seba...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
328 Hits
0 Comments

Internalisasi Nilai Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional

Internalisasi Nilai Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional Berbicara tentang masalah hukum secara konseptual, maka kita akan banyak menemukan peristilahan bahkan pendefinisian yang berbeda-beda atas penyebutan dan pemahaman hukum sebagai pengertian yang dapat menjadikan sebuah referensi di dalam perkembangan hidup manusia akan kebutuhan terhadap hukum yang dapat memberikan pencakupan setiap aktivitas manusia di dalam kehidupannya. Sehingga hal inilah yang menjadikan pandangan bagi ahli hukum dari negeri kincir angin LJ. van Apeldorn dalam bukunya “inleiding tot de studie van het Nederlance recht” , disebutkan bahwa tidak mungkin memberikan suatu definisi tentang apakan yang dimaksud hukum itu, karena ia beranggapan tidak mungkin mendefinisikan hukum tersebut dirumuskan sesuai dengan kenyataan hidup manusia di dalam kemasyarakatan dan kenegaraan. Sistem hukum suatu negara mencerminkan kondisi objektif dari negara yang bersangkutan sehingga suatu sistem hukum suatu negara berbeda de...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
159 Hits
0 Comments

RELASI ANTARA SISTEM ADAT DENGAN HUKUM POSITIF

Dalam hukum adat perkawinan yang dilakukan oleh kedua pihak mempelai biasanya atas dasar perjodohan yang ditentukan oleh orang tua dari masing-masing anak. Perkawinan semacam ini sudah dilakukan oleh para pendahulu turun temurun sampai sekarang dibeberapa tempat yang masih kuat hukum adatnya contohnya di madura. Di madura masih banyak yang menganut adatnya yaitu menikahkan anaknya yang masih kecil yang sebelumnya sudah di jodohkan, dan saya juga menemui bahwa perjodohan pun dilakukan oleh sama sama yang masih saudara dekat atau sepupuan karena menurutnya agar hartanya tidak jatuh ke orang lain Filosofinya adalah perkawinan tersebut tidak hanya menghubungkan dua manusia saja, akan tetapi persatuan dua keluarga dan mengeratkan hubungan. Namun, fakta membuktikan adanya benturan-benturan hukum yang terjadi antara masalah perkawinan adat yang memperbolehkan melakukan perkawinan di usia baligh walaupun si laki-laki belum mencapai usia 19 tahun dan si wanita usia 16 tahun, dengan hukum positi...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
0 Hits
0 Comments

RELASI ANTARA SISTEM ADAT DENGAN HUKUM POSITIF

Dalam hukum adat perkawinan yang dilakukan oleh kedua pihak mempelai biasanya atas dasar perjodohan yang ditentukan oleh orang tua dari masing-masing anak. Perkawinan semacam ini sudah dilakukan oleh para pendahulu turun temurun sampai sekarang dibeberapa tempat yang masih kuat hukum adatnya contohnya di madura. Di madura masih banyak yang menganut adatnya yaitu menikahkan anaknya yang masih kecil yang sebelumnya sudah di jodohkan, dan saya juga menemui bahwa perjodohan pun dilakukan oleh sama sama yang masih saudara dekat atau sepupuan karena menurutnya agar hartanya tidak jatuh ke orang lain Filosofinya adalah perkawinan tersebut tidak hanya menghubungkan dua manusia saja, akan tetapi persatuan dua keluarga dan mengeratkan hubungan. Namun, fakta membuktikan adanya benturan-benturan hukum yang terjadi antara masalah perkawinan adat yang memperbolehkan melakukan perkawinan di usia baligh walaupun si laki-laki belum mencapai usia 19 tahun dan si wanita usia 16 tahun, dengan hukum positi...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
130 Hits
0 Comments

RELASI ANTARA SISTEM ADAT DENGAN HUKUM POSITIF

Dalam hukum adat perkawinan yang dilakukan oleh kedua pihak mempelai biasanya atas dasar perjodohan yang ditentukan oleh orang tua dari masing-masing anak. Perkawinan semacam ini sudah dilakukan oleh para pendahulu turun temurun sampai sekarang dibeberapa tempat yang masih kuat hukum adatnya contohnya di madura. Di madura masih banyak yang menganut adatnya yaitu menikahkan anaknya yang masih kecil yang sebelumnya sudah di jodohkan, dan saya juga menemui bahwa perjodohan pun dilakukan oleh sama sama yang masih saudara dekat atau sepupuan karena menurutnya agar hartanya tidak jatuh ke orang lain Filosofinya adalah perkawinan tersebut tidak hanya menghubungkan dua manusia saja, akan tetapi persatuan dua keluarga dan mengeratkan hubungan. Namun, fakta membuktikan adanya benturan-benturan hukum yang terjadi antara masalah perkawinan adat yang memperbolehkan melakukan perkawinan di usia baligh walaupun si laki-laki belum mencapai usia 19 tahun dan si wanita usia 16 tahun, dengan hukum positi...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
115 Hits
0 Comments

Perayaan Festival Tabot Memeperingati Tahun Baru Hijriyyah Dan Kematian Husein Bin Ali Bin Abi Thalib Di Provinsi Bengkulu

​Oleh : Putra Duwi Septiawan (13210121) 

Indonesia adalah Negara majemuk yang di dalamnya memiliki banyak budaya dan keragaman suku bangsa. Indonesia bukan hanya kaya akan sumber daya alamnya saja tetapi juga kaya akan keragaman sumber daya manusia yang beragam dan berbeda-beda. Sehingga Indonesia menggunkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika" walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Indonesia memiliki beribu-ribu suku bangsa dan adat istiadat yang tersebar di seluruh bagian penjuru negeri nusantara, dari sabang sampai merauke. Setiap daerah memiliki karakteristik budaya sendiri-sendiri yang berbeda dari daerah lainnya. Sepertinya halnya festival tabot yang ada di provinsi Bengkulu ini, merupakan sebagian kecil dari adat budaya yang ada di Indonesia. Festival Tabot/tabut Bengkulu merupakan festival event terbesar di Bengkulu. Tabut adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala. Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabut mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syiah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syiah. Diyakini bahwa Syekh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo merupakan orang pertama yang melakukan perayaan tabot. Jika pada awalnya upacara Tabut/tabot digunakan oleh orang-orang Syi'ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib. maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi'ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka. Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan. Dalam perayaan tabot ini ada beberapa rangkaian ritual yang dilakukan seperti Mengambil Tanah, Duduk Penja, Meradai, Manjara, Arak Penja, Arak Serban, Gam, Arak Gedang, dan terakhir Tabot Terbuang. Setiap ritual tersbut mempunyai makna sendiri-sendiri. Festival Tabot Bengkulu di selenggarakan pada 1 – 10 Muharam dalam kalender hijriyyah Islam. Festival tabot ini memadukan antara adat kebiasaan yang ada di provinsi Bengkulu dengan keislaman. Festival tabot telah ada sejak jaman dahulu dan dilaksanakan secara turun menurun hingga sekarang. Beberapa masyarakat Bengkulu percaya jika tabot tidak diselenggarakan maka masyarakat Bengkulu akan terjadi bencana/musibah. Secara umum, ada dua nilai yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Tabut, yaitu: nilai Agama (sakral), adat, dan sosial. Nilai-nilai Agama (sakral) dalam upacara Tabut di antaranya adalah: satu, proses mengambik tanah mengingatkan manusia akan asal penciptaannya. Kedua, terlepas dari adanya pandangan bahwa ritual Tabut mengandung unsur penyimpangan dalam akidah, seperti penggunaan mantera-mantera dan ayat- ayat suci dalam prosesi mengambik tanah, namun esensinya adalah untuk menyadarkan kita bahwa keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya lokal. Dan ketiga, pelaksanaan upacara Tabut merupakan perayaan untuk menyambutan tahun baru Islam.

You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
147 Hits
0 Comments

GREBEG SURO PONOROGO RITUAL ADAT DAN NILAI-NILAI KEISLAMAN

​Oleh: Putra Duwi Septiawan (13210121) 

Grebeg Suro memiliki arti tersendiri bagi warga Ponorogo pada umumnya. Grebeg Suro adalah acara tradisi kultural masyarakat Ponorogo dalam wujud pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Grebeg suro merupakan acara tahunan yang dirayakan setiap tanggal 1 Muharram (1 Suro pada tahun Jawa). Sejarah diadakannya Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo adalah adanya kebiasaan masyarakat terutama kalangan warok pada malam 1 Suro yang mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan berhenti di alun-alun Ponorogo. Pada tahun 1987 Bupati Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat fenomena ini dan melahirkan gagasan kreatif untuk mewadahi kegiatan mereka dengan kegiatan yang mengarah pada pelestarian budaya. Sebab ditengarainya minat para pemuda terhadap kesenian khas Ponorogo mulai luntur, untuk itu diadakanlah Grebeg Suro dan memasukkan Reog didalamnya. Rangkaian Grebeg Suro di antaranya, prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi. Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional di alun-alun kota. Berbagai acara-acara dihelat di Kota Reyog seperti Tari SI Potro, Istighozah, Lomba Kakang Senduk, pameran-pameran karya masyarakat Ponorogo, pameran bonsai, Festival Reyog Nasional XVIII, dan masih banyak lagi. Pelaksanaannya dimulai dengan Festival Reog Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari. Sehari sebelum 1 Suro diadakan Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka dari kota lama ke kota tengah untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo dari kota lama ke kota tengah. Malam 1 Suro diadakan penutupan Festival Reog Nasional dan pengumuman lomba, dan tepat tanggal 1 Suro diadakan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Kegiatan ini dirayakan untuk mengenang kejayaan kerajaan Bantarangin yang berjaya dan dikenalnya warok (kesatria-kesatria pilih tanding yang sakti mandraguna. Acara yang selalu diisi dengan pelepasan sesaji, kapala kerbau, nasi tumpeng atau yang lainnya ini menurut banyak kalangan "hanya sebuah ritual" atau "upaya melestarikan budaya leluhur". Umumnya para penyelenggara dan peserta berharap kepada Sang Pencipta bahwa dengan acara ini mereka diberi keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta maksud-maksud yang lainnya. Dan tidak sedikit juga dari mereka yang mengharapkan hal serupa dari para leluhur. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung meliputi nilai simbolik, nilai tanggung jawab, nilai keindahan, nilai moral, nilai hiburan, nilai budaya, nilai sosial, dan nilai religius. Dengan adanya grebeg suro ini juga dapat melestarikan budaya yang ada di ponorogo yaitu kesenian REOG ponorogo yang menjadi kebanggaan Indonesia. Begitu juga ritual larung sesaji merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat ponorogo kepada yang maha kuasa terhadap nikmat yang telah diberikan dan juga untuk merayakan tahun baru islam.

Rate this blog entry:

Share this article:

Continue reading
292 Hits
0 Comments

FENOMENA TREN DAN BUDAYA KONTEMPORER

Sebagaimana yang telah kita ketahui istilah pacaran dahulu sangatlah asing ditelinga dan bahkan jarang di masyarakat jaman dahulu, berbeda terhadap para remaja sekarang ini yang pada dewasanya pacaran sudah merebak bagaikan jamur di musim penghujan baik itu tumbuh dalam lingkup kota maupun desa pada kalangan remaja di abad ini. Salah satu hal yang menjadikan budaya pacaran tersebut menjadi tradisi atau budaya pada remaja adalah tak lain karena pengaruh media teknologi abad sekarang yang selama ini telah mempertontotnkan serta menyoroti kegiatan-kegiatan remaja yang di dalamnya lebih banyak terfokus kepada pacaran tersebut. Sehingga pada efeknya melalui media tersebut para remaja menganggap pacaran sebagai tren atau mode berbudaya pada abad ini. Seperti contoh film “ganteng ganteng srigala” yang memberi tontonan anak muda saat ini. Selanjutnya serial FTV, yang kebanyakan semua itu memberikan edukasi secara tidak langsung dari segi percintaan. Hal itu yang sangat disayangkan terhadap per...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
191 Hits
0 Comments

Relasi Hukum Adat, Hukum Positif, dan Hukum Islam

Fenomena Pernikahan Dini di Lingkungan Pedesaan

Hukum Positif Indonesia mengatur tentang Pernikahan yang tertuang di dalam UU No 1 tahun 1974 menyatakan bahwa "Perkawinan adalah ikatan Lahir bathin antara seseorang pria dengan seseorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa". Bagi pernikahan tersebut tentu harus dapat di perbolehkan bagi mereka yang telah memenuhi batasan usia untuk melangsungkan pernikahan seperti dalam UU Perkawinan pada Pasal 7 ayat 1 tertera bahwa batasan usia untuk melangsungkan pernikahan itu pria sudah berusia 19 tahun (sembilan belas) tahun dan wanita sudah mencapai usis 16 tahun (enam belas) tahun, secara eksplisit ketentuan tersebut di tegaskan bahwa setiap perkawinan atau pernikahan yang di lakukan oleh calon pengantin yang pria nya belom berusia 19 tahun atau wanitanya 16 tahun di sebut sebagai Pernikahan di bawah Umur.

Hukum Islam tidak ada batasan minimal usia pernikahan. Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan bahwa wali atau orang tua boleh menikahkan anak perempuannya dalam usia berapapun. Namun karena pertimbangan maslahat, beberapa ulama memakruhkan praktik pernikahan usia dini. Makruh artinya boleh dilakukan namun lebih baik ditinggalkan. Anak perempuan yang masih kecil belum siap secara fisik maupun psikologis untuk memikul tugas sebagi istri dan ibu rumah tangga, meskipun dia sudah aqil, baligh atau sudah melalui masa haid. Karena itu menikahkan anak perempuan yang masih kecil dinilai tidak maslahat bahkan bisa menimbulkan mafsadat (kerusakan). Pertimbangan maslahat-maslahat ini juga diterima dalam madzhab syafi'i.

Mengenai praktik pernikahan dini ini tidak jarang dijumpai di masyarakat pedesaan, bahkan hampir semua wanita menikah di usia yang cukup muda. praktik pernikahan dini dipengaruhi oleh budaya lokal. Sekalipun ada ketetapan Undang-undang yang melarang pernikahan dini, ternyata ada juga fasilitas dispensasi. Maraknya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan yang kuat tentang mitos anak perempuan. Fenomena pernikahan di usia anak-anak menjadi kultur sebagai masyarakat Indonesia yang masih memposisikan anak perempuan sebagai warga kelas ke dua. Para orang tua juga ingin mempercepat perkawinan dengan berbagai alasan ekonomi, sosial, anggapan tidak penting pendidikan bagi anak perempuan dan anggapan negatif terhadap status perawan tua.

Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat di pedesaan:

  • 1.Ekonomi, perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup digaris kemiskinan, untuk meringankan bebanorang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.
  • 2.Pendidikan, rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah umum.
  • 3.Faktor orang tua, orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.
  • 4.Media massa, gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian permisif terhadap seks.
  • 5.Faktor adat, perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.
  • 6.Hamil diluar nikah, adapula faktor karena informal yang sudah hamil diluar nikah yang terpaksa harus dinikahkan untuk menghindari aib mereka.
Rate this blog entry:

Share this article:

Continue reading
136 Hits
0 Comments

MITOS LARANGAN PERKAWINAN ANTAR SUKU SUNDA DENGAN SUKU JAWA DALAM SISTEM KEKERABATAN

Pernikahan merupakan sunnatullah yang umum dan berlaku pada semua makhluk-Nya, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Pernikahan adalah suatu cara yang dipilih Allah SWT, sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya. Sedangkan menurut undang-undang no. 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam kaitannya dengan hubungan kemasyarakatan, perkawinan merupakan pranata yang sah yang harus dilalui oleh setiap masyarakat yang menghendaki adanya pengakuan penuh sebagai warga masyarakat yang bersangkutan. Seorang anggota masyarakat yang telah menikah akan diperlakukan sebagai warga masyarakat dengan segala hak dan kewajibannya, karena ia telah dianggap mampu bertanggung jawab sebagaimana tercermin pada kelarga yang menjadi tanggung jawabnya. Peralihan dalam k...
You have already rated this entry:

Share this article:

Continue reading
286 Hits
0 Comments
FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Alamat Kantor:
Gedung Megawati Soekarno Putri, Jl. Gajayana 50, Malang, Kode Pos 65144.
Telepon / Faksimile: 0341-559399
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.">This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website: http://syariah.uin-malang.ac.id

Data Pengunjung 

6604119
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3220
6644
31875
6533446
119163
331977
6604119

Your IP: 127.0.0.1
2017-07-21 12:43
#fc3424 #5835a1 #1975f2 #2fc86b #feduc9 #eef11045 #140114115202